
"Jadi itu cewek incaran Erick?" tanya salah satu pria yang saat ini tengah di antara kerumunan teman-temannya yang masih menatap ke arah interaksi antara sahabat mereka bersama dengan seorang gadis mungil yang menurut mereka mirip seperti artis Korea.
Bahkan kulit putih bersih yang semakin menambah aura kecantikan gadis dengan tubuh mungil tersebut membuat beberapa pria merasa gemas.
"Iya. Ternyata selera seorang Erick bukan yang cantik atau pun seksi, tapi yang mungil dan pastinya terlihat menggemaskan seperti itu," sahut pria satunya yang masih menatap ke arah sahabat baiknya tengah menggenggam tangan gadis incarannya.
Hingga beberapa pria lain yang mendengar itu mengungkapkan masing-masing tipe mereka dan pastinya punya selera berbeda-beda.
"Aku lebih suka yang tinggi daripada cewek pendek."
"Kalau aku cewek montok karena enak dipeluk."
"Aku lebih suka yang kurus karena nggak boros dan pasti makannya sedikit. Jadi, agak irit dan nggak boros kalau diajak jalan."
Refleks semua orang menatap ke arah pria yang baru saja menutup mulut tersebut sambil geleng-geleng kepala. Tentu saja mereka sudah sangat hafal dengan karakter temannya yang terkenal sangat pelit itu.
"Aku doakan kamu mendapatkan jodoh wanita gemuk yang suka makan agar boros dan menghabiskan uangmu," celetuk Erick yang baru saja datang dan menanggapi perkataan dari beberapa temannya yang sempat didengarnya tengah mengungkapkan tipe wanita yang disukai.
Tentu saja semua pria yang ada di sana seketika tertawa terbahak-bahak karena kalimat bernada ejekan dari Erick dan tidak membuat yang bersangkutan marah.
Karena pastinya tidak berani meluapkan kekesalan pada Erick yang selama ini disegani oleh banyak orang.
"Tuh, dengerin! Makanya jadi orang jangan pelit-pelit!" sarkas pria dengan rambut cepak seperti potongan tentara.
Sementara itu, pria yang tadinya mendapatkan ejekan dari yang lain, diam saja dan menggaruk tengkuk belakang untuk menghilangkan rasa malu.
"Baiklah-baiklah! Aku tidak akan pelit sama pacarku nanti, tapi tetap tidak mau yang gemuk karena tidak sedap dipandang mata."
"Memangnya makanan, apa sedap!" teriak yang lainnya dengan terkekeh geli sambil bersorak untuk mengejek sahabatnya tersebut yang paling lain.
Sebenarnya tadi Erick bersama Anindya tengah fokus melihat acara di dekat panggung, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang membuat gadis itu merasa tidak nyaman mengajak untuk pergi menjauh dari sana dan akhirnya memilih berbaur dengan beberapa teman yang lain.
Zea tadi sempat menatap ke atas panggung dan merasa sangat terkejut saat tiba-tiba melihat ada seseorang yang tidak asing dan degup jantungnya tidak beraturan seketika.
Hingga ia langsung mengajak Erick pergi dari sana agar tidak ada yang melihatnya, khususnya besok wanita di atas panggung yang tak lain adalah saudara tiri yang telah berbuat jahat untuk menjualnya.
Ia bahkan tidak pernah menyangka jika Aurora sekarang menjadi salah satu penyanyi di sana. Padahal selama ini tidak pernah mengetahui jika kakak tirinya tersebut mencari uang Karena pekerjaannya selama ini hanya bisa berfoya-foya menghabiskan uang yang diberikan oleh ayahnya.
'Jadi, sekarang perempuan jahat itu bekerja menjadi seorang penyanyi? Padahal dulu selalu mengatakan tidak ingin bekerja karena akan mengganggu fokus kuliahnya. Bahkan saat ini karena sudah mulai berjalan dan pastinya tidak akan pernah salah sasaran.'
Zea memilih memakai masker karena tidak ingin wajahnya dilihat oleh Aurora. Nasib baik ia berpenampilan tidak seperti dulu yang masih cupu dan pastinya tidak akan dikenali oleh saudara tirinya tersebut.
Jadi, ia hanya melihat interaksi antara Erick dengan beberapa orang tanpa bersuara karena sibuk dengan pemikirannya sendiri. 'Aku benar-benar menyesal ikut Sunmori karena hanya malah bertemu dengan perempuan jahat itu.'
Hingga ia seketika berjenggit kaget ketika merasakan sosok pria di sebelahnya menepuk pundaknya dan membuatnya menoleh ke arah sebelah kiri.
"Kenapa memakai masker?" Erick merasa aneh melihat sikap Anindya yang tiba-tiba muram dan lebih pendiam
Padahal beberapa saat lalu terlihat bersemangat menikmati acara yang disusun oleh tim Sunmori. Bahkan saat ada penampilan dari salah satu penyanyi, ikut menyanyikan lagu.
Namun, semuanya berbeda saat tiba-tiba mengajak pergi. "Apa kamu sedang tidak enak badan karena udara di sini sangat dingin?"
Saat Zea bingung mencari alasan, bahkan jawabannya ada dari perkataan pria itu dan seketika menganggukkan kepala sebagai pembenaran. "Iya, kamu benar. Aku mendadak merasa hidungku tersumbat. Mungkin karena udara di sini sangat dingin dan belum terbiasa."
Karena merasa sangat khawatir dengan keadaan Anindya, refleks Erick melepaskan Hoodie berwarna hitam miliknya. Kemudian menyerahkan pada gadis yang terlihat mengusap lengan sambil bersedekap.
"Kalau begitu, pakai ini saja. Aku sangat gerah dan sama sekali tidak kedinginan sepertimu." Bahkan Erick tahu bahwa Anindya menolaknya saat menggelengkan kepala.
Namun, ia tidak menyerah karena langsung bergerak untuk memakaikan pada kepala gadis dengan rambut diikat ke atas tersebut. "Ayang memang sukanya dipaksa."
Sebenarnya Zea ingin menolak, tapi karena mendapatkan tatapan dari yang lain saat Erick memanggil ayang sambil memakaikan Hoodie, sehingga kini memilih untuk memakai sendiri apa tidak membuat pria itu malu.
"Baiklah-baiklah, aku akan memakainya." Anindya kini bergerak memasukkan tangannya pada lengan Hoodie milik Erick.
'Aku ingin segera pergi dari sini. Kira-kira tuan Aaron sudah berangkat ke sini atau belum, ya? Aaah ... lebih baik aku mengirimkan pesan padamu untuk bertanya karena tidak mungkin menelpon di depan banyak orang dan akan mempermalukan hari yang mengaku sebagai kekasih.'
Puas bergumam sendiri di dalam hati, kini ia membuka tas selempang miliknya dan mengambil ponsel. Ia pun langsung mengetik pesan.
Tuan Aaron, apakah anda jadi ke sini?
Tanpa membuang waktu, kini ia langsung mengirimkan pesan. Saat ini ia tidak memasukkan ponsel miliknya agar mendengar suara notifikasi yang masuk.
Tadi ia lupa mengaktifkan mode dering karena semalam mengganti dengan mode getar agar bisa dapat tidur pulas. Apalagi Erick menelpon dan spam chat, membuatnya kesal.
Saat ia masih memegang ponsel di tangannya, merasa sangat terkejut ketika direbut oleh Erick. "Iiish ... apaan sih! Kembalikan ponselku!"
"Sebentar, Ayang. Pinjam dulu karena ponselku lowbat." Erick yang merasa curiga dengan tingkah Anindya, memastikan kecurigaan yang benar jika gadis itu mengirimkan pesan pada Aaron.
Kemudian ia langsung membuka pesan paling atas dan melirik sekilas ke arah Anindya kita lihat kesal dan mengerucutkan bibir karena perbuatannya.
"Sebenarnya tadi ia menelpon dan saat aku berbicara malah dimatikan. Tadi saat kamu berada di toilet dan menitipkan tas padaku." Erick sengaja membuka itu di depan para teman-temannya agar nanti tidak merasa malu ketika pulang sendirian saat Anindya dijemput oleh Aaron.
'Aku harus melindungi harga diriku agar tidak tercemar karena ulah pria arogan itu yang suka berbuat sesuka hati. Mungkin jika aku seumuran dengannya, sudah aku buat ia babak belur. Namun, sayangnya ia adalah putra dari teman mamaku.'
'Mana mungkin aku melakukannya karena hanya akan mendapatkan kemungkaran dari mama.' Erick saat ini langsung mengembalikan ponsel milik Anindya maka tidak terlihat over protektif pada pasangan, seolah takut kehilangan.
Di sisi lain, para pria yang berdiri di sekitar pasangan kekasih tersebut, hanya diam menonton apa yang saat ini mereka lihat. Tentunya tidak ingin berkomentar karena khawatir sahabat mereka murka dan menjadi bulan-bulanan dengan mendapatkan tinju.
Sampai pada akhirnya Zea kini menerima ponsel miliknya dan tiba-tiba berdering, reflek menoleh ke arah Erick. "Panjang umur dia karena menelpon setelah kamu bicarakan."
Karena tidak ingin didengar oleh orang lain, Zea seketika berjalan menjauh dan menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, Tuan Aaron."
"Satu jam lagi aku tiba di sana. Memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Aaron yang tadinya mengisi bensin di pom terakhir sebelum naik ke daerah perbukitan.
Begitu mendengar suara notifikasi dari ponselnya, dibuka dan menelpon Anindya untuk memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Hingga ia merasa sangat lega ketika mendengar suara gadis dari seberang telepon.
"Iya, aku baik-baik saja. Tadi cuma bertanya apakah jadi ke sini untuk menjemput." Zea seketika menjauhkan ponsel dari daun telinga ketika mendengar suara omelan dari seberang telepon.
"Dasar bodoh! Tentu saja jadi menjemputmu karena tadi aku langsung berangkat setelah meeting selesai. Aku benar-benar tidak tenang melepasmu pergi bersama si playboy itu. Baiklah, tunggu saja di situ karena aku akan melanjutkan perjalanan lagi dan tidak akan konsentrasi jika berbicara denganmu."
Kemudian sambungan telepon terputus sepihak dan Zea saat ini tersenyum malu-malu dan mungkin wajahnya sudah memerah. Hatinya benar-benar berbunga-bunga saat ini ketika mendengar apa yang diungkapkan oleh seorang pria yang sangat dikaguminya tersebut.
'*Tuan Aaron selalu saja membuat hatiku berbunga-bunga seperti ini. Aku benar-benar sangat senang mendengar ia khawatir padaku.'
'Bahkan meskipun sikapnya seperti seorang saudara laki-laki pada adik perempuan, tetap saja membuatku kegeeran seperti ini*,' gumam Zea yang saat ini masih belum beranjak dari tempatnya dan menatap ke arah jalanan di bawah yang terlihat ada banyak kendaraan yang melintas.
'Satu jam lagi aku harus membutuhkan Aaron datang menjemputku. Aah ... rasanya sangat membosankan dan aku takut jika perempuan jahat itu melihatku.' Zea seketika menoleh ke belakang begitu mendengar suara bariton dari pria yang baru saja datang menghampirinya.
"Kenapa tidak kunjung kembali setelah telpon selesai?" tanya Erick yang baru saja menghampiri Anindya karena berniat untuk mengajak pesta durian bersama dengan yang lain.
Apalagi tadi sudah menyuruh teman-temannya untuk membuka durian yang tadi dibelinya dan tidak boleh menikmatinya sebelum kedatangan Anindya yang suka dengan aroma raja buah itu.
"Ayo, kita ke sana karena sudah ditunggu oleh teman-teman."
"Ditunggu teman-teman?" tanya Anindya ketika menatap ke arah jari telunjuk Erick.
"Aku dan semua temanku tidak akan makan durian sebelum kamu memuaskan indra penciumanmu. Bukankah tadi kamu bilang suka dengan aroma buahnya? Jadi, aku membeli banyak untuk membuatnya puas mencium aroma buah durian." Erick kini menepuk dadanya dan berusaha untuk bersikap sombong.
Padahal faktanya adalah ia hanya sedang bercanda saja. "Ayo, kita ke sana sekarang!" Langsung menggandeng pergelangan tangan kiri Anindya yang seorang enggan untuk ikut dengannya
Lagi dan lagi Zea tidak bisa menolak karena merasa terbebani dengan perkataan Erick yang tadi mengatakan jika ia adalah kekasihnya. Hingga ia seketika menyadari kebodohannya dan menepuk jidat berkali-kali.
"Tunggu!" seru Zea yang menghentikan langkah kaki dan membuat Erick berhenti.
"Ada apa?" Erick mengerutkan kening dan merasa heran dengan sikap aneh dari Anindya.
Refleks Zea berbicara lirih agar tidak ada yang mendengar. "Besok aku masuk kuliah di tempat yang sama denganmu. Jika hari ini kamu mengatakan aku adalah kekasihmu, para sahabatnya itu tidak kuliah di tempat yang sama dengan kita, kan?"
"Sama lah. Mereka yang dekat denganku, mayoritas kuliah di tempat yang sama dan merupakan anak-anak dari konglomerat di Jakarta. Memangnya kenapa?" Erick kita kan sebenarnya ingin sekali tertawa karena sudah mengetahui isi otak dari gadis di hadapannya.
Namun, tentu saja ia berakting seperti orang yang tidak tahu apa-apa dan berpura-pura bertanya.
'Kamu sudah masuk dalam jebakanku, Anindya. Jadi, tidak akan mudah untuk kabur dariku,' gumam Erick yang merasa selalu menjadi pernah pemenang meskipun Anindya sangat susah untuk ditaklukkan.
Refleks Zea kembali menepuk jidat dan memijat pelipis. "Astaga! Jadi, besok aku masuk kuliah sudah dikenal sebagai kekasihmu, begitu."
Bahkan ia saat ini sudah membayangkan kembali di bully seperti saat berada di SMA. Namun, bedanya adalah jika SMA ya dibully sangat cupu dan kampungan, tapi ketika kuliah akan menjadi incaran dari para perempuan yang menyukai Erick.
"Sepertinya aku pindah ke tempat kuliah lain saja. Aku sebenarnya ini fokus belajar dan kuliah tanpa memikirkan yang lainnya. Tapi jika baru masuk saja sudah menjadi musuh para mahasiswi yang menyukaimu, mana mungkin bisa fokus belajar?" Zea berpikir ingin membicarakan dengan Aaron, tapi merasa tidak enak
'Aku hanya akan dicap sebagai perempuan menyusahkan saja dan tidak tahu balas budi. Lebih baik aku tidak membahas lagi dan memilih untuk menjalani semuanya.' Zea kini kembali merasa kesal dengan jawaban santai dari Erick.
"Justru kamu akan merasa aman dan tidak akan ada yang mengganggumu karena jika ada yang berani, akan berurusan denganku." Erick pun langsung menarik pergelangan tangan kanan Anindya menuju ke arah kerumunan teman-temannya yang sudah menunggu.
"Baiklah. Sekarang kita akan pesta durian, tapi sebelum itu ...." Menoleh ke arah sosok wanita yang masih terlihat seperti kebingungan. "Ayang, hirup aroma khas duriannya terlebih dahulu."
Kemudian ia membuka masker di wajah Anindya agar tidak menghalangi untuk menghirup aroma sang raja buah itu.
Anindya yang tadinya ingin kembali memakai masker agar wajahnya tidak terlihat oleh saudara tirinya, tidak jadi melakukannya begitu suara anak motor yang bertepuk tangan.
'Aaah ... aku jadi serba salah jadinya,' gumam Zea yang saat ini menuruti perkataan dari Erick untuk memuaskan indra penciumannya.
To be continued...