
Selama dalam perjalanan menuju ke kampus, Zea hanya diam saja karena permohonannya pada pria di balik kemudi tersebut sama sekali tidak ditanggapi.
Ia berpikir bahwa Aaron tidak mau mengantarkannya. Jadi, memilih untuk diam tanpa memohon lagi seperti beberapa saat lalu.
Hingga setengah jam kemudian, mobil yang ditumpangi sudah berbelok ke arah kampus megah yang membuat mata Zea membulat karena merasa jika tempat kuliahnya itu sangatlah luar biasa.
"Wah ... jadi ini kampus para anak konglomerat?" lirih Zea dengan perasaan berkecamuk karena jujur saja ini adalah pertama kali ia berada di tempat yang notabene anak-anak orang kaya.
Sementara ia hanyalah gadis biasa yang berasal dari keluarga sederhana dan tidak pernah bergaul dengan para orang kaya yang pastinya memiliki standar tinggi dalam mencari teman.
"Di sinilah tempatmu menuntut ilmu. Tidak perlu berpikir bahwa ini adalah tempat para anak orang kaya karena kamu hanya perlu fokus untuk belajar agar bisa meraih cita-citamu." Aaron dari tadi diam karena sangat malas untuk menanggapi gadis itu saat merengek untuk ditemani.
Namun, karena tidak tega, melepas sabuk pengaman dan beranjak turun dari mobil. "Turunlah karena aku akan mengantarmu pada dosen yang nanti akan memperkenalkan di kelas."
Zea seketika merasa lega dan wajahnya yang tadinya murung berubah berbinar. Ia buru-buru keluar setelah melepaskan sabuk pengamannya. "Terima kasih, Tuan Aaron."
Ia kini berjalan dengan pria yang berjalan dengan langkah kaki panjangnya itu menuju ke arah ruangan yang berada di sudut sebelah kiri. Bahkan selama berjalan, bisa melihat beberapa mahasiswa baik perempuan maupun laki-laki menatap ke arahnya.
Zea tahu bukan ia yang menjadi pusat perhatian, dengan paras rupawan di sebelahnya tersebut. "Tuan Aaron, para mahasiswi banyak yang mencuri pandang pada Anda."
"Aku tahu itu karena sudah sering mendapatkan tatapan lapar dari para mahasiswi di kampus. Apalagi aku sering mendapatkan undangan untuk menjadi motivator di beberapa kampus. Itulah mengapa tadi aku tidak langsung mengiyakan permohonanmu, inilah alasannya."
Aaron bahkan menceritakan tentang kejadian beberapa bulan yang lalu saat menjadi salah satu pembicara di kampus dan sangat lelah meladeni para mahasiswi yang meminta tanda tangan dan juga foto.
"Aku bahkan bukan artis, tapi mereka minta tanda tangan serta foto. Apalagi ada yang tanpa malu mengatakan ingin menjadi kekasihku. Karena tidak ingin memberikan harapan palsu, aku menyebut nama Jasmine agar mereka sadar diri bahwa aku tidak bisa dimiliki, tapi hanya cukup untuk dikagumi." Aaron tahu bahwa perkataannya sangat lebay, memang itu faktanya.
Ia melirik ke arah gadis memilih di sebelah kiri yang hanya diam saja tanpa berkomentar. "Jadi, kamu boleh mengagumiku, tapi harus sadar tidak bisa memiliki pria sepertiku karena sudah menjadi milik Jasmine seorang."
Aaron sengaja mengatakan itu karena melihat tatapan aneh dari Anindya yang seolah merasa tertampar dengan perkataannya. Ia sangat hafal dengan para wanita yang menyukainya dan berpikir jika gadis mungil itu memiliki perasaan padanya.
Zea seketika menelan ludah dengan kasar ketika menyadari kebodohan yang menunjukkan bahwa ia sangat mengagumi pria itu karena memiliki banyak hal yang membuat para wanita kagum.
Refleks ia berpura-pura tertawa terbahak-bahak untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya. "Anda tenang saja dan tidak perlu khawatir, Tuan Aaron karena aku sadar diri tidak boleh menyukai pria dengan level yang jauh berada di atasku."
"Aku memilih untuk jomblo daripada sakit hati karena memiliki cinta bertepuk sebelah tangan. Lagipula ada banyak pria di dunia ini yang tidak memiliki seorang kekasih dan berhak dicintai. Nanti saat aku menemukannya, memperkenalkan pada Anda." Zea bahkan ingin sekali menepuk dadanya karena merasa dirinya sangat hebat menutupi perasaannya pada pria itu.
Namun, bukannya sebuah pujian yang didapatkan karena saat ini malah meringis kesakitan ketika mendapatkan sentilan seperti biasa pada kening. Ia seketika mengusap keningnya yang terasa panas.
"Dasar gadis centil!" Aaron selalu merasa gemas pada Anindya, tidak bisa menahan diri untuk memberikan sebuah hukuman pada gadis itu.
"Tuan Aaron suka sekali menyentil keningku. Ini rasanya sangat panas!" umpat Zea yang mengejutkan bibir sambil terus mengusap keningnya.
Aaron hanya terkekeh geli melihat wajah memerah menggemaskan itu dan kebetulan di saat bersamaan melihat sosok pria yang sangat dikenal, yaitu adalah salah satu dosen yang merupakan teman baiknya.
"Pagi, Pak Dosen!" Aaron membungkuk untuk menyapa pria yang sepantaran dengannya baru saja keluar dari toilet.
Sementara itu, pria yang berniat untuk kembali ke ruangan, seketika melambaikan tangan dan tersenyum sambil langsung memeluk erat sahabatnya yang sudah lama tidak ditemui.
"Wah ... sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan seorang pengusaha sukses sekaligus motivator di beberapa kampus." Ia melirik ke arah sosok gadis mungil di sebelah sahabatnya. "Apa ini gadis yang kamu bicarakan beberapa hari lalu?"
Aaron menganggukkan kepala dan membalas pelukan sahabatnya dengan menepuk beberapa kali punggung lebar pria itu. "Iya, dialah yang akan mengikuti kelasmu mulai hari ini. Aku ingin menitipkannya padamu karena dia sangat pemalu. Jadi, tolong bantu saat memperkenalkan diri di depan kelas nanti."
"Beres. Biar dia berada di ruanganku sebelum masuk ke kelas. Aku pasti akan menjaganya dengan baik." Kemudian mengulurkan tangan pada gadis mungil di hadapannya. "Siapa namamu, gadis kecil?"
Zea yang dari tadi mengamati interaksi antara Aaron dan pria yang akan menjadi dosennya, refleks langsung menyambut uluran tangan. "Anindya, Pak Dosen."
"Aaah ... Anindya. Baiklah. Panggil saja aku Pak Maher seperti para mahasiswa lain," ucapnya dengan tersenyum simpul.
"Baik, Pak Maher." Anindya menganggukan kepala dan merasa tenang karena akan dibantu pria itu ketika pertama kali masuk ke kelas.
Aaron melirik sekilas ke arah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Aku harus pergi karena sudah mendekati jam kerja dan tidak ingin terlambat. Aku titip Anindya." Menepuk bunda sahabatnya dan beralih pada gadis mungil di hadapannya.
"Belajar dengan baik dan ingat pesanku, oke!" Aaron kemudian mengacak rambut yang dibiarkan terurai tersebut.
Zea hanya menganggukkan kepala dan membiarkan Aaron melakukan apapun padanya karena sangat menyukai pria itu membuat berantakan rambutnya. "Siap, Tuan Aaron. Hati-hati di jalan dan selamat bekerja."
Aaron kini hanya menganggukkan kepala dan berbalik badan meninggalkan Anindya bersama dengan sahabatnya. Ia bahkan mempercepat langkah kakinya sambil melirik mesin waktu yang makin berjalan.
"Aku bisa terlambat jika jalanan macet." Kemudian memencet remote mobil dan masuk ke dalam, mengemudikan kendaraan meninggalkan kampus yang akan menjadi tempat Anindya menuntut ilmu.
Sementara itu di sisi lain, Anindya yang tadi melihat siluet belakang Aaron yang lama kelamaan menghilang, kini menoleh ke arah sang dosen yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam ruangan dan menunggu hingga jam kuliah dimulai beberapa menit lagi.
"Duduklah!" Maher mengarahkan jari telunjuk pada kursi dan ia mempersiapkan diri untuk mengambil beberapa buku dan juga laptop.
Zea yang tadi mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, kini menuruti perintah dengan mendaratkan tubuh di kursi. "Pak Maher, apakah Anda sudah menikah?"
"Sepertinya kamu tidak melihat ini." Maher menunjukkan cincin kawin di jari manisnya. Kenapa? Apa kamu menyukaiku pada pandangan pertama?" Maher sebenarnya hanya bercanda mengungkapkan itu dan ingin mengetahui apa alasan mahasiswi baru itu bertanya padanya.
Refleks Anindya menggelengkan kepala karena tidak ingin ada kesalahpahaman dari pertanyaannya. "Maaf karena tadi tidak melihat cincin kawin Anda. Sebenarnya saya merasa tidak enak berada di ruangan dan khawatir pada gosip buruk yang akan tersebar di kampus."
"Tenang saja karena mereka akan mengerti sebentar lagi setelah aku memperkenalkanmu." Ia melirik jam tangan miliknya dan merasa waktu sudah mendekati masuk kuliah, langsung mengajak Anindya untuk ikut bersamanya ke kelas.
"Aaron sudah mengatakan semuanya padaku. Jadi, aku tahu apa yang akan dikatakan pada para mahasiswa ketika memperkenalkanmu pada mereka." Berjalan sambil membawa buku dan laptop miliknya menuju kelas.
Zea yang saat ini hanya menganggukkan kepala dan akan patuh pada apapun yang dikatakan oleh dosen yang tersebut tanpa bersusah payah untuk menjelaskan jika saat ini mengalami amnesia.
Meskipun itu hanyalah sebuah kepalsuan, jadi berakting meyakinkan agar tidak ketahuan jika telah melakukan sebuah konspirasi.
"Ini kelasnya." Maher sebelumnya menoleh ke arah Anindya dan memasuki ruangan kelas. "Kamu tunggu di luar sebentar. Nanti aku akan memanggilmu."
"Baik, Pak Maher." Anindya yang mengangukkan kepala tanda setuju, kini berdiri di sebelah tembok dan membiarkan sang dosen itu masuk terlebih dahulu.
Ia bahkan mengambil napas teratur untuk menenangkan diri sebelum masuk ke dalam ruangan kelas. 'Tenang, Zea. Jangan gugup. Kamu bukan anak SD yang selalu dipenuhi oleh ketakutan.'
Saat Zea mendengar suara bariton dari sang dosen, kini tanpa membuang waktu langsung masuk ke dalam ruangan dan menghilangkan rasa gugupnya.
Ia pun kini berdiri di hadapan para mahasiswa yang semuanya menatap ke arahnya.
"Perkenalkan dirimu agar semuanya tahu harus memanggilmu siapa. Memang ini sangat spesial karena kamu merupakan salah satu mahasiswa yang masuk dengan jalur khusus IQ. Jadi, biar menjadi sebuah penyemangat untuk mahasiswa di ruangan ini."
Maher sengaja mengatakan itu agar tidak ada yang berpikir bahwa ia sangat lebay karena memperkenalkan mahasiswi baru seperti di SMA saja. Tujuannya adalah ingin menunjukkan bahwa gadis itu memiliki sebuah kelebihan yang jauh di atas rata-rata dan berharap bisa menjadi support system bagi yang lain.
Tidak ingin terlalu lama menjadi pusat perhatian, Zea segera membungkuk hormat dan memperkenalkan diri. "Saya Anindya. Senang bisa kuliah di kampus hebat ini dan bertemu dengan kalian semua."
Ia khawatir akan ada tanya jawab dari mahasiswa padanya dan tidak mungkin akan bisa dijawab jika bertanya tentang sekolahnya dulu. Mengenai amnesia, ia tidak tahu apakah perlu disebutkan atau tidak karena khawatir salah langkah.
Hingga suara riuh rendah membuatnya seketika mengerjapkan kedua mata dan menatap ke arah para mahasiswa yang berdiri.
"Selamat datang di kelas, Ayangnya Erick. Kami sudah mengenalmu kemarin di puncak," sahut sosok laki-laki yang mewakili teman-temannya untuk menyapa karena tadi sudah mendapatkan perintah khusus dari Erick untuk menyambut kekasih sahabatnya tersebut.
Zea sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan sebuah sambutan yang malah membuatnya merasa sangat malu. Hal yang tidak pernah diduga sama sekali dan membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari para mahasiswi.
'Mati aku! Erick! Ini semua gara-gara Erick yang menyuruh mereka berbuat konyol seperti ini. Awas saja nanti, aku akan menjitak kepalanya jika bertemu,' gumam Zea yang saat ini hanya diam tanpa berkomentar apapun.
Sementara itu, sang dosen yang saat ini melihat ke arah beberapa laki-laki yang bukan merupakan mahasiswanya, tapi ikut kelasnya. "Sudah cukup main-mainnya. Bukankah ini bukan kelas kalian? Cepat keluar dan kembali ke kelas masing-masing!"
"Siap, Mr. Maher. Kami hanya menyapa mahasiswi baru yang merupakan kekasih ketua senat di kampus ini." Kemudian menatap ke arah para sahabatnya dan mengajak pergi keluar dari ruangan kelas junior.
Zea ingin sekali memarahi teman-teman Erick yang kemarin makan durian di hadapannya tersebut, tapi tidak mungkin berteriak di depan para mahasiswa lain di ruangan itu. Ia dengan sangat malu ketika mereka melambaikan tangan padanya dan berpamitan saat beranjak keluar.
"Kita jumpa lagi di kantin nanti, Ayangnya Erick."
Zea yang merasa sangat malu, hanya menggaruk tengkuk belakang tanpa bisa berkomentar apapun. 'Astaga, Erick! Tunggu pembalasanku!'
Anindya yang seolah tidak punya muka berhadapan dengan beberapa mahasiswa di kelas, khususnya para wanita yang menatap penuh kebencian padanya.
'Bagaimana aku bisa kuliah dengan tenang jika diawali dengan hal seperti ini? Jika tuan Aaron tahu, pasti akan membuat babak belur Erick.' Zea kini mendengar suara bariton dari sang dosen.
"Duduklah di tempat yang kosong, Anindya." Mengarahkan jari telunjuk ada beberapa kursi yang kosong.
"Terima kasih, Pak Maher." Zea kini menelan saliva dengan kasar ketika melihat tatapan dari para mahasiswi yang seolah ingin memangsanya hidup-hidup.
Karena tahu jika Erick adalah salah satu mahasiswa populer di kampus, ia kini sudah bisa menebak seperti apa pemikiran dari para wanita tentangnya.
'Jika sampai mereka menarik rambutku karena tidak terima, aku akan membalas dendam pada Erick,' gumam Zea yang saat ini memilih menyendiri dengan duduk di pojok belakang.
Jika biasanya ia selalu suka duduk di depan, tapi hari ini tidak ingin melakukannya. 'Aku tidak ingin menjadi tontonan yang lain dengan duduk di depan sendiri.'
Kemudian kelas berjalan dengan dimulai mata kuliah pertama yang dijelaskan oleh Maher.
Semua mendengarkan penjelasan, meskipun ada banyak hal yang mengganggu pikiran ketika dipenuhi rasa iri melihat mahasiswi baru.
Di sisi lain, Zea sudah merasa tidak nyaman kuliah di tempat itu ketika diawali dengan sebuah hal yang membuatnya merasa malu.
'Hal seperti ini tidak akan bisa diperbaiki jika aku tidak pergi dari kampus ini,' gumam Zea yang saat ini berusaha fokus mendengarkan penjelasan dari sang dosen tanpa memperdulikan beberapa wanita yang sebentar-sebentar menoleh ke arahnya.
To be continued...