
"Jadi, seperti itu ceritanya, Sayang," ujar Jenny yang saat ini tengah menatap intens putranya dan sesekali pada gadis malang yang hanya diam saja tersebut saat menceritakan tentang semua kejadian dari awal mula hingga sekarang.
Sementara itu, Aaron yang yang dari tadi mendengarkan tanpa menyela, kini beralih menatap parah gadis belia di atas ranjang perawatan tersebut karena ingin menanyakan sesuatu yang dari tadi menari di otaknya.
"Jadi, kamu sama sekali tidak mengingat siapa namamu serta asal-usulmu?"
"Iya, aku sama sekali tidak mengingat apapun dan saat mencoba untuk berusaha mengingat, kepalaku rasanya seperti dihantam batu karena sangat sakit." Zea sering melihat film saat tokoh utama mengalami hilang ingatan dan mencoba untuk mempraktekkan agar pria yang pernah membuatnya terpesona tersebut percaya.
Ia bahkan merasa sangat khawatir jika pria bernama Aaron itu bisa mengingat dia adalah orang yang sama di restoran dan pernah menumpahkan minuman ke kemeja.
'Mudah-mudahan pria ini tidak mengingatnya karena aku bisa habis jika sampai ia mengingatnya. Aku bahkan menuliskan alamat saat melamar pekerjaan di restoran itu. Jika sampai CV lamaranku masih disimpan oleh manager restoran, aku akan dikembalikan ke rumah dan dua iblis itu akan kembali menjualku.'
Zea benar-benar merasa sangat takut jika sampai hal yang dipikirkannya terjadi. Ia mungkin akan menyalahkan takdir Tuhan karena telah mendorongnya untuk kembali ke tempat orang-orang jahat yang tidak punya hati dan tidak lain adalah ibu tiri serta kakak tirinya.
Saat Aaron menatap intens wajah yang dianggap tidak asing tersebut, kini masih mencoba untuk mengingatnya dan ingin mengatakan seperti pernah melihat. Namun, tidak jadi mengatakan karena mendapatkan sebuah cubitan dari sang ibu.
"Aaron, apa maksud pertanyaanmu yang terkesan meragukan gadis malang ini? Ia bahkan baru mengalami kecelakaan karena perbuatan ayahmu yang mengemudi dengan kecepatan tinggi saat dalam perjalanan pulang ke rumah. Jangan membuat keluarga kita semakin buruk di mata gadis malang ini."
Jenny awalnya berpikir bahwa putranya akan langsung menerima Anindya karena merasa iba pada nasib gadis Malang itu, tapi karena melihat tidak seperti yang diharapkan, sehingga membuatnya kesal dan memberikan pelajaran.
Karena melihat tatapan tajam dari sang ibu yang juga berhasil menciptakan rasa nyeri pada lengannya, sehingga Aaron tidak jadi mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan gadis yang diberikan nama Anindya itu.
'Lebih baik aku bertanya saat gadis ini sudah pulih dan tentunya tidak ada mama yang akan menyalahkanku. Mungkin nanti aku akan bertanya apakah ia merasa pernah melihatku atau tidak untuk memastikan amnesia yang diderita.
"Maafkan aku, Ma. Aku hanya ingin memastikan dari jawaban gadis ini apa katanya berbohong atau benar-benar amnesia." Bahkan Aaron kembali meringis menahan rasa nyeri di lengannya karena mendapatkan pukulan cukup kuat dari sang ibu.
"Issh! Dasar arogan! Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu atas kemalangan dari Anindya." Kemudian Jenny mengarahkan jari telunjuk pada wajah Anindya. "Lihatlah wajah polos nan malang ini!"
"Bisa-bisanya kamu meragukan gadis malang ini yang bahkan tidak bisa mengingat apapun setelah menjadi korban kecelakaan. Seharusnya kamu menghiburnya dan menganggapnya sebagai adik perempuan."
"Astaga, Ma. Mana mungkin aku bisa langsung melakukannya dengan menganggap gadis ini seperti adik perempuan saat aku belum pernah memiliki. Hingga ia tiba-tiba muncul dan mama menyuruhku langsung menyayanginya sebagai saudara?"
"Apa ini masuk akal? Jika ia bayi yang mama melahirkan, pasti aku akan mengatakan iya dengan penuh percaya diri. Tapi ini? Tiba-tiba gadis dewasa datang dan mama menyuruhku seperti menganggapnya adik kandung sendiri. Bukankah semuanya butuh waktu?"
Sengaja ia berbicara panjang lebar agar sang ibu mengerti dan tidak sepenuhnya menyalahkannya. Hingga ia yang ingin mendengar tanggapan dari sang ibu, saat ini malah mendengar suara dari Anindya.
"Nyonya, tolong jangan marahi putra Anda hanya karena saya. Wajar saja jika tuan bersikap seperti itu karena baru pertama kali melihat saya."
Zea benar-benar merasa sangat tidak tega melihat ibu dan anak malah berdebat hanya karenanya. Jadi, ia memilih untuk berbicara formal karena merasa bersalah.
"Terima kasih, Anindya karena kamu bisa memahami putraku. Padahal kamu masih sangat muda dan putraku sudah matang, tapi tidak bisa bersikap selayaknya usianya." Jenny sengaja menyindir agar putranya tidak lagi mempermasalahkan apapun mengenai Anindya.
Embusan napas kasar terdengar jelas mewakili perasaan Aaron saat ini, sehingga memilih untuk mengalah dan tidak ingin berdebat atas apapun.
"Iya, Ma, aku tahu itu." Kemudian ia beralih menatap ke arah Anindya sambil mengulurkan tangan. "Aku minta maaf atas sikapku tadi." Masih menunggu menunggu hingga mendapatkan balasan.
Tanpa membuang waktu dan bernapas lega karena tidak ketahuan oleh pria di hadapannya, Zea seketika menjabat tangan itu. "Anda tidak perlu meminta maaf karena tidak bersalah."
"Terima kasih," sahut Aaron yang memilih untuk berdamai agar tidak dianggap mencari kesalahan oleh sang ibu.
Meskipun ia sebenarnya masih belum bisa tenang karena seperti pernah bertemu dengan gadis malang itu dan mencoba untuk mengingat-ingatnya.
'Siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa aku merasa sangat yakin pernah bertemu dengannya? Tapi kenapa aku tidak mengingatnya pernah bertemu di mana?' gumam Aaron yang saat ini tidak mengalihkan pandangannya dari wajah gadis belia di depannya tersebut.
Hingga ia menyadari jika gadis malang itu mempunyai wajah cantik nan imut, sehingga membuatnya merasa terpesona.
To be continued...