Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Mengatakan sesuatu



"Apa kamu tetap akan berada di sini, Erick?" tanya Khayra yang saat ini sudah fokus bekerja selama beberapa jam dan melihat pria yang dari tadi duduk di sofa menatapnya dengan tidak pernah bosan karena tidak mengalihkan perhatian sedikitpun darinya.


Ia bisa tahu meskipun tidak menatap Erick ketika fokus bekerja. Hingga saat ia meneguk minuman karena merasa tenggorokannya sangat, menatap ke arah Erick yang masih tidak mengalihkan perhatian darinya.


Sementara itu, Erick saat ini hanya menggelengkan kepala karena ia sangat takut tidak bisa melihat wajah gadis yang sangat dicintainya tersebut. Bahwa mungkin gadis itu sudah tidak berstatus sebagai single lagi saat suatu saat nanti bertemu. Hal itulah yang dari tadi membuatnya takut dan khawatir.


"Aku tidak akan bisa melihatmu seperti ini lagi setiap hari setelah kembali ke Jakarta. Jadi, jangan melarangku untuk tinggal di sini saat masih berada di Surabaya. Entah kapan lagi aku bisa melihatmu seperti ini." Erick bahkan menghembuskan napas kasar yang mewakili perasaannya karena tidak bisa membayangkan bagaimana ia nanti terpisah oleh jarak.


Apalagi statusnya dengan gadis itu masih belum jelas karena meskipun sudah sangat akrab dan dekat, tapi tidak ada status. 'Apakah ini yang dinamakan dengan HTS yang sangat ramai di media sosial itu? Jadi, seperti ini rasanya hubungan tanpa status.'


'Memang di antara kami tidak ada status yang jelas, tapi rasa sakitnya melebihi dari pasangan yang memiliki status. Sesak rasanya dadaku seperti sangat kesusahan untuk bernapas,' gumam Erick yang kini ingin membahas tentang hal yang baru saja dipikirkan.


Merasa tidak tega melihat wajah murung Erick yang saat ini masih tidak berkedip menatapnya, akhirnya hanya membiarkan pria itu berbuat sesuka hati. "Baiklah. Lakukan apapun yang kamu inginkan. Aku akan fokus bekerja karena masih ada banyak pekerjaan."


Saat ia berniat untuk kembali fokus pada dokumen di atas meja, mendengar suara bariton Erick yang melarangnya, sehingga kembali mengalihkan perhatiannya.


"Tunggu, ada yang ingin kutanyakan padamu." Erick yang bahkan sama sekali tidak berniat untuk bangkit berdiri dari posisinya, kini hanya memandang dari kejauhan sosok gadis yang dulu polos dan menggemaskan itu telah berubah menjadi anggun dan elegan.


"Tanya tentang apa?" tanya Khayra yang saat ini sangat deg-degan jika Erick bertanya tentang sesuatu yang tidak bisa ia jawab. Hingga ia menelan saliva dengan kasar begitu apa yang ditakutkan benar-benar terjadi.


"Bukankah kita ini bisa dibilang sedang menjalani HTS? Memiliki perasaan, tapi tidak bisa memiliki. Atau hanya aku yang merasakan hal ini?" tanya Erick yang ingin sekali mendapatkan sebuah pengakuan dari Zea.


Meskipun ia tahu jika saat ini hanya dirinya saja yang sensitif karena memiliki perasaan cinta pada gadis di balik meja kerja besar itu.


'Paling tidak, hiburlah aku sedikit, Zea,' gumamnya sambil menormalkan perasaannya karena dipenuhi oleh kekhawatiran jika Zea menggelengkan kepalanya.


Saat ini, Khayra merasa sangat bingung harus bersikap jujur, tapi menyakiti hati Erick, atau berbohong untuk menghibur perasaan pria yang diketahuinya memiliki perasaan untuknya. Akhirnya ia memilih untuk bertanya terlebih dahulu.


"Kamu mau aku menjawab dengan jujur atau berbohong?" Awalnya ia berpikir jika Erick akan menjawab tanpa ragu, tapi ternyata tidak karena sekarang seperti sangat kebingungan untuk memutuskan.


"Apakah hobimu kini berubah untuk membuat bimbang orang lain?" Erick merasa sangat kesal karena pertanyaannya malah dijawab dengan pertanyaan balik. Tentu saja ia menjadi sangat bingung saat ini dan juga khawatir jika akan sakit hati.


"Kamu yang memulainya, Erick. Jadi, jangan menyalahkanku dengan memutarbalikkan fakta. Sebenarnya kamu sudah tahu jawabannya, kan? Tapi kenapa masih bertanya?" Merasa percuma jika harus berdebat, kini ia memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya.


Berbeda dengan Erick yang hanya bisa mengepalkan tangan kanan untuk menahan diri karena kesal pada Zea. Ia yang masih menatap intens sosok wanita di balik laptop tersebut, kini memikirkan sesuatu di kepalanya.


'Apa aku perkosa saja dia agar mau menerimaku? Ia seperti tidak sepenuhnya membenci Aaron setelah berbuat jahat padanya. Seharusnya ia menjebloskan Asron ke penjara atau dengan mengusir lebih kejam, tapi tadi malah dia sendiri yang terpuruk ketika berbicara empat mata dengan Aaron.'


Namun, saat bersama dengan Zea, tidak ingin membahas pria lain karena hanya akan membuatnya merasa sangat kesal. Sampai pada akhirnya ia tidak peduli lagi pada pria itu asalkan sekarang masih bisa memuaskan diri menatap Zea.


"Maafkan aku." Akhirnya hanya kalimat itu yang lolos dari bibir Erick saat menyadari jika sempat berpikir negatif dan membuat Zea merasa tidak nyaman.


Khayra yang awalnya berpikir untuk tidak menanggapi perkataan Erick yang kesal padanya, kini kembali menatap pria dengan wajah memelas tersebut. "Aku juga minta maaf karena telah membuatmu kesal, Erick."


"Sebenarnya aku tidak ingin ada jarak di antara kita setelah membahas tentang perasaan. Hal itulah yang membuatku balik bertanya padamu tadi, bukan hobi untuk membuatmu kesal." Khayra kini bisa melihat jika wajah Erick sedikit bercahaya.


Bagaikan awan mendung gelap kini sedikit terang dan membuatnya sedikit lega. "Mau kita HTS atau apa istilahnya, aku selama ini sangat nyaman berada di sampingmu. Itu adalah poin penting yang paling utama. Mengenai hal lain, tidak perlu dipikirkan."


"Nyaman?" Erick harusnya merasa senang kala Zea mengatakan itu, tapi bukan itu yang diinginkannya karena ingin gadis itu bilang sayang atau cinta.


Seandainya semudah itu tidak mempermasalahkan kata nyaman yang lolos dari bibir Zea, mungkin ia akan langsung menghambur memeluknya. Namun, nyaman tidak bisa diartikan cinta.


Jadi, saat ini ia hanya berakting tersenyum simpul untuk menghibur diri sendiri dan juga Zea. "Terima kasih karena merasa nyaman saat bersamaku."


Saat tidak ada lagi panggilan seperti biasanya dari Erick yang selalu selengek'an, rasanya sangat aneh bagi Khayra. Namun, ia bisa mengerti bagaimana pria itu sedang tidak baik-baik saja saat ini, sehingga menyadarinya.


"Jangan berterima kasih karena itu membuatku merasa bersalah padamu," lirih Khayra yang saat ini tengah memikirkan sesuatu.


'Apa aku ajak Erick ke rumah dan menceritakan tentang Kenzie? Bahwa aku adalah seorang single parent sekarang? Itu mungkin bisa menebus kesalahanku padanya karena sudah tidak ada yang kurahasiakan darinya,' gumam Khayra yang kini tengah memikirkan bagaimana ia mengatakan rencananya pada Erick.


"Erick."


"Heem?" Erick yang kini melihat ekspresi wajah Zea sangat aneh seperti ingin menyampaikan sesuatu padanya, membuatnya penasaran.


"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," ucap Khayra yang kini berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya.


"Mengatakan apa?" tanya Erick yang memicingkan mata karena merasa sangat penasaran.


"Sebenarnya aku ...."


To be continued...