
Semua orang yang ada di ruangan kamar ke arah sosok gadis dengan wajah sangat serius ketika mengambil keputusan dan tentu saja membuat mereka sibuk bertanya-tanya mengenai apa yang akan keluar dari mulut itu.
Sementara itu, Khayra saat ini sudah bertekad bulat untuk tidak membuat dua pria saling bermusuhan ataupun berdebat hanya karena memperebutkan dirinya yang bahkan tidak berpikir untuk membuka hati ataupun menerima menerima salah satu dari mereka.
"Aku kan sudah bilang pada kalian jika sekarang hanya ingin fokus dengan semua masalah yang terjadi dalam keluargaku dan mengurus putraku." Belum melanjutkan perkataannya, kembali kesal saat Aaron menyahut.
"Kenzie bukan hanya putramu, Anindya," sahut Aaron yang tidak memperdulikan tatapan tajam mengintimidasi dari semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Diamlah, pria arogan!" sarkas Erick yang dari tadi sangat serius mendengarkan perkataan Zea, tapi merasa sangat terganggu dengan suara bariton Aaron yang seolah ingin menunjukkan kenyataan mengenai posisinya tidaklah aman.
"Aku hanya ingin menyadarkannya agar tidak membuang fakta sebenarnya jika Kenzie bukan hanya darah dagingnya karena tidak mungkin ada di dunia ini tanpa aku! Meskipun aku sangat berdosa karena tidak mengetahui ataupun merawatnya, paling tidak, kenyataan tetaplah kenyataan." Aaron bahkan tidak peduli jika sang ibu kembali memberikan hukuman.
Aaron hanya fokus untuk menguraikan perkataan dari Anindya agar menyadari jika ia harus disebutkan sebagai ayah biologis dari malaikat kecil yang ada di atas ranjang dan masih tertidur pulas meskipun suara semua orang menghiasi ruangan kamar berukuran luas tersebut.
Sampai pada akhirnya ia kembali diam kala Anindya seperti sangat marah padanya.
"Jika sekali lagi menyela saat aku berbicara, lebih baik tinggalkan ruangan ini agar aku bisa berbicara dengan mama dan Erick!" Khayra tidak peduli bagaimana nada protes dari Aaron karena ia saat ini ingin segera menyelesaikan permasalahan yang terjadi karena menyangkut putranya.
Aaron saat ini menelan saliva dengan kasar karena jujur saja sangat kesal dianggap seperti seorang anak kecil yang dimarahi. Hingga ia pun juga mendengar sang ibu mendukung Anindya.
"Jika sampai kau menjadi penyebab Mama tidak bisa bertemu lagi dengan cucuku, tidak akan berbicara denganmu lagi!" Jennifer yang meluapkan kekesalan pada putranya karena tidak mau mendengarkan, kini beralih menatap ke arah Anindya.
"Lanjutkan saja, Anindya. Aku akan membungkam mulut Aaron jika sampai berani memotong ucapanmu lagi." Ia bahkan menatap ke arah kepala pelayan karena ingin meminta sesuatu. "Maaf. Apa aku bisa meminta plester? Aku ingin membungkam mulut putraku jika sampai tidak bisa diam."
Sementara itu, kepala pelayan yang benar-benar tadi merasa sangat terkejut dengan sebuah kenyataan yang menjadi rahasia tersimpan rapi oleh majikannya, buru-buru menganggukan kepala sebagai persetujuan dan menarik tangan baby sitter agar keluar karena tidak ada urusan di sana.
Tentu saja ia tahu apa yang dipikirkan oleh putri dari temannya tersebut. "Sekarang kau sadar apa kesalahanmu? Wanita yang kau anggap mencari perhatian itu ternyata adalah mamanya dan ternyata merupakan ayah kandung dari tuan Kenzie."
"Jangan bicara denganku karena aku benar-benar sangat pusing sampai kepala mau meledak rasanya," ucap sang baby sitter yang saat ini berpikir bahwa kesempatannya untuk mendekati sosok pria dengan paras rupawan tersebut seketika musnah dan tidak ada harapan.
"Lebih baik aku mengundurkan diri dari sini sebelum dipecat karena pasti wanita itu akan menyuruh nona untuk mengusirku dari sini." Ia saat ini menatap teman dari ibunya. "Aku sekarang akan segera berkemas dan juga sampaikan nanti pada nona Khayra."
Kepala pelayan yang bisa berbuat apa-apa dan memilih membiarkan wanita itu pergi, kini mengambil barang yang dibutuhkan oleh wanita yang merupakan nenek dari baby.
Hingga ia tidak jadi masuk dan berdiri di dekat pintu karena mendengar suara dari majikannya ketika mengambil keputusan.
"Aku tidak akan menerimamu meskipun berusaha sangat keras, tapi tidak akan melarangmu untuk bertemu dengan Kenzie karena memang darah lebih kental daripada air." Khayra saat ini beralih menatap ke arah wanita yang masih terlihat sangat cantik meskipun sudah berumur.
"Mama pun bisa melihat cucu sewaktu-waktu karena aku tidak berhak untuk melarang. Bahkan meskipun aku melarang, akan dipastikan kalah dan salah. Mama bahkan boleh tinggal di sini sampai kapanpun agar bisa merawat cucu." Khayra saat ini ingin membalas kebaikan wanita tersebut di masa lalu.
Namun, ia malah mendengar suara bariton dari dua pria yang saat ini salah paham dengan perkataannya. Bahkan keduanya berbicara seperti sehati dan sepemikiran.
"Apa aku juga boleh tinggal di sini?" tanya Aaron dan Erick bersamaan dan akhirnya saling menatap, lalu melempar pandangan karena kesal bisa sepemikiran dan bebarengan mengungkapkan apa yang ada di pikiran.
Namun, keduanya pun sama-sama kecewa begitu melihat respon dari gadis yang saat ini menggelengkan kepala tanpa berpikir.
"Hanya Mama yang boleh tinggal di sini. Kalian lebih baik pulang ke Jakarta dan fokus dengan kegiatan masing-masing. Aku benar-benar sangat sibuk dan kalian benar-benar sangat menggangguku." Khayra kini merasa sangat lega karena sudah mengungkapkan semua yang ada di pikirannya.
To be continued...