
Setengah jam kemudian, mobil mewah berwarna hitam yang membawa Aaron dan dua wanita itu sudah tiba di apartemen. Setelah memarkirkan kendaraan di tempat yang tersedia, mereka beranjak turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu masuk dengan mendorongnya.
Tentu saja langsung disambut oleh salah satu pegawai wanita yang tersenyum serta memberikan sapaan.
Aaron yang berjalan di belakang dua wanita itu, tadi sudah memeriksa ke parkiran untuk memastikan apakah sang kekasih sudah datang, tapi karena tidak melihat mobil berwarna merah yang menjadi kesayangan Jasmine, Aaron yakin jika belum tiba di sana.
Hingga ia pun bisa melihat sang ibu berbicara dengan salah satu pegawai yang mengurus semuanya. Memang sang ibulah yang meminta gaun pengantin dari desain terkenal dan sudah didesain khusus.
Ia tidak sabar ingin melihat gaun pengantin yang akan dikenakan Jasmine seperti apa. Meskipun ia percaya jika itu akan membuat Jasmine sangat cantik, tetap saja merasa penasaran dan ingin segera melihatnya.
"Saya akan mengantarkan untuk melihat hasil desain gaun pengantinnya, Nyonya." Sang pegawai wanita tersebut mempersilakan customer VIP yang ada di hadapannya dengan membuka tangannya menunjukkan arah.
"Terima kasih," sahut Jenny yang kini berjalan mengikuti pegawai wanita tersebut sambil memberikan kode pada Zea untuk mengikutinya.
"Sepertinya Jasmine belum datang, Aaron. Syukurlah karena ia tidak akan marah jika kita datang terlambat," ucap Jenny yang menoleh ke belakang, di mana putranya berada.
Sementara itu, Aaron hanya mengangguk perlahan karena memang Jasmine belum terlihat sama sekali. Hingga di saat bersamaan, ia mendengar notifikasi dan langsung meraih ponsel miliknya di saku celana.
Saat ia membuka dan membaca pesan yang tak lain dari sang kekasih, seketika membulatkan mata begitu mengetahui kabar yang membuat amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun.
Sayang, aku minta maaf karena tiba-tiba ada pemotretan mendadak jam 10. Hanya dua jam dan aku akan langsung menuju ke butik. Aku harap kamu tidak marah. Aku janji akan datang ke butik setelah pemotretan selesai.
Refleks Aaron menghentikan langkah kakinya dan mengepalkan tangan kanan, sedangkan tangan kiri masih memegang ponsel yang menunjukkan pesan dari sang kekasih.
'Jasmine! Sampai kapan kamu menguji kesabaranku? Apa perlu aku mengobrak-abrik studio di mana kamu lebih mementingkan pemotretan daripada masa depan kita?'
Aaron masih berusaha menahan amarah yang membuncah di dalam hati dan membuatnya merasa degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal ketika menahan kemurkaan.
Ingin sekali ia berteriak untuk meluapkan amarahnya, tapi ia pun berpikir jika semuanya akan sia-sia dan hanya lelah yang dirasakan.
Hingga ia pun memilih untuk mengangkat tangan ke atas dan membanting benda pipih di tangan untuk mencari sebuah pelampiasan. Kini, benda tidak bersalah itu sudah hancur dengan layar depan retak.
Suara ponsel yang terbentur lantai membuat tiga wanita yang tadinya berjalan menuju ke arah ruangan di mana gaun pengantin berada kini menoleh ke arah belakang.
Hingga mereka seketika membulatkan mata begitu melihat pemandangan mengenaskan dari nasib ponsel yang tergolek di lantai.
"Aaron! Apa yang kamu lakukan? Kenapa membanting ponselmu?" Jenny kini menatap ke arah sosok putranya yang terlihat memerah wajahnya, sehingga sudah bisa menebak jika ada sesuatu hal yang tidak beres.
Ia pun langsung berjalan cepat untuk menenangkan putranya agar tidak meledakkan amarah di sana. Bisa-bisa putranya mengobrak-abrik gaun-gaun di butik itu dan membuatnya merasa malu.
Ia pun mengusap lengan kekar putranya dan bertanya, "Sayang, ada apa? Apa yang terjadi? Jasmine membuat ulah lagi?"
Aaron masih menenangkan diri agar tidak membuatnya berteriak demi melampiaskan amarahnya. Ia kini masih menutup rapat mulutnya dan menatap ke arah benda pipih di lantai yang sudah hancur tersebut.
Sementara itu, Zea yang saat ini terdiam di tempat, merasa khawatir akan terjadi sesuatu hal yang buruk karena ia tahu temperamental seorang Aaron pertama kali di restoran dan membuatnya berakhir dipecat.
Namun, meskipun ia dipecat gara-gara pria itu, tetap tidak bisa membenci, tapi tetap menyukainya sampai sekarang. Entah mengapa ia bisa menyukai pria arogan yang suka marah-marah dan selalu tidak bisa mengendalikan emosi itu.
Ia sendiri pun merasa bingung. Kini, ia menoleh ke arah pegawai wanita yang berada di sebelah kirinya. Zea berinisiatif untuk memberikan ibu dan anak itu berbicara tanpa ada yang mengganggu.
"Mbak, apa bisa meninggalkan kami sebentar?" tanya Zea yang kini berharap untuk meminta waktu beberapa menit agar masalah yang dihadapi Aaron tidak merusak semuanya.
Refleks pegawai wanita tersebut langsung mengangguk perlahan tanda setuju. "Baik, Nona. Saya akan menunggu di ruangan yang ada di sebelah kiri. Di sana ruangan gaun pengantinnya."
Zea menganggukkan kepala begitu melihat arah telunjuk sosok wanita yang ada di sebelahnya, tanda ia mengerti. Kemudian melihat wanita itu berjalan pergi ke sana.
Karena tidak ingin ponsel di lantai yang dilempar pria itu mengganggu para pengunjung butik, Zea berjalan mengambilnya dan membawanya pergi ke arah yang dilihatnya ada tempat duduk.
Ia tidak ingin berada di antara ibu dan anak itu dan membiarkan mereka menyelesaikan semuanya. Jadi, memberikan waktu dan pergi dari sana.
Meskipun sebenarnya di dalam hati sangat penasaran dengan apa penyebab pria itu murka hingga membanting ponsel mahal di tangannya. Ia tahu jika benda pipih di tangan yang sudah hancur itu sangat mahal harganya.
Apalagi ia tahu jika wanita itu selalu menganggapnya seperti anak perempuan serta teman karena berbicara semua hal padanya tanpa ada yang ditutupi.
Kini, Zea mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang berada di antara gaun-gaun pesta yang menurutnya sangat cantik-cantik dan sudah bisa ditebak jika harganya sangat mahal.
Ia pun beralih menatap dari jauh ke ibu dan anak yang saat ini tengah berbicara dan berharap semua masalah akan selesai. "Nyonya Jenny pasti bisa membuat suasana hati tuan Aaron kembali baik."
Di sisi lain, Jenny yang saat ini masih belum mendengar penjelasan putranya, kini mencoba untuk lebih lembut lagi. Karena ia tahu jika putranya yang tengah kesal dikasari seperti menjewer telinga, itu hanya akan menyulut api dengan menyiram bensin di api menyala.
Ia kembali mengusap punggung lebar putranya dan berbicara lirih. "Sabar, Aaron. Semuanya akan baik-baik saja jika kamu tidak mengandalkan emosi. Kamu bisa membanting ponselmu sepuluh kali, nanti Mama belikan yang baru."
"Yang penting kamu tidak marah-marah pada Jasmine yang sepertinya masih belum merelakan impiannya sebagai model internasional. Semua butuh proses dan waktu yang akan menjawab semuanya." Jenny masih menatap intens putranya yang memiliki tinggi lebih darinya.
Berharap usahanya akan membuat putranya tidak lagi marah. Hingga ia pun membulatkan matanya begitu mendengar suara bariton dari Aaron.
"Jasmine mendadak ada pemotretan, Ma. Rasanya aku ingin mengobrak-abrik studionya karena membuat Jasmine lebih mementingkan pekerjaan daripada aku." Aaron kini masih berusaha untuk menenangkan emosi yang memenuhi jiwanya.
Hingga kelembutan sang ibu ibarat air yang mematikan api dan meninggalkan asap karena ia masih belum menghilangkan total amarahnya.
"Lebih baik kita pulang saja dan aku akan kembali dua jam lagi setelah Jasmine benar-benar ada di sini. Daripada aku kecewa lagi jika tiba-tiba ia membatalkannya." Aaron kini menatap ke arah gadis belia yang duduk di sudut kanan butik, tapi masih dengan jelas dilihatnya.
"Panggil Anindya, Ma. Kita pulang sekarang!" sarkas Aaron yang berbalik badan dan berniat untuk melangkahkan kakinya.
Namun, ia tidak bisa melakukannya karena tangannya ditahan oleh sang ibu dan membuatnya menoleh ke belakang.
"Kamu sedang badmood, Aaron. Jika pulang sekarang, kamu malah akan kesal dan kembali marah atas sikap Jasmine. Lebih baik lanjutkan rencananya dengan membuat Zea memakai gaun itu. Anggap saja ia adalah Jasmine."
Jenny tidak bisa membiarkan putranya semakin terpuruk jika menghabiskan waktu sendirian. Jadi, mengungkapkan idenya. Meskipun ia tahu reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh putranya tersebut.
"Astaga! Mama jangan menambah masalah lagi. Jika sampai Jasmine mengetahui gaun pengantin yang akan dikenakan sudah dicoba oleh wanita lain, bisa-bisa ia langsung membatalkan pernikahan."
Aaron bahkan berbicara sambil menatap ke arah gadis yang kini terlihat memotret area di dalam butik yang dipenuhi dengan banyaknya pakaian itu.
Ia bisa melihat jika Anindya terlihat seperti anak kecil yang ingin memiliki semua pakaian di butik itu karena selalu asyik memotret di antara baju-baju yang tergantung rapi itu.
Jenny kini menyadari bahwa idenya sangat konyol dan semua yang dikatakan oleh putranya benar. Namun, ia tidak akan mengizinkan Aaron pulang dalam keadaan emosi.
Apalagi harus mengemudi ketika tengah merasa marah, pasti akan berdampak buruk. "Kalau begitu, Anindya tetap akan memakai gaun yang lain. Nanti kamu pilih saja gaun yang ingin kamu lihat dipakai Jasmine."
"Mama tidak akan membiarkanmu pulang dengan suasana hati yang buruk. Kalau melihat kecelakaan bagaimana? Mama masih ingin hidup dan menikmati kebahagiaan bersama papamu."
Jenny enatap ke arah putranya yang masih tetap enggan membuka suara untuk langsung mengiyakan permintaannya.
"Setelah itu, kita pergi jalan di Mall dan biarkan Jasmine menunggu di sini karena ia harus dihukum saat membuat putra Mama yang hebat ini menunggu. Bagaimana?" tanya Jasmine yang kini masih mencoba untuk merubah pemikiran putranya.
Aaron yang saat ini terdiam dan menatap ke arah gadis yang sudah tidak lagi memotret karena malah asyik tertawa sambil kepala menunduk menatap ke arah ponsel yang dibelikannya.
Memang sang ibu yang menyuruhnya membelikan ponsel ketika dalam perjalanan pulang kerja, tapi ia memakai uang pribadinya dan belum dikembalikan oleh sang ibu.
Bukan ia perhitungan pada sang ibu, tapi ia kesal melihat gadis itu berpikir jika ponsel itu pemberian wanita yang telah melahirkannya.
Kini, ia langsung berjalan menuju ke arah gadis yang terlihat sangat senang itu karena berniat untuk merebutnya dengan alasan meminjam sebentar untuk menelpon Jasmine.
'Aku tidak suka melihatnya tertawa tanpa dosa saat aku tengah kesal!'
To be continued...
membulatkan matanya begitu