
Saat ini, Aaron saat ini menunggu kartu nama yang dibuatnya jadi agar Anindya percaya. Tentu saja ia memasukkan namanya dan menggunakan nama baru, yaitu Adrian Madinata. Ia asal menggunakan nama itu karena tidak ingin berpikir berat.
Tadi saat ia mendengar kabar dari sang ibu mengenai penolakan orang tua Erick, tentu saja membuatnya merasa senang dan tidak berhenti berjingkrak-jingkrak di dalam kamar hotel. Ia benar-benar sangat senang karena satu saingannya telah berkurang dan tidak perlu melihat wajah pria yang selalu memancing amarahnya seperti ketika berada di lobi hotel tadi pagi.
"Erick ... Erick, aku tuh berduka cita atas nasib burukmu yang malang. Ternyata cintamu berakhir di tangan orang tua sendiri," ucapnya yang saat ini berdiri di depan cermin toilet.
Ia memastikan penampilannya sudah cukup rapi sebelum berangkat ke rumah keluarga Kusuma. Setelah dirasa penampilannya tidak ada yang kurang, kini berjalan keluar dari toilet dan berpamitan pada orang yang ada di sana setelah membayar pesanannya.
Aaron yang saat ini sudah menyimpan kartu nama di dalam tas berukuran sedang berisi beberapa alat terapi yang tadi dibeli di toko, menunggu taksi yang dipesan. Beberapa saat kemudian taksi yang dipesan telah datang dan langsung menuju ke rumah mewah yang ditempati oleh Anindya dan putranya.
Saat baru saja meletakkan tas berisi beberapa alat terapis di sebelah kirinya, suara dering ponsel miliknya berbunyi dan membuatnya langsung memeriksa siapa yang menghubungi.
Awalnya ia berpikir jika sang ibu menghubungi karena ada sesuatu yang terlupa untuk dikatakan, tapi ternyata yang menelpon adalah kepala pelayan di rumah Anindya.
Merasa ada yang ingin disampaikan padanya, buru-buru ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari seberang telepon.
"Apa Mas sudah berangkat ke sini?"
"Ada apa, Nyonya?" tanya Aaron yang ingin memastikan terlebih dahulu mengenai apa yang ingin disampaikan karena tidak ingin salah berbicara.
"Saya hanya ingin bertanya apakah anda sudah berangkat karena nyonya kebetulan belum berangkat ke perusahaan dan mungkin bisa bertemu. Kebetulan tadi nyonya bertanya jam berapa Anda ke sini, tapi saya belum menjawab karena memang belum jelas jam berapa datang ke sini," ucap kepala pelayan yang saat ini memastikan.
Aaron yang saat ini seketika membulatkan mata karena tidak mungkin ia mengatakan sudah berada di jalan dan sebentar lagi akan tiba di rumah mewah itu.
'Wah ... bisa gawat jika Anindya melihatku dan rencanaku akan gagal karena tidak bisa bertemu dengan putraku setiap hari. Untung tadi aku bertanya terlebih dahulu sebelum menjawab agar tidak salah,' gumam Aaron yang saat ini berdaun sejenak untuk menormalkan suaranya.
Kini mencari alasan yang tepat bahwa ia tidak sedang berada di dalam taksi yang menuju ke rumah Anindya. "Saya kebetulan ada meeting mendadak di kantor untuk dibekali ilmu baru mengenai permasalahan baby. Makanya belum berangkat dan menunggu sampai meeting selesai. Ini kebetulan saya berada di toilet karena sakit perut."
Aaron yang saat ini menatap ke arah spion karena sang supir mencurigainya saat berbohong. Ia bahkan menaruh jari telunjuk pada bibirnya agar pria itu tidak membuka suara untuk membuka rahasianya yang berbohong pada wanita di seberang telepon.
Sang supir taksi yang saat ini hanya diam dan menganggukkan kepala seolah tidak memperdulikan apa yang dilakukan oleh penumpangnya. Ia berpikir jika pria itu sudah pro melakukan kebohongan untuk mengincar mangsa.
Namun, tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain dan kembali fokus mengemudi sambil mendengarkan pembicaraan dari penumpangnya yang penuh dengan kebohongan.
"Oh ... jadi seperti itu rupanya. Kalau begitu, saya akan menyampaikan pada nona. Memang kebetulan hari ini Nona berangkat agak siang karena asisten pribadinya tengah mengurus sesuatu dan menyuruhnya nunggu. Baiklah, saya tutup teleponnya dan akan menunggu Anda datang."
"Iya, Nyonya," sahut Aaron yang saat ini langsung mematikan sambungan telepon karena tidak ingin ada suara-suara mencurigakan karena melihat ada truk di belakang dan khawatir memencet klakson dan terdengar.
Ia ini bernapas lega karena sudah tidak lagi berbicara dengan wanita yang merupakan kepala pelayan di tempat Anindya. "Selamat ... selamat."
Bahkan mengusap beberapa kali dadanya saat merasa gugup karena hampir saja bertemu dengan Anindya yang ternyata sekarang masih berada di rumah. Ia saat ini menatap ke arah sang supir dan memikirkan sesuatu.
"Pak, tolong berhenti di toko waralaba karena saya ingin membeli sesuatu sebentar." Aaron rencana untuk membeli minuman terlebih dahulu karena tenggorokannya sangat kering dan sekaligus menjeda waktu kedatangannya.
Ia berharap Anindya sudah berangkat ketika ia tiba di sana. Berpikir jika gadis itu masih berada di rumah, pasti akan membencinya serta murka karena berbohong demi bisa bertemu dengan putranya.
"Siap, Mas," sahut sang sopir yang saat ini mencari supermarket waralaba yang tersebar di tiap jalan utama.
Beberapa saat kemudian, taksi berhenti tepat di supermarket waralaba dan Aaron segera turun untuk membeli minuman untuknya dan juga sopir tersebut sebagai ucapan terima kasih.
Sampai pada akhirnya ia pun sempat membeli beberapa makanan ringan agar lebih lama berada di supermarket. Setelah merasa cukup waktu, ia pun kembali ke dalam taksi dan memberikan minuman serta camilan pada sopir.
"Terima kasih karena mau menunggu. Ini untuk keluarga bapak di rumah." Ia hanya mengambil minuman isotonik dan langsung diteguknya.
Tentang saja sang sopir yang tadi mengeluh karena menunggu terlalu lama di dalam mobil, seketika berbinar wajahnya sekaligus merasa heran dengan kebaikan penumpang tersebut padanya yang menaruh kantong plastik berisi aneka makanan di sebelah tempat duduknya.
"Mas, kenapa membelikan saya sebanyak ini? Saya jadi merasa tidak enak. Terima kasih banyak, Mas. Pasti anak dan istri saya sangat senang mendapatkan ini. Apalagi kantong plastik ini saja serasa mewah bagi orang miskin seperti kami." Kemudian sang supir kembali menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan menuju ke tempat tujuan.
"Sama-sama, Pak. Anggap saja itu rezeki karena saya ingin berbagi. Saya merasa sangat bahagia dan ingin bersedekah dengan memberikan beberapa makanan," ucap Aaron yang saat ini membohongi pria tersebut agar tidak menjelaskan hal lain yang bersifat pribadi.
Ia bahkan saat ini ingin memastikan kembali mengenai sesuatu hal yang berhubungan dengan Anindya. Kini, ia mengirimkan pesan untuk bertanya pada kepala pelayan apakah Anindya sudah berangkat atau masih menunggunya.
Namun, selama beberapa saat menunggu dan taksi hampir saja tiba di rumah keluarga Kusuma, belum kunjung menerima balasan dan membuatnya bimbang.
Ia khawatir jika Anindya masih belum berangkat ke perusahaan dan kini kembali menyuruh sang sopir untuk berhenti. "Pak, tolong berhenti di depan sana."
Tanpa bertanya apa alasannya, kang sopir yang merasa senang karena sebentar-sebentar menoleh ke arah kantong plastik berisi banyak makanan dan minuman tersebut, kini langsung menepikan kendaraan sesuai dengan perintah penumpang.
Namun, tetap saja panggilannya tidak diangkat dan membuatnya kebingungan mengenai apa yang harus dilakukannya sekarang. "Astaga, kenapa tidak kunjung diangkat?"
"Jika aku tiba di sana saat Anindya masih belum berangkat, rencanaku akan berantakan." Aaron saat ini terdiam dan tengah mencari ide apa yang harus dilakukan saat semuanya belum jelas.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah ide di kepala dan akan dilakukan saat tiba di rumah keluarga Kusuma. "Jalan lagi, Pak."
"Iya, Mas." Meski merasa heran melihat pria itu sebentar-sebentar menyuruh berhenti, tetap saja tidak mengungkapkan nada protes dan melakukan perintah.
Kemudian kembali mengemudikan kendaraan menuju ke tempat yang ditentukan. Hingga beberapa saat kemudian mendapatkan kendaraan tepat di depan rumah megah bak istana yang ada di komplek perumahan elit tersebut.
"Di sini, Tuan." Sang supir yang kini mematikan mesin mobil dan menunggu hingga penumpang keluar.
Aaron yang saat ini menatap ke arah rumah Anindya, sibuk merapal doa agar wanita itu sudah berangkat ke kantor. Ia pun mengambil uang dan memberikan pada sopir. "Terima kasih, Pak."
Kemudian ia beranjak keluar sambil membawa kantong plastik berisi beberapa alat terapi yang dipesan kepala pelayan kemarin. Dengan cukup jantung tidak beraturan karena khawatir jika Anindya masih berada di dalam rumah, ia berjalan menuju ke arah pos security untuk memastikannya.
Ia melihat pria berseragam hitam tengah menonton televisi dan langsung menatapnya.
"Oh, Anda sudah datang?" Security saat ini berniat untuk membuka pintu gerbang setelah mengambil remote control di dalam laci, tapi tidak jadi melakukannya ketika mendengar pertanyaan pria di hadapannya.
"Tunggu, Pak!" ucap Aaron yang saat ini mengarahkan tangannya ke depan untuk menghentikan perbuatan pria itu yang hendak menyuruhnya masuk ke dalam.
"Iya, Mas, ada apa?" tanya pria dengan tubuh gempal berseragam hitam tersebut sambil memicingkan mata karena merasa heran.
Aaron saat ini menggaruk tengkuk belakang dan dengan sangat menyakinkan agar tidak mendapatkan sebuah kecurigaan. "Ehm ... jadi begini, saya tadi kehilangan dompet dan tidak tahu jatuhnya di mana. Jadi, tidak punya uang untuk pulang. Apakah majikan ada di rumah? Saya berniat untuk meminta bayaran terapi 1 hari ini agar bisa pulang nanti."
Sementara itu, sang security yang saat ini merasa iba melihat wajah memelas di hadapannya, seketika mengeluarkan dompet miliknya dan mengeluarkan dua lembar uang, lalu memberikannya.
"Kebetulan aku punya ini dan kamu bisa meminjamnya. Kamu bisa membayar saat nanti sudah mendapatkan gaji. Sebenarnya tidak perlu bertemu dengan majikan jika hanya ingin meminjam uang atau meminta bayaran satu hari karena kepala pelayan bisa memberikannya." Kemudian ia langsung membuka pintu gerbang dengan remote di tangannya.
"Sekarang masuklah! Jangan pikirkan hal lain karena masalahmu sudah selesai dan tidak perlu khawatir." Mengibaskan tangan pada pria tersebut agar segera masuk karena tadi mendapatkan pesan dari kepala pelayan.
Bahwa jika pria itu datang agar segera menyuruh masuk untuk melakukan terapis pada baby.
Aaron yang tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, kini merasa bingung dan terpaksa harus menuruti perintah dari security. Dengan perasaan berkecamuk dan debaran jantung tidak beraturan karena khawatir bertemu dengan Anindya, membuatnya menelan saliva dengan kasar saat melangkah masuk.
Ia bahkan saat ini seolah pasrah jika sampai bertemu dengan Anindya di dalam rumah. 'Tuhan, selamatkan aku karena aku belum siap bertemu dengan Anindya sekarang.'
Saat langkah kakinya sampai di depan pintu utama, langsung disapa oleh salah satu pelayan yang baru selesai menyiram tanaman. "Anda sudah ditunggu di dalam. Silakan masuk, Mas."
Aaron yang tersenyum dengan terpaksa, merasa seperti tengah ditunggu oleh Anindya di dalam rumah. Tidak ingin tersiksa dengan rasa penasaran dan juga kekhawatiran, ia seketika membuka suara untuk bertanya pada pelayan yang menyapanya.
"Apakah majikan ada di rumah?"
"Oh ...." Pelayan nggak jadi melakukannya saat mendengar suara panggilan dari temannya yang mengurus tanaman.
"Har, cepat ke sini! Ada ular!" teriak tukang kebun yang baru saja memotong tanaman.
"Hah ... ular? Bagaimana bisa ada ular masuk ke sini?" Kemudian ia langsung berlari menghampiri rekannya tanpa memperdulikan pria yang baru saja datang tersebut dan lupa untuk menjawab.
Apalagi harus segera menemukan ular agar tidak sampai menggigit pemilik rumah dan bisa langsung memecat para pelayan yang bekerja di area luar rumah jika sampai itu terjadi.
Aaron yang saat ini semakin bertambah kesal karena ada saja hal yang membuatnya tidak bisa mengetahui apakah Anindya berada di rumah atau sudah berangkat ke kantor.
'Ya Tuhan, kenapa aku tidak mendapatkan jawaban sama sekali? Apakah Ini adalah sebuah pertanda buruk?' gumamnya yang berniat untuk mengetuk pintu di hadapannya karena tidak mungkin langsung masuk seperti ke rumah sendiri.
Aaron bahkan saat ini menghembuskan napas kasar karena kekhawatirannya makin merebak saat tidak ada lagi yang bisa ditanya mengenai Anindya. Ia saat ini berusaha menenangkan diri dan mengambil napas teratur.
'Tenang ... tenang! Aku tidak boleh terlihat gugup karena jika benar Anindya ada di rumah dan bertemu, aku harus bisa beralasan apapun agar ia tidak marah.' Terdiam seperti orang yang tengah melamun dan memiliki banyak beban.
'Tapi kira-kira apa yang membuatnya tidak murka padaku nanti?' gumam Aaron yang saat ini tengah berpikir keras untuk beralasan paling tepat jika benar-benar bertemu dengan gadis yang telah melahirkan darah dagingnya.
Namun, baru saja mengangkat tangan dan berniat untuk mengetuk, melakukannya karena pintu terbuka dan ia melihat seorang wanita yang berdiri di hadapannya.
To be continued...