
"Suruh para petinggi perusahaan ke ruang meeting sekarang!" seru Candra Kusuma yang ini baru saja tiba di perusahaan.
Bahkan kini sudah berada di dalam lift menuju ke lantai paling atas bersama dengan cucunya. Ia baru saja menghubungi asisten pribadinya dan langsung menutup panggilan telepon sebelum mendengar tanggapan.
Ia yang baru saja memasukkan ponsel pada satu celana, menoleh ke arah sang cucu yang dari tadi hanya diam seperti gugup karena akan diperkenalkan sebagai cucu dan ahli waris.
"Sayang, kamu tidak perlu merasa gugup di depan orang-orang yang bahkan tidak jauh lebih tinggi statusnya darimu. Kamu harus selalu merasa percaya diri karena mempunyai posisi lebih tinggi dari mereka. Jadi, harus berpedoman seperti yang Kakek katakan." Kemudian mengusap lembut lengan cucunya.
Sementara itu, Khaysila saat ini tersenyum simpul untuk menyembunyikan apa yang dirasakan saat ini agar sang kakek tenang. Ia bahkan menganggukkan kepala untuk membuat sang kakek percaya.
"Iya, Kek. Aku akan berpikir seperti itu agar tidak gugup. Aku janji tidak akan membuat Kakek malu mempunyai cucu sepertiku." Ia kini melihat pintu lift terbuka tepat saat menutup mulut.
"Kakek pegang kata-katamu. Bahwa kamu akan membuat Kakek bangga padamu," sahut Candra Kusuma yang kini langsung berjalan menuju ke arah ruangan lift.
Bahkan ia langsung masuk ke dalam ruang meeting yang masih belum ada orang karena mengetahui jika sang asisten baru memberikan pengumuman dan orang-orang baru berniat ke sana.
"Duduklah di sini, Sayang!" Ia menyuruh sang cucu duduk di kursi yang selama ini menjadi tempat duduknya, yaitu presiden direktur.
Kemudian ia sendiri duduk di kursi wakil presiden direktur untuk sementara karena ingin melihat seperti apa ekspresi orang yang selama ini sangat dipercayai. Namun, ia seketika mengepalkan tangan kala merasakan kenyerian luar biasa di bagian perutnya.
'Semoga aku bisa bertahan agar bisa memperkenalkan cucuku kepada semua staf perusahaan di sini, gumamnya kini yang masih berusaha untuk kuat sampai ia mengumumkan pewarisnya.
Hingga pintu ruangan meeting kini terbuka dan satu persatu orang-orang mulai masuk. Ia tahu pandangan semua orang kini ditujukan pada cucunya, tapi sangat senang kala Khaysila tidak gugup lagi seperti tadi.
Hingga beberapa saat kemudian, ruangan yang tadinya kosong itu dipenuhi oleh orang-orang dan langsung membungkuk hormat pada pemimpin perusahaan, baru kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi masing-masing.
Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat seorang pria yang terlihat sangat terkejut dan tengah bingung mencari tempat duduk. 'Pasti dia yang selama ini memanfaatkan kebaikan kakek.'
'Presdir?" tanyanya pada sosok pria yang ada di hadapannya. Kemudian melanjutkan dalam hati. 'Siapa wanita yang berani duduk di kursi presdir?'
Sementara itu, Candra Kusuma yang merasa semua orang sudah datang, kini tidak memperdulikan wakilnya dan langsung bangkit berdiri dari posisinya yang saat ini duduk.
"Selamat siang untuk semua orang yang hadir di sini. Kalian semua pasti bertanya-tanya mengenai siapa gadis ini dan kenapa tiba-tiba mengadakan meeting penting. Itu karena aku membawa kabar baik dan pastinya untuk menyingkirkan biang onar."
Kemudian ia menatap ke arah sosok cucunya agar bangkit berdiri di sebelahnya. "Hari ini dengan sangat bangga aku memberitahukan tentang pewaris yang akan melanjutkan perjuanganku selama ini. Dia adalah cucuku yang selama 20 tahun lebih tidak kusia-siakan dan bernama Khaisyla ...."
Baru saja semua orang heboh dengan pemikiran masing-masing, sehingga kini bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan ada beberapa orang yang langsung mengambil ponsel untuk mengabadikan momen tersebut.
Hingga saat ia berniat untuk menanggapi, merasa sangat terkejut begitu melihat kondisi kakeknya. "Kakek! apa yang terjadi?"
"Tidak!" teriak Khaysila yang kini sangat mengkhawatirkan keadaan dari sang kakek yang tiba-tiba pingsan.
To be continued...