Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Pasrah



Anindya yang baru saja mendengar perkataan Erick seolah menjelaskan tidak menyukai ada Aaron, sehingga menyuruhnya untuk mengusir. Memang benar jika ia merasa tidak nyaman ada sosok pria yang pernah membuatnya tergila-gila itu, akhirnya membuka suara untuk berkomentar.


"Jika sudah selesai, apa kamu bisa pulang?" Anindya yang saat ini tengah memikirkan sesuatu hal, sedikit merasa berdosa karena menyembunyikan rahasia besar mengenai darah daging pria itu.


Namun, ia berusaha untuk tidak memikirkannya karena sangat mengganggu di kepala ketika mengingat jika perbuatan pria yang saat ini menghubunginya tersebut berhasil membuatnya melahirkan keturunan.


'Aku sama sekali tidak bersalah karena selama ini menghadapi sendiri tanpa menyusahkannya. Dia tidak perlu tahu tentang Kenzie karena akan merebutnya dariku. Padahal aku yang sudah 9 bulan mengandungnya dan mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya, sedangkan dia tidak melakukan apapun.'


Hingga ia yang sibuk menghibur diri sendiri untuk membenarkan pemikirannya mengenai bayi yang dilahirkannya, kini melihat Aaron berbalik badan dan menatapnya dengan tajam.


Bahkan tatapan tajam dari iris berkilat itu serasa tombak yang menghunus jantungnya saat ini, sehingga membuat perasaannya tidak menentu.


"Apakah kau ingin mengusirku? Kenapa? Apa kamu merasa gugup ada aku disini? Ataukah Erick yang tidak percaya diri bersaing denganku meskipun sudah mendapatkan cintamu? Bukankah kamu sudah menolak lamaranku?"


"Jadi, anggap saja kita sekarang tidak ada hubungan apapun dan bisa berteman," ucap Aaron yang saat ini berjalan mendekati dua insan yang menurutnya tengah bersandiwara di depannya.


Bahkan ia langsung mendaratkan tubuhnya di atas sofa tanpa menunggu dipersilakan karena sengaja ingin membuat Erick kebingungan dan tidak percaya diri.


Setelah ia tadi mengetahui jika Anindya melahirkan seorang putra yang merupakan benihnya, sehingga merasa sangat percaya diri karena yakin bisa bersatu dengan wanita di hadapannya tersebut meskipun tadi menolak lamarannya.


"Bukankah kita sudah berjanji untuk bersaing secara adil? Jadi, seperti yang aku katakan tadi bahwa tidak akan berhenti sebelum janur kuning menghiasi rumah Khaysila. Hanya saja, sampai sekarang aku tidak tahu tempat tinggalmu agar bisa memastikan sendiri secara langsung." Berbohong adalah hal yang dari dulu tidak disukainya.


Namun, kali ini memilih untuk cari aman agar bisa terus bertemu dengan darah dagingnya meskipun hanya sebagai ahli terapis semata. 'Bahkan ikatan batin jauh lebih ampuh dari terapis apapun untuk bayi.'


Ia yang tadi mengingat bisa dengan mudah menenangkan putranya yang awalnya menangis, sehingga ketika menatap ke arah Erick yang seperti kesal padanya, membuatnya tersenyum menyaringai karena berpikir jika pria di hadapannya tersebut tidak mungkin bisa melakukannya.


'Aku sebenarnya sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana ekspresi wajah cecunguk ini begitu mengetahui bahwa aku mempunyai keturunan yang dilahirkan oleh Anindya. Pasti dia akan langsung mundur teratur dan tidak lagi berpikir untuk mendekati Anindya,' gumam Aaron yang saat ini hanya terbahak begitu mendengar suara bariton bernada kemurkaan dari Erick.


"Dasar pria tidak tahu malu! Sudah diusir dan tidak diharapkan kedatangannya pun tetap saja di sini. Seharusnya kau menerapkan sadar diri agar tidak sakit hati di kemudian hari," sarkas Erick yang meluapkan kemarahannya meskipun tidak dengan teriakan seperti biasanya.


Apalagi saat ini berada di rumah sakit dan tidak ingin membuat keributan yang hanya akan membuat Zea kesal dan mengusir untuk kesekian kali seperti di perusahaan tadi.


Kini, Khaysila yang mulai merasakan aura ketegangan antara dua pria yang sama-sama tidak mau mengalah karena memperdebatkan tentang siapa yang pantas dan tidaknya untuk bersanding dengan dirinya, kini seketika mengarahkan tatapan tajam bergantian.


"Aku akan memanggil security seperti ketika berada di perusahaan tadi agar kalian diusir karena menimbulkan suasana yang tidak nyaman untuk pasien!" Khaysila sengaja meluapkan kekesalannya karena melihat dua pria itu berdebat seperti Tom Jerry, membuatnya pusing tujuh keliling.


Apalagi semenjak tadi masuk ke dalam ruangan sang kakek, sama sekali belum mengajak berbicara karena ia yakin jika setiap hari berkomunikasi, alam bawah sadar dari pria paruh baya yang sangat disayanginya tersebut akan kembali aktif dan bisa sadar dari koma.


Ia memilih untuk berjalan mendekati sang kakek dan membiarkan dua pria tersebut saling melempar pandangan.


Saat ini, Aaron yang seketika berbalik badan agar bisa melihat Anindya yang menghampiri sang kakek, di saat bersamaan mendengar suara lirih dari Erick.


"Jika kamu mencintainya, seharusnya melepaskannya karena sudah memilihku. Bukan malah membuat bimbang perasaannya seperti saat ini karena terbebani dengan apa yang kau rasakan padanya." Erick berbicara tanpa menatap ke arah pria yang tidak disukainya.


Ia malah fokus pada gadis yang duduk di atas kursi sambil menunggui sang kakek yang masih betah menutup kedua mata.


Berbeda dengan apa yang saat ini ditujukan oleh Aaron karena lebih fokus pada Anindya daripada perkataan Erick yang memancing amarahnya. 'Aku bukanlah Aaron yang arogan seperti 1 tahun lalu karena Anindya telah merubahku menjadi seorang pria yang lebih sabar dan bersikap dewasa.'


Aaron akui jika semenjak ada Anindya di sampingnya, sikapnya yang arogan perlahan-lahan berkurang karena selalu mengingat gadis yang membuatnya menyesal karena dulu sering memarahinya.


Sampai pada akhirnya ia berpikir jika berhasil memiliki Anindya, akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini karena sudah dikaruniakan keturunan yang sangat tampan.


"Kau bisa mengatakan apapun karena itu adalah hakmu tapi tidak bisa menghentikan apa yang ingin kulakukan. Memangnya siapa kau berani mengaturku?" Ia akan mengatakan kalimat andalan yang dulu selalu diucapkan saat masih remaja.


Namun, tidak sampai membawanya ke rumah karena bisa-bisa telinganya terputus karena perbuatan sang ibu yang kesal dan selalu menjewernya.


Tentu saja Erick saat ini benar-benar merasa sangat kesal dan berpikir jika ia tidak bisa melakukan apapun untuk mengusir Aron dari ruangan. 'Sial! Aku jadi tidak bisa mengobrol santai dengan Zea untuk mencari perhatiannya jika ada pria arogan ini.'


Erick saat ini tengah memutar otak untuk mencari tahu apa saja yang bisa membuat Aaron memberikan kesempatan padanya untuk berduaan dengan Zea.


Namun, gagal karena tidak menemukan ide untuk mengusir pria yang menjadi saingannya untuk mendapatkan Zea. Pasrah dan memilih diam agar tidak menimbulkan keributan, kini menjadi pilihan Erik dan membuatnya merasa seperti seorang ria lemah yang tidak berkutik.


Akhirnya ia dan Aaron saat ini memasang indra pendengaran lebar-lebar untuk mendengarkan perkataan dari gadis yang tengah duduk di samping ranjang perawatan sang kakek.


To be continued...