Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Jangan melakukan kesalahan



Khayra yang tadinya merasa sangat kecewa ketika tiba-tiba Aaron tidak membenarkan perkataan sang investor, tapi seketika berubah tidak karuan kalah pria itu mengungkapkan hal yang menurutnya tidak masuk akal.


Apalagi ia bahkan belum mengambil keputusan apapun untuk pria itu, tapi sudah mengungkapkan pernikahan dengan mengundang sang investor datang.


'Apa yang dilakukannya? Apa dia mengigau? Bahkan aku saja belum mengatakan apapun padanya. Bisa-bisanya dia dengan sangat percaya diri mengundang nona Maribell. Bagaimana jika itu hanyalah sebuah omong kosong dan tidak terealisasikan? '


'Bukankah hanya akan mempermalukan kami?' Khayra saat ini hanya terdiam karena merasa bingung harus berkomentar apa.


Hingga tangannya yang dari tadi menggantung di udara untuk memberikan bunga lili putih di tangannya pada wanita itu, kini terhempas karena sangat pegal.


Ia bahkan tidak tahu jika arti dari bunga yang berada di tangannya adalah simbol cinta karena setahunya itu selalu diakui oleh bunga mawar merah yang merupakan lambang perasaan cinta seseorang pada pasangan.


Hingga suara bernada sindiran ini membuat Khayra tidak berkutik sama sekali dan merasa malu.


"Waow ... aku benar-benar tidak menyangka jika kalian mempunyai hubungan dan bisa saling bersaing seperti ini. Memangnya sudah berapa lama kalian saling berhubungan?" tanya Maribell Xavia merasa penasaran melihat pasangan kekasih di hadapannya.


Hingga ia bisa melihat raut kegugupan dari Khayra dan dijawab oleh pria yang saat ini menuju ke arah bunga Peony.


"Sudah dibilang sangat lama dan sebenarnya sekarang sedang bertengkar. Jadi, sengaja membeli bunga itu khusus untuknya. Itulah kenapa saya tidak setuju jika bunga yang merupakan hatiku diberikan pada orang lain, meskipun sehebat Anda."


Aaron kembali menatap ke arah bunga Peony saat ini beberapa langkah sudah rusak. "Ini adalah sebuah simbol kehormatan yang saya tujukan untuk Anda, bukan untuk berniat menjilat agar mau ikut investasi di perusahaan saya."


Ia bahkan saat ini sangat menyayangkan dengan nasib bunga di atas meja yang menjadi korban dari kesombongan serta keangkuhan sang investor yang melampiaskan pada sesuatu yang bahkan tidak bersalah.


"Jika Anda tidak menyukainya, kenapa harus menerima? Lalu tanpa perasaan membuang bunga secantik ini," ucap Aaron yang saat ini memilih untuk mengulurkan pada Anindya.


"Ambil ini juga karena aku tahu jika kamu menyukainya. Meski ada beberapa tangkai yang rusak, tapi aku tahu diri kamu bisa memperbaikinya dan menjaga bunga ini sampai mengering sendiri." Aaron memang mengulurkan tangannya, tapi tetap saja tidak akan sampai diterima Anindya.


Itu karena meja yang menjadi penghalang mereka sangat luas dan tidak mudah untuk saling mendekat. Ia ingin tahu apa respon gadisnya tersebut saat ia melakukan itu.


Hingga ia mendengar suara tepuk tangan dari sang investor yang seperti tengah melihat sebuah pertunjukan menyenangkan.


"Kau benar-benar membuatku seperti seorang wanita tidak laku karena karena romantisanmu, Tuan Aaron. Jadi, seperti ini seorang pria yang tulus mencintai wanita?" Kemudian ia berani menatap ke arah Khayra yang dianggap merupakan seorang gadis beruntung karena dicintai begitu besar oleh seorang pria.


"Apa kau akan terus marah dan tidak memaafkannya? Aku melihatmu ragu saat ini. Atau kamu sudah menemukan penggantinya?" Maribell merasa sangat aneh melihat gadis itu sama sekali tidak berekspresi ketika mendapatkan sebuah hal romantis dari sang kekasih.


Kemudian ia menatap ke arah sama asisten wanita itu yang dari tadi hanya diam seperti patung dan tidak berkomentar apapun.


"Sepertinya kita harus keluar agar Mereka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Bukankah mereka perlu berbicara empat mata? Jadi, sepertinya kita harus pergi!" ucapnya dengan memberikan kode mata pada pria paruh baya tersebut.


"Ya, sepertinya Anda benar, Nona Maribell. Sepertinya mereka membutuhkan waktu untuk berbicara empat mata." Kemudian melangkah pergi begitu wanita itu memberikan kode untuk keluar dari ruangan.


Ia sengaja tidak berpamitan pada atasannya karena mengetahui kita mungkin wanita itu akan menyuruhnya tinggal dan membuatnya merasa seperti pria bodoh.


"Nona Maribell, Om, tunggu! Kalian tidak perlu pergi," teriak Khayra yang saat ini melihat siluet dua orang yang semakin menjauh.


Hingga kegugupannya malah diejek dili sosok pria di hadapannya yang seperti kamu buatnya tidak bisa berkutik dan menutup rapat mulutnya.


"Kenapa harus menghentikan mereka? Bukankah mereka sangat pengertian karena memberikan kita waktu untuk berbicara empat mata menyesuaikan masalah yang belum kelar sampai sekarang?" Aaron sebenarnya ingin berjingkrak karena ada yang mau membantunya menyelesaikan masalah.


Namun, ia berusaha untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya karena ingin memberikan pelajaran pada gadis yang sangat sulit untuk ditaklukkannya meskipun sudah meminta maaf berulang kali.


"Anindya! Lihat aku! Jangan terus melihat ke arah sana karena tidak ada apapun!" sahut Aaron yang saat ini ingin menertawakan gadis yang berdiri cukup jauh darinya.


Hingga ia seketika mengulas senyuman begitu melihat gadis itu menoleh dan menatapnya tajam, tapi malah membuatnya merasa sangat senang bisa berduaan dengan Anindya.


"Apa? Apa yang kau inginkan sebenarnya?" sarkas Khayra yang akhirnya terpaksa menoleh ke arah dia yang membuat jantungnya berdebar kencang melebihi batas normal.


Sejujurnya ia saat ini merasa sangat gugup karena berduaan dengan pria yang masih belum bisa ia lupakan sampai sekarang. Dari dulu selalu mencoba untuk membenci dan melupakan pria itu, tapi selalu gagal melakukannya.


Seolah pria itu telah mengunci hatinya hingga tidak bisa membukanya lagi. Namun, jujur saja sangat gengsi untuk mengakui jika masih memiliki perasaan yang sama.


"Kamu tahu apa yang aku inginkan, Sayang. Jadi, jangan berlagak tidak tahu apapun," sarkas Aaron yang saat ini merasa tidak puas berbicara dengan jarak yang membentang di antara mereka.


Ia pun saat ini bergerak dengan berjalan memutar melewati meja untuk mengikis penghalang agar bisa berbicara lebih dekat.


Hingga saat sudah berdiri dekat di hadapan gadis cantik yang sama sekali tidak berkutik di hadapannya, ia kini bergerak untuk merengkuh kedua sisi lengan Anindya dan mengunci tatapannya.


"Katakan padaku, apa yang kamu inginkan agar aku bisa memilikimu seutuhnya dalam ikatan suci pernikahan. Aku sama sekali tidak main-main dengan perasaanku padamu karena ingin menikahimu setelah dulu melalui kesalahan saat mabuk."


Aaron bahkan saat ini merasa sangat lega bisa berhadapan secara langsung dengan Anindya tanpa ada yang mengganggu. Bahkan melihat gadis itu terdiam seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, ingin sekali membuatnya menggigit kecil pipi putih menggemaskan tersebut.


'Tahan, Aaron. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan dan membuat Anindya ilfil padamu,' gumam Aaron yang sebenarnya tengah menyembunyikan perasaan sebenarnya ketika gugup bisa berada pada posisi sangat dekat dan jarak di antara mereka hanya beberapa senti saja.


To be continued...