
Perkataan Aaron membuat sudut bibir Zea melengkung ke atas karena merasa sangat senang atas pujian dari pria yang disukai. Meskipun tidak mengerti bahwa ia adalah gadis kecil yang dimaksud oleh Aaron. Bahkan penampilan khas dengan rambut dikepang dua selalu menjadi andalan hingga remaja.
Ia selalu mengepang dua rambutnya karena dulu sang ibu selalu melakukannya dengan penuh kasih sayang dan semenjak meninggal, tidak ada lagi yang menyisir serta membentuk rambutnya yang panjang.
Jadi, ia awalnya belajar sendiri dan terlihat tidak rapi. Namun, lama-kelamaan bisa melakukannya sendiri dan terbiasa mengepang dua rambutnya. Zea sama sekali tidak memperdulikan ejekan dari teman-temannya yang mengatai bahwa penampilannya sangat kampungan.
Ia lebih fokus untuk belajar agar bisa mendapatkan prestasi cemerlang demi membanggakan orang tua yang selalu mendukungnya dalam hal apapun. Hingga seringnya belajar membuat matanya mengalami masalah dan mengharuskan memakai kaca mata.
Namun, ia merasa heran setelah terbangun dari kecelakaan, pandangannya sudah tidak lagi seperti dulu karena bisa melihat lebih jelas dan berpikir jika itu karena efek operasi.
Zea kini merasa sangat senang dan ingin sekali mengepang rambutnya seperti dulu agar membuat Aaron bisa melihatnya.
'Apa aku perlu mengepang dua rambutku agar tuan Aaron melihat dan menyadari bahwa sebenarnya gadis kecil yang baru saja dipuji itu saat ini sudah dewasa dan tengah duduk di sebelahnya?' gumam Zea yang hanya bisa berbicara sendiri di dalam hati karena tidak mungkin mengungkapkan pada pria itu.
Karena aku sangat merindukan rambutnya yang dikepang dua, kini Zea menatap ke arah wanita yang berada di hadapannya.
"Aku jadi ingin mengepang dua rambutku. Siapa tahu bisa terlihat cantik seperti gadis yang dipuji oleh tuan Aaron," ucap Zea dengan wajah polos tanpa merasa malu karena ia ingin menunjukkan pada pria itu mengenai hal yang sebenarnya.
Zea ingin tahu apakah Aaron mengingat bahwa ia adalah gadis kecil yang dimaksud dan sangat dikhawatirkan. Bahwa ia saat ini masih hidup dan baik-baik saja karena pertolongan orang tua pria itu.
Refleks Aaron langsung terbahak begitu melihat sikap konyol yang ditunjukkan oleh Anindya. Namun, saat hendak membuka mulut untuk menanggapi, mendapatkan tatapan tajam dari sang ibu yang juga tengah mencubit pinggangnya.
Seolah memberikan sebuah kode agar tidak mengejek Anindya yang terlihat sangat polos seperti anak kecil ingin dipuji. Akhirnya ia hanya diam saja dan membiarkan sang ibu berbicara.
'Dasar bocil! Apa ia tiba-tiba merasa iri pada gadis kecil yang tersengat aliran listrik itu? Tingkahnya seperti anak kecil yang tidak kebagian permen saja,' gumam Aaron yang saat ini hanya mendengar perkataan manis yang selalu ditunjukkan pada Anindya.
Bahkan menganggap bahwa sikap sang ibu sangat berlebihan. Awalnya ia merasa iri karena kasih sayang sang ibu padanya berkurang dan teralihkan karena adanya Anindya.
Namun, lama-kelamaan ia berpikir jika perasaan sang ibu akan terluka jika sampai gadis itu sembuh dari amnesia dan kembali pada orang tuanya. Sementara sang ibu sudah terlanjur sangat menyayangi, tapi akan berakhir kehilangan.
"Tentu saja aku akan mengepang rambutmu, Anindya. Apalagi dari dulu Aku sangat ingin mempunyai anak perempuan. Jadi, ingin merasakan bagaimana menghias rambut anak perempuan." Jenny pun kini mengibaskan tangannya pada putranya untuk memberikan perintah.
"Sayang, tolong ambilkan sisir di kamar, ya! Mumpung Anindya memenuhi harapan Mama yang tidak pernah tercapai selama ini. Cepat ambilkan!" Menatap tajam ke arah putranya agar segera bangkit berdiri dari kursi.
Bahkan ia sibuk tersenyum dan tidak memperdulikan apa yang ditunjukkan oleh putranya saat wajahnya sangat masam karena mendapatkan perintah darinya.
"Mama ini kenapa harus aku, sih!" Meskipun merasa sangat kesal karena diperintah, Aaron bahkan tetap bangkit berdiri dari kursi dan berniat untuk mengambilkan sisir.
Namun, sebelum berjalan, refleks ia langsung mengarahkan cubitan pada kedua pipi gadis yang membuatnya berakhir di perintah oleh sang ibu.
"Ini semua gara-gara kamu, bocil!" Tanpa berniat untuk menunggu reaksi apa yang ditunjukkan oleh gadis yang dianggapnya tak lebih dari anak kecil tersebut, reflek Aaron segera berjalan menuju ke arah pintu utama dan mengambil sisir.
Karena merasa interaksi antara Anindya dan sang istri sangat menarik, membuat Jonathan tidak berhenti tersenyum karena ikut senang jika wanita yang sudah lebih dari 30 tahun bersamanya tersebut sangat bahagia hari ini.
Ia kini tengah memikirkan sesuatu dan langsung menyampaikan pada sang istri. "Kamu jadi ikut Aaron untuk fitting gaun pengantin? Memangnya jam berapa? Kebetulan hujannya sudah reda. Nanti Papa mau bertemu teman untuk membahas masalah kerja sama, jadi tidak bisa ikut."
Jenny yang tadi langsung berpindah tempat begitu putranya bangkit berdiri untuk melaksanakan perintahnya, dengan duduk di sebelah Anindya sambil memeriksa ketebalan rambut gadis itu.
Hingga ia merasa rambut panjang Anindya cukup tebal dan hasilnya akan sangat bagus karena tidak terlalu tipis. Bahkan ia tidak langsung menanggapi pertanyaan sang suami karena berkomentar pada rambut yang di usapnya beberapa kali.
"Rambutmu sangat tebal, Sayang. Jadi, tidak terlihat lepek dan sedikit. Nanti pasti hasilnya akan bagus."
Kemudian baru menoleh pada sang suami yang tengah menikmati pisang coklat. "Nanti jam 10, Pa karena seperti yang dikatakan oleh Aaron tadi bahwa Jasmine akan ada pemotretan pada sore hari."
Namun, ia seketika menatap ke arah Anindya begitu mengetahui bahwa gadis itu nanti akan sendirian di rumah bersama para pelayan saja.
"Oh iya, nanti kasihan Anindya karena kesepian di rumah."
"Biarkan Anindya istirahat di rumah, Ma." Jonathan berpikir bahwa kesehatan Anindya belum pulih sepenuhnya dan harus banyak beristirahat.
"Anindya, kamu ingin beristirahat di rumah saat kami pergi, atau ikut aku dan Aaron pergi ke butik?" Jenny ingin Anindya melakukan hal yang disukai dengan cara bertanya apa yang diinginkan untuk meminta pendapat.
Apalagi ia berniat untuk berbelanja kebutuhan rumah setelah pulang dari butik dan pastinya akan memakan waktu yang lama dan kasihan jika Anindya hanya bersama dengan para pelayan.
Sementara itu, Zea yang merasa bahwa pucuk dicinta ulam tiba adalah pepatah yang sangat pantas untuk posisinya saat ini karena dari tadi merasa sangat penasaran seperti apa wanita yang menjadi pilihan berlabuhnya hati seorang Aaron.
Tentu saja ia tidak akan pernah melewatkan kesempatan yang tidak datang dua kali untuk mengobati rasa penasarannya, sehingga menjawab sesuai dengan apa yang dirasakan.
"Aku bosan jika seharian harus tidur saja di kamar. Bahkan malah merasa tubuh sakit semua, Nyonya Jenny. Memangnya boleh apa aku ikut pergi ke butik?" Zea seketika berjenggit kaget begitu mendengar suara bariton dari pria yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Tidak boleh! Aku tidak ingin diganggu bocil sepertimu bersama dengan calon istriku. Bagaimana jika kamu tiba-tiba pingsan karena pusing efek kecelakaan?" sahut Aaron yang merasa bahwa keinginan gadis itu membuatnya sangat kesal.
Ia kini langsung menyerahkan sisir yang tadi diambil pada sang ibu dan kembali mendaratkan tubuh di sebelah ayahnya yang langsung menepuk bahunya untuk memarahi.
"Aaron, jangan berbicara kasar pada Anindya! Jika nanti ia pingsan, biar pengawal atau sopir yang menggendongnya agar kamu tidak merasa kerepotan atau disusahkan."
Bahkan Jonathan saat ini khawatir jika Anindya merasa tersinggung atau sakit hati karena sikap kasar dari putranya yang menolak mentah-mentah.
Seketika Zea tadi terdiam karena mendapatkan penolakan, tapi merasa senang karena mendapatkan pembelaan dari pria paruh baya itu.
Bahkan ia juga mendapatkan pembelaan yang sama dari wanita yang sudah mulai beraksi pada rambutnya untuk bisa mengepangnya.
"Sudah, jangan dengarkan perkataan calon pengantin pria yang sangat arogan itu. Lagipula kita nanti akan berangkat bersama, sedangkan Aaron akan menjemput Jasmine. Jadi, tidak ada hubungannya dengan Aaron jika sampai kamu nanti pingsan."
Jenny saat ini sudah menyisir rambut panjang di bawah bahu yang hitam berkilat itu, membuatnya merasa sangat senang bisa melakukan apapun pada rambut Anindya.
Bahkan ia bisa mendengar persetujuan dari Anindya yang tidak memperdulikan larangan Aaron.
"Aku tidak akan pingsan, Nyonya karena sekarang sudah baik-baik saja. Lagipula aku ingin menemani Anda agar tidak merasa kesepian dan mempunyai anak perempuan yang menemani." Zea benar-benar merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa ikut tanpa harus meminta.
Karena ia malah mendapatkan sebuah tawaran dari wanita baik hati yang sudah dianggap seperti ibu kandung sendiri.
Ia merasa sikap hangat dari seorang wanita cantik yang sudah tidak lagi muda tersebut membuatnya bisa merasakan kembali kasih sayang seorang ibu yang sudah lama menghilang dari dirinya.
"Aku akan menjadi anak perempuan yang penurut dan patuh agar tidak mempermalukan Nyonya Jenny. Aku juga tidak akan menyusahkan tuan Aaron nanti, tapi bagaimana jika calon istrinya bertanya siapa aku?"
Zea mendadak merasa sangat khawatir jika calon istri dari Aaron tidak bisa menerima kehadirannya dan menganggapnya adalah sebuah parasit yang merugikan keluarga besar Jonathan.
Ia benar-benar sangat takut jika dihina seperti itu dan pasti akan membuatnya sangat down. Namun, ia saat ini hanya terdiam karena suara bariton dari sang tuan besar membuka mata hatinya.
"Tentu saja kami semua harus mengatakan hal yang sejujurnya agar tidak ada kesalahpahaman ataupun sebuah tipuan yang akan membuat retak hubungan keluarga. Jika Jasmine adalah wanita yang baik, pasti akan merasa senang karena bisa mempunyai teman baru di rumah ini."
"Iya, benar. Apalagi sesama wanita pasti akan merasa cocok dan tidak akan kesepian saat berada di Rumah yang sama. Seperti yang kurasakan saat ini ketika ada kamu di sini, Anindya," ucap Jenny yang berbicara sambil mengepang sisi kanan rambut itu.
Namun, ia menepuk jidat begitu menyadari ada sesuatu yang terlupa dan langsung menatap ke arah putranya.
"Sayang, ada yang terlupa. Kenapa tidak sekalian menyuruhmu membawa ikat rambut? Percuma kan jika di kepang tidak diikat?"
Karena merasa sangat malas untuk bolak-balik ke kamar sang ibu, refleks Aaron langsung berteriak memanggil pelayan agar mengambilnya. Bahkan ia saat ini berpikir harus memberitahu Jasmine terlebih dahulu agar tidak marah karena ada Anindya yang ikut ke butik.
'Jasmine marah nggak, ya? Kata-kata papa seolah menampar saja karena mengatakan Jika Jasmine orang baik, pasti akan merasa senang bertemu dengan Anindya.'
'Lalu, apa calon istriku tidak baik jika tidak menyukainya? Sangat konyol dan sialnya aku tidak bisa membantah perkataan papa!'
To be continued...