Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menunggu jawaban



Zea saat ini tengah berada di dalam kamar dan berniat untuk tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tadi Erick baru saja pergi ke rumah pak RT karena memang tidak diizinkan tidur di sana karena hanya tinggal sendiri.


Jadi, mau tidak mau Erick terpaksa mengikuti aturan dan pergi setelah banyak berbincang dengannya. Kini, ia berniat untuk memasang alarm agar bangun pagi karena berencana memasak untuk sarapan lebih awal agar Erick tidak perlu repot membantunya.


Apalagi tadi Erick bilang akan kembali pukul enam pagi, jadi ia berniat untuk menyelesaikan memasak sebelum jam itu. Namun, ia mendapatkan sebuah notifikasi dari ponselnya dan langsung membacanya dengan suara lirih.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan besok. Tadi aku sudah bilang pak RT bahwa ingin menyewa motor untuk kita jalan-jalan. Sekalian aku ingin menunjukkan pada putrinya yang seperti cari perhatianku dari tadi dan membuatku sangat risi. Bahwa aku sudah punya ayang dan tidak menerima lowongan pacar."


Zea bahkan kini tertawa kecil begitu selesai membaca pesan dari Erick. Ia tidak berniat untuk membalasnya karena merasa sangat mengantuk setelah berkali-kali menguap.


Namun, baru saja meletakkan ponsel di atas nakas, ponselnya berbunyi dan membuatnya kesal begitu melihat Erick yang menelpon. Dengan wajah masam ia menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang sana.


"Ayang, kenapa tidak dibalas, sih! Aku menunggu lho dari tadi. Bikin kesal saja," sahut Erick yang saat ini sudah berada di dalam ruangan kamar tamu yang ditempatinya di rumah pak RT.


Kebetulan sebelahnya adalah ruangan kamar putri satu-satunya dari pak RT, jadi ia memang sengaja melakukannya agar tidak dikejar-kejar oleh gadis itu. Apalagi berpikir jika putri pak RT sangat kecentilan dan sok akrab dengannya, sehingga merasa ilfil.


"Iya, maaf. Oke, kita baik jalan-jalan di kota karena aku pun belum keluar sama sekali dari rumah. Berangkat pagi saja, jadi sekalian cari sarapan agar aku tidak repot memasak." Zea sebenarnya merasa sangat bosan hanya diam di rumah tanpa kegiatan.


Nasib baik ia masih punya banyak uang yang diberikan oleh ibu Aaron. Jadi, merasa tenang karena kebutuhannya tercukupi meskipun ia tidak bekerja. Kini, ia bisa mendengar respon Erick yang seperti sangat senang.


"Asyik! Akhirnya Ayang mau juga diajak jalan. Aku pun ingin berkeliling kota Jogja. Baiklah, besok kita berangkat pagi. Kalau begitu, selamat tidur, Ayang. Jangan lupa mimpiin aku, ya." Erick sengaja langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Zea karena khawatir jika gadis itu marah.


Sementara itu di sisi lain, Zea kini menatap layar ponselnya dan hanya geleng-geleng kepala. "Dasar Erick. Tingkahnya benar-benar seperti anak kecil saja, tapi menggemaskan juga."


Zea pun kini memejamkan mata yang sudah tidak kuasa untuk terbuka lagi dan menaruh ponsel miliknya di sebelah bantalnya. Hingga suara napas teratur terdengar memenuhi ruangan kamar setelah beberapa menit berlalu.


***


Keesokan paginya, Zea terlihat sudah siap menunggu Erick di depan teras rumah. Ia hari ini sangat senang karena akhirnya bisa berkeliling kota Jogja setelah cukup lama berdiam diri di dalam rumah.


Saat ia menunggu Erick, mengerutkan keningnya kala melihat sebuah mobil mewah yang sangat tidak asing berhenti di depan rumahnya. Ia melihat seorang pria paruh baya berjalan memasuki halaman rumahnya dan seketika membuatnya bangkit berdiri dari kursi.


Di saat bersamaan, Erick datang dengan mengendarai motor matic dan ikut menatap ke arah pria paruh baya yang menyapanya.


"Selamat pagi, Nak," sapa Candra Kusuma yang tadi sengaja keluar pagi-pagi sekali dari hotel karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan keadaan cucunya yang saat ini berdiri di hadapannya.


Ingin sekali ia langsung memeluk erat tubuh mungil cucunya yang selama ini tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang kakek, tapi tidak bisa melakukan itu karena ternyata ada sosok pria yang kemarin mencurigai mobilnya.


"Pagi. Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan? Sepertinya Anda bukan orang sini." Zea awalnya mengerutkan kening dan sekarang tersenyum pada pria paruh baya yang terlihat seperti tengah memendam kesedihan. Sampai ia mendengar suara Erick yang baru saja mendekatinya.


"Bukankah Anda yang kemarin memarkirkan mobil di depan sana? Sebenarnya Anda siapa? Anda bukan orang jahat yang mengincar para gadis muda untuk dijadikan istri berikutnya, kan? Jangan macam-macam karena Zea adalah ayangku," ucap Erick yang kini mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.


Ia sangat curiga melihat pria tua dengan mobil mewah mendatangi Zea yang tinggal sendirian di rumah dan berpikir jika akan dimanfaatkan oleh orang jahat.


'Awas saja jika bandot tua ini sampai macam-macam pada Zea, aku tidak akan pernah tinggal diam. Sepertinya aku harus melaporkan ini pada pak RT agar mau memperhatikan warganya dan berhati-hati dengan orang jahat,' gumam Erick yang saat ini tengah menunggu jawaban dari pria paruh baya tersebut.


To be continued...