Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Bawa aku pergi



Zea terdiam membisu tanpa menunjukkan apa yang saat ini dirasakan. Saat pria yang selama ini dicintai ternyata masih sangat mencintai wanita yang telah tega pergi tanpa pesan di hari pernikahan, membuatnya sangat membenci Aaron.


Apalagi saat ini sudah merenggut kesuciannya, tapi malah menyebut nama wanita itu. 'Aku tidak akan pernah memaafkanmu, tuan Aaron.'


Zea bahkan tidak berkutik kala Aaron bangkit dari tubuhnya dan menyisakan kenyerian luar biasa pada bagian intinya. Bahkan ia tidak tahu jika ternyata meninggalkan rasa nyeri kala pertama kali melakukannya.


Apalagi ia ketahui jika Aaron menyatukan diri dengan sangat brutal dan sama sekali tidak ada kelembutan yang menunjukkan rasa cinta padanya.


Aaron yang tadi baru saja mengeluarkan bukti kenikmatannya di rahim gadis yang bahkan sama sekali tidak berteriak untuk meminta tolong pada orang di luar kamar, yaitu orang tuanya, merasa lega.


Itu karena ia tidak akan mendapatkan kemurkaan serta hukuman dari sang ayah jika perbuatannya diketahui saat memperkosa Anindya.


'Apa yang saat ini ada di pikiran Anindya saat ini saat aku telah merenggut kesuciannya? Sial! Kenapa aku bisa melakukan ini padanya? Kenapa aku tidak bisa menahan diri dan malah memperkosa Anindya?' gumam Aaron yang saat ini merasa bingung harus berbuat apa setelah meledakkan bukti kenikmatan di rahim Anindya.


Karena bingung harus bagaimana, Aaron berjalan menuju ke kamar mandi tanpa menatap Anindya dan ingin menenangkan diri sebelum berbicara serius dengan gadis yang sudah direnggut kesuciannya tersebut.


Namun, ia yang hendak melewati pintu kamar mandi, menoleh ke arah Anindya yang bergerak turun dari ranjang dan mengambil pakaian yang tadi dibuang ke lantai.


"Kita harus bicara! Tunggu aku!" ujar Aaron yang saat ini bisa melihat Anindya memakai piyamanya kembali.


Aaron saat ini sudah berdiri di depan cermin dan melihat tubuh telanjangnya. 'Aku tidak perjaka lagi, begitu juga dengan Anindya. Gadis itu masih perawan dan akulah yang telah berhasil merenggut keperawanannya.'


'Aku harus bertanggung jawab setelah melakukan ini pada gadis yang tidak bersalah itu,' gumam Aaron yang saat ini tengah memikirkan bagaimana caranya menyampaikan niat baiknya untuk menikahi Anindya sebagai sebuah bentuk pertanggungjawaban.


Saat Aaron bingung ingin mengungkapkan niatnya untuk bertanggungjawab, berbeda dengan yang saat ini dirasakan oleh Zea yang sudah memakai kembali baju tidurnya.


Ia bahkan tidak berniat untuk menunggu hingga Aaron keluar dari kamar mandi. 'Aku sangat membencinya dan tidak ingin bicara dengannya lagi '


Zea buru-buru berjalan keluar dari ruangan kamar Aaron dengan sesekali meringis kesakitan karena rasa nyeri di bagian inti yang terasa sangat menyiksa.


'Aku akan pergi dari sini dan tidak ingin bertemu tuan Aaron lagi,' gumam Zea yang saat ini masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel karena ingin meminta bantuan seseorang.


Ia kini mengirimkan pesan pada Erick karena percaya jika hanya pria itulah yang mau menolongnya.


Erick, aku butuh bantuanmu. Aku ingin pergi jauh dari rumah keluarga Jonathan. Jemput aku besok pagi dan bawa aku pergi dari neraka ini.


To be continued...