
Pasangan suami istri paruh baya yang saat ini merasa sangat terkejut ketika posisi putrinya dengan mudahnya digantikan oleh wanita lain yang diketahui mereka adalah sepupu dari Aaron.
Namun, mereka sadar tidak bisa mengungkapkan ada protes karena memang kesalahan ada di pihak keluarga mereka.
Bahwa sudah ada bukti yang jelas jika Jasmine-lah yang memilih kabur di hari pernikahan. Bahkan mereka sebagai orang tua saja sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan oleh putrinya yang dengan sadar kabur tanpa ada paksaan dari siapapun.
Apalagi begitu mengetahui kabar itu dari calon menantu mereka yang selama ini dibanggakan, tentu saja membuat pasangan suami istri tersebut sangat shock sekaligus merasa bersalah.
Hingga mereka semakin merasa bersalah begitu melihat respon Aaron ketika sang ibu mengungkapkan sebuah ide di kepala untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.
"Apa-apaan Mama ini? Apa Mama berpikir bahwa pernikahan hanyalah sebuah permainan semata dengan mengganti pengantin wanita sesuka hati?" Aaron yang tadinya tidak paham dengan jalan keluar yang dimaksud oleh sang ibu, seketika membulatkan mata begitu mendengar suara wanita yang sangat disayanginya tersebut ketika mengungkapkan idenya.
Bahkan ia sekilas melihat raut wajah terkejut dari gadis yang sudah dianggap seperti adik sendiri tersebut dan berpikir tidak akan pernah menikahinya. Apalagi dari dulu sangat mencintai Jasmine dan hanya ingin menikah dengannya, sama sekali tidak menyangka akan dikhianati kepercayaannya.
Ia juga berpikir bahwa tidak ingin memanfaatkan kepolosan Anindya untuk menyelesaikan masalah besar yang menimpa hidupnya dengan menikahinya.
'Saat aku mengalami keterpurukan karena ulah Jasmine, takkan pernah menyeret Anindya yang sama sekali tidak bersalah dalam masalah kami,' gumam Aaron yang saat ini berpikir bahwa saran dari sang ibu bukanlah sebuah jalan keluar terbaik untuknya yang tengah patah hati.
Jennifer benar-benar tidak tega melihat putranya yang hancur hanya karena ulah wanita yang sangat tidak disukainya dari dulu. Ia yang tadi menunggu jawaban dari Anindya saat diam saja dan bisa dipahaminya jika gadis itu masih sangat shock.
Ia beralih menatap ke arah putranya yang terlihat sangat mengenaskan ketika mengenakan pakaian pengantin, wanita kabur dengan sangat sadar tanpa paksaan dari siapapun pada detik-detik terakhir menjelang acara dimulai.
"Aaron, ini jauh lebih baik daripada acara yang sudah dihelat besar-besaran dibatalkan begitu saja karena ulah wanita yang tidak bertanggungjawab itu. Tunjukkan pada wanita yang sama sekali tidak bersyukur memilikimu itu bahwa kamu bisa hidup bahagia bersama dengan wanita lain."
Ia benar-benar berharap jika putranya menuruti perintahnya. Sebagai seorang ibu yang sudah mengandung, melahirkan serta membesarkan dengan penuh kasih sayang, benar-benar tidak rela jika putranya hancur hanya gara-gara satu wanita yang tidak pantas dipikirkan.
"Aaron, kamu tidak boleh terpuruk dan harus tetap melanjutkan hidup. Banyak wanita di dunia ini yang bisa bersyukur memilikimu, Sayang. Jasmine bukannya wanita yang baik karena tiba-tiba pergi di saat hari pernikahan dan benar-benar mempermalukan keluarga besar kita."
Sebenarnya ia bukan mempermasalahkan tentang nama baik keluarga yang mungkin akan tercoreng karena ulah calon menantu perempuan yang kabur di hari pernikahan.
Namun, melihat putranya yang pastinya merasa hancur karena diketahuinya sangat mencintai Jasmine, sehingga membuatnya ingin putranya tidak terpuruk.
Ia tidak ingin Aaron hancur hanya gara-gara ulah satu wanita yang tidak pernah bersyukur mendapatkan cinta tulus dari putranya. "Sayang, turuti perintah Mama dan menikahlah dengan Anindya."
"Anindya, kamu bersedia menikah dengan Aaron, bukan? Putraku adalah seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Aku sangat yakin jika putraku menjadi seorang suami yang baik untukmu." Jennifer yang sama sekali tidak memperdulikan orang tua Jasmine yang tidak jadi menjadi besannya, karena fokus menatap ke arah Anindya.
Apalagi berpikir bahwa Aaron sudah mengenal Anindya dan mengerti seperti apa sifat dari gadis itu setelah tinggal selama satu bulan bersama. Jadi, aku sangat berharap jika mereka bersatu karena sudah sangat menyukai gadis yang ditabrak oleh sang suami hingga mengalami amnesia tersebut.
Sementara itu, Anindya yang sebenarnya ingin sekali langsung menjawab ia tanpa pikir panjang, tetapi melihat bahwa sosok pria yang dicintai seperti tidak tertarik untuk menuruti perintah dari sang ibu.
'Aku mau menikah dengan tuan Aaron yang sangat kucintai, tapi sepertinya itu tidak berlaku baginya. Bahkan sampai sekarang pun, aku masih melihat ada cinta di mata tuan Aaron untuk nona Jasmi yang sudah meninggalkannya,' gumam Zea yang saat ini merasa bingung untuk menjawab.
Hingga ia yang berniat untuk membuka suara, tidak jadi melakukannya begitu melihat kemurkaan dari pria yang memerah wajahnya karena dikuasai oleh amarah.
Bahkan ia baru kali ini melihat wajah mengerikan dari seorang Aaron yang sangat dicintainya.
"Mama, hentikan! Aku bukanlah sebuah bola yang bisa dioper sana-sini. Aku mempunyai hati dan tidak bisa memenuhi keinginan Mama untuk menikah dengan sembarang wanita." Aaron saat ini benar-benar sangat marah dengan apa yang menimpanya.
"Jika memang Jasmine tidak mau menikah denganku, sehingga memilih kabur diam-diam, berarti memang acara ini harus dibatalkan. Aku tidak akan menikah dengan siapapun dalam situasi seperti ini. Batalkan pernikahannya sekarang juga dan seluruh semua orang yang hadir pergi!"
Ia pun tidak menunggu sang ibu menanggapi kemurkaannya karena sudah berlalu pergi meninggalkan semua orang menuju ke arah lift.
Aaron yang merasa bahwa dunianya benar-benar hancur hari ini karena selain dipermalukan di depan semua orang, juga dikhianati oleh satu-satunya wanita yang paling dicintai serta dipercayai.
"Berengsek! Jasmine, apa yang kau lakukan padaku?" Ia yang saat ini berada di dalam lift, seketika meninju sisi sebelah kanan ia berdiri hingga membuat aku tangannya mengeluarkan darah.
Tentu saja rasa sakit yang dirasakan tangannya itu tidak lebih besar dari rasa sakit di hatinya yang telah dikhianati kepercayaannya oleh Jasmine. Bahkan dari tadi debaran jantung tidak beraturan ketika angkara murka memenuhi benaknya.
Hingga ia pun kini melihat pintu kotak besi tersebut terbuka dan membuatnya segera berjalan keluar menuju ke arah ruangan kamar. Ia buru-buru mengganti pakaian pengantin dengan kemeja biasa dan segera pergi dari hotel yang dianggapnya sebagai sebuah neraka.
"Jasmine, mungkin jika kau ada di hadapanku sekarang, benar-benar mencekik lehermu hingga kehabisan napas!" teriak Aaron yang saat ini berteriak seperti orang kesetanan untuk meluapkan semua perasaan membuncah yang membuatnya seperti kesulitan bernapas.
Kemudian ia yang baru saja selesai mengganti pakaiannya, tanpa membuang waktu langsung berjalan keluar.
"Aku akan pergi dari neraka ini!" sarkas Aaron yang saat ini memesan taksi karena berpikir bahwa jika mengemudi mobil sendiri sekarang, akan dipastikan akan pergi ke neraka yang sesungguhnya.
To be continued...