Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Ketinggalan



"Anda tidak apa-apa, kan Nona?" tanya sang asisten yang saat ini berjalan di sebelah atasannya yang menampilkan wajah masam setelah membahas tentang wanita lain yang berprofesi sebagai model dan sudah bisa ditebaknya jika itu adalah masa lalu dari Aaron.


Raut wajah cemburu terlihat sangat jelas saat ini dan ia mengerti bagaimana perasaan atasannya tersebut pada pria yang ditinggalkan di private room yang ada di restoran.


Sementara itu, Khayra saat ini merasa sangat kesal ketika membayangkan jika semua yang berhubungan dengan Jasmine selalu saja memantik amarahnya.


Ia tidak ingin pria itu salah paham ataupun berpikir adalah seorang wanita yang sangat kekanakan. "Aku terlihat kekanakan atau tidak, Om? Apa sikapku tadi terlihat seperti orang yang sedang cemburu?"


Refleks ia membekap mulut karena baru saja menyadari sikap bodohnya ketika mengakui jika ia cemburu mendengar nama Jasmine.


"Anda cemburu saat menyebut nama itu sendiri?" Sang asisten saat ini hanya geleng-geleng kepala mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu pada Aaron.


Sementara itu, Khayra menyadari kebodohannya karena memang tadi sama sekali Aaron tidak membahas tentang Jasmine, tapi sendirilah yang membahas tentang wanita itu.


"Aku sangat bodoh saat cemburu, ya Om? Aku pun sangat heran kenapa bisa sebodoh ini." Ia sadar jika pria paruh baya tersebut tidak mungkin mengiyakan perkataannya, jadi memilih untuk membenarkan sendiri.


Sang asisten masih berjalan menyusuri koridor hotel dan mereka berjalan beriringan dengan perasaan berbeda.


"Jika nona Khayra selama ini lebih mementingkan pemikiran orang lain, lebih baik sekarang menjadi diri sendiri saja, Nona. Ikuti kata hati tanpa memikirkan hal-hal yang membuat kita takut atau khawatir karena itu belum tentu terjadi dan banyak akan menambah masalah saja." Sang asisten sudah banyak makan asam garam dalam kehidupan, sehingga hanya ingin sedikit memberikan pengetahuan tentang seorang pria.


Ia kini melihat gadis itu berhenti di depan ruangan kamar dan tidak langsung masuk.


"Menurut Om, apakah pria itu baik untuk dijadikan suami? Aku khawatir serta takut jika terluka untuk kesekian kali," ucapnya yang saat ini memilih untuk bertanya pada orang yang lebih berpengalaman karena jujur saja ia belum pengalaman sama sekali dalam masalah cinta.


Apalagi ia sering mendapatkan bullying yang selalu membuatnya terlihat seperti seorang gadis tidak menarik karena penampilan yang sangat kampungan, jadi seolah membuatnya trauma dan selalu khawatir jika dikhianati oleh pria yang memilih wanita lebih cantik darinya.


Namun, ia sebenarnya ragu memikirkan hal itu dari Christian karena mengetahui jika pria itu adalah orang yang sangat setia. Tapi tetap saja takut mendapatkan sebuah hal yang mustahil, seperti perselingkuhan yang dilakukan dengan mantan kekasih


Apalagi ia mengetahui jika hubungan antara Aaron dan Jasmine cukup lama, sehingga membuatnya kini akan baik-baik saja dan membesarkan anak-anak yang lucu.


"Anda fokus saja pada hubungan kalian tanpa memikirkan perkataan dari orang lain yang mungkin iri karena biasanya faktanya seperti itu. Iri bilang tak mampu, anggap saja begitu. Itu yang selalu ditekankan orang lain agar tidak ada yang mengganggu pikiran mereka."


Khayra berpikir jika ada yang menggoda Aaron saat menjadi miliknya. Kini, ia membayangkan hal itu dan seolah ingin tahu apa yang akan dilakukannya jika itu terjadi.


"Aku mungkin tidak akan menghalanginya pergi jika menginginkannya. Jika itu terjadi, berarti memang sudah siap untuk kehilangan aku dan putraku selamanya," ucap Khayra yang saat ini merasa perasaannya sedikit lebih baik karena sudah tidak dipenuhi oleh api cemburu karena memikirkan tentang Jasmine.


"Lebih baik istirahat saja karena nanti malam kita akan bertemu dengan beberapa rekan bisnis tuan Candra Kusuma yang ingin mengenal Anda." Ia tadi sudah mendapatkan informasi dari beberapa rekan bisnis yang mengetahui jika ia dan penerus dari keluarga Kusuma telah berada di New York.


Ia saat ini menunjukkan grup yang baru saja ramai komentar dan sangat berharap bisa bertemu dengan pewaris dari Kusuma Group.


"Apa semua yang hadir sepantaran dengan kakek?" tanya Khayra yang saat ini merasa tertarik karena pasti bisa membuat orang-orang menyukainya seperti pertama kali melihat kakeknya.


Ia seolah ingin melihat teman-teman sang kakek dan bisa menjadi semangatnya demi terus memberikan pengobatan untuk kesembuhannya.


Sang asisten saat ini menggelengkan kepala karena tidak hanya pria tua yang akan datang di acara yang ada di salah satu restoran tersebut. Namun, juga ada beberapa orang yang lebih muda karena memang meluruskan usaha dari sang kakek atau ayahnya.


Khayra sebenarnya merasa sangat malas bertemu dengan orang-orang, tapi menyadari jika saat ini tanggung jawabnya sangat besar dan harus membawa nama baik sang kakek, sehingga tidak bisa menolak dan mengiyakan.


"Kalau begitu, aku akan tidur dulu, Om. Nanti tolong telepon aku agar bersiap karena biasanya terluka setelah mematikan alarm. Daripada aku datang terlambat, lebih baik Om yang membangunkanku." Ia pun mengambil guest key cara menempelkannya pada alat yang ada di daun pintu.


Kemudian melambaikan tangan pada pria paruh baya tersebut ketika menutup pintu. Hingga pemandangannya yang masih seperti tadi karena bunga mawar itu belum ia singkirkan.


Ia kembali berjalan menyusuri jalanan yang dibatasi dengan kelopak bunga mawar yang sudah layu. "Semoga cinta tuan Aaron tidak akan pernah berubah sepanjang masa," ucap Khayra yang saat ini berjalan mendaratkan tubuhnya di atas ranjang king size setelah melepaskan atasan yang dikenakan.


Ia yang saat ini tengah menatap ke arah langit-langit kamar, mengingat semua yang dilakukan oleh Aaron tadi membuatnya tersentuh. Hingga ia kini tersenyum simpul ketika dipanggil calon istri saat diperkenalkan pada sang investor.


"Tuan Aaron emang sangat pandai pandai mencuri hati seorang wanita lemah sepertiku," gumam Khayra yang saat ini memilih untuk memejamkan kelopak matanya dan berharap segera larut dalam alam bawah sadar.


Namun, saat beberapa menit ia memejamkan mata, mendengar suara ketukan dari luar dan membuatnya mengerutkan kening.


"Siapa? Apa om melupakan sesuatu untuk dikatakan padaku?" Ia seketika terdiam sejenak sebelum bangkit dari ranjang karena tidak ingin tiba-tiba pusing.


Kelemahan orang yang memiliki darah rendah adalah suka tiba-tiba pusing dan gelap saat bangkit dari tempat tidur dan ya tidak ingin tiba-tiba terhempas dinding saat pingsan ataupun semuanya terasa gelap.


Begitu merasakan sudah jauh lebih baik, seketika berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya. Ia seketika membulatkan mata begitu melihat sosok pria yang dari tadi dipikirkan sudah ada di hadapannya.


"Bunganya ketinggalan," ucap Aaron yang saat ini sudah membawa dua buket bunga yang tadi ketinggalan di private room.


To be continued...