
Aaron tahu jika gadis yang berdiri di hadapannya sangat membencinya, jadi berniat untuk meminta maaf, tapi tidak bisa melakukannya jika Zea tidak mau menoleh ke arahnya untuk menatap. Bahkan ia benar-benar sangat kesal ketika melihat kalimat nada protes tidak diperdulikan dan malah membuatnya seperti orang tidak dianggap.
Apalagi saat ini melihat jika gadis yang selama ini sangat dicintai dan dirindukan olehnya tengah mengaitkan jari pada kelingking Erick seperti keinginan pria itu.
"Aku memang sangat berdosa padamu karena telah melakukan kesalahan saat itu, tapi saat aku ingin meminta maaf, kamu malah kabur dan terus menghilang tanpa jejak. Anindya, maafkan aku dan katakan apa yang harus kulakukan untuk bisa menebus dosa-dosaku di masa lalu?" ujar Aaron yang masih tidak mengalihkan perhatiannya.
Sementara itu, Khaysila yang sebenarnya tidak berniat untuk menanggapi, seketika sengaja melakukannya agar Aaron sadar jika ia tidak lagi mempunyai perasaan pada pria itu.
'Biarkan saja dia sibuk mengumpatku karena aku sama sekali tidak peduli. Lebih baik aku fokus pada hidupku tanpa memikirkan pria jahat itu,' gumam Khaysila yang saat ini baru melepaskan jarinya pada Erick.
Awalnya ia berpikir jika Aaron akan berteriak dan murka padanya seperti biasa, jadi tetap tidak perduli. Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena pria itu membuatnya membulatkan mata.
"Apa yang kau lakukan?"
Aaron yang tidak mau menyerah untuk memohon ampunan dari gadis yang sudah diperkosanya, kini memilih untuk berlutut agar dimaafkan. Baru ia akan mengeluarkan kotak cincin yang berada di sakunya untuk melamar.
"Aku tahu jika kesalahanku padamu terlalu besar dan tidak mudah dimaafkan karena membuatmu merasakan hal yang menyakitkan seumur hidup, tapi izinkan aku untuk menebus kesalahanku, Anindya."
"Aku tahu jika namamu sebenarnya adalah Zea dan kini berubah menjadi Khaysila, tapi kamu tetaplah Anindya bagiku yang telah berhasil membuatku terpuruk karena terlambat menyadari sangat mencintaimu." Aaron bahkan mencoba untuk mengambil napas teratur karena saat ini berpikir ingin memberikan waktu pada gadis itu mencerna perkataannya.
Hingga ia pun yang awalnya menunduk, kini mendongak menatap sosok wanita yang berdiri di hadapannya. "Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan untuk memohon maaf atas kesalahanku padamu, Anindya. Katakan apa yang harus kulakukan sekarang."
Saat Aaron baru saja menutup mulut, ia merasa sangat marah kala mendengar suara bernada ejekan dari Erick. Sementara gadis di hadapannya masih betah menutup rapat mulutnya. Seolah enggan untuk berbicara dengannya.
"Dasar lebay! Apa kau pikir ayang akan tersentuh melihatmu berlutut seperti ini? Kau memang sangat pandai berakting. Aku pun juga bisa," ucap Erick yang saat ini langsung melakukan hal sama, yaitu berlutut di hadapan gadis yang masih diam membisu itu.
Sebenarnya beberapa saat yang lalu, Khaysila tadinya ingin membuka suara dan berbicara sinis pada Aaron, tapi seketika gagal fokus saat melihat dan mendengar Erick berbicara dan berakting sangat konyol.
Dalam hati, ia saat ini benar benar-benar ingin tertawa, tapi menahan diri agar agar tidak melakukan itu karena tengah marah pada Aaron.
'Erick benar-benar bikin aku stres karena menahan ketawa. Jika tidak ada pria ini, pasti sudah terbahak-bahak saat ini sambil memegangi perut. Sialnya aku harus menahan diri seperti ini agar tidak terpingkal-pingkal,' lirih Khaysila di dalam hati.
Saat ia sibuk bergumam sendiri di dalam hati, seketika ia membulatkan kedua matanya begitu melihat pergerakan Aaron.
Aaron yang merasa sangat terhina saat ketulusannya untuk meminta maaf malah dijadikan bahan candaan, seketika mengangkat tangan ke atas dan langsung meninju wajah sebelah kiri Erick.
"Diam kau, bangsat!" sarkas Aaron yang saat ini tersenyum menyeringai begitu melihat tubuh Erick terhuyung ke belakang hingga jatuh terduduk. Bahkan ia juga melihat sudut bibir robek karena perbuatannya.
"Sialan!" Erick yang baru saja mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, kini menatap tajam ke arah Aaron. "Apa kau pikir aku takut padamu, haaah? Baiklah, kita buktikan siapa yang menang sekarang. Kau jual, aku beli!" Erick yang tadinya terduduk di lantai, kini berusaha bangkit berdiri dari posisinya.
Namun, ia mengerjapkan mata karena melihat gadis yang dari tadi terdiam itu menanggapi kemurkaannya.
"Berhenti! Sudah kubilang jangan buat keributan di sini!" Kemudian ia beralih menatap ke arah Aaron karena pria itulah yang mulai cari masalah. "Kau ingin tahu apa yang kuinginkan agar memaafkan kesalahanmu, kan?"
"Sekarang pergi dari hadapanku dan jangan pernah muncul lagi di sini. Hanya itu yang kuinginkan darimu," sarkas Anindya yang saat ini bisa melihat raut wajah memerah Aaron berubah sendu.
To be continued...