Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Bebas keluar masuk



"Maaf, Mas tidak boleh masuk ke ruangan pribadi nyonya karena merupakan privasi seorang wanita. Tidurkan saja tuan Kenzie di ruangan kamar yang ada di lantai satu," sahut kepala pelayan yang saat ini mengambil keputusan yang dianggap tepat dan tidak ingin membuat kesalahan yang bisa membuat kesalahpahaman di antara majikan dan dirinya.


Ia memang mengetahui bahwa terapis itu bisa menenangkan lebih baik daripada baby sitter, tapi tidak membuatnya membebaskan pria itu untuk keluar masuk di ruangan kamar majikan hanya demi alasan menidurkan.


Kemudian menyuruh baby sitter mengantarkan ke ruangan kamar yang kemarin digunakan untuk beristirahat baby. "Aku harus memeriksa pekerjaan yang lainnya. Jadi, kamu temani Mas terapis ini untuk menidurkan tuan kasih ke dalam kamar."


Ia sudah mengetahui nama pria yang memperkenalkan diri tersebut, tapi entah mengapa merasa nyaman memanggil dengan seperti itu. Kemudian beralih menatap ke arah pria di hadapannya untuk berpamitan masuk ke dalam karena tidak bisa terus-menerus melihat ataupun menemani karena ada pekerjaan yang harus dilakukan sebagai kepala klien.


"Baiklah. Tidak perlu ruangan pribadi nyonya karena yang penting adalah tempat untuk beristirahat baby." Aaron saat ini tidak ingin dicurigai dengan merencanakan sesuatu dan mengganggu perlahan begitu melihat wanita paruh baya tersebut pergi menjauh.


Kini, menyisakan sampai sang baby sitter yang terdiam di sebelahnya. Ia tidak ingin dianggap mencari perhatian wanita itu dan memilih untuk diam menunggu.


"Ikut aku! Lagipula bukankah kau sudah tahu ruangan yang kemarin digunakan untuk tuan Kenzie?" sinis wanita berseragam pink tersebut saat melangkah pergi.


Aaron yang tidak ingin mempermasalahkan sikap sinis dari wanita itu, kini hanya diam dan berjalan mengikuti. Hingga ia saat ini mendengar suara dering ponsel miliknya dan buru-buru langsung diangkat karena mengetahui jika itu dari sang ibu.


"Halo." Tentu saja ia tidak mungkin memanggil mama karena berpikir akan mendapatkan kecurigaan dan usahanya untuk menyamar menjadi berantakan.


"Mama baru saja tiba di bandara dan rasanya ingin sekali langsung bertemu dengan cucuku. Apa mama bisa langsung pergi ke sana dengan menyamar sebagai rekanmu?" ucap Jennifer yang saat ini sangat ingin bertemu dengan sang cucu yang diceritakan oleh putranya.


Ia bahkan tidak tahu apakah putranya akan setuju, tapi sudah memakai pakaian sederhana sebagai seorang pekerja karena ingin bersiap jika disetujui.


Aaron yang saat ini merasa kebingungan karena belum memiliki ide untuk mencari alasan jika rekannya datang, kini bingung untuk menjawab keinginan dari sang ibu. Namun, ia masih berusaha untuk mencari sebuah ide di kepalanya.


"Sebentar, nanti aku akan menghubungi." Kemudian mematikan sambungan telepon karena memang tengah repot menggendong putranya dan belum menemukan sebuah ide.


Kini, ia pun sudah tiba di dalam ruangan kamar dan menurunkan putranya ke ke atas ranjang king size yang ada di sana. Kemudian mulai menunjukkan pada sang baby sitter yang juga tengah menatapnya dan malah membuatnya risi, tapi tidak bisa melakukan apapun.


"Jadi, seperti ini posisi yang nyaman untuk bayi selain telentang. Ini bisa menjadi referensi menidurkan tuan Kenzie agar tidak rewel saat merasa capek, tapi tidak bisa mengungkapkannya." Sampai pada akhirnya ia mulai mendapatkan sebuah ide yang tiba-tiba terlintas di pikirannya saat ini.


"Kamu bisa menjaga tuan Kenzie karena sedang tertidur pulas. Aku ingin berbicara dengan kepala pelayan dulu." Aaron yang ingin bertanya pada wanita paruh baya mengenai sang ibu yang akan disuruh menyamar sebagai terapis baru dan akan menjalani tahap belajar.


Jadi, saat ini berharap jika wanita itu mau mengerti dan memberikan kesempatan dengan mengizinkan ibunya untuk datang. Saat ia hampir tiba di dekat pintu, mendengar suara bernada kesal dan sinis dari sang baby sitter.


"Kau pasti hanya beralasan untuk berbicara dengan kepala pelayan di rumah ini. Padahal sebenarnya ingin menghindar dariku karena merasa tidak nyaman berduaan denganku di dalam kamar ini, kan?" sarkas wanita dengan bibir mengerucut yang saat ini diliputi oleh amarah karena kesal selalu dicueki oleh pria dengan paras rupawan tersebut.


Aaron saat ini menghentikan langkah kakinya dan memijat pelipis karena jujur saja ia merasa sangat tidak nyaman berinteraksi dengan wanita itu yang seperti terobsesi padanya.


Jika bukan demi putranya serta Anindya, mana mungkin akan bertahan di sana karena merasa tidak nyaman. Ia yang tidak memperdulikan nada protes dari baby sitter tersebut, tapi harus membuatnya tidak lagi mengejar-ngejarnya.


"Maaf, aku seperti ini karena sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati seorang wanita. Aku sebenarnya sudah memiliki istri dan anak yang sangat menggemaskan. Jadi, mana mungkin bisa menanggapi wanita lain yang jelas-jelas memiliki perasaan padaku dan tidak bisa kubalas." Aaron saat ini berniat untuk meninggalkan wanita itu.


Namun, ia kembali menghembuskan napas kasar karena dianggap telah membuat sebuah kebohongan semata.


"Aku sama sekali tidak percaya jika kau sudah menikah dan mempunyai anak karena tidak ada jari yang mengenakan cincin kawin. Jadi, jangan berusaha untuk menipuku dengan cara yang basi." Kemudian ia saat ini mengibaskan tangan karena jika masih berhadapan dengan pria yang disukai itu, akan makin mengomel kesana-kemari.


Jadi, tidak ingin membuat pria itu ilfil melihat sikapnya, sehingga memilih untuk segera mengusir dari hadapannya agar ia bisa menenangkan diri dari kekecewaan akibat tidak mendapatkan respon positif dari pria tampan yang disukainya.


Aaron sebenarnya merasa bodoh karena menanggapi wanita yang dianggap sangat egois dan mau menang sendiri tersebut. Namun, kali ini ingin menunjukkan jika ia benar-benar memiliki seorang wanita yang sangat berharga dan juga putra.


Kebetulan ia membawa kotak berisi cincin untuk melamar Anindya yang isinya memang sepasang dan ia ingin menunjukkan pada sang baby sitter agar tidak menganggapnya hanyalah seorang penipu.


"Biasanya aku selalu melepaskannya ketika bekerja karena tidak ingin hilang. Biasanya melakukan terapis dengan mengoleskan baby oil, sehingga terkadang cincin jadi kotor dan bisa terlepas serta beresiko hilang."


"Aku akan mengambilnya dan menunjukkan padamu agar percaya jika aku bukanlah seorang pria pembohong!" Kemudian melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar meninggalkan wanita yang terdiam membisu di tempat.


Namun, ia berpikir jika itu dilakukan nanti saja karena poin utama yang ingin Ia selesaikan adalah meminta izin pada kepala pelayan untuk sang ibu yang akan datang.


Ia pun bertanya kepada salah satu pelayan, di mana keberadaan wanita paruh baya itu dan begitu mengetahui ada di taman belakang dan diantarkan agar tidak tersesat di rumah yang sangat luas tersebut.


"Nyonya, satu hal yang ingin kukatakan pada Anda." Aaron langsung mengungkapkan keinginannya begitu melihat wanita paruh baya tersebut baru saja memberikan perintah pada tukang kebun.


Itu karena kemarin ditemukan ular di taman depan dan sekarang menyuruh para pelayan yang bekerja di bagian taman, untuk memeriksa semua sudut agar tidak ada binatang melata yang membahayakan penghuni rumah, khususnya sang majikan.


Wanita dengan tubuh sedikit gemuk tersebut mengerutkan kening karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang terapis. "Iya, katakan saja apa yang kamu inginkan!"


"Jadi, karena kebetulan sekarang memiliki pelanggan yang memanfaatkan jasa terapis, disuruh untuk mengajari cara bekerja. Jadi, apakah boleh jika rekan yang baru masuk itu menemani untuk melihat cara kerja?" Aaron saat ini merasa lega karena sudah menyampaikan ide di kepalanya dan berharap wanita tersebut langsung setuju tanpa bertanya pada majikannya.


Namun, selama beberapa menit belum mendapatkan jawaban dan membuatnya bimbang jika ditolak dan tidak disetujui. 'Jika wanita ini menolak, berarti memang bukan rezeki mama untuk melihat cucunya.'


Saat Aaron hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati sambil menunggu wanita tersebut memberikan jawaban atas pertanyaannya, saat ini melihat keraguan dan membuatnya seperti merasa tidak punya harapan.


Kepala pelayan yang saat ini merasa bersalah sekaligus kasihan jika menolak harapan pria di hadapannya tersebut, masih mencoba untuk mempertimbangkan jawaban terbaik.


Hingga ia saat ini berpikir untuk mencari tahu mengenai rekan baru dari pria tersebut. "Jadi, pekerja baru itu juga laki-laki berusia sepantaran denganmu?"


Refleks Aaron langsung menggelengkan kepala dan saat ini seketika membuka suara agar tidak membuat kepala pelayan salah paham. "Tidak. Kali ini terapisnya adalah seorang wanita paruh baya yang memang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari."


"Sebenarnya mayoritas terapis baby adalah perempuan dan aku hanya segelintir laki-laki yang diterima karena memang memiliki kemampuan khusus bisa membuat nyaman bayi," ucap Aaron yang diselingi dengan candaan agar pembicaraan mereka tidak terlalu serius.


Bahkan ia berhasil membuat wanita di hadapannya tersebut tertawa dengan candaannya. "Jadi, bagaimana? Apakah Anda tidak keberatan jika saya ditemani oleh terapis baru itu agar bisa cepat belajar dan mendapatkan pelanggan?"


Tidak angkat jika terapis yang dibicarakan adalah seorang wanita yang mungkin sepantaran dengannya, kini kepala pelayan tersebut menganggukkan kepala karena ia tahu bagaimana susahnya mencari pekerjaan.


Apalagi mengetahui bahwa majikannya selalu peduli pada orang-orang yang memiliki kehidupan sederhana. "Baiklah. Silakan saja. Ajak saja wanita itu besok ke sini agar bisa melihatmu bekerja."


"Terima kasih, Nyonya, tapi apakah sekarang bisa langsung datang ke sini agar melihat cara kerjaku?" ucap Aaron yang saat ini tengah berpikir untuk merubah pemikiran wanita itu dari besok menjadi sekarang.


Hingga ia seketika tersenyum simpul begitu melihat kepala pelayan menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. "Terima kasih, Nyonya. Pasti wanita itu akan sangat senang karena bisa segera melihat bagaimana cara untuk menjadi seorang terapis. Aku menghubunginya dulu."


Kemudian Aaron membungkuk hormat dan berlalu pergi dari taman belakang tersebut karena tidak ingin pembicaraannya didengar oleh kepala pelayan yang dianggap adalah seorang wanita baik hati dan tidak akan pernah dilupakan jasa-jasanya suatu hari nanti.


Kini, Aaron memilih untuk berbicara di area depan dan begitu panggilan telepon tersambung dan mendengar suara sang ibu, langsung mengungkapkan apa yang tadi dibicarakan dengan kepala pelayan tersebut.


"Jadi, sekarang langsung saja datang ke sini dan berpenampilan rapi. Aku akan menunggumu di sini," ucap Aaron yang saat ini ingin mengingatkan ada sang ibu agar tidak memakai pakaian mencolok, makanya berbicara seperti itu agar menyesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan saat menyamar.


Hingga ia merasa sangat lega karena sang ibu sudah mengatur dan mengerti apa yang harus dilakukan jika mendapatkan kesempatan untuk datang melihat sang cucu dengan menyamar sebagai rekan terapis.


"Mama sudah memakai pakaian seperti layaknya pekerja. Jadi, jangan khawatir tentang hal itu. Ini tadi mama bertanya pada sopir dan katanya sebentar lagi akan tiba di sana. Kebetulan tadi Mama membawa koper dan akan menitipkan pada supir ini." Jennifer yang tadi sudah meminta nomor telepon dari sopir taksi tersebut agar nanti dihubungi ketika selesai dan kembali ke hotel.


"Baiklah. Aku akan menunggu di depan agar nanti security langsung membukakan pintu gerbang," ucap Aaron yang saat ini menutup panggilan telepon dan begitu melihat tasnya ada di ruang tamu, langsung mengambil cincin yang tadi dimaksud agar baby sitter itu percaya dengan perkataannya.


Kini, ia sudah memakai cincin di jari manisnya dan menatap sekilas ke arah jarinya. 'Padahal aku sangat yakin jika Anindya menerima lamaranku dan menyematkan cincin ini di jariku.'


'Namun, ternyata semuanya tidak seindah ekspektasiku dan malah aku yang menyematkan sendiri di jariku karena Anindya menolak menikah dengan pria brengsek sepertiku,' gumam Aaron sambil berjalan menuju ke arah depan.


Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di depan dan menunggu sang ibu sambil menjelaskan pada security. Hingga begitu selesai menceritakan tentang pembicaraannya dengan kepala pelayan yang meminta izin, ia lihat taksi berhenti tepat di depannya dan sudah menebak jika itu adalah sang ibu.


Ia ketika tersenyum dan melambaikan tangannya agar wanita yang baru saja turun dari taksi tersebut segera mendekat dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Kamu tidak lama menungguku, kan?" tanya Jennifer yang sebenarnya sangat ingin memeluk putranya dan juga memanggil sayang seperti biasanya.


Namun, berusaha untuk menahannya agar tidak mengacaukan penyamaran dan membuat security curiga. Jadi, bersikap datar begitu melihat putranya yang tersenyum padanya ketika menyambut kedatangannya.


Aaron yang saat ini menganggukkan kepala pada security ketika melangkah masuk bersama sang ibu, lalu begitu berada di dalam, langsung berbicara lirih di dekat daun telinga.


"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika Mama memakai pakaian seperti ini. Benar-benar sama persis seperti seorang pekerja biasa," lirih Aaron yang saat ini merasa lega begitu melihat penampilan sang ibu.


"Mama sudah merencanakan ini semenjak dari rumah karena tidak sabar ingin bertemu dengan cucuku," ucap Jennifer yang saat ini mengerjakan mata begitu melihat bangunan megah di hadapannya.


"Wah ... jadi selama ini Anindya tinggal di rumah semegah ini? Ia benar-benar merupakan cucu seorang konglomerat di kota ini. Syukurlah hidupnya baik-baik saja setelah kau menyakitinya." Ia yang baru saja menutup mulut, mendengar suara tangisan dari dalam rumah dan kini bersitatap dengan putranya karena merasa yakin jika itu adalah cucunya yang sangat ingin segera ia gendong.


"Apa itu cucuku?"


"Iya, Ma," lirih Aaron saat ini mengajak sang ibu untuk masuk ke dalam rumah yang bahkan sudah seperti rumah sendiri karena bisa bebas keluar masuk di sana.


To be continued...