Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Aneh tapi nyata



Zea yang mengerjapkan kedua mata beberapa kali begitu mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Aaron. Ia bahkan kini menormalkan degup jantung tidak beraturan yang seperti hendak melompat dari tempatnya kala pria di hadapannya bisa saja menciumnya jika belum pernah melakukan itu.


'Tuan Aaron berbicara seperti itu apa tidak memikirkan bagaimana jantungku berdegup kencang seperti ini? Mudah sekali ia bertanya padaku apakah aku pernah berciuman atau belum dan membuat hatiku galau seperti ini.'


Zea masih berusaha untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan dan saat ini berakting tertawa terbahak-bahak. Bahkan sudah memegangi perutnya agar lebih meyakinkan.


"Tuan Aaron, jika nona Jasmine sampai mendengarnya, mungkin pernikahan kalian akan dibatalkan. Bisa-bisanya Anda bertanya padaku apakah sudah pernah berciuman atau belum hanya karena melihat penampilanku yang seperti ini."


Zea yang tadi tidak berencana untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih longgar, kini berniat untuk patuh karena berpikir jika perkataan Aaron benar.


Bahwa saat Sunmori, pasti mayoritas dipenuhi para laki-laki. Sementara perempuan mungkin hanya segelintir karena kebanyakan anak motor membiarkan jok belakang ditempati angin.


"Lupakan saja pembahasan tidak penting ini Tuan Aaron, aku akan mengganti pakaian dulu. Kemudian baru menemui Erick di bawah. Pasti ia terlalu lama menunggu," ujarnya dengan penuh percaya diri untuk menutupi kegugupannya.


Berbeda dengan Aaron yang baru menyadari kesalahannya karena malah berbicara konyol ingin mencium gadis di hadapannya tersebut begitu melihat bibir mengerucut.


"Kamu benar juga. Mana mungkin aku akan mengorbankan duniaku hanya untuk menciummu yang belum pernah melakukan itu? Tapi awas saja jika kamu sembarangan berciuman dengan Erick atau pria lain nanti." Aaron mengarahkan tangannya untuk menyentil kening Anindya.


Kemudian ia bisa melihat respon dari sosok gadis muda tersebut ketika meringis kesakitan dan malah membuatnya gemas, sehingga beralih mencubit kedua sisi putih itu.


"Tuan Aaron selalu saja berpikir aku adalah seorang gadis polos dan bodoh yang tidak tahu apa-apa. Hingga berpikir aku mudah jatuh dalam rayuan Erick atau laki-laki lain," rengut Anindya yang saat ini mengempaskan tangan dengan buku-buku kuat itu.


Selama mendapatkan sentuhan fisik dari seorang pria tampan yang dipujanya, tentu saja membuatnya merasa tidak karuan, tapi harus berakting baik-baik saja kala jantungnya seperti hendak melompat dari tempatnya.


'Padahal hatiku dengan mudahnya goyah hanya menatapnya. Bahwa hanya dialah pria yang membuat jantungku serasa meledak seperti ini, tapi malah sibuk memikirkan tentang kekhawatiran tak berdasar,' umpat Zea di dalam hati untuk meluapkan kekesalannya.


Berbeda dengan Aaron yang kini merasa tertampar begitu kekesalan gadis di hadapannya diungkapkan. Ia kini menggaruk tengkuk belakang untuk menghilangkan rasa bersalah.


"Bukan seperti itu konsepnya, Bocil. Aku hanya mengungkapkan hal yang membuatku khawatir padamu. Bukan bermaksud berpikir kamu adalah gadis gampangan. Jadi, jangan salah paham." Karena tidak ingin suasana makin memanas, sehingga membuatnya memilih menghindar.


"Ya sudah ganti pakaian yang lebih longgar sana! Aku ingin menemui Erick di bawah dan mengancamnya agar tidak berani macam-macam padamu." Kemudian ia berbalik badan dengan raut wajah penuh penyesalan saat menuruni anak tangga.


'Protesnya mengingatkanku saat di tes oleh Sandy dan menegaskan jika bocil adalah anak jenius. Bisa-bisanya ia menjawab tanpa ada yang salah. Ane tapi nyata.'


'Bisa jadi ia akan bersikap di luar kendali jika ada yang berani merayunya, termasuk si playboy Erick,' gumam Aaron yang saat ini tengah memikirkan hal-hal diluar nalar dari gadis yang sudah beberapa hari ini membuat suasana rumah menjadi lebih hidup.


To be continued...