Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menjadi putra yang membanggakan



Beberapa bulan kemudian...


Delapan bulan telah berlalu dan hari ini tepat acara pemberian nama untuk bayi yang dilahirkan oleh cucu Candra Kusuma yang tak lain adalah Khayra. Suara tangisan bayi merah berjenis kelamin laki-laki itu mulai menghiasi istana megah itu selama beberapa hari ini.


Terlihat Candra Kusuma kini tengah menggendong buyutnya yang baru saja menangis karena haus, sedangkan sang ibu tengah berada di kamar mandi. Setelah cucunya melahirkan secara normal, ia mengadakan acara syukuran dengan mengundang anak-anak yatim untuk melakukan santunan atas kelahiran buyutnya dan diberi nama hari ini.


Setelah bertanya pada Khayra mengenai nama apa yang diinginkan, kebetulan cucunya juga sudah mencari nama yang cocok. Meskipun ia juga ikut memasukkan nama dari marga keluarga untuk buyutnya yang kelak akan menjadi pewaris utama setelah cucunya.


"Sebentar, Sayang. Mommy sedang mandi. Sebentar lagi Mommy selesai dan bisa minum susu, ya." Tadi ia sebenarnya berada di kamar dan berniat untuk mengecek buyutnya yang menangis dan tengah digendong oleh baby sitter yang selama ini membantu.


Karena Khayra tidak mau memberikan susu formula karena ingin ASI eksklusif, sehingga saat menangis hanya bisa ditenangkan oleh perawat dan seperti yang saat ini dilakukan.


Hingga ia kini melihat Khayra yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Apa tidak sebaiknya memberikan susu formula juga, Sayang? Jadi, nanti saat kamu sibuk, putramu tidak terlalu lama menangis seperti ini. Lagipula nanti kamu akan masuk kuliah setelah pulih, bukan?"


Sementara itu, Khayra yang tadi buru-buru saat mandi karena mendengar suara tangisan bayinya, kini langsung menggendong putranya dan bergerak menyusui.


Ia memang diberitahu oleh perawat bahwa bayi laki-laki lebih kuat menyusui daripada bayi perempuan. Selama ini ia menjalani kehamilan selama 9 bulan lebih dengan biasa karena baik-baik saja.


Tidak seperti kebanyakan ibu hamil yang selalu tidak baik-baik saja di trimester pertama. Nasib baik ia hanya muntah-muntah sekali dan saat itu pergi ke Rumah Sakit bersama sang kakek, sehingga baru mengetahui jika dirinya hamil.


Namun, semenjak saat itu ia menjalani kehamilan dengan biasa dan makan minum bergizi karena sang kakek menyuruh orang ahli gizi untuk mengawasi asupan makanannya agar bayinya sehat.


Benar saja, seperti yang dilihat sekarang, bayinya sangat sehat dengan lahir pada berat 3,2 kg dan tinggi 50 cm. Bahkan kulitnya putih kemerahan dan rambut hitam lebat.


Ia yang saat ini beralih menatap ke arah sang kakek karena menyadari jika perkataan pria paruh baya itu benar, seketika terkekeh geli. "Aku lupa, Kek. Sepertinya memang harus disadur dengan susu formula karena dua minggu lagi aku masuk kuliah."


Candra Kusuma kini berjalan mendekat dan duduk di sebelah cucunya. Kemudian mengusap lembut rambut malaikat kecil yang makin menghiasi rumahnya.


"Tidak apa-apa memberikan susu formula selain ASI, Sayang. Lagipula dulu mamamu juga diberikan susu formula karena nenekmu sering datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang untuk Kakek. Jadi, meninggalkan mamamu sebentar di rumah." Candra Kusuma kini menatap ke arah jam tangannya.


"Satu jam lagi pasti anak-anak yatim dan duafa datang. Setelah menyusui, bersiaplah dan turun ke bawah untuk menyambut mereka. Sengaja Kakek tidak ingin mempublikasikan ini untuk melindunginya agar tidak ada yang berkomentar buruk." Ia tidak ingin cucunya salah paham.


Jadi, berusaha untuk menjelaskan agar cucunya mengerti alasannya adalah demi kebaikan.


"Iya, Kek. Kita harus melakukan yang terbaik untuknya. Tidak ada yang boleh tahu tentang putraku. Itulah kenapa aku hanya diam di rumah selama sembilan bulan terakhir ini demi kebaikan semuanya. Apalagi pasti Kakek akan banyak disorot dan mendapat beragam pertanyaan."


"Khayra, kapan kamu siap diperkenalkan ke publik sebagai cucu Kakek? Kakek selama ini belum mempublikasikan kehadiranmu karena menunggu kamu siap. Apalagi setelah kamu hamil, makin tidak mungkin melakukannya. Tapi sekarang kamu sudah melahirkan dan semua orang berhak tahu jika aku mempunyai penerus."


Candra Kusuma tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan. Memang selama ini ia sudah melakukan pengobatan di Rumah Sakit terbaik, tapi merasa jika penyakitnya tidak akan pernah bisa sembuh.


Itu dirasakan karena saya tahan tubuhnya makin melemah, tapi tidak menunjukkan pada cucunya agar tidak khawatir. Jadi, mau tidak mau berniat secepatnya untuk memperkenalkan cucunya di perusahaan agar semua orang tahu penerusnya.


Sementara itu, Zea yang merasa belum siap karena belum bisa menjadi cucu yang dibanggakan dan harus melanjutkan kuliah dua tahun lagi karena memang kecerdasan otaknya membuatnya bisa memakai jalur akselerasi dan lulus dengan cepat.


Berbeda dengan jalur umum yang sering dialani oleh orang lain. Kini, ia tersenyum simpul sambil memegang lengan sang kakek.


"Kapan-kapan saja, Kek. Aku belum siap karena masih belum ada yang bisa kubanggakan dari diri sendiri. Aku takut mendengar kalimat tidak mengenakkan hanya mengandalkan uang Kakek untuk bertahan hidup." Namun, ia refleks tertawa karena apa yang dikatakan adalah fakta.


"Tapi, itu semuanya sebenarnya adalah faktanya. Kenapa malah aku seperti orang munafik, ya?" Menepuk jidatnya berkali-kali saat menyadari kebodohannya.


"Issh ... jangan selalu berbicara seperti itu, Sayang. Lagipula memang semua yang Kakek miliki adalah hak mu juga. Buat apa kamu memikirkan pendapat orang lain? Karena memikirkan pendapat orang lain tidak akan ada habisnya." Memeluk erat cucunya untuk mengungkapkan kasih sayang.


"Kita hidup bukan bergantung pada pendapat mereka. Apalagi ekspetasi orang-orang tidak akan pernah bisa kita penuhi sekalipun jungkir balik sekalipun. Jadi, Kakek tidak mau ada alasan apapun karena kamu harus siap diperkenalkan ke perusahaan."


Kemudian melepaskan pelukan dan menepuk pundak cucunya, lalu berlalu pergi tanpa berniat untuk menunggu apa tanggapan Khayra karena tidak ingin lagi penolakan didengarnya.


Kini, Khayra yang saat ini hanya diam menatap siluet belakang sang kakek yang baru saja menghilang di balik pintu, masih merasa bingung dengan perintah pria paruh baya yang seperti terkesan terburu-buru.


"Kenapa Kakek tidak sabaran memperkenalkanku sebagai ahli warisnya? Apa Kakek merasa risi mendengar perkataan orang-orang yang selalu mengatakan jika nanti hartanya akan disumbangkan karena tidak punya penerus?" Khayra memang dulu pernah mendengar sang kakek curhat jika banyak orang mengasihaninya.


Bahkan banyak perkataan menyakitkan yang membuat sang kakek kesal, seperti punya banyak uang, tapi tidak punya keturunan yang mewarisi. Jadi, saat ini berpikir jika itulah alasan sang kakek memaksanya.


"Sepertinya aku tidak bisa menolak keinginan kakek kali ini. Baiklah. Sekarang aku harus siap untuk diperkenalkan di Perusahaan sewaktu-waktu kakek menginginkannya." Ia beralih menatap ke arah malaikat kecilnya yang tengah tertidur pulas.


"Sayang, kelak kamu akan mewarisi semua yang dimiliki kakek dan Mama. Jadilah laki-laki yang baik dan membanggakan kami suatu saat nanti," lirih Khayra yang kini menatap intens wajah bayi yang tidur dengan sangat nyenyak di atas ranjang.


To be continued...


Memang