Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Mencari tahu



"Coba saja terlebih dahulu," ucap Sandy yang kini masih menggandeng pergelangan tangan kiri gadis belia mungil dengan wajah imut itu.


Sementara itu, Aaron yang berjalan mengekor menatap ke arah tangan sahabatnya menguasai pergelangan tangan kiri Anindya, tentu saja sangat kesal.


'Sialan Sandy! Dia malah mencari kesempatan dalam kesempitan. Awas saja nanti. Aku akan memberinya pelajaran setelah semuanya selesai,' gumam Aaron yang kini masih menahan diri untuk tidak membuat masalah dengan mengumpat sahabatnya.


Zea yang masih merasa bingung harus bagaimana, kini terus mempertimbangkan apakah ia akan menyelesaikan tes yang akan diberikan oleh sahabat teman Aaron.


'Aaah ... jika aku tidak bisa mengerjakannya, pasti tuan Aaron akan berpikir aku adalah seorang gadis bodoh yang tidak mempunyai kelebihan sama sekali. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Paling tidak, ada satu hal yang membuatnya merasa bangga terhadapku,' lirih Zea yang saat ini telah mengambil keputusan.


Begitu tiba di ruang tamu, Sandy baru melepaskan tangan Anindya karena ia menghampiri meja.


Di mana di sana ada laptop yang dari tadi disiapkan setelah mendapatkan telpon dari sahabatnya. Bahkan ia langsung membuka laptop untuk mencari dokumen berisi soal-soal untuk anak SMA.


Ia pun kini melambaikan tangan pada gadis belia yang masih berdiri di sebelah meja. "Duduklah di sini dan mulai kerjakan soal-soal ini."


Sandy menepuk bantal kecil untuk tempat duduk Anindya. "Boleh duduk di sini atau di sofa. Terserah kamu lebih nyaman yang mana."


Kemudian ia bangkit berdiri dan melirik ke arah sahabatnya yang membuatnya mengerutkan kening karena melihatnya seperti hendak memangsanya saja.


"Ada apa?"


Aaron kini hanya menggelengkan kepala karena ia sekilas menatap Sandy dan beralih ke arah Anindya yang seperti ragu-ragu karena tidak langsung menjawab.


Ia pun berjalan menghampiri gadis itu dan langsung membuatnya segera duduk dan mengerjakan soal-soal di dalam laptop sahabatnya.


"Cepat kerjakan soal-soalnya. Aku ingin tahu sampai di mana amnesiamu terpengaruh dalam hal mata pelajaran sekolah." Aaron bahkan bisa melihat ada buku kecil serta pulpen di sebelah laptop dan membuatnya sangat salut pada sahabatnya.


"Semangat dan kerjakan dengan baik soal-soal itu. Aku dan cikgu ini tidak akan mengganggumu." Aaron melirik sekilas ke arah sahabatnya yang masih berdiri di sebelahnya seperti patung manekin.


Di sisi lain, Zea yang kini sudah duduk di depan meja, di mana laptop menunjukkan soal-soal yang dianggapnya sangatlah mudah karena tahu jika itu materi di kelas 10.


'Kalau begini, nilaiku pasti dapat 100,' gumam Zea yang kini memberikan simbol oke dengan jari telunjuk dan ibu jari pada Aaron.


"Kalau bisa, aku ingin suasana hening agar bisa berpikir." Zea tidak ingin terlihat jelas jika ia bisa menyelesaikan itu dalam waktu beberapa menit saja.


Jadi, berharap dua pria sebaya itu pergi meninggalkannya agar bisa leluasa dan tidak dicurigai.


Mengerti apa maksud dari gadis di depan laptop itu, kini Aaron langsung menarik lengan kiri Sandy. "Kebetulan aku ingin berbicara penting denganmu. Ayo, kita ke taman belakang!"


Sandy yang merasa ada sesuatu hal penting akan disampaikan oleh sahabatnya, kini hanya patuh dan berjalan menuju ke arah belakang.


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Apa butuh bantuan lain dariku?" ujar Sandy yang kini tengah menatap ke arah sosok pria di sebelahnya lebih dingin dan datar.


"Aku ingin menegaskan bahwa kau tidak boleh mencari kesempatan dalam kesempitan pada Anindya karena aku akan menghajarmu jika melakukannya!" sarkas Aaron yang kini langsung mengungkapkan semuanya demi membuat sahabatnya tersebut sadar.


Sementara di sisi lain, Sandy kini merasa sangat curiga atas sikap sahabatnya yang dianggap berlebihan. Ia kini memicingkan mata sambil terus melihat raut wajah Aaron.


"Kau tidak sedang cemburu padaku karena menggandeng Anindya, kan?" Sandy merasa sikap Aaron seperti seorang pasangan yang over protektif dan membuatnya curiga dan memutuskan untuk mencari tahu.


To be continued...