Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Apa kamu mau menikah denganku?



Khayra seketika membulatkan mata dengan jawaban bernada vulgar yang baru saja didengarnya. Ia kembali mengarahkan cubitan pada bagian yang sama dan mungkin meninggalkan kenyerian di tempat semula dan itu sama sekali tidak diperdulikan olehnya.


"Issh ... ngomong apa sih! Awas jika sekali lagi berani berbicara seperti itu!" ancam Khayra yang merasa sangat kesal karena ketika ingin berbicara serius malah ditanggapi dengan sebuah candaan oleh pria yang bahkan sampai saat ini tidak bisa membuatnya bernapas lega.


Aaron seketika tertawa karena merasakan kekesalan dari Anindya. Meskipun sebenarnya saat ini merasakan tubuhnya kembali nyeri di bagian yang sama, tapi menganggap itu adalah sebuah ungkapan rasa cinta dan menikmatinya tanpa protes.


"Aaah ... nikmat sekali, Sayang," teriaknya yang sengaja mengeraskan nada suara karena mengetahui jika gadis itu akan berhenti.


Khayra yang seketika membulatkan mata karena mendengar teriakan yang bahkan seperti bernada vulgar dan khawatir jika didengar oleh orang-orang yang berada di luar ruangan luas dan membuat suara bariton pria itu menggema.


Refleks ia berhenti mencubit pinggang kokoh Aaron dan beralih membungkam bibir tebal pria itu. "Issh ... diam! Jangan membuat orang-orang di luar sana salah paham dengan teriakanmu!"


Khayra saat ini benar-benar merasa sangat kesal karena Aaron malah seperti mencari perhatian dari orang lain agar masuk ke dalam untuk memastikan apa yang tengah mereka lakukan.


Hingga suara tawa dari Aaron membuatnya semakin bertambah kesal, tapi tidak bisa melakukan apapun karena khawatir jika pria itu kembali berteriak dengan suara ******* seperti tengah melakukan sesuatu yang sangat intim.


'Tuan Aaron menyebalkan sekali,' gumam Khayra yang saat ini memilih diam dan membiarkan pria itu berbuat sesuka hati padanya.


Merasa percuma menyuruh pria itu melepaskan tubuhnya, sehingga saat ini hanya diam dan membiarkan serta mendengar suara bariton Aaron ketika mengejeknya.


"Makanya jadi gadis yang patuh pada calon suami. Sekarang, katakan padaku apa yang harus kulakukan? Baru aku akan melepaskanmu," ucap Aaron yang saat ini masih terus memeluk erat tubuh gadis mungil yang sangat nyaman dipeluknya.


Ia bahkan seperti merasa jika ingin waktu berhenti berputar dan selamanya seperti ini karena tidak ada jarak di antara mereka dan juga gadis itu tidak bisa berkutik dipelukannya.


Hingga ia seolah tertampar dengan perkataannya sendiri saat ini ketika gadis itu membahas tentang apa yang tadi ia ungkapkan.


"Bukannya kamu adalah artinya seorang wanita dan mengerti apa yang diinginkan kaum hawa? Lalu, kenapa bertanya lagi? Katamu tadi, wanita adalah makhluk paling langka karena menginginkan seorang pria mengerti tanpa harus bilang yang diinginkannya. Itulah yang kurasakan saat ini." Khayra dengan santai menjawab tanpa memikirkan jika otak pria itu harus berpikir keras untuk mengetahui keinginannya.


Ia bahkan tidak mau tahu karena ingin seorang Aaron mengetahui apa yang diinginkannya tanpa mengatakan ataupun menjelaskan. Hingga ia yang tidak berbuat apa-apa, kini merasa lega karena tanpa diminta, melepaskan pelukan dan bergerak mundur satu langkah untuk bisa menatapnya dengan jelas.


"Jangan buat otakku berpikir keras dengan kalimat ambigu yang baru saja kamu katakan itu, Baby. Aku bukan seorang peramal ataupun Dewa cinta yang bisa mengetahui sesuatu di hatimu." Wajah Aaron seketika muram karena saat ini ia merasa bingung harus bagaimana.


Bahkan meskipun sudah berulang kali memeras otak untuk mengetahui keinginan gadis itu, tetap saja tidak bisa menemukannya. Seolah ingin meminta keringanan, ia saat ini menatap dengan penuh permohonan dengan menampilkan wajah memelas.


"Paling tidak, kamu katakan sedikit clue-nya atau sesuatu yang bisa membuatku mencari tahu dengan sedikit lebih mudah." Aaron menatap dengan menghiba, seolah meminta belas kasihan, tapi raut wajahnya seketika bertambah muram karena melihat gadis itu menggelengkan kepala tanpa pikir panjang.


"Bodo!" seru Khayra yang saat ini berbalik badan dan ingin meninggalkan pria itu sambil tertawa di dalam hati.


Namun, saat baru saja melangkah, tangannya sudah ditahan oleh Aaron yang seolah tidak ingin ia pergi begitu saja.


"Tunggu, Baby! Jangan pergi dengan membuatku tidak tenang seperti ini." Aaron masih berharap gaji itu memberikan sebuah clue padanya.


Khayra saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan menyadari jika ia sudah terlalu lama berada di dalam ruangan dan membuat asisten menunggu.


Ia berbaring badan dan menatap Aaron yang terlihat memelas wajahnya dan ia sekuat tenaga menahan diri agar tidak tertawa. "Sebentar lagi masuk jam makan siang. Pasti nona Maribell sudah menunggu. Jangan sampai membuatnya harus menunggu kita. Cepat keluar dari sini!"


Aaron ingin sekali kembali mencium bibir gadis yang menurutnya sangat menyebalkan karena hobi menggantung perasaannya. "Paling tidak, kamu tidak mempermainkan perasaanku yang serius kepadamu, Baby."


"Terserah apa katamu!" seru Khayra yang saat ini berjalan meninggalkan pria yang masih terlihat memelas wajahnya karena tidak tahu apa yang diinginkannya.


Ia bahkan berjalan dengan senyuman terbit dari bibirnya ketika mengingat raut wajah pria itu yang sangat murah hanya karena memutar otak untuk mengetahui apa yang diinginkannya.


'Rasakan. Biar tahu rasa karena membuatku kesal dengan menyebut nama wanita itu." Saat ia hendak membuka pintu berukuran raksasa di hadapannya, seketika mengingat mantan kekasih pria itu yang membuatnya kesal.


Ia kini berbalik badan sebelum melangkah keluar dan melihat Aaron berjalan gontai ke arahnya. "Bukankah sudah kembali dan kamu sangat menyukainya? Lalu, kenapa repot-repot mengejarku?"


Aaron yang bahkan saat ini disibukkan dengan pertanyaan yang menari-nari di otaknya tentang keinginan Anindya, merasa sangat malas membahas wanita yang bahkan sudah tidak lagi iya pedulikan.


"Buat apa membahas sesuatu yang tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan kita? Aku sama sekali tidak peduli dia mau jungkir balik di hadapanku atau telanjang sekalipun karena saat ini yang ku inginkan hanya kamu, Baby," sarkas Aaron yang saat ini seketika meringis kesakitan ketika merasakan telinganya malah dijewer oleh Anindya.


Refleks Khayra membulatkan mata ketika mendengar kalimat bernada konyol yang membuatnya ingin tertawa sekaligus marah. Ia bahkan saat ini seketika meluapkan kekesalannya tanpa memperdulikan apapun.


"Apa katamu? Menyuruh nona Jasmine telanjang di depanmu? Dasar pria mesum yang tidak tahu malu!" sarkas Khayra yang saat ini meluapkan kekesalannya pada Aaron karena membayangkan jika wanita secantik Jasmine benar-benar telanjang di depan pria itu, pasti tidak akan bisa menahan iman karena kelemahan para pria adalah wanita.


Apalagi jika wanitanya secantik dan seksi Jasmine, tidak akan ada satu pun pria yang bisa menolak pesona wanita itu. Ia pun juga merasa yakin jika Aaron akan merasakan hal serupa karena merupakan seorang pria normal dan pernah menjalin kasih dengan wanita itu meskipun berakhir dengan sebuah pengkhianatan.


Aaron yang saat ini masih meringis kesakitan menahan rasa nyeri pada daun telinganya, berharap gadis itu segera melepaskan kuasa. "Aaah ... Sayang, sakit!"


"Biarin! Biar tahu rasa!" sarkas Khayra dengan raut wajah memerah karena dipenuhi oleh kekesalan.


Sementara itu, Aaron yang saat ini ingin menggantikan perbuatan Anindya, seketika menceritakan tentang apa yang dilakukannya pada wanita itu ketika ia mengerjainya saat hujan-hujanan.


"Aku bahkan mengusirnya saat tubuhnya basah kuyup. Itu merupakan sebuah hukuman kecil untuknya karena telah mempermainkan perasaan tulus seorang pria hingga terluka dan mati rasa." Ia ceritanya dengan penutup yang diharapkannya membuat gadis itu tidak lagi curiga padanya jika memiliki perasaan pada mantan kekasih.


"Tapi aku bersyukur karena bisa bertemu dengan gadis yang membuatku menyadari jika sudah tidak memiliki perasaan pada Jasmine karena sudah berpindah semuanya padamu." Ia seketika merasa sangat lega ketika daun telinganya kini sudah tidak lagi berada dalam kuasa Anindya.


Sementara itu, Khayra yang sama sekali tidak melihat video yang dimaksud oleh Aaron, kini mengerutkan kening. "Aku sama sekali tidak melihat video itu."


Ia mengerutkan kening karena merasa aneh melihat gadis itu mengulurkan tangan padanya seolah meminta sesuatu.


"Sini!" sarkas Khayra yang merasa sangat penasaran dengan video yang diambil Aaron saat main hujan-hujanan bersama dengan Jasmine.


"Apa?" tanya Aaron yang masih tidak paham dengan apa yang diinginkan oleh Anindya darinya.


"Ponselmu! Memangnya apa lagi?" sarkas Khayra dengan raut wajah bertambah kesal karena Aaron tidak peka dengan keinginannya. "Aku belum melihat videonya. Jadi, sekarang ingin melihatnya."


Dengan sangat santai Aaron menggelengkan kepala karena kini bisa melihat raut wajah gadis itu dipenuhi oleh kecemburuan dan membuatnya tersenyum menyeringai.


"Tidak ada!"


"Issh ... tidak ada bagaimana?"


"Ya, tidak ada!"


"Sini, tidak?" sarkas Khayra dengan raut wajah memerah karena kesal ketika pria itu bersikap mencurigakan saat tidak mau memberikan ponselnya.


'Pasti ada sesuatu di ponselnya yang pasti berhubungan dengan nona Jasmine karena dia belum bisa move on, tapi tidak ingin ketahuan olehku,' gumam Khayra yang semakin curiga jika pria itu benar-benar menyembunyikan sesuatu darinya dan ingin sekali diketahui.


"Cepat berikan ponselmu!"


"Sudah kubilang tidak ada videonya karena aku sudah menghapusnya, Baby," seru Aaron yang saat ini ingin menguraikan kesalahpahaman dari pemikiran gadis itu agar tidak curiga padanya.


Khayra kini masih mengulurkan tangannya dan menatap tajam pria yang seolah enggan untuk memberikan ponsel yang berada di saku celana. Tentu saja saat ini pikirannya semakin dipenuhi oleh kecurigaan jika ada yang ditutupi oleh pria itu dan membuatnya ingin segera mengetahuinya.


"Berikan atau jangan menemuiku lagi!" sarkas Khayra dengan tatapan sinis dan tajam.


Aaron saat ini memijat pelipisnya dan mengembuskan napas kasar untuk berpura-pura enggan memberikan ponselnya.


Ia bahkan saat ini sebenarnya merasa sangat senang karena berhasil membuat Anindya tertarik untuk mengecek ponselnya dan itu merupakan salah satu ciri wanita yang tengah cemburu dan menunjukkan sikap posesif.


Dengan berakting seperti orang yang sangat malas mengambil ponsel dari saku celana, kini ia berhasil mendapatkan benda pipih tersebut dan akhirnya mengulurkan pada tangan yang dari tadi cukup lama menggantung di udara dan yakin jika sudah sangat pegal.


"Apa yang kamu ingin cek dari ponselku yang bahkan tidak ada apa-apanya, Baby." Ia bahkan saat ini bersorak kegirangan karena sudah melihat Anindya fokus pada ponselnya yang diperiksa mulai dari isi galeri dan yang lainnya.


Ia bahkan sudah menghapus semua foto-foto di masa lalu bersama dengan Jasmine dan yang tersisa hanyalah foto kenangannya bersama dengan Anindya ketika dulu bersama di puncak serta jalan-jalan malam kota Jakarta.


Todak hanya itu saja karena foto-foto putranya yang mendominasi galeri dan memenuhi di ponselnya karena setiap hari hanya bisa menatap tanpa bertemu. Ia selalu mendapatkan kiriman foto dari sang ibu dan tidak pernah membuangnya.


Saat ini ia seketika tersenyum lebar begitu gadis yang tadinya fokus pada layar ponsel, mengangkat pandangan dan bersitatap dengannya.


"Sudah selesai?" tanya Aaron yang tersenyum menyeringai melihat raut wajah Anindya memerah karena malu.


"Ini?" Khayra kita kan tidak pernah berpikir jika foto-fotonya masih tersimpan rapi di galeri pria itu. "Ini foto-foto sudah 1 tahun lebih. Kamu masih menyimpannya?"


Ia bahkan sekarang tidak punya sama sekali foto-foto Aaron karena dulu menghapus semuanya karena merasa sangat marah pada pria itu.


Apalagi didukung saat sang kakek memberikan ponsel baru dan memintanya untuk tidak memakai nomor lama, sehingga ponselnya masih berada di laci sampai sekarang dan tidak pernah lagi dibukanya.


"Kenapa? Kamu masa heran karena aku dari dulu menyimpan fotomu dan hanya bisa menatapnya setiap malam dengan penuh penyesalan? Aku mencintaimu dan memang semuanya terlambat karena baru menyadarinya saat kamu pergi dariku, hidupku benar-benar terasa hampa saat itu." Ia bahkan saat ini melihat tatapan tajam dari Anindya berubah teduh.


Seolah tidak lagi dipenuhi oleh sikap sinis maupun arogan dan egois seperti beberapa saat lalu. Ia bahkan saat ini berpikir jika Anindya memahami cintanya.


"Kamu seharusnya tahu betapa aku tersiksa saat tidak bisa menemukan setelah ke Jogja. Hingga semenjak saat itu, rasanya aku tidak bersemangat hidup dan memilih untuk kembali minum-minuman keras untuk melupakan masalah," ucap Aaron yang kini merasa sangat terkejut ketika mendapatkan pukulan pada lengannya.


"Sudah tahu jika gara-gara minuman itu juga yang membuat kita berpisah. Apa masih belum sadar juga sampai sekarang?" sarkas Khayra yang benar-benar merasa sangat kesal karena Aaron melampiaskannya padahal hal-hal negatif.


Aaron yang sama sekali tidak merasakan sakit pada pukulan yang dilayangkan oleh Anindya, kini hanya tertawa karena melihat perhatian dari gadis itu dan sudah tidak lagi bersikap dingin padanya.


"Ya, aku tahu itu. Tapi tidak tahu harus bagaimana saat terpuruk dan akhirnya kembali lagi ke jalan yang salah meskipun sudah tahu jika itu yang menjadi penyebab kita berpisah. Aku sempat berpikir mati dan beritanya tersebar di surat kabar maupun media sosial, lalu kamu membacanya," ucap Aaron yang saat ini ingin melihat reaksi dari gadis dengan wajah kesal tersebut.


"Apakah kamu akan bersedih dan menyesali perbuatanmu yang meninggalkanku? Hal itulah yang terpikirkan saat itu." Saat baru saja menutup mulutnya, Aaron saat ini kembali merasakan nyeri pada daun telinganya karena laki-laki dijewer oleh Anindya yang malah terlihat seperti sang ibu.


"Katakan sekali lagi!" sarkas Khayra yang saat ini meluapkan kekesalannya karena tidak pernah memikirkan hal segila itu dari Aaron.


Saat melihat pria di hadapannya meringis kesakitan, seolah membuatnya merasakan sebuah kepuasan tersendiri karena bisa memberikan sebuah hukuman agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan minum-minuman keras.


"Awas saja jika sampai minum lagi!"


"Tidak akan jika kita menikah, Baby. Lalu, apa kamu mau menikah denganku dan mengawasiku agar tidak minum lagi?" tanya Aaron yang saat ini melihat ekspresi wajah terkejut dari gadis yang seketika melepaskan telinganya.


To be continued...