
Khaysila yang saat ini kembali mendaratkan tubuhnya di kursi kerja setelah dua pria yang membuat onar di perusahaan dibawa pergi oleh asisten pribadi sang kakek. Ia sebenarnya berencana untuk kembali fokus pada layar laptop yang menampilkan tentang laporan perusahaan bulan lalu.
Namun, ia gagal melakukannya karena tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Semua perkataan dari pria yang sangat dibenci masih terngiang-ngiang di kepalanya sampai saat ini.
"Pria itu sepertinya tidak akan menyerah meskipun sudah mengetahui jika aku lebih memilih Erick daripada dirinya. Apalagi dia terlihat pantang menyerah sebelum aku benar-benar menikah dengan Erick." Saat ia baru saja menutup mulut, kini mendengar suara notifikasi di ponselnya.
Ia baru saja menyalakan ponselnya karena mengetahui bahwa Erick akan menghubunginya dan dengan alasan agar pria itu tidak lagi membuat masalah di perusahaan.
Kini, ia membaca banyak pesan dari Erick yang dikirim dari semalam dan pagi ini. Kemudian juga pesan terbaru yang baru saja masuk.
Ayang, aku tunggu kamu di Rumah Sakit. Kita perlu bicara karena tadi belum selesai.
Khaysila saat ini terdiam dan berpikir bahwa ia merasa bersalah pada Erick karena memanfaatkan pria itu demi menghentikan perbuatan
Aaron yang berniat untuk menikahinya demi sebuah pertanggungjawaban.
Hingga ia pun saat ini mengembuskan napas kasar yang mewakili perasaan membuncah kalau memikirkan sosok pria yang dulu pernah sangat dicintai.
"Kenapa saat aku menginginkan itu lolos dari bibirmu, tapi sama sekali tidak kudengar. Namun, saat aku sangat membencimu, kau malah melakukan hal itu. Jika semudah itu menghilangkan rasa benciku padamu, pasti akan merasa bahagia saat kau melamarku." Ia saat ini memijat pelipis karena merasa terlalu banyak memforsir pikirannya.
"Tidak! Ingat perbuatan pria itu yang dulu dengan tidak berperasaan memaksamu untuk melayani nafsunya. Meskipun saat itu dikuasai oleh minuman beralkohol, tetap saja kamu sudah berusaha untuk menyadarkannya dengan memohon dan menangis, tapi sama sekali tidak diperdulikan."
Khaysila merasa trauma ketika mengingat hal paling menakutkan sepanjang sejarah hidupnya. Bahkan pada saat melihat Aaron tadi untuk pertama kalinya, jujur saja degup jantungnya tidak beraturan.
Antara takut, khawatir dan benci seolah bercampur menjadi satu dan benar-benar membuatnya tersiksa, sehingga lebih fokus pada Erick untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak langsung berinteraksi dengan Aaron.
Kini, ia memilih mengalihkan perhatian agar tidak terus memikirkan pria yang tadi berlutut di bawah kakinya sambil membuka kotak perhiasan berisi cincin bertatahkan berlian.
Mungkin jika wanita lain yang mendapatkannya, akan langsung bersedia menerima lamaran dari pria tampan yang berasal dari keluarga berada tersebut. Namun, hatinya yang terluka, tak segampang itu melupakan kesalahan Aaron. Jemari lentiknya kini menuliskan pesan balasan pada Erick.
Iya, aku juga ingin berbicara hal serius padamu mengenai tentang apa yang tadi kuungkapkan di depan Aaron.
Saat ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang dirasakan Erick padanya, jadi ingin membahas dengan pria itu. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaan dan berusaha untuk fokus serta melupakan tentang kejadian hari ini, khususnya lamaran dari Aaron.
'Aku pasti bisa melakukannya karena sudah banyak cobaan yang selama ini kuhadapi. Tidak ada gunanya memikirkan tentang hal yang tidak penting karena ada jauh yang lebih penting dari lamaran pria itu.'
To be continued...