Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Merubah penampilan cupu



Beberapa saat yang lalu, Zea merasa sudah jauh lebih baik perasaannya setelah duduk merenung sejenak di taman. Begitu perasaannya jauh lebih baik, ia kembali berjalan pulang ke rumah dan saat tiba, merasa heran pada ibu dan kakaknya tengah bersimpuh di lantai dengan wajah muram.


Merasa ada sesuatu hal yang tidak beres, Zea memilih untuk segera berjalan cepat menghampiri dua wanita berbeda generasi tersebut.


"Ibu, Kak Aurora! Kalian kenapa!"


Teriakan yang berasal dari Zea yang telah berdiri di ambang pagar mengalihkan pandangan Reni dan Aurora.


Aurora sekilas menatap ke arah Zea dan beralih ke arah sang ibu. Seolah ingin memberikan kode pada sang ibu agar berakting karena tidak ingin membuat adik tirinya tersebut merasa curiga.


"Lagi nggak enak badan, Zea. Ayo, kita bawa ke dalam dulu."


Zea yang masih merasa sangat iba pada wanita yang sudah beberapa tahun ini menjadi ibu tirinya, kini menganggukkan kepala dan langsung membantu kakaknya.


Aurora memapah Reni bersama Zea dan mendudukkannya di sofa berwarna hitam di ruang tamu.


Setelah membantu kakaknya untuk mendudukkan tubuh ibu tirinya di kursi, Zea berlari mengambilkan segelas air putih.


"Minum dulu, Bu," ucap Zea menyodorkan air putih.


Sementara itu, Aurora pun membantu menopang tubuh Reni untuk minum air putih pemberian Zea.


"Sebenarnya Ibu kenapa?" tanya Zea masih penasaran.


Zea takut jika ibu tirinya mengidap penyakit ganas dan akan meninggalkan mereka. Meski bersikap jahat kepadanya, Reni tetaplah ibunya meski hanya ibu tiri.


Alih-alih menjawab, Reni justru balik bertanya kepada anak tirinya itu. "Kamu punya uang 200 juta nggak, Zea?"


Refleks Zea membulatkan kedua mata begitu mendengar nominal uang yang baru saja disebutkan oleh ibu tirinya.


"Apa? Darimana Zea dapat uang sebanyak itu, Bu. Ibu mau apa uang sebanyak itu?" Zea yang merasa sangat bingung, berusaha mengulik alasan ibunya bertanya seperti itu.


Jika benar ibunya sakit keras dan butuh uang banyak untuk pengobatan, tentu ia akan berusaha keras untuk mendapatkan uang tersebut bagaimanapun caranya.


Reni hanya menghela napas kasar tanpa berniat menjawab keingintahuan Zea. Ia yang saat ini memutar otak untuk menemukan jalan keluar secepatnya. Rumah tempat tinggal mereka telah digadaikan di Bank. Sementara peninggalan yang lainnya telah habis terjual.


'Jual? Masih ada satu peninggalan mendiang suaminya yang belum dijualnya,' batinnya senang menatap Zea.


Reni teringat teman sosialitanya yang biasa menjajakan para gadis muda kepada pria hidung belang yang kaya raya. Mungkin saja ada yang sedang mencari perawan.


"Lebih baik kamu masuk ke dalam dan mandi sana. Ibu semakin bertambah pusing jika lama melihat wajahmu yang jelek itu!"


Sementara itu, Zea hanya tersenyum masam dan niatnya untuk mengatakan bahwa ia dipecat hari ini diurungkannya. Akhirnya ia memilih untuk berjalan meninggalkan sosok sang ibu tiri dan masuk ke dalam kamar.


Sementara itu, segera wanita paruh baya yang lain adalah Reni bangkit dan menghubungi temannya untuk menanyakan masalah ide untuk menjual anak tirinya demi menutupi utangnya.


Kabar baiknya, temannya itu memang sedang mencari seorang gadis perawan atas permintaan seorang pria paruh baya yang banyak uang. Tidak tanggung-tanggung, pria itu berani membayar 500 juta.


Wajah Reni seketika berbinar karena masalahnya langsung terselesaikan. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa melunasi utang dan membuka usaha.


Reni berbisik pada telinga putrinya dan mengungkapkan semua ide di kepalanya.


Tentu saja begitu mendapatkan penyelesaian, Aurora tampak senang karena tidak takut akan hidup susah dengan banyak utang, sehingga ia tidak perlu banting tulang untuk membayar.


Satu jam kemudian, Aurora tampak mengetuk pintu kamar Zea pelan sebelum membuka daun pintunya. Lalu, berjalan menghampiri adik tirinya yang sedang duduk di tepi pembaringan.


"Ada apa, Kak?" tanya Zea heran saat sudah rapi setelah mandi.


Ia sempat mengerutkan kening karena merasa sangat aneh melihat sikap kakaknya. Tidak biasanya kakak tirinya itu mengetuk pintu sebelum memasuki kamarnya.


Kini, Aurora sudah berakting sangat baik dan duduk di sebelah Zea.


"Zea, gue mau minta maaf atas semua perbuatan ke lo selama ini. Sebagai tanda permintaan maaf, gue mau ngajak lo ke salon dan Mall. Kita ubah penampilan cupu lo ini, biar terlihat semakin cantik," ucap Aurora kepada Zea.


Zea yang terlihat sangat terkejut atas permintaan maaf penuh ketulusan dari sang kakak yang usianya terpaut tiga tahun, kini sudah berkaca-kaca bola matanya.


Jujur saja hal seperti inilah yang dari dulu ia tunggu-tunggu, yaitu memiliki seorang kakak perempuan dan menyayanginya.


Zea benar-benar tampak terharu dan menghambur memeluk erat tubuh ramping Aurora.


"Kakak, jangan bicara seperti itu. Kakak tidak perlu minta maaf karena aku sudah memaafkan.


Sementara itu, Aurora hanya tersenyum menyeringai karena berhasil membuat Zea percaya padanya, tanpa tahu bahwa semuanya lagi-lagi hanya sandiwaranya belaka.


'Dasar gadis culun bodoh! Setelah ini mungkin dia akan mengumpatku. Itu tidak masalah karena yang penting utang-utang ibu lunas dan aku kaya,' gumam Aurora yang terpaksa membalas pelukan dari sang adik tirinya tersebut.


"Terima kasih, Zea. Lo benar-benar adik gue yang sangat baik hati. Bersiaplah, gue ingin menebus kesalahan dengan mengajakmu jalan-jalan."


Aurora melepaskan pelukannya dan beranjak bangkit dari posisinya yang tadi duduk di tepi ranjang.


Zea yang merasa bahwa waktunya sangat pas untuk mengatakan kabar buruk mengenai dirinya, refleks langsung meraih pergelangan tangan Aurora.


"Tunggu, Kak."


"Ada apa?" tanya Aurora sekilas dan menoleh ke arah Zea dengan memasang wajah penuh perhatian.


'Sepertinya aku bisa ikut audisi akting untuk menjadi artis,' gumam Aurora yang merasa sangat konyol karena bersikap sangat baik di depan gadis berkepang dua dengan kaca mata besar yang membuatnya sangat ilfil memandang.


Dengan sangat ragu-ragu Zea kini menceritakan apa yang terjadi di restoran. Bahkan tidak ada yang ia tutupi karena percaya bahwa sang kakak akan membantunya untuk mencari jalan keluar.


"Jadi bagaimana, Kak. Apa aku harus mengatakan semuanya pada ibu? Kalau aku sudah dipecat dari restoran?" tanya Zea dengan wajah muram karena merasa sangat takut jika ibu tirinya nanti akan murka padanya dan mengumpat tidak becus bekerja.


Sementara itu, Aurora yang merasa takdir berpihak padanya dan ibunya, kini tersenyum simpul dan menepuk pundak Zea.


"Lebih baik jangan mengatakan apapun pada ibu karena masih tidak enak badan. Nanti setelah ibu agak baikan, gue akan mengatakannya. Lo tenang saja karena ada banyak pekerjaan di Jakarta."


"Lo bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik nanti, tapi sebelum itu, harus merubah penampilan cupu ini agar menjadi lebih cantik." Aurora berbicara sambil menggerakkan rambut Zea yang selalu dikepang dua.


"Gue akan merubah penampilan cupu Lo ini jadi gadis yang sangat cantik."


"Tidak perlu, Kak. Aku lebih suka penampilan seperti ...." Zea tidak bisa melanjutkan perkataannya saat dipotong oleh Aurora.


"Gue sama sekali tidak menerima penolakan. Gue tunggu Lo di luar," sahut Aurora yang kini berjalan meninggalkan Zea dengan wajah kesal karena rencananya hampir saja gagal.


To be continued...