
Dua jam telah berlalu semenjak kedatangan Aaron di tempat sahabatnya. Hingga ia pun merasa sangat terkejut dengan beberapa fakta mengejutkan dari sosok gadis belia yang mengalami Amnesia.
Refleks ia bertepuk tangan begitu mendengar suara dari sahabatnya yang kini langsung mengungkapkan kebahagiaannya.
"Luar biasa. Ternyata semua soal-soal yang diberikan sudah kamu babat habis, Anindya. Sepertinya fix ini jika kamu adalah juara di kelas saat sekolah." Sandy kali ini menutup laptop karena berpikir jika kemampuan Alesha tidak lebih dari itu."
"Terima kasih. Aku tadi hanya mengikuti apa yang kupikirkan. Mungkin aku dari lahir sudah ditakdirkan untuk pintar, sehingga meskipun amnesia, tidak menghilangkan kejeniusanku." Zea sengaja berbicara sangat lebay agar dua pria itu tidak curiga padanya.
Padahal jauh di lubuk hati sangat mual dengan apa yang baru saja dikatakannya. 'Bisa-bisanya aku berbicara memuakkan seperti ini.'
Sandy merasa jika semuanya sudah selesai dan ia menutup kembali laptopnya. "Perfect. Sekarang terserah Aaron mau memasukkanmu di universitas mana, asalkan kamu tetap menjadi cerdas untuk diri sendiri seperti ini."
Kemudian ia menoleh ke arah sosok wanita yang tidak pernah bisa digapainya saat bersama dengan sahabatnya yang selalu bersikap over protektif.
"Apa kau jadi memasukkan Anindya ke universitas tanpa ada pengenal apapun?" Sandy diam-diam merasa penasaran dengan rencana sahabatnya.
Sementara itu, Aaron yang saat ini sama sekali tidak berniat untuk memberitahukan rencananya pada Sandy, kini memilih untuk berbohong.
"Aku akan membahasnya dengan mama karena ia sangat menyayangi Anindya." Kemudian Aaron kini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kirinya dan berpura-pura terkejut.
"Astaga! Ternyata sudah larut malam. Kita harus pulang karena jika sampai mama marah, aku akan kena jewer nanti." Aaron kini menarik lengan Anindya yang seperti malas bangkit dari sofa.
Bahkan kini ia bisa melihat sosok wanita yang ada di hadapannya sudah menguap beberapa kali.
"Pantas saja aku ngantuk, Tuan Aaron. Ternyata sudah tengah malam. Kenapa waktu terasa sangat cepat hari ini?" Zea kini menoleh ke arah pria yang dianggap adalah gurunya. "Saya pulang dulu, Pak Guru. Terima kasih atas semuanya hari ini."
Kemudian bangkit berdiri dari posisinya setelah mendapatkan anggukan kepala. Hingga ia membulatkan kedua mata kala mendapatkan sebuah tawaran yang bahkan sama sekali tidak ada di pikirannya.
"Jika ngantuk, tidur saja di sana. Ada kamar tamu yang kosong dan Aaron bisa tidur di kamarku nanti." Sandy ikut berdiri setelah tadi membalas uluran tangan sosok gadis belia mungil itu.
"Sorry, aku tidak bisa tidur jika bukan di ranjangku." Kemudian ia berjalan menuju ke arah sosok sahabatnya dan memeluk sekejap untuk berpamitan. "Sekali lagi terima kasih, Bro."
Sandy pun menepuk punggung sahabatnya dan berniat untuk mengucapkan salam perpisahan sebelum melihat kepergiannya.
"Santai saja karena ini hanyalah masalah kecil. Lain kali aku akan membantu lagi jika menyangkut pendidikan Anindya."
'Bahkan kalimat terakhir bisa membuat siapapun terbebani,' gumam Aaron yang kini hanya menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan.
"Baiklah, aku pergi." Kemudian menggandeng pergelangan tangan kiri sosok gadis yang ada di hadapannya keluar dari pintu utama.
Zea hanya diam saja dan melakukan apapun perintah dari Aaron dan karena ia sangat mengantuk, membiarkan pria itu memakaikan helm padanya.
Kemudian ia langsung naik motor sport yang menurutnya sangat tinggi untuk dinaiki.
"Pegangan yang kuat karena aku tidak ingin kamu jatuh karena efek ngantuk." Aaron kini memberikan kode pada Sandy jika ia akan pulang.
Begitu melihat sahabatnya melambaikan tangan, ia langsung mengendarainya dan pintu gerbang terbuka. Sepanjang perjalanan, Aaron sibuk memikirkan pilihan universitas yang tidak banyak syarat, tapi bagus dan pastinya belum menemukannya.
Berbeda dengan Zea yang dari tadi menahan kantuk dan melebihi batas ketika matanya seperti dilapisi lem.
"Ngantuk sekali," lirih Zea yang kini semakin mengeratkan pelukan karena takut jatuh dan ia pun sudah menaruh dagu pada pundak pria itu dan memejamkan mata.
Aaron yang merasa paling benar, kini sudah berjalan mengurangi kecepatan agar tidak bisa menahan diri lagi.
To be continued...