
Erick kini semakin mendekati mobil mewah yang dianggap sangat mencurigakan karena berada di area pedesaan. Ia ingin bertanya untuk memastikan apa yang saat ini ada di pikirannya.
Namun, saat ia hampir mengetuk pintu mobil bagian depan yang tidak tembus pandang itu, seketika menoleh ke belakang begitu mendengar suara teriakan dari Zea.
"Erick, tunggu!" teriak Zea yang berjalan cepat mendekati Erick.
Tadinya ia ingin membiarkan Erick pergi ke rumah pak RT untuk melapor, tapi ketika mengingat tempatnya cukup jauh dari rumahnya, sehingga tidak tega. Namun, begitu melihat Erick yang malah mendekati sebuah mobil, berpikir jika pria itu akan membuat masalah di kampung.
Buru-buru ia ingin menghentikan Erick. Kini, ia langsung menepuk pundak kokoh pria yang sudah ada di hadapannya. "Ayo, aku temani ke tempat pak RT. Sekalian aku memang ingin ke warung depan untuk membeli camilan karena kehabisan."
Erick kini merasa tersindir karena datang tidak membawa oleh-oleh untuk Zea. "Maafin aku, Ayang. Aku buru-buru, sampai tidak sempat membeli oleh-oleh untukmu. Semua ini gara-gara si berengsek itu yang memata-matai aku."
"Ayo, biar aku yang belikan jajanan untukmu. Nanti ambil saja apa yang kamu sukai. Biar aku yang yang bayar." Erick pun langsung menggandeng pergelangan tangan kiri Zea dan berjalan ke arah timur.
Sementara itu, Zea yang tadinya sekilas menatap ke arah mobil, tapi sama sekali tidak bisa memeriksa siapa yang ada di dalam, kini geleng-geleng kepala melihat Erick. Refleks ia menahan kemeja pria yang dianggap sok tahu itu.
"Bukan ke sana, tapi ke barat, Erick. Rumah pak RT ada di barat sana." Menatap ke arah tangan Erick yang menggandeng tangannya. "Jangan membuat para warga bergosip tentangku. Ini kampung, bukan Jakarta yang mayoritas penduduknya individual. Jadi, lepaskan tanganku!"
Tatapan tajam mengintimidasi yang ditujukan padanya, membuat Erick seketika merasa tertampar. Ia refleks melepaskan genggaman dan mengangkat ke atas seperti penjahat yang menyerah di depan polisi.
"Iya ... iya, Ayang. Maaf. Aku tidak mungkin membiarkan orang-orang membicarakanmu hanya gara-gara aku." Erick kini menunjuk ke arah barat setelah berbalik badan. "Kenapa tidak bilang dari tadi sih, Ayang? Bahwa kita harus ke sana. Sekarang kamu tunjukkan rumah pak RT."
Zea sama sekali tidak menanggapi meskipun disalahkan. Entah mengapa ia kini sudah tidak merasa risi lagi mendengar dipanggil seperti itu oleh Erick. Seolah kata ayang sudah menjadi sebuah ciri khas dari pria yang dianggap adalah orang baik karena selalu menghiburnya meskipun sudah ditolak berkali-kali.
Ia pun kini melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan Erick dan langsung dikejar oleh pria itu. 'Erick adalah seorang pria yang tidak mudah menyerah. Padahal aku sudah menyuruhnya mencari wanita lain, tapi tetap berada di sisiku meskipun berkali-kali kusakiti.'
Zea sebenarnya merasa bersalah sekaligus tidak tega pada Erick, tapi karena mengetahui jika pria itu akan bersedih kala dipaksa menjauh darinya, sehingga membiarkan pria itu berbuat sesuka hati.
Erick yang saat ini berjalan di sebelah kanan Zea yang hanya diam, mulai mengungkapkan apa yang ingin dilakukan bersama ketika berada di Jogja. "Ayang, nanti kalau pak RT mengizinkan aku tinggal di rumahmu, aku ingin mengobrol sampai pagi."
"Apalagi besok sore aku sudah kembali ke Jakarta, jadi ingin terus terjaga bersamamu. Makanya aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk berbuat macam-macam padamu." Hingga ia merasakan rasa nyeri pada bagian pinggangnya kala mendapatkan sebuah cubitan sangat kuat.
"Dasar bocah edan! Apa kamu mau membuat wajahku seperti panda dengan kelopak mata menghitam? Memangnya siapa yang tahan terjaga di malam hari? Hantu?" sarkas Zea yang kini melewati beberapa rumah warga dan menyapa dengan sesekali menganggukkan kepala.
Sebuah hal yang wajib dilakukan di kampung adalah menyapa saat bertemu tetangga karena jika tidak, akan dikira sombong dan menjadi topik gibahan para ibu-ibu.
Sementara itu, Erick yang melihat perbuatan Zea, kini berbicara lirih pada gadis itu. "Apa tidak berbusa mulutmu jika terus menyapa orang-orang? Mana kita jalan kaki dan bertemu dengan banyak orang pula."
"Kalau ada motor, kamu tidak harus menyapa satu persatu orang. Jadi, seperti ini ribetnya tinggal di kampung?" Erick menghentikan langkahnya begitu melihat Zea berhenti dan menaruh telunjuk di depan bibir agar ia diam.
Zea pun menceritakan tentang kebaikan para warga yang peduli dengan sesama dan saling tolong menolong serta bekerja sama dalam hal apapun. Bahkan ia yang tidak pernah keluar rumah untuk bersosialisasi saja sempat beberapa kali diberikan makanan.
Ini baru pertama kali ia berjalan berkeliling dan membeli makanan ringan di warung karena ingin menunjukkan jika ia tidak akan berbuat macam-macam dengan Erick, yaitu melapor pada ketua RT.
Sementara itu di sisi lain, Candra Kusuma yang dari tadi tidak berkedip menatap gadis mungil yang memiliki paras seperti putrinya, berkaca-kaca di dalam mobil.
Bahkan ia tidak berkedip menatap cucunya yang ingin sekali dipeluknya dan mengungkapkan kata maaf untuk menebus kesalahannya. Namun, ia tidak ingin ada orang lain yang melihat, termasuk pria yang dipanggil cucunya Erick itu.
"Cucuku sudah remaja dan persis seperti ibunya. Mungil dan manis," lirih Candra yang kini merasa bersalah karena telah membuat cucunya sendirian setelah orang tua meninggal.
"Apa Tuan tidak turun untuk menemui nona muda?" Sang supir yang melihat dari spion, merasa iba dan ingin melihat majikan tidak tersiksa rasa bersalah, tapi merasa heran begitu mendapatkan perintah.
Refleks Candra Kusuma menggelengkan kepala. "Kita kembali ke hotel! Aku akan menjemput cucuku jika pria itu sudah pergi dari sini."
"Baik, Tuan." Sang supir pun menuruti perintah dari sang majikan dengan menyalakan mesin mobil dan meninggalkan area tersebut.
Tentu saja saat mobil berjalan, lewat di depan Zea dan Erick yang masih berhenti di pinggir jalan.
Erick yang sekilas melihat mobil yang tadi dicurigai, kini menunjuk ke arah kendaraan yang baru saja lewat tersebut. "Apa kamu pernah melihat mobil itu di area dekat rumahmu, Ayang?"
Zea yang mengikuti arah telunjuk Erick, hanya menggeleng perlahan dan kesal pada pria yang tidak mendengarkan penjelasan panjang lebar darinya. "Buat apa mengurusi mobil orang lain, Erick?"
"Aku khawatir jika itu adalah orang suruhan Aaron. Bagaimana jika Aaron datang ke sini? Bukannya kamu tidak mau bertemu dengannya?" Erick berbicara sambil masih menatap ke arah mobil yang mulai makin menjauh dan tidak terlihat.
Zea yang saat ini merasa bingung menjawab karena jujur saja ia sangat merindukan Aaron, tapi rasa bencinya juga jauh lebih besar. 'Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan pada pria itu jika menemukanku, tapi yang jelas aku sangat membencinya.'
Erick kini bisa melihat tatapan kosong Zea dan itu merupakan hal paling tidak disukai jika membahas Aaron, pasti akan membuat gadis itu murung dan bersedih. Ia pun menggerakkan tangannya ke hadapan wajah Zea.
"Ayang, sebenarnya apa yang dilakukan Aaron padamu? Apa kamu masih tidak bersedia menceritakannya padaku?" Erick merasa kesal kala melihat Zea tanpa berpikir langsung menggelengkan kepala dan berjalan meninggalkannya.
'Astaga! Sebenarnya apa yang membuat Zea sangat membenci Aaron hingga memilih pergi dan hidup di kampung ini?' gumam Erick yang kini sedikit berlari untuk mengejar gadis mungil yang sudah berbelok di sebuah rumah dengan halaman sangat terawat dan banyak bunga-bunga di dalam lift yang bermekaran.
To be continued...
"Ayang,
merasa terbiasa