Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Membuktikan



Khayra saat ini merasa sikap Aaron sangat aneh karena bersikap sinis padanya. Hal yang tidak biasa terjadi dan membuatnya berpikir ada sesuatu hal yang menyebabkan pria di hadapannya tersebut bersikap demikian.


Namun, ia yang sudah pusing memikirkan permintaan Erick saat sedang banyak masalah, sehingga tidak ingin mencari tahu apa yang menjadi penyebab Aaron bersikap sinis padanya. Akhirnya ia yang juga sangat kesal melihat perubahan sikap pria itu, sehingga berbicara dengan melakukan hal yang sama, yaitu berbicara dengan nada kemarahan.


"Kembalilah ke Jakarta! Aku ingin menikah dengan Erick dan usahamu untuk berada di sini sama sekali tidak berarti apapun untukku!" sarkasnya yang ingin menyadarkan sosok pria di hadapannya tersebut agar segera meninggalkan kota tempatnya tinggal.


Padahal awalnya ia tidak berniat untuk berbicara seperti itu, tapi melihat sikap Aaron padanya, membuatnya berakhir untuk mengatakan demikian demi melampiaskan kekesalan.


Bahkan saat ini bisa melihat raut wajah datar seperti dulu dan membuatnya merasa aneh karena pria itu sama sekali tidak marah seperti biasanya, tapi seolah cuek dan tidak perduli apa yang akan ia lakukan.


'Kenapa dia sama sekali tidak terkejut ataupun marah seperti biasanya? Apa sebenarnya yang dipikirkan? Apa dia tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan?' gumam Khayra yang saat ini masih menunggu respon dari Aaron, tapi yang didengarnya adalah suara bariton Erick yang seperti merasa sangat bahagia.


Bahkan ia bisa melihat raut wajah yang tadinya muram, ketika berbinar begitu mendengar kalimat yang ditujukan untuk Aaron.


"Hei, pria arogan! Apa kau sama sekali tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh ayang? Aku dan ayang tidak ingin merasa terganggu dengan kehadiranmu di sini. Jadi, lebih baik kau kembali ke Jakarta karena kami akan menikah sebentar lagi," seru Erick yang saat ini tidak menyangka jika akan mendengar kalimat yang sangat diharapkannya dari sosok gadis di hadapannya tersebut.


Padahal pembicaraannya tadi bukan membahas tentang itu karena Zea tidak mau untuk menikah dengannya di saat sedang banyak masalah yang dihadapi, tapi tidak menyangka jika hanya karena melihat sikap dingin dari Aaron, membuat gadis itu berubah pikiran.


Ia sebenarnya tahu jika saat ini Zea seperti tengah mengombang-ambingkan perasaannya ketika berada sendirian dan di hadapan Aaron, sikap sangat berbeda. Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena yang terpenting baginya adalah bisa selalu berada di dekat gadis pujaan hati.


Mengenai mengambil hati Zea, akan terus diusahakannya sampai membuka pintu untuknya. Hingga ia pun kini merasa sangat kesal melihat wajah datar pria yang selalu bersikap arogan itu seolah tidak memperdulikan apa yang baru saja dikatakan.


"Aku mempunyai hak untuk tinggal di manapun. Mau tinggal di Surabaya, Jakarta, New York, Arab Saudi atau bahkan Korea. Jadi, tidak berhak mengusirku karena ini bukan kota pribadi kalian, bukan?" Aaron yang saat ini ingin sekali menertawakan perkataan dari Anindya karena berniat untuk menikah dengan Erick saat sudah mempunyai keturunan darinya.


Ia sebenarnya awalnya tidak menyangka dan sangat terkejut mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Anindya, tapi karena merasa jika kemenangan ada di tangannya saat mempunyai darah daging hasil dari perbuatannya satu tahun lalu, sehingga membuatnya tenang.


Aaron merasa percaya diri jika ia bisa menghentikan keinginan dari Anindya untuk menikah dengan Erick dengan menyebutkan putranya, tapi berpikir ingin memberikan sebuah kejutan yang berupa shock terapi kecil ketika berada di rumah nanti, sehingga saat ini memilih untuk diam dan tidak memperdulikan perkataan gadis itu.


Ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan Erick yang bahkan tidak tahu apapun mengenai kehidupan Anindya yang sudah memiliki seorang anak laki-laki yang tampan dan menggemaskan.


Hingga ia saat ini tersenyum menyeringai karena rasa percaya diri dari Erick membuatnya lebih merasakan itu. Apalagi ia sudah melakukan tes DNA dan sebentar lagi akan melihat hasilnya. Pastinya akan menampar pria yang selalu mengacaukan apa yang ingin dilakukannya pada Anindya.


'Aku harus menahan diri untuk tidak menyebut kalian bodoh karena berpikir aku akan menerima dengan mudah dan patah hati hanya karena hal kecil ini. Tidak, Aaron tidaklah semudah itu dijatuhkan. Aku yang akan membuat kalian jatuh dan tidak bisa berkutik ataupun berbicara banyak,' gumam Aaron yang saat ini memilih bangkit berdiri dari sofa.


"Apa hanya itu yang ingin kamu sampaikan padaku, Anindya? Aku benar-benar sangat sibuk dan tidak bisa berlama-lama di sini. Jadi, aku harus pergi sekarang!" Aaron berpikir jika saat ini yang terpenting baginya hanyalah putranya.


Jadi, meskipun ibu dari putranya tidak menginginkannya, ia tetap tidak akan melepaskan darah dagingnya untuk diakui oleh pria lain seperti Erick. Apapun akan dilakukan untuk membuat putranya bisa menjadi miliknya jika sampai Anindya berbuat macam-macam padanya.


'Aku tidak akan membiarkan putraku diakui oleh pria yang bahkan bukan merupakan ayah biologisnya. Aku tidaklah selemah itu atau sebodoh yang kamu pikirkan, Anindya.' Aaron saat ini bisa melihat jika dua orang di hadapannya seperti merasa aneh atas sikapnya.


Namun, ia sama sekali tidak peduli dan memilih untuk berjalan menuju ke arah pintu keluar. Akan tetapi, tangannya ditahan oleh Erick yang murka padanya.


"Tunggu, Pria arogan! Kami belum selesai bicara denganmu!" umpat Erick yang saat ini merasa sangat murka melihat sikap santai dan cuek dari Aaron hingga membuat Zea tidak bisa berkata-kata lagi karena merasa kebingungan.


Jujur saja ia sendiri pun merasa bingung atas sikap yang ditunjukkan oleh Aaron saat ini, jadi ingin memastikan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pria yang selalu bersikap arogan itu berubah setenang air sungai.


"Zea masih ingin berbicara denganmu. Harusnya kau sadar diri dan segera pergi dari kota ini karena tidak diinginkan oleh Zea. Apa kau sama sekali tidak punya rasa malu tetap berada di sini ketika Zea sudah denganmu?" sarkas Erick yang saat ini ingin memancing amarah Aaron karena terlihat sangat tenang dan membuatnya semakin bertambah kesal.


Sementara itu, Aaron yang tadinya menghadap ke depan dan tidak menoleh pada pria yang menahannya dari belakang, kini kembali tersenyum menyeringai karena menganggap jika Erick adalah seorang anak kecil yang tidak tahu permainan sebenarnya, tetapi sudah terjun dengan berpikir menjadi pemenang.


Akhirnya ia kini menoleh ke arah Erick untuk melihat seperti apa wajah dengan percaya diri itu. Hingga ia juga melakukan hal yang sama pada sosok gadis di atas sofa.


Kemudian ia bertepuk tangan dan tersenyum menyeringai sebagai sebuah applause atas perbuatan dua orang yang ingin sekali menyingkirkannya. "Kenapa kalian sangat ingin aku pergi dari sini? Apa kalian merasa takut denganku dan tidak merasa percaya diri?"


"Baiklah, jika kalian akan menikah, aku akan bertepuk tangan seperti barusan dan mengucapkan selamat atas pernikahan. Jadi, kalian tidak perlu khawatir aku akan mengacaukannya karena tidak punya kuasa sebesar itu."


"Aku akan pergi dari sini sesuai dengan keinginanku, tapi kupastikan bukan dengan tangan kosong!" Tersenyum menyeringai dan melambaikan tangan pada Zea dan Erick, lalu kembali melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar.


Bahkan ia sangat percaya diri karena seperti sedang memegang kunci kemenangan dan bisa menghancurkan dengan mudah dua orang yang ingin sekali menyingkirkannya.


Ia yang saat ini terus berjalan menuju ke arah lift karena ini segera kembali ke rumah keluarga Kusuma agar bisa melihat putranya lagi bersama dengan sang ibu, seketika menghentikan langkah kaki begitu mendengar seseorang yang memanggil namanya.


Namun, ia masih tidak menoleh untuk menatap ke belakang karena membiarkan apa yang diinginkannya.


"Aku belum selesai berbicara denganmu, Pria berengsek!" sarkas Khayra yang saat ini sudah berjalan cepat mengejar sosok pria dengan bahu lebar yang selalu membuatnya sangat kesal atas sikap sesuka hati yang dilakukan.


Ia tadinya ingin membiarkan Aaron pergi karena merasa percuma berbicara dengan pria yang sangat arogan itu. Namun, ia benar-benar sangat kesal melihat sikap Aaron yang sama sekali tidak menganggap perkataannya, sehingga tadi langsung bangkit berdiri mengejar dan menyuruh Erick untuk di dalam dan membiarkannya berbicara empat mata.


Berpikir bahwa pria itu hanya akan mengacaukan segalanya ketika ikut berbicara dan tidak akan menyelesaikan masalah yang terjadi. Nasib baik Erick setuju dan membiarkannya berbicara dengan pria yang bahkan saat ini sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk menatapnya dan makin membuatnya bertambah kesal.


Kemudian ia berjalan cepat dan berdiri di hadapan pria yang saat ini terlihat menampilkan wajah datar padanya. Ia seketika mengumpat dan mengeluarkan semua keluh kesah yang dirasakan pada Aaron.


"Sebenarnya apa maumu? Bukankah aku sudah menolak lamaranmu dan sama sekali tidak ingin menikah denganmu? Lalu, kenapa kau masih bertahan di sini jika tidak membuahkan hasil apapun dan membuang-buang waktu?" sarkasnya dengan wajah memerah karena dikuasai oleh luapan amarah hanya karena melihat wajah datar Aaron.


Aaron yang selama ini tidak pernah melihat sosok gadis lugu nan polos itu marah padanya seperti ini, kini tidak berkedip dan menatap intens Anindya. Entah mengapa ia malah merasa sangat senang melihat kemarahan dari gadis di hadapannya.


Berpikir jika marahnya seorang Anindya karena ada sebabnya. Bahwa penyebabnya tak lain adalah tidak bisa melupakan perasaan cinta padanya dan meluapkan dengan marah-marah seperti ini untuk menyembunyikannya.


Ingin sekali ia meraih kedua sisi pipi putih Anindya agar diam dan tidak marah lagi padanya, tapi khawatir hanya akan mendapatkan sebuah tamparan, sehingga hanya diam dan meloloskan kalimat dari bibirnya.


"Tenanglah, Sayang. Aku tidak akan memaksamu ataupun menghancurkan rencanamu untuk menikahi Erick. Aku di sini ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Aku akan pergi setelah selesai dengan pekerjaanku."


"Jadi, kamu tidak perlu membuang-buang energi dengan marah-marah seperti ini." Saat ia baru saja menutup mulut, malah mendapatkan kemurkaan selanjutnya dari gadis yang mengangkat kedua tangan dan memukulinya.


"Kau benar-benar sangat menyebalkan! Kau tidak pernah mendengarkan apa yang kukatakan! Pergi dari sini dan jangan berbicara konyol dengan mengatakan mempunyai pekerjaan!" sarkas Khayra yang kini sudah karena benar-benar murka dan kehilangan kesabaran setelah melihat wajah datar dan santai yang ditunjukkan oleh Aaron.


Ia melampiaskan kemurkaannya dengan memukul tanpa henti lengan kekar dan dada bidang pria di hadapannya tersebut. "Cepat pergi dari sini karena aku tidak ingin melihatmu lagi?"


Aaron hanya membiarkan Anindya melampiaskan perasaannya dengan memukulnya tanpa henti karena sama sekali tidak merasakan sakit. Ia ingin gadis di hadapannya tersebut lebih lega setelah meluapkan perasaan membuncah padanya.


Berpikir jika setelah melakukan itu, Anindya akan sedikit lebih baik, baru ia akan berbicara. Hingga ia yang melihat pukulan Anindya melemah dan tidak sekuat ketika pertama kali, kini kedua tangan gadis yang masih memerah wajahnya itu.


"Aku tahu kamu sangat takut kembali lemah jika setiap hari melihatku. Jadi, jangan bersembunyi di balik kemurkaan seperti ini karena aku tidak akan pernah tertipu denganmu, Sayang. Aku selama ini hanya diam dan membiarkan kamu dekat dengan Erick, tapi bukan berarti aku menyerah dengan cintaku."


Saat ia menatap intens wajah menggemaskan yang ingin sekali ia bungkam bibir sensual itu, kini melihat Anindya yang menertawakan ketulusannya.


Khayra berpikir bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh Aaron hanyalah sebuah omong kosong dan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak.


Apalagi ia sampai sekarang tidak bisa melupakan bagaimana bibir pria itu menyebut nama wanita yang telah kabur di hari pernikahan. "Cinta? Omong kosong! Apa kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu?"


"Jika saat ini wanita itu kembali dan menangis di bawah kakimu agar bisa kembali, aku sangat yakin jika kau akan dengan mudah memeluknya dan merengkuhnya untuk kembali. Aku bukan Anindya yang bodoh seperti satu tahun lalu, Tuan Aaron."


"Aku adalah cucu dari Candra Kusuma, Khayra Fazila Farhana Kusuma yang tidak mudah tertipu oleh pria berengsek sepertimu! Baiklah, lakukan apapun yang kau mau karena aku tidak peduli lagi!" Ia yang kini berusaha untuk melepaskan kuasa Aaron dengan mengempaskan tangannya, tapi tidak berhasil karena pria itu masih mencengkeram kuat.


Ia kini menatap tajam pria yang membuatnya semakin murka. "Lepaskan!"


Bahkan tatapan kebencian diarahkan olehnya agar pria di hadapannya tersebut segera melepaskannya. Namun, ia seketika membulatkan kedua mata begitu melihat perbuatan Aaron membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.


Aaron yang dari tadi menahan diri untuk tidak membungkam bibir sensual yang seolah melambai untuk disesapnya ketika mengomel dan meluapkan amarah padanya, tapi tidak bisa menahan diri lebih lama begitu melihat sikap sinis yang ditunjukkan Anindya padanya.


Tanpa berniat untuk banyak bicara menanggapi kemurkaan gadis itu, tinggal langsung bergerak secepat kilat untuk mendekat dan membungkam bibir merah jambu gadis yang dulu pernah ia renggut kesuciannya 1 tahun lalu hingga membuatnya kini memiliki keturunan yang sangat tampan dan menggemaskan.


'Aku akan membuktikan padamu bahwa kamu sangat mencintaiku, Anindya. Bahwa kamu masih tetap bocilku yang memuja seorang Aaron,' gumamnya yang kini sudah mencium bibir sensual Anindya dan mulai menyesap serta **********.


To be continued...