Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Gudek dan empal



"Sial!" Aaron mengumpat karena nomornya masih diblokir oleh Erick dan ia tidak bisa bertanya mengenai Anindya.


Ia kali ini benar-benar merasa sangat frustasi atas perbuatan pria yang sangat dibenci dan membuatnya tidak bisa menemui gadis yang ingin diajaknya kembali ke Jakarta.


'Erick, apa yang sebenarnya kau inginkan? Apa kau sengaja menyembunyikan Anindya setelah mengetahui aku berangkat ke sini?' Berbagai macam pertanyaan kini menari-nari di pikiran Aaron yang saat ini dikuasai oleh angkara murka dan mendengar suara dari sosok wanita paruh baya dengan badan sedikit gemuk di hadapannya tersebut.


"Mas, ada apa? Sepertinya Mas merasa sangat kecewa karena tidak bisa bertemu dengan mbak Zea. Sayangnya tadi aku tidak tahu nomor mbak Zea karena tadi hanya meminta nomorku dan suatu saat menghubungi." Ia bisa mengerti raut wajah penuh kekecewaan dari pria dengan paras rupawan itu.


Namun, merasa sangat bingung dengan pria yang berdiri dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah ketika kecewa tidak bisa bertemu dengan Zea.


"Sebenarnya Mas siapanya mbak Zea?" Masih menatap dengan sorot penuh pertanyaan dan berharap bisa mendapatkan sebuah jawaban atas rasa ingin tahu yang saat ini menguap di dalam dirinya.


Tanpa pikir panjang ataupun mencari sebuah alasan, kini Aaron ingin menguraikan kesalahpahaman agar wanita paruh baya tersebut mengerti siapa dirinya. "Saya calon suaminya dan pria yang kemarin ke sini bukanlah pacarnya, tapi membawa kabur Zea."


Karena merasa penasaran dengan asal muasal nama Zea, ia kini kembali bertanya dan mengungkapkan apa yang tengah dirasakan. "Jadi, calon istri saya memang sebelumnya mengalami amnesia dan keluarga saya memberi nama Anindya. Jadi, dia memperkenalkan diri sebagai Zea pada semua orang?"


Refleks wanita paruh baya tersebut menggelengkan kepala karena tidak membenarkan apa yang dikatakan oleh pria muda itu. "Bukan seperti itu, Mas. Memang dari dulu yang kami ketahui adalah namanya mbak Zea."


"Mbak Zea adalah cucu dari pemilik rumah ini dan tinggal di Jakarta. Jadi, dulu saat ayah ibunya masih hidup, sering datang ke sini. Namun, setelah ibunya meninggal, jarang datang ke sini bersama ayahnya. Hingga sekarang ayahnya sudah meninggal, tadinya mengatakan ingin tinggal di sini, tapi ternyata tidak lama dan pergi lagi."


Wanita dengan baju khas rumahan itu berpikir bahwa pria di hadapannya tersebut hanyalah mengaku mengaku sebagai calon suami karena tidak mengetahui bahwa Zea mempunyai kakek nenek yang tinggal di sini.


Apalagi saat mendengar jika gadis itu amnesia, tapi bisa mengingat semuanya ketika datang dan menyapa beberapa tetangga sekitar. "Mana mungkin mbak Zea hilang ingatan jika saat datang ke sini sama sekali tidak melupakan siapa dirinya."


"Bahkan menyapa beberapa tetangga di sini meskipun tidak banyak untuk mengatakan akan tinggal di kampung ini lagi. Lalu, apa rencana masnya sekarang karena tidak bertemu dengan mbak Zea?" Ia merasa iba pada pria itu karena sudah jauh-jauh datang ke Jakarta, tapi tidak bisa menemui gadis yang dikatakan calon istri.


Aaron yang memasang indra pendengaran untuk mendengarkan semua hal mengenai Anindya, kini merasa ada yang tidak beres dan poin penting yang saat ini terpikirkan hanyalah gadis belia yang sering dipanggilnya bocil tersebut telah menipu keluarganya dengan mengatakan amnesia.


'Jadi, Anindya sebenarnya adalah Zea? Ia sama sekali tidak hilang ingatan dan mengingat semuanya, tapi mengatakan lupa segalanya pada keluargaku dan aku pun mempercayainya. Apa maksud dia sebenarnya? Kenapa menipu keluargaku dan memanfaatkan kami?' Aaron benar-benar merasa sangat marah karena telah ditipu mentah-mentah oleh gadis yang ingin ia ajak hubungan serius.


Namun, saat ini tiba-tiba pikirannya tertuju pada Erick dan ingin tahu apakah pria itu mengetahui jika nama Anindya yang sebenarnya adalah Zea. Ia benar-benar ingin mengorek informasi dari wanita itu untuk menjawab semua pertanyaan di kepalanya.


"Oh ... jadi, seperti itu cerita sebenarnya. Lalu, apakah pria yang kemarin datang ke sini mengetahui itu semua?" Dengan hati yang berkecamuk, kini Aaron merasa berdebar-debar karena takut dihujam kekecewaan ketika mengetahui bahwa Erick sudah tahu siapa sebenarnya Zea.


Hingga anggukan kepala sudah menjadi jawaban atas pertanyaannya dan membuatnya lunglai seperti kehilangan tenaga. Karena berpikir tidak berarti untuk gadis yang berniat dinikahi olehnya untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang telah merenggut kesucian saat mabuk.


"Tentu saja mas Erick tahu karena aku sering mendengar saat mereka berbincang. Apalagi saat mas Erick memanggil mbak Zea dengan sebutan ayang yang menggemaskan dan membuat beberapa tetangga sekitar senyum-senyum sendiri melihat keromantisan mereka." Kemudian membekap mulut karena menyadari jika pria di hadapannya mempunyai hubungan dengan Zea.


"Aah ... maaf karena mengatakan hal tidak penting seperti ini dan membuat masnya makin kecewa serta sakit hati. Apa benar masnya adalah calon suami mbak Zea? Sepertinya mbak Zea sedang marah pada Masnya, ya! Sampai kabur dan pulang ke Jogja. Sepertinya bukan mas Erick yang membawa kabur mbak Zea, tapi mbak Zea-lah yang sepertinya marah pada Mas-nya."


Meskipun ia hanya menebak-nebak saja, tapi merasa yakin jika apa yang dikatakan benar karena mengetahui jika Zea merasa senang bisa tinggal di Jogja. Jika dibawa kabur oleh pria yang dimaksud dan tidak menyukainya, pasti akan kembali pada sosok pria yang berdiri di hadapannya tersebut.


Aaron yang saat ini membenarkan semua hal yang diungkapkan oleh wanita itu, tapi tidak mau mengakui karena otaknya tengah dikuasai oleh beban mental. Karena seperti kehilangan seluruh tenaganya, ia memilih untuk mendaratkan tubuhnya pada salah satu kursi di teras rumah.


"Rasanya tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang." Hingga ia seketika mendongak menatap wanita yang berdiri menjulang di hadapannya ketika mengulurkan sesuatu di tangan.


"Tadi saya datang ke sini untuk mematikan lampu di dalam rumah mbak Zea karena mau tidur. Namun, sepertinya Mas sangat lelah karena sudah jauh-jauh dari Jakarta datang untuk menjemput mbak Zea, tapi tidak bisa bertemu. Jadi, sekarang istirahat saja di dalam. Ini kuncinya!" Masih menunggu pria muda itu menerima kunci yang dibawanya.


Aaron yang saat ini menatap ke arah kunci rumah yang ditempati oleh Anindya, kini langsung menerimanya Karena ingin mengetahui seperti apa tempat tinggal gadis yang sudah pergi lagi darinya.


"Terima kasih. Saya memang benar-benar sangat lelah dan pikiran sangat kacau balau. Saya akan beristirahat dan kembali ke Jakarta besok pagi. Anda tenang saja karena saya bukan pencuri yang akan mencuri barang-barang berharga di dalam rumah ini."


"Iya, Mas. Aku tahu mana penjahat dan orang baik. Ya sudah, Mas istirahat saja di dalam. Oh ya, ada beberapa makanan di kulkas karena tadi mbak Zea tidak membawa semua stok makanan. Jika tengah malam lapar, Mas jika bisa menikmatinya. Kalau begitu, saya pulang dulu." Berbalik badan dan berjalan menuju ke arah rumahnya.


Aaron saat ini langsung bangkit berdiri dan begitu wanita paruh baya tersebut menghilang di balik pagar rumah, ia kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam.


Ia kini mengedarkan pandangannya ke sekeliling area ruang tamu dan semakin ke dalam untuk mengetahui rumah yang merupakan peninggalan kakek nenek gadis yang ternyata memiliki nama Zea.


"Zea ...."


Aaron kini berjalan semakin masuk ke dalam dan memeriksa ruangan pribadi yang kira-kira menjadi tempat tidur gadis itu. Ada tiga kamar di rumah itu dan ia tahu jika kamar terakhir adalah ruangan pribadi Zea.


"Bahkan aroma parfummu masih tertinggal di kamarmu, Zea. Jadi, namamu yang sebenarnya adalah Zea? Kenapa aku terlambat datang ke sini untuk membawamu pulang dan mengatakan akan bertanggung jawab atas kesalahan yang kulakukan?"


Kemudian mengusap lembut panjang yang selama ini menjadi tempat tidur Zea. "Sekarang kamu ada di mana, Zea? Bagaimana aku bisa menikahimu jika kamu main kucing-kucingan dengan kabur dariku?"


Aaron saat ini menghempaskan tubuhnya pada ranjang empuk itu dan menatap ke arah langit-langit kamar. Ia bahkan dari tadi siang belum makan karena sangat bersemangat bisa bertemu dengan gadis yang dirindukannya.


Namun, semua harapannya hancur hanya karena gadis itu telah pergi lagi dan kembali menghilang dari sisinya. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bahkan berniat baik untuk menikahimu setelah merenggut kesucianmu."


"Tapi kamu malah kabur lagi saat aku sudah menemukan alamat tempat tinggalmu. Zea, kenapa kamu melakukan hal sekejam ini padaku? Bukankah kamu lebih kejam daripada Jasmine karena pergi tanpa pesan?" Embusan napas kasar kini menghiasi ruangan kamar yang sangat sunyi itu.


Hingga keheningan seketika terbelah dengan suara dering ponsel yang berada di saku celananya dan membuatnya berharap jika itu adalah telepon dari Erick dan ingin ia tanyakan di mana keberadaan Zea.


Buru-buru ia mengambil ponsel dari saku celananya dan begitu melihat yang menghubungi adalah sang ibu, membuatnya merasa kecewa karena bukan Erick yang menelponnya.


Namun, ia terpaksa menggeser tombol hijau ke atas untuk mengangkat panggilan dari sang ibu yang dipastikan saat ini ingin mengetahui apakah ia sudah bertemu dengan Anindya.


"Iya, Ma."


Sementara itu, di seberang telepon, Jennifer mendengar suara putranya yang seperti tidak bersemangat dan membuatnya berpikir macam-macam.


"Sayang, apa Anindya tidak mau pulang bersamamu? Seharusnya kamu sudah bertemu dengannya, tapi kenapa dari nada suaramu menjelaskan bahwa kamu tidak sedang dalam keadaan senang ataupun merasa bahagia?" tanya Jennifer yang saat ini bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh putranya.


Aaron kembali mengembuskan napas kasar yang mewakili perasaannya saat ini. Meskipun merasa sangat malas menjelaskan dari awal sampai akhir yang membutuhkan waktu dan pastinya panjang kali lebar, mau tidak mau ia menceritakan semua hal yang tadi dikatakan oleh wanita paruh baya itu pada sang ibu.


"Jadi, seperti itu, Ma. Aku sekarang benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan karena dia kembali menghilang dan sepertinya menjauh dariku." Aaron bahkan seperti tidak punya tenaga hanya untuk sekedar menjelaskan karena suaranya sangat lirih yang mewakili perasaan kecewa.


"Zea? Jadi, Anindya sebenarnya bernama Zea dan ia tidak amnesia? Kenapa ia melakukan itu? Mama sangat yakin jika ia memiliki sebuah alasan dan merasa takut jika mengatakan yang sebenarnya. Sepertinya kita harus mencari tahu karena Mama tidak akan bisa merasa tenang jika belum menemukannya." Jennifer saat ini memutar otak untuk mencari jalan keluar.


Hingga ia menemukan sebuah ide di kepala dan membuatnya merasa yakin bisa menemukan gadis itu.


"Mama dan papamu akan ke rumah Erick sekarang. Bukankah ia saat ini sudah berada di Jakarta. Aku akan menjewer telinganya jika tidak mau jujur padaku. Hanya Erick satu-satunya yang mengetahui cerita sebenarnya mengenai Anindya yang sebenarnya adalah Zea."


Kemudian ia menyuruh untuk putranya agar menenangkan pikiran di rumah itu sambil beristirahat dan besok kembali ke Jakarta.


Kini, perasaan Aaron sedikit lebih baik setelah berbicara dengan sang ibu yang memberinya sebuah solusi untuk mengetahui keberadaan Zea.


"Iya, Ma. Kalau perlu, tuntut Erick jika tidak mau menceritakan semuanya tentang Zea. Aku rasanya ingin menghabisinya karena menyembunyikan semua kenyataan mengenai Zea," sarkas Aaron yang saat ini merasa perutnya perih dan mual.


Ia memegangi perutnya dengan sedikit meringis karena cacing-cacing di perutnya tengah berontak saat dari tadi siang tidak diisi.


"Serahkan Erick pada Mama. Aku akan mengurusnya agar mengatakan hal yang sebenarnya. Ya sudah, tenangkan pikiranmu di sana dan beristirahatlah," ucap Jennifer yang kini sudah tidak sabar ingin pergi ke rumah Erick untuk bertanya.


"Ya, Ma. Aku ingin ke dapur untuk memeriksa makanan karena dari tadi belum sempat mengisi perutku. Aku tadi hanya ingin bertemu dengan bocil, sampai tidak selera makan. Sekarang perutku terasa perih karena minta diisi. Bye, Ma."


Karena tidak ingin dimarahi oleh sang ibu yang selalu ngomel jika terlambat makan, Aaron langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu tanggapan dari wanita yang sangat disayanginya tersebut.


Kini ia bangkit berdiri dari ranjang dan berjalan menuju ke dapur untuk memeriksa makanan. Saat membuka kulkas, ia melihat ada bahan-bahan makanan, dari mulai sayuran, telur, daging, ikan.


Namun, karena ia malas untuk memasak, sehingga memeriksa Apakah ada makanan yang bisa langsung dimakan. Begitu membuka sebuah kotak, ia melihat ada donat dan beberapa kue kering.


"Ini bisa untuk mengganjal perutku karena aku tidak punya tenaga untuk memasak hari ini." Ia kemudian mengambilnya dan membawa ke meja makan.


Bahkan saat di hadapannya ada tudung saji, ia iseng mau bukanya dan sangat berharap ada makanan yang bisa dimakan dan merupakan sisa dari Zea.


Wajahnya seketika berbinar begitu melihat ada sayur serta lauk lengkap di atas meja yang sudah diletakkan di atas mangkok. "Wah ... sepertinya enak. Ini kan gudeg yang merupakan makanan khas Jogja? Ada empalnya juga. Pasti tadi Zea membelinya dan tidak sempat makan karena ingin buru-buru kabur dariku."


Karena air liur sudah membasahi tenggorokan begitu melihat makanan di hadapannya, Aaron pun segera mengambil piring dan nasi, lalu lauk pauk yang ada di hadapannya.


"Zea, aku makan dulu untuk mengisi tenaga agar nanti bisa melanjutkan mencarimu. Semoga mama bisa memaksa Erick untuk berbicara jujur. Sebenarnya ke mana ia membawa Zea kabur?" lirih Aaron sambil mengunyah makanan di mulutnya.


To be continued...