Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Rencana Aaron



"Aaron memang tidak sadar diri karena masih tetap berani menampilkan wajahnya di depanmu meskipun sudah kamu tolak, Ayang. Padahal jelas-jelas kamu sudah memutuskan untuk menerimaku, tapi bisa-bisanya dia berniat untuk tetap bersaing saat kamu sudah mengambil keputusan." Erick yang sangat mendukung apa yang disampaikan oleh Zea, kini tersenyum mengejek melihat Aaron.


Ia merasa bahwa Aaron tidak tahu malu karena masih bisa berdiri dengan percaya diri saat memaksa Zea. "Dasar tidak tahu malu! Di mana harga dirimu sebagai seorang pria, Brother? Kamu sudah jelas-jelas ditolak saat melamar. Harusnya sadar diri dan pergi agar tidak semakin malu."


Aaron yang sama sekali tidak merasa tersinggung dengan kalimat penghinaan dari Erick, saat ini hanya berpikir untuk berjuang tanpa menyerah karena gadis yang selama ini dicari sudah berdiri di depannya.


"Aku sama sekali tidak malu saat mengejar cinta Anindya. Aku justru malu menjadi seorang pecundang yang dengan mudahnya menyerah dan pastinya tidak mempunyai cinta begitu besar jika semudah itu mundur hanya gara-gara satu kali ditolak. Wanita makan dulu setelah melihat perjuangan seorang pria tulus dan aku akan membuktikan itu!"


Aaron yang saat ini baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari pria yang tadi menyuruhnya masuk ke ruangan.


Dari tadi Dery Farhan memijat pelipis melihat perdebatan antara dua pria yang dianggap seperti kucing dan anjing tersebut. Hingga saat memiliki kesempatan untuk berbicara, ia seketika membuka suara untuk memberikan sebuah nasehat dan berharap didengarkan oleh dua pria yang sama-sama menyukai bosnya tersebut.


"Lebih baik kalian tidak pernah datang lagi ke perusahaan ini karena hanya membuat konsentrasi nona Khaysila terpecah belah. Padahal beliau harus fokus mengurus perusahaan dan juga memikirkan keadaan sang kakek serta kuliah."


"Jika kalian benar-benar pria yang baik dan mencintai nona, pastinya akan memberikan support dan tidak mengganggu setiap hari! Jadi, Aku harap kalian mengerti dan tidak akan merepotkan nona yang memiliki tanggung jawab besar dalam hidupnya!"


Kemudian menatap tajam dua pria yang dianggap sangat mengganggu kenyamanan bosnya dan juga staf perusahaan karena telah membuat keributan di lobby perusahaan.


Sampai pada akhirnya ia pun menoleh ke arah bosnya tersebut yang dari tadi terlihat pusing menghadapi dua pria yang sama-sama mengejar cintanya. "Anda bisa melanjutkan pekerjaan dan setelah itu ke rumah sakit untuk menjenguk tuan Candra. Saya akan menyingkirkan dua pria yang mengganggu konsentrasi Anda, Nona."


Sementara itu, Khaysila yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi untuk menghentikan niat Aaron karena tidak menyerah mengejarnya meskipun sudah ditolak, saat ini hanya mengangguk perlahan dan membiarkan asisten pribadinya tersebut untuk membuat dua pria itu pergi dari ruangannya.


"Terima kasih, Om. Aku akan fokus bekerja." Kemudian ia menatap ke arah dua pria yang masih terlihat enggan untuk pergi dari ruangannya. "Cepat pergi atau diseret oleh Om Dery!"


Tentu saja Aaron dan Erick masih belum puas berbicara dengan gadis yang sangat dirugikan tersebut dan sama-sama menggelengkan kepala, tapi di saat bersamaan langsung diseret keluar oleh pria yang berusia lebih tua dari mereka.


"Ayang, aku masih belum selesai berbicara denganmu, tapi akan menunggu di Rumah Sakit dan kita bisa bertemu di sana,' teriak Erick yang saat ini sudah ditarik lengannya oleh pria tersebut keluar dari ruangan.


Sementara itu, Aaron yang seolah kehabisan kata-kata dan kini hanya patuh ketika diseret keluar oleh pria yang diketahui olehnya merupakan asisten pribadi kakek Zea.


Ia sebenarnya juga berpikiran yang sama dengan Erick, yaitu akan pergi ke Rumah Sakit agar bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Namun, ia berubah pikiran karena saat ini berniat untuk mencari tahu rumah keluarga besar Chandra Kusuma.


'Aku tidak akan bisa berbicara dengan tenang jika ada Erick. Jadi, harus berbicara empat mata dengan Anindya agar tidak terganggu dan bisa meluluhkan hatinya. Aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu tentang rumah keluarga besar Kusuma agar bisa datang ke sana,' gumam Aaron yang hanya diam menatap ke arah Anindya begitu diseret keluar.


Ia sudah bertekad untuk terus mengejar Anindya. Namun, tidak ingin terus berdebat dengan Erick yang merasa percaya diri karena sudah mendapatkan lampu hijau dari Anindya.


'Aku tidak akan pernah menyerah sebelum janur kuning melengkung dan status Anindya adalah istri sah seorang pria. Aku bisa ngajakin jika Anindya hanya memanfaatkan Erick agar bisa membuatku menyerah mengejar cintanya. Aku jangan yakin itu,' gumam Aaron yang saat ini sudah berada di depan lift karena kerah kemeja baru dilepaskan oleh sang asisten tersebut.


"Cepat pergi dari perusahaan ini dan jangan mengulangi membuat keributan dan mengganggu nona Khaysila lagi. Bahkan aku sudah berpesan pada security agar saat melihat kalian, mengizinkan masuk ke perusahaan," sarkas Dery Farhan yang saat ini menatap tajam dua pria mudah tersebut.


Ia berharap kekacauan hari ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Jadi, memberikan ultimatum pada para security untuk berjaga di depan dan tidak mengizinkan dua pria tersebut masuk.


'Aku benar-benar merasa iba pada nona karena ada banyak masalah yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. Ia bahkan terlalu muda untuk menghadapi banyaknya cobaan yang datang bertubi-tubi,' gumam Dery Farhan yang saat ini menunggu hingga dua pria itu segera masuk ke dalam lift.


Aaron yang tidak ingin mengecewakan Anindya, kini membungkuk hormat sebelum melangkah masuk ke dalam lift. "Maafkan saya karena telah membuat ribut dan mempermalukan nona, tapi saya berjanji jika kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi."


Kemudian ia masuk ke dalam lift tanpa menunggu tanggapan dari sang asisten pribadi tersebut.


Berbeda dengan Erick yang hanya mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang menyerah di hadapan polisi. "Maafkan aku, Om. Aku janji tidak akan berulah lagi di sini. Aku pun tidak ingin ayang terkena masalah hanya karena aku. Kalau begitu, saya permisi dulu. Sampai jumpa di Rumah Sakit, Om."


Erick kini melambaikan tangannya dan melangkah masuk ke dalam lift karena melihat Aaron menahan tombol agar tidak tertutup. Ia saat ini berpikir jika Aaron berniat untuk membalas dendam padanya, jadi tidak pergi terlebih dahulu.


Ia yang sama sekali tidak merasa takut pada pria di sebelahnya tersebut, kini tersenyum menyeringai karena merasa sangat senang ketika membayangkan kejadian di ruangan kerja gadis yang selama ini dicintainya.


"Apa kau tidak ingin aku pergi sebelum membalas dendam padaku karena telah merebut Zea? Atau kau ingin menghajarku habis-habisan karena sudah tidak ada Zea di antara kita?" Erick akan membuktikan jika ia tidak lemah.


Jadi, akan melawan sampai titik darah penghabisan jika sampai pria di hadapannya tersebut memukulnya saat berada di dalam lift karena hanya ada mereka berdua di sana.


"Sepertinya kau sangat percaya diri saat Anindya menerimamu di depanku. Kau bahkan mungkin akan ditolak tadi jika tidak ada aku. Besar kemungkinan jika Anindya menerimamu hanya untuk membuatku cemburu karena aku tahu jika dari dulu ia sangat mencintaiku," sarkas Aaron yang saat ini ingin melihat bagaimana reaksi dari Erick.


Ia berusaha menyerang sisi lemah seorang pria yang dianggap telah dipermainkan oleh Anindya hanya demi bisa membalas dendam padanya karena perbuatan di masa lalu.


Hingga ia seketika tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Erick yang tadinya bahagia dan percaya diri, berubah memerah karena menahan gejolak amarah.


"Diam atau kurobek mulutmu, berengsek!" sarkas Erick yang saat ini mengepalkan kedua tangan dan ingin sekali meninju wajah pria yang telah memancing emosinya.


Bahkan ia sudah mengangkat kepala tangan dan berniat untuk meninju, tapi tidak jadi melakukan ketika kembali mendengar suara bariton Aaron.


"Aku adalah orang pertama yang berhasil memiliki Anindya sepenuhnya. Aku sangat yakin jika ikatan batin di antara kami sangat kuat setelah hari itu. Jadi, sadar dirilah bahwa kamu hanya menjadi sarana untuk membuatku cemburu." Aaron bahkan merasa sangat puas begitu berhasil membuat wajah Erick memerah.


Di sisi lain, Erick saat ini berniat untuk membalas perkataan yang membuatnya sakit hati, tapi bunyi denting yang terbuka, membuatnya tidak bisa melakukannya. Apalagi ia melihat jika pria itu langsung melangkah keluar dari lift dan pergi meninggalkannya.


"Berengsek!" umpatnya sambil meninju udara di sekitarnya begitu berada di lobby perusahaan.


Ia bahkan bisa melihat siluet belakang pria yang kini sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar. Tanpa memperdulikan tatapan aneh dari beberapa orang yang melintas di sana, Erick saat ini merasa penasaran ke mana Aaron pergi.


"Apa si berengsek itu berniat untuk ke rumah sakit juga?" lirihnya sambil memutar otak untuk mencari jawaban atas pertanyaannya.


Namun, ia sama sekali tidak menemukan jawabannya dan memilih untuk segera melihat ke mana Aaron pergi. Ia apakah sedikit berlari untuk mengejar Aaron.


"Ke mana si berengsek itu pergi?" tanya Erick sudah berjalan keluar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan Aaron.


Saat tidak berhasil menemukan pria itu, akhirnya ia menyerah dan memilih untuk memesan taksi agar membawa ke Rumah Sakit. "Aku pun harus ikut menjaga kakek Zea agar bisa meminta restu untuk menikahi cucunya suatu saat nanti."


Kemudian beberapa saat berlalu dan taksi yang dipesan sudah datang. Ia pun langsung masuk ke dalam dan kendaraan melaju menuju Rumah Sakit.


Sementara itu di sisi berbeda, Aaron yang tadinya berjalan keluar dari lobi, melihat seorang pria yang merupakan OB Tengah membuang sampah dan membuntutinya.


Bahkan ia menunggu hingga pekerjaan pria itu selesai karena ingin bertanya. Ia sebelumnya memberikan uang agar pria itu mau menjawab pertanyaannya.


"Apa kau tahu di mana rumah keluarga Kusuma? Jika tahu, aku akan menambah uangnya." Aaron bahkan saat ini menunjukkan dompet berisi uang yang cukup tebal.


Berharap pria tersebut mau mengatakan informasi berharga tersebut padanya. Namun, ia seketika kecewa karena melihat gelengan kepala yang menandakan tidak tahu menahu jawaban atas pertanyaannya tersebut.


"Saya hanya karyawan rendahan di perusahaan ini, Tuan. Jadi, mana mungkin mengetahui rumah pemilik perusahaan. Hanya saja, Saya membutuhkan uang dan akan membantu Anda mencari informasi. Jika saya sudah mengetahuinya, harus menghubungi di mana?"


Pria yang bekerja sebagai cleaning service di perusahaan Kusuma tersebut, merasa silau begitu melihat lembaran uang merah yang memenuhi dompet dan pastinya akan menjadi miliknya hanya dengan memberikan sebuah informasi yang dianggap sangat mudah untuk didapatkan.


Aaron saat ini menganggukkan kepala dan mengeluarkan ponselnya. "Berapa nomormu, biar aku telpon sebentar agar kau tahu nomorku." Kemudian ia mulai memencet angka-angka di ponselnya.


"Itu nomor saya, Tuan. Oh iya, nama Anda siapa biar saya langsung save nomornya." Pria itu kini baru saja mengambil ponsel yang ada di saku celana dan begitu ada panggilan masuk dari pria di hadapannya tersebut, langsung menyimpan nomornya.


"Aaron!" ucapnya sambil menatap penuh harapan pada pria di hadapannya tersebut. "Nanti telpon aku setelah kau mengetahuinya."


"Siap, Tuan. Akan saya laksanakan," sahut pria berseragam tersebut dan langsung berpamitan agar tidak dipermasalahkan karena terlalu lama membuang sampah.


Aaron saat ini menganggukkan kepala dan berpikir bahwa ia sebentar lagi bisa datang ke rumah keluarga Kusuma.


"Semoga pria itu segera menghubungiku dan memberikan alamat Anindya. Lebih baik aku menunggu di rumahnya daripada pergi ke Rumah Sakit dan kembali bertemu dengan cecunguk itu untuk berdebat terus menerus." Kemudian ia saat ini langsung pacaran menuju ke arah jalan raya karena ingin naik ojek online sambil melihat kota Surabaya agar jauh lebih jelas.


Apalagi saat ini perutnya sangat lapar karena memang dari pagi belum sarapan. Jadi, berniat untuk makan di salah satu tempat dengan makanan khas di kota Surabaya setelah bertanya pada tukang ojek nanti.


To be continued...