Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Berikan aku waktu



"Apa yang terjadi di perusahaan, Kek?" Khayra yang dari tadi menunggu sang kakek berbicara di telepon dengan asisten pribadinya, kini melihat pria paruh baya tersebut seperti terburu-buru.


"Kakek harus ke perusahaan sekarang karena ada masalah yang dibuat oleh wakil presiden direktur yang selama ini kupercaya." Candra Kusuma bahkan tidak berniat untuk berganti pakaian karena sudah mengenakan kemeja serta celana bahan berwarna hitam.


Namun, ia saat ini terdiam sejenak ketika menatap ke arah cucunya dan mempertimbangkan sesuatu untuk disampaikan atau tidak.


Karena merasa khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk, Khayra saat ini ingin mendengar masalah sebenarnya yang lebih spesifik. "Memangnya membuat ulah apa, Kek? Katakan padaku! Siapa tahu aku bisa membantu Kakek."


Sang kakek ya saat ini masih terdiam karena mengkhawatirkan keadaan cucunya yang baru dua minggu melahirkan. "Ehm ... sebenarnya ini juga ada kaitannya denganmu, Sayang. Tapi kamu baru saja melahirkan dan belum pulih sepenuhnya. Biar Kakek saja yang menyelesaikan masalah ini."


Khayra seketika menggelengkan kepala karena berpikir bahwa saat ini bisa melakukan apapun jika dibutuhkan oleh sang kakek. Karena ia saat ini merasa sudah lebih baik setelah melahirkan normal dan tidak terlalu banyak jahitan.


Ia menahan tangan sang kakek agar berbicara padanya dan tidak menyembunyikan apapun. "Aku sudah tidak pulih, Kek. Jika Kakek membutuhkan bantuanku, aku tidak keberatan sama sekali. Memangnya apa yang terjadi di Perusahaan?"


Kini, Candra Kusuma merasa jika hari ini adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan cucunya pada semua orang yang ada di perusahaan. Hingga ia pun kini mulai membuka suara untuk menceritakan tentang pembicaraan dengan asisten pribadinya beberapa saat lalu di telepon.


"Selama ini, ada dua orang yang merupakan kepercayaan Kakek di perusahaan dan sudah menganggap seperti keluarga sendiri. Satu, adalah asisten pribadi dan yang kedua wakil pimpinan di perusahaan. Tapi ternyata sikap baik kakek yang mempercayai wakil presiden direktur, disalahartikan."


"Ia tadi memanfaatkan kekuasaannya untuk meminta sejumlah uang cukup besar dari akuntan perusahaan dengan alasan merupakan orang kepercayaan kakek dan sudah dianggap seperti keluarga sendiri." Kemudian mengembuskan napas kasar karena berpikir bahwa cucunya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.


"Bahkan sampai dengan percaya diri mengatakan akan menjadi pimpinan perusahaan jika terjadi sesuatu pada Kakek." Menepuk jidat karena berpikir bahwa apa yang baru saja dilakukan oleh wakilnya sudah sangat tidak masuk akal.


Apalagi sampai merasa percaya diri bahwa ia akan menyerahkan kekuasaan padanya. Bahkan ia seketika tertawa miris, merasa apa yang harusnya terjadi sangat konyol.


"Astaghfirullah! Bisa-bisanya ada orang yang bisa percaya diri seperti itu. Padahal kakek dan wakil pimpinan itu tidak punya hubungan darah, kan? Aah ... itu karena semua orang berpikir kakek tidak punya penerus. Jadi, berasumsi sendiri-sendiri sesuai dengan pemikiran mereka dan terjadi pada wakil pimpinan itu juga."


Kini, ia merasa bahwa saat ini dibutuhkan oleh sang kakek dan membuatnya mengambil keputusan.


"Aku akan menemani Kakek ke perusahaan. Biar semua orang tahu bahwa akulah yang akan menguasai seluruh aset Kakek." Sebenarnya ia ingin tertawa mendengar perkataannya sendiri yang sangat percaya diri, tapi menahannya dan melanjutkan perkataannya.


"Biar tidak ada orang yang mengincar harta dan juga percaya diri menjadi penerus Kakek." Ia kini bangkit berdiri karena berniat untuk mengganti pakaian dan melihat sang kakek yang tersenyum seolah menunjukkan rasa senang atas keputusannya.


"Buat apa ganti pakaian jika itu sudah bagus dan kamu terlihat cantik, Sayang. Lebih baik kita berangkat sekarang untuk membabat habis wakilku itu dan sekaligus memecatnya." Kini berani menatap ke arah baby sitter yang dari tadi ada di sebelah kiri.


"Kau jaga Kenzie dengan baik karena aku dan cucuku akan ke perusahaan sebentar." Kemudian membungkuk untuk mencium bayi yang masih tertidur pulas tersebut.


Meskipun sebenarnya kesusahan karena sudah tua dan tidak leluasa untuk membungkuk, tapi tetap melakukannya sebelum pergi meninggalkan cicitnya.


Khayra pun juga melakukan hal sama sebelum berangkat dan menitipkan putranya. Nasib baik ia tadi sudah berinisiatif untuk menyuruh pelayan membelikan susu formula untuk berjaga-jaga.


Beberapa anak yatim dan kaum duafa sudah meninggalkan rumah setelah makan dan diberikan bingkisan berupa sembako. Ia yang kini langsung masuk ke dalam mobil dan kendaraan mewah berwarna hitam itu melaju meninggalkan area istana megah lima lantai itu menuju ke perusahaan Kusuma.


Candra Kusuma yang saat ini mengirimkan pesan pada asisten pribadinya untuk memberikan uang yang diminta oleh wakil pimpinan yang dipercayai olehnya dan tidak mengatakan jika ia sedang dalam perjalanan menuju ke sana.


Kemudian beralih menatap ke arah cucunya. "Aku hari ini menganggap jika uang yang diminta adalah pesangon setelah memecatnya dari perusahaan. Bukankah kakekmu ini adalah orang yang baik karena masih memberikan pesangon pada orang yang berani mengacaukan keuangan perusahaan?"


Khayra yang saat ini lupa tidak membawa apapun seperti tas maupun dompet, tapi hanya ada ponsel di saku setelan berwarna merah yang dikenakannya.


"Iya. Kakek memang merupakan orang yang baik dan berjasa bagi banyak kaum yang membutuhkan. Anggap saja itu untuk membalas pekerjaan yang dilakukan oleh wakil pimpinan di perusahaan. Oh ya, Kek. Aku bahkan tidak membawa apa-apa saat ini kecuali ponsel. Apa penampilanku tidak terlihat kampungan?"


Ia seperti tidak bisa menghilangkan rasa insecure karena dulu sering mendapatkan bullying gadis cupu. Jadi, merasa khawatir jika sang kakek dianggap memiliki cucu yang sangat kampungan oleh semua staf perusahaan.


Saat ini, Candra Kusuma seketika tertawa terbahak-bahak karena menganggap sikap polos dari cucunya malah menggemaskan. "Khayra ... Khayra, bahkan outfit yang kamu kenakan saat ini merupakan desain dari desainer terkenal dan pastinya tidak dimiliki oleh orang lain."


"Para staf tinggi di perusahaan pasti mengetahui kira-kira berapa harga dari pakaian yang kamu kenakan saat ini. Bagaimana mungkin kamu mengatakan jika saat ini penampilanmu kampungan. Lebih baik kamu berkonsentrasi untuk memberikan sambutan saat kakek memperkenalkanmu sebagai ahli waris utama yang akan menjadi pemimpin selanjutnya di perusahaan."


Khayra seketika menggigit bibir bawah bagian dalam karena merasa gugup dan ini adalah pengalaman pertama untuknya berhadapan dengan orang-orang hebat di perusahaan. Apalagi sampai harus memberikan sambutan pada mereka semua untuk memperkenalkan diri sebagai penerus sang kakek.


"Aduh, Kek. Aku tidak pernah berpidato karena selama ini adalah tipe orang yang introvert dan suka dengan kesendirian. Bagaimana aku bisa memberikan sambutan nanti?" Meremas kedua sisi pakaian untuk menormalkan perasaan yang sangat gugup.


Mengerti semua kekhawatiran dari cucunya, kini sang kakek mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik itu dan tersenyum simpul.


"Anggap saja kamu berbicara dengan semut yang lebih kecil darimu dan jangan tatap semua orang saat berbicara, tapi fokuslah pada keinginanmu ataupun tekad untuk memajukan perusahaan dan meneruskan perjuangan kakek." Ia dulu juga merasakan hal yang sama seperti cucunya.


Bahwa memulai sesuatu untuk pertama kali memang selalu diawali dengan kegugupan dan kali ini ingin menyalurkan semangat pada cucunya agar tidak merasa gugup di depan semua orang yang tak jauh lebih tinggi posisinya.


"Ubahlah introvert yang selama ini kamu miliki menjadi ekstrovert karena cepat atau lambat, kamu akan setiap hari bertemu dengan orang-orang hebat setelah memimpin perusahaan." Candra Kusuma kini merasa tiba-tiba perutnya terasa nyeri yang luar biasa.


Namun, ia berusaha untuk menyembunyikan agar tidak diketahui oleh cucunya dengan menatap ke arah sang sopir. "Tambah kecepatan agar kita bisa segera tiba di perusahaan dan menyelesaikan masalah yang terjadi."


"Iya, Tuan," sahut sang supir yang saat ini menginjak pedal gas setelah melihat jalanan tidak terlalu padat dilalui kendaraan.


'Ya Allah, jika Engkau ingin mengambil nyawaku, berikan aku waktu sebentar lagi untuk memperkenalkan cucuku agar semua orang tahu siapa yang akan menjadi penerusku,' gumam Candra Kusuma yang saat ini mengalihkan perhatian dengan menoleh ke arah sebelah kanan dan berpura-pura menatap lalu lalang kendaraan yang melintas.


To be continued...