Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menampar



Entah mengapa kotak berwarna merah berbentuk hati yang saat ini terbuka dan menampilkan dua cincin, serasa hati Aaron bergejolak. Bukan karena ia mengingat jika dulu pernah melamar Jasmine di restoran dan sang kekasih ragu, seperti ingin menolak lamarannya.


Namun, ia seolah menutup hati dan berpikir serta percaya diri jika Jasmine akan menerimanya dan bersedia menikah dengannya. Akan tetapi, faktanya adalah ia dianggap adalah sebuah mainan yang bisa dibuang dan dipungut kapanpun wanita itu menginginkannya.


Aaron justru lebih mengingat ketika beberapa minggu yang lalu melamar Anindya dan sama sekali tidak membuat wanita yang ternyata sudah melahirkan benihnya tersebut menerima niat baiknya untuk bertanggung jawab sekaligus menunjukkan keseriusannya sebelum mengetahui kenyataan sebenarnya.


Bahwa wanita yang telah satu tahun diperkosa olehnya ternyata melahirkan darah dagingnya. Aaron seperti merasa Dejavu ketika melihat sepasang cincin di depan mata. Ia kini bergerak mengangkat tangannya untuk mengambil satu cincin untuk dikenakan laki-laki.


Kemudian ia mengangkat dan menatap cincin yang merupakan pilihan Jasmine dan diketahui memiliki harga fantastis. "Sepertinya kau membeli ini dari Paris."


Jasmine seketika tersenyum begitu melihat Aron yang seolah menunjukkan harapan untuknya karena tidak langsung menolak ketika ia melamar demi menebus kesalahan di masa lalu.


"Iya, Aaron. Ini aku beli sebelum pulang karena memang berniat untuk menebus dosa-dosaku padamu dengan menyerahkan hidupku padamu. Bahkan boleh melakukan apapun terhadapku karena aku akan pasrah demi kamu." Jasmine bahkan saat ini berharap jika Aaron segera mencoba cincin pilihannya.


Dengan begitu, sudah bisa dipastikan jika harapannya untuk menikah dengan Aaron akan menjadi kenyataan. 'Semoga Aaron segera mencoba cincinnya kupilihkan secara khusus untuknya,' gumamnya merapat doa demi membuat harapannya terkabul.


Berbeda dengan Aaron yang saat ini masih memegang cincin di tangannya tersebut karena selalu terbayang dengan momen ketika Anindya menolak lamarannya dengan cara elegan. Hingga ia berpikir untuk melakukan hal serupa dan kini beralih menatap ke arah sosok wanita yang diakuinya semakin bertambah cantik.


"Aku sama sekali tidak berniat untuk menikah seumur hidup. Jadi, lebih baik kau cari pria lain." Hanya itu tertangkap di pikirannya ketika mengingat Anindya, tapi menambahkan kata pamungkas.


Hingga ia kini kembali meletakkan cincin dengan desain yang sangat berbeda karena mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki perhiasan buatan negara sendiri.


'Bahkan bukan hanya cincin yang ingin ku buang di tempat sampah, tapi wanita tidak mau tahu malu ini juga ingin kumasukkan ke sana.' Aaron yang saat ini berjalan meninggalkan Jasmine dan melindungi sekilas ke arah tempat sampah di sudut ruangan sebelum kembali ke kursi kerjanya.


Hingga ia pun membayangkan bisa membuang Jasmine layaknya sampah yang tidak berguna karena memang sudah menganggap seperti itu. Bahwa wanita yang telah menyia-nyiakan kesempatan dan cinta tulusnya, tidak akan pernah dipungutnya lagi.


Jasmine yang tadinya menyembunyikan sesuatu karena efek gugup berhadapan dengan pria yang dikhianatinya, sangat menyesal karena tidak mengatakan hal sebenarnya mengenai awal mula iya melamar Aaron.


Tidak ingin menyesal karena kata terlambat, kini Jasmine menghentikan langkah kaki Aaron dengan cara menahan pergelangan tangan yang memakai jam tangan mahal itu.


"Aaron, tunggu dulu!" Ia masih ingin melihat respon mantan kekasih yang ternyata hanya diam dan sama sekali tidak meredakan amarah padanya dan tentu saja merasa sangat lega.


"Aaron, Aku benar-benar sangat menyesal dan ingin menebus kesalahanku padamu. Aku bahkan bersusah payah untuk mendesain sendiri cincin ini."


"Padahal aku bukanlah desainer perhiasan, tapi mengerjakannya cukup lama hanya demi bisa memohon ampunan darimu serta melanjutkan sesuatu yang dulu tertunda. Anggap saja pernikahan kita dulu sempat tertunda dan sekarang kita lanjutkan." Jasmine benar-benar berharap Aaron mengiyakan ajakannya untuk menikah dengan membuka lembaran baru.


Namun, saat ini yang terjadi adalah ia seketika memejamkan mata karena melihat Aaron mengangkat tangan seperti gerakan menampar dan mengincar wajahnya.


To be continued...