
Zea yang beberapa saat lalu baru saja mengirimkan pesan pada Erick, menatap ke arah sang kakek yang baru saja memberikan pesan padanya.
"Cucuku, untuk sementara waktu, rahasiakan jati dirimu serta tempat tinggal di Surabaya karena demi kebaikan. Ada banyak saingan bisnis yang mengincar Kakek. Sebelum surat wasiat kakek yang menyatakan bahwa kamu adalah pewaris utama, tidak ada yang boleh tahu bahwa kamu adalah cucuku."
Candra Kusuma yang selama ini sering mendapatkan sebuah kecurangan dari rekan bisnis yang mengincar perusahaannya, sehingga dalam melakukan apapun selalu berhati-hati.
Bahkan semua bahkan bisnisnya mengetahui jika ia tidak mempunyai penerus dan berpikir perusahaannya akan gulung tikar jika ia sudah meninggal dan pastinya akan ada banyak orang yang mau mengakuisisi.
Ia ingin semua saingan bisnisnya berpikir seperti itu agar tidak ada yang berusaha untuk menyakiti cucunya dan meyakinkan gadis yang saat ini masih memegang ponsel di tangan agar mau patuh dan menurut padanya.
Zea yang tadinya baru saja mengirimkan pesan pada Erick, seketika merasa bersalah pada sang kakek. "Yah, Aku baru saja mengirimkan pesan pada Erick bahwa saat ini menuju ke Surabaya."
Ia pun menunjukkan pesan yang tadi dikirimkan pada sang kakek agar mengetahui bahwa ia belum mengatakan mengenai hal yang sebenarnya menjadi penyebab pindah ke Surabaya.
"Bagaimana menurut, Kakek?" tanya Zea yang akan melakukan perintah dari sang kakek jika dilarang untuk mengirimkan pesan pada Erick yang selama ini sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.
Sementara itu, Candra Kusuma saat ini menerima ponsel dari cucunya dan membaca pesan itu. "Syukurlah kamu belum menceritakan semuanya. Lagipula ini masih centang satu dan belum dibaca olehnya."
Kemudian ia langsung menghapus pesan tersebut dan menonaktifkan ponsel cucunya agar tidak ada yang bisa menghubungi untuk sementara waktu demi menjaga keselamatannya.
"Untuk sementara, jangan berhubungan dengan siapapun, Cucuku. Kakek sudah mengurus semuanya melalui pengacara dan menunggu hasil tes DNA. Sebenarnya Kakek sangat tidak suka dengan perintah dari pengacara yang menyuruh untuk melakukan tes demi memastikan hubungan darah, tapi itu adalah syarat yang harus dipenuhi untuk menyerahkan semua aset Kakek padamu."
Ia saat ini menoleh ke arah belakang dengan memiringkan tubuhnya saat menyerahkan ponsel dari cucunya yang baru saja dinonaktifkan agar tidak ada yang bisa menghubungi sementara waktu.
Sementara itu, Zea yang mengingat jika rambut disisir tadi hilang, seketika terjawab pertanyaan yang sempat membuat Erick mengatakan tentang tes DNA.
"Aah .. jadi kakek yang menyuruh orang untuk menyusup masuk ke dalam rumah demi mendapatkan sampel rambut untuk tes DNA?" Zea sebenarnya juga merasa kecewa karena diragukan merupakan cucu kandung dari pria paruh baya yang memiliki riwayat penyakit mematikan itu.
Namun, menyadari bahwa raut wajah sang kakek juga menjelaskan kekecewaan dan tidak ada pilihan lain selain patuh pada perintah pengacara, ia kini mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di pikirannya.
"Aku sama sekali tidak menginginkan semua harta Kakek. Aku hanya ingin Kakek sembuh. Makanya mengajukan syarat agar Kakek mau berobat sampai sembuh. Jadi, jangan membicarakan mengenai surat wasiat yang seperti menegaskan bahwa kakek akan meninggalkanku sendirian di dunia ini."
"Padahal aku merasa senang karena masih mempunyai keluarga dan tidak sendirian hidup di dunia ini." Zea merasa yakin jika sang kakek akan sembuh setelah melakukan pengobatan.
Apalagi mempunyai banyak uang yang bisa digunakan untuk berobat ke Rumah Sakit terbaik. "Lebih baik uang Kakek digunakan untuk berobat dan sembuh karena itu jauh lebih berharga daripada harta melimpah, tapi Kakek sakit."
Seorang kakek yang saat ini terlihat berkaca-kaca karena merasa terharu atas perhatian dari cucunya yang seharusnya membenci atas perbuatan di masa lalu yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan.
"Kakek benar-benar merasa bersalah pada orang tuamu dan juga kamu, Cucuku. Mungkin jika dulu tidak berkeras hati seperti ini, tidak akan mendapatkan karma dari perbuatan buruk yang kulakukan pada kalian. Kakek menganggap penyakit Ini adalah sebuah hukum tabur tuai."
"Bahwa semua hal yang dilakukan akan mendapatkan balasan sesuai dengan porsinya masing-masing. Sekarang Kakek sedang menuai hasil yang ditanam dan biarkan Kakek menikmatinya untuk menebus dosa."
Saat ia baru saja mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan saat menatap cucunya, melihat gadis yang sangat disayanginya itu malah mengulurkan camilan yang baru saja dibuka.
"Lebih baik Kakek makan ini daripada berbicara hal yang membuatku tidak tenang. Lagipula, semua manusia yang dulu melakukan kesalahan akan diampuni oleh Tuhan setelah bertobat karena pintu maaf selalu terbuka lebar bagi umatnya yang mau berubah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahannya." Zea makin merasa tidak tega jika sang kakek selalu membahas tentang kesalahan di masa lalu.
Memang ia sempat merasa sangat kecewa serta marah kepada sang kakek dan berpikir tidak akan pernah memaafkannya karena membuat sang ibu hidup sederhana saat memiliki kekayaan melimpah.
Namun, karena melihat sendiri bahwa sang ibu selalu merasa bahagia bersama ayahnya, sehingga merasa bahwa tidak ada penyesalan dari wanita yang telah melahirkannya tersebut ketika keluar dari rumah dan memilih untuk fokus hidup bersama pria yang dicintai.
Ia saat ini mengerutkan kening karena sang kakek tidak langsung mengambil camilan yang diberikan. "Ambil, Kek. Biar Kakek tidak terus menyalahkan diri sendiri karena ibuku tidak pernah menyalahkanmu."
"Ibu selama ini selalu hidup berbahagia dan tidak pernah terlihat bersedih saat hidup bersama dengan ayah. Bahwa kebahagiaan itu tidak bisa diukur dari banyaknya uang yang dimiliki karena kenyamanan sulit ditemukan dari orang-orang sekitar kita."
"Namun, Ibu sudah menemukannya pada pria yang dicintainya dan menyerahkan hidupnya sampai ajal menjemput." Zea ingin membuang rasa bersalah yang memenuhi jiwa sang kakek agar tidak selalu terbebani oleh hal yang sudah berlalu.
Ia seketika tersenyum begitu melihat sang kakek mengambil kemasan plastik berisi keripik buah itu. Sengaja ia memberikan camilan sehat untuk sang kakek yang diketahui harus berhati-hati dalam memilih makanan yang dikonsumsi.
"Kamu membuat Kakek tidak bisa menolak apapun perintahmu, Cucuku. Terima kasih karena mau berbelas kasihan pada seorang kakek tua yang punya banyak dosa ini." Kemudian ia mengambil camilan itu dan mengunyahnya perlahan.
Saat mendengar suara cucunya yang terkekeh geli, ia kini kembali resah kala mendengar suara dari Zea.
"Kek, aku tidak butuh harta Kakek karena hanya ingin Kakek bisa berumur panjang dan kita bersama-sama terus. Meskipun maut sudah tertulis sebelum kita dilahirkan, tapi aku ingin Kakek tetap berusaha untuk sembuh dengan cara berobat." Zea ingin memenuhi pikiran sang kakek agar tetap optimis.
Meskipun ia tahu jika sang kakek merasa sudah tua dan tidak perlu bersusah payah berobat, tapi tetap ingin berusaha untuk merubah pemikiran itu.
"Kakek harus yakin bisa sembuh dan manfaatkan uang Kakek yang banyak untuk menikmati masa tua dengan menyembuhkan penyakit itu." Zea kini mengulurkan jarinya, agar sang kakek mau berjanji.
"Janji, Kakek harus semangat untuk sembuh agar kita bisa bersama lebih lama dari prediksi dokter," ucap Zea yang kini tersenyum kala melihat sang kakek tidak menolak dan mengaitkan jari kelingkingnya, lalu tersenyum sepertinya.
To be continued...