
Jennifer saat ini berjalan mengekor putranya karena tidak tahu menahu di mana keberadaan sang cucu yang sangat ingin ditemuinya. Bahkan mendengar suara tangisan dari bayi yang menggema di rumah megah yang jauh lebih besar dari kediamannya itu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.
Gugup, senang adalah sebuah hal yang berkesinambungan karena saling berkaitan dan membuatnya kini merasa tidak sabar untuk bisa segera menggendong keturunan keluarga Jonathan.
Hingga ia melihat seorang wanita yang tengah menggendong cucunya dan dihampiri oleh putranya saat ini. Bahkan ia seketika tersenyum melihat cucunya yang masih terus rewel, meskipun sudah tidak menangis kencang seperti tadi.
"Biar aku yang memenangkannya tuan Kenzie," ucap Aaron yang saat ini melihat putranya tidak bisa tenang berada di gendongan sang baby sitter tersebut.
Ia merasa aneh karena putranya selalu rewel ketika bersama dengan sang baby sitter. Berpikir jika wanita itu mungkin tidak bisa mengerti bagaimana perasaan putranya, sehingga selalu rewel.
Apalagi ia membaca jika perasaan bayi sangat sensitif dan bisa mengerti apakah yang menjaganya menyayangi atau tidak. Ia merasa yakin jika ada yang aneh dengan wanita itu, sehingga membuat putranya tidak nyaman.
Sebenarnya ia berniat untuk berbicara dengan kepala pelayan agar mengganti baby sitter karena berpikir bahwa wanita tersebut tidak ikhlas menjaga putranya. Ia juga merasa tidak nyaman berhadapan dengan wanita yang mempunyai perasaan padanya.
Sang baby sitter saat ini memberikan bayi dalam gendongannya tersebut yang tadi tiba-tiba menangis setelah ia keluar dari kamar mandi. Ia bisa melihat cincin di jari manis pria yang kini sudah menggendong sang bayi dan membuatnya kini yakin jika pria itu benar-benar memiliki istri dan anak.
Bahwa perkataan pria itu benar dan tidak berbohong padanya. "Tiba-tiba menangis saat aku keluar dari kamar mandi," ucapnya sambil menatap ke arah seorang wanita yang terlihat sangat cantik dan membuatnya memicingkan mata.
Meskipun melihat wanita itu cantik, tetapi mengetahui jika usia tidak bisa menipu dan yakin jika lebih tua cukup jauh dari pria itu dan juga dirinya. "Siapa wanita ini?"
Ia merasa khawatir jika ia dipecat karena tidak becus menjaga sang baby dan digantikan oleh wanita tersebut.
'Jika aku dipecat dari pekerjaan ini, mana mungkin bisa melihat pria tampan ini lagi. Meskipun sudah menikah dan memiliki anak, tidak ada salahnya setiap hari bisa melihat wajahnya yang tampan. Apalagi zaman sekarang banyak pasangan yang berselingkuh dan menikahi selingkuhannya.'
Sang baby sitter bahkan melihat ada banyak berita mengenai perselingkuhan dari pasangan suami istri dan akhirnya bisa menikah setelah bercerai. Ia berharap seperti itu jalan untuk mendapatkan pria tampan di hadapannya tersebut.
'Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan pria tampan ini meskipun sudah memiliki istri dan anak,' gumamnya sambil menunjuk ke arah wanita yang baru saja datang bersama dengan pria itu.
Aaron yang saat ini berusaha untuk menenangkan putranya agar tidak rewel dan sibuk bergerak, kini menatap ke arah sang ibu dan juga wanita berseragam tersebut.
"Aah ... itu adalah rekan kerjaku yang akan melihat cara kerjaku agar bisa melakukan terapis pada baby. Selama beberapa hari ini akan ikut denganku selama di sini karena masih training bekerja, jadi aku yang akan mengajarinya. Aku sudah meminta izin kepada kepala pelayan tadi," ucapnya yang saat ini memberikan kode pada sang ibu untuk memperkenalkan diri.
Meskipun sebenarnya hal itu tidaklah penting karena menganggap sang baby sitter bukan siapa-siapa, tapi mengetahui jika adab bertemu orang lain yang akan sering bertemu sebagai rekan adalah dengan memperkenalkan diri.
Jennifer yang saat ini mengangguk perlahan dan mengulurkan tangannya serta tersenyum simpul. "Saya Lestari yang masih training menjadi terapis."
Sementara itu, sang baby sitter sangat malas untuk berjabat tangan dan hanya menganggukkan kepala. "Baiklah kalau memang sudah meminta izin pada kepala pelayan di rumah ini. Aku pikir kau mengajak sembarang orang ke sini. Jika sampai nyonya tau, pasti kau akan dipecat."
Saat ia beralih menatap ke arah pria yang sibuk menggendong dengan menepuk-nepuk pundak sang baby, selalu dibuat merasa heran karena dengan mudahnya pria tersebut menenangkan sang baby yang selalu rewel ketika digendong olehnya.
Namun, ia berpikir bahwa mungkin itu karena memang pria tersebut sangat berpengalaman sebagai seorang terapis dan bisa mengalahkannya dengan mudah.
Sebenarnya ia bisa mendapatkan sertifikat baby sitter dulu karena membayar sejumlah uang agar bisa bekerja sebagai perawat bayi. Jadi, memang tidak pandai untuk menjaga bayi. Apalagi ia sangat kesal ketika bayi rewel terus menerus.
'Posisiku bisa terancam oleh pria ini jika terus-menerus tidak bisa menenangkan baby,' gumamnya yang saat ini mendapatkan kalimat bernada sinis dari pria yang baru saja ia ejek dengan sebuah sindiran.
"Jika nanti nyonya besar marah padaku karena membawa rekan terapis ke sini, padahal sudah meminta izin pada kepala pelayan, mungkin saja kamu juga mendapatkan hal yang sama dengan dipecat sebagai baby sitter karena tidak bisa menenangkan baby saat menangis." Aaron sangat tidak suka dan kesal melihat sikap tidak sopan wanita itu pada sang ibu.
Ia bahkan berpikir jika yang berdiri di hadapannya bukanlah seorang wanita, pasti sudah memberikan pelajaran dengan meninju wajah ataupun menarik rambut karena tidak bisa menghormati orang yang lebih tua.
Namun, berusaha untuk menahan diri agar tidak terlihat jelas membenci wanita itu yang ingin sekali disingkirkan dari rumah Anindya karena dianggap tidak berguna.
Kini, ia berjalan melewati sosok wanita yang membuatnya kesal tanpa menoleh karena ingin membuat sang ibu menggendong sang cucu yang merupakan darah dagingnya.
"Kamu sudah melihat caraku menenangkan bayi ini, bukan? Sekarang kamu coba agar nanti terbiasa bisa menenangkan bayi saat melakukan terapis di tempat pelanggan," ucap Aaron yang saat ini memberikan putranya pada sang ibu yang terlihat berbinar wajahnya karena pertama kali menggendong sang cucu.
"Iya, aku sudah melihat apa yang kamu lakukan tadi," jawab Jennifer yang sama sekali tidak memperdulikan sosok wanita yang terlihat sangat tidak menyukainya.
Ia bahkan saat ini berpikir jika wanita tersebut tidak menyukainya karena merasa tersaingi akan kedatangannya. Apalagi ia bisa menebak jika ketampanan putranya membuat sang baby sitter tersebut jatuh cinta.
Apalagi sebagai seorang wanita bisa melihat bagaimana cara menatap sang baby sitter tersebut pada putranya. Namun, tidak ingin mengambil pusing hal itu karena mengetahui bahwa hati putranya sudah dikuasai oleh Anindya yang merupakan ibu dari bayi yang sudah ada dalam gendongannya.
Ia bahkan saat ini merasa gugup ketika pertama kali menggendong cucunya yang terlihat memejamkan mata. Bahkan degup jantungnya saat ini tidak beraturan ketika menatap malaikat kecil menggemaskan yang sangat tampan itu.
Jennifer sudah menceritakan semuanya pada sang suami dan tentu saja menunggu kabar darinya. Jadi, ia berniat untuk mengirimkan foto-foto saat menggendong cucunya nanti.
Saat ini, ia tidak berkedip menatap ke arah wajah malaikat kecil dalam gendongannya tersebut. "Baby ini sangat tampan. Pasti menuruni ibu dan ayahnya."
Saat ini, Aaron hanya tersenyum karena tidak mungkin menjawab kalimat sang ibu. Namun, ia mendengar suara dari wanita yang sangat tidak disukainya tersebut ketika menanggapi perkataan sang mama.
"Mamanya memang sangat cantik dan gen yang menurun pada tuan Kenzie. Kalau papanya ...." Ia seketika tidak melanjutkan perkataannya karena khawatir akan melakukan kesalahan jika membongkar rahasia besar dari rumah itu.
"Aaah ... di sini tidak boleh membahas tentang masalah pribadi dari majikan. Jadi, jangan berbicara macam-macam ataupun banyak pertanyaan karena kalian bisa dipecat dari rumah ini!" Kemudian memilih untuk berlalu pergi dan ingin bertanya pada kepala pelayan apakah benar mengizinkan orang lain untuk menemani sang terapis tersebut.
Sementara itu, Aaron ibu gini saling bersitatap begitu melihat wanita yang dianggap sangat arogan tersebut menghilang di balik pintu. Namun, keduanya merasa sangat lega karena bisa bebas berdua di dalam ruangan kamar untuk menjaga baby.
"Wanita itu benar-benar sangat menyebalkan. Rasanya aku ingin sekali mengusirnya dari rumah Anindya karena dia sama sekali tidak berguna dan tidak becus menjaga putraku," sarkas Aaron yang saat ini merasa kesal karena tidak bisa melakukan apapun untuk mengusir wanita itu karena di sini tengah menyamar.
Bukan sebagai suami Anindya ataupun ayah dari putranya tersebut, jadi hanya bisa diam melihat wanita itu membuat ulah.
Sementara itu, Jennifer saat ini tidak ingin menanggapi kemurkaan putranya karena ingin sekali momen yang tidak mungkin bisa terulang itu diabadikan. "Sudah, biarkan saja wanita itu berbuat sesuka hati karena itu tidaklah penting."
"Saat ini, yang terpenting hanyalah kita bisa bersama dengan Kenzie tanpa sepengetahuan Anindya. Meskipun tidak tahu sampai kapan Ini bertahan, tapi paling tidak masih bisa melihat cucuku yang tampan ini. Cepat ambil gambar mama tengah menggendong cucu agar bisa dikirimkan pada papamu."
Jennifer yang berpikir jika kesempatan tidak akan terulang lagi karena hanya berdua dengan putranya saat menggendong sang cucu, jadi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Aaron yang tidak banyak bicara karena khawatir jika kepala pelayan dan baby sitter kembali ke dalam ruangan, sehingga langsung meraih ponsel dalam saku celana dan memotret sang ibu yang tengah tersenyum ketika menggendong cucunya.
Ia bahkan sempat merekam karena ingin sang ayah melihatnya dan dengan jelas mengetahui seperti apa cucu dari keluarga Jonathan. Jadi, berharap sang ayah ikut merasakan kebahagiaan seperti dirinya dan juga sang ibu yang secara langsung bisa menggendong darah dagingnya tersebut.
"Papa pasti sangat senang bisa melihat dengan jelas cucunya," lirih Aaron yang saat ini tidak berkedip menatap ke arah sang ibu yang terlihat sangat bahagia ketika menggendong putranya.
"Iya, katamu sudah pasti sangat senang bisa melihat Mama menggendong cucunya. Langsung kirim saja pada papamu agar bisa melihatnya sekarang," ucap Jennifer yang saat ini sudah menunduk untuk mencium gemas pipi gembil cucunya yang sangat tampan dan memiliki kulit seputih susu.
Saat ia baru saja mencium cucunya, mendengar suara dari luar dan membuatnya langsung berakting seperti layaknya terapis yang menenangkan bayi. Ia bahkan memanggil putranya agar tidak melanjutkan perbuatannya yang bermain ponsel.
"Sepertinya wanita itu kembali," ucap Jennifer yang saat ini melihat putranya menganggukkan kepala dan memasukkan ponsel kembali ke dalam saku celana.
Aaron saat ini langsung berakting untuk menunjukkan bagaimana cara menggendong bayi yang baik. "Apa sekarang kamu sudah mengerti bagaimana cara yang benar untuk membuat nyaman baby?"
Baru saja menutup mulut, mendengar suara dari kepala pelayan yang baru saja masuk ke dalam bersama dengan sang babysitter yang sudah ditebaknya melapor akan kedatangan dari sang ibu yang menyamar sebagai rekan terapis.
"Jadi, nyonya ini yang akan menjadi rekan terapis untuk belajar saat kamu bekerja di sini?" Kepala pelayan saat ini baru saja tiba untuk memeriksa bagaimana pekerjaan dari terapis dan juga rekannya.
Aaron seketika menganggukkan kepala dan menatap ke arah sang ibu. "Iya, ini adalah rekan terapis yang mungkin selama beberapa hari ke depan akan ikut ke sini untuk melihat bagaimana cara untuk menenangkan bayi."
Ia pun memberikan kode pada sang ibu agar memperkenalkan diri. Tanpa memperdulikan sang baby sitter yang dianggap sangat menyebalkan dan ingin sekali disingkirkan dari hadapannya saat ini.
"Saya Lestari yang akan belajar karena masih masa training bekerja di pusat terapis yang yang sama dengannya," ucap Jennifer saat ini membungkuk hormat serta tersenyum pada wanita paruh baya yang dianggap jauh lebih sopan dari sang baby sitter karena langsung menjabat tangannya.
Kepala pelayan tersebut saat ini tersenyum dan menganggukkan kepala. "Saya tadi memang mengizinkan untuk datang hari ini, tapi karena saya hanyalah pekerja biasa di rumah ini, jadi akan menghubungi majikan untuk bertanya apakah boleh membawa rekan ke sini."
"Jadi, jika nanti majikan merasa keberatan, Tolong jangan tersinggung karena memang di rumah ini jarang mengijinkan orang lain masuk karena ada banyak hal yang tidak boleh diketahui. Apalagi tentang masalah privasi, tolong dijaga dan jangan menyebarkan apapun tentang apa yang kalian lihat di rumah ini, contohnya baby."
Tadi pasang baby sitter menjelaskan tentang perkataan yang hampir saja menyebutkan jika tidak mengetahui ayah dari sang baby dan pastinya akan menimbulkan gosip tidak baik untuk keluarga Kusuma.
Bahkan tadi sempat untuk memarahi sang baby sitter karena hampir melakukan kecerobohan. Jadi, saat ini ingin memberikan ultimatum pada pria dan wanita yang merupakan terapis tersebut agar merahasiakan tentang baby yang tidak pernah diekspos ke media sosial.
"Kalian tidak boleh menyebarkan tentang berita baby yang ada di rumah ini!" ucapnya dengan tatapan tajam karena saat ini ingin bersikap tegas pada apapun yang bersifat privasi dari majikannya.
Aaron dan sang ibu yang mengerti arah pembicaraan dari wanita tersebut, sama-sama menganggukkan kepala dan menjawab dengan bersamaan. "Baik. Kami sangat mengerti untuk menjaga rahasia atau privasi dari pelanggan kami."
To be continued...