
Zea masih berusaha untuk menormalkan perasaannya yang kacau balau akibat ajakan dari pria yang menjadi pujaan hati. "Iiish ... mana boleh seperti itu, Tuan Aaron. Bahaya, tahu!"
"Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Bagaimana jika ada setan yang lewat dan membuat Tuan khilaf?" Zea memilih berbicara seperti yang ada di pikirannya agar pria itu tidak berbuat macam-macam padanya.
Meskipun ia tahu bahwa Aaron adalah seorang pria yang baik, tapi pernah membaca buku yang menyatakan bahwa seorang pria akan dengan mudah dikalahkan oleh nafsu. Jadi, ia memilih untuk mencari aman agar tidak terjadi hal-hal yang dilarang.
Bahkan saat ia berbicara seperti itu, buat malah ditanggapi oleh tertawa terbahak-bahak dan membuatnya sangat kesal. Hingga ia lagi-lagi mengerucutkan bibir karena kesal tidak dianggap serius ketika memberikan sebuah petuah.
"Aku kan sudah bilang tidak akan bernafsu padamu karena bukan tipeku. Beda lagi jika aku tidur 1 ranjang dengan Jasmine, tidak bisa dipastikan akan terjadi sesuatu yang dilarang karena khilaf." Aaron yang saat ini kembali menyuapkan makanan tanpa memperdulikan raut wajah penuh kekesalan dari gadis kecil yang dianggap tidak tahu apapun mengenai seorang pria.
Apalagi sampai memberikan petuah padanya seperti seorang ustazah saja dan malah membuatnya tertawa terbahak-bahak.
'Bayi mau menasihati pria dewasa sepertiku? Konyol sekali,' gumam Aaron yang saat ini menghabiskan makanannya yang sudah mulai dingin.
Sementara itu, Zea yang merasa malas berbicara lagi, memilih fokus menikmati makanan. Ia benar-benar sangat kesal pada sosok pria yang ada di sebelahnya tersebut. Namun, sadar bahwa percuma ia marah ataupun mengungkapkan ada protes karena tidak akan pernah menang melawan seorang Aaron.
'Iya, aku memang tidak secantik dan semenarik nona Jasmine, tapi mengetahui bahwa terkadang nafsu mengalahkan segalanya. Makanya aku bilang seperti itu pada tuan Aaron, tapi laki-laki kembali merasa tersinggung dengan ucapannya. Seolah aku adalah seorang gadis yang sama sekali tidak menarik di matanya, sehingga tidak membuatnya bernafsu.'
Beberapa saat kemudian, Zea baru saja menyelesaikan ritual makan, kini ingin bermalas-malasan dengan menjauhi Aaron. Jadi, ia berjalan menuju ke arah ranjang sambil masih memakai selimut tebal di tubuhnya.
Kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size tersebut. Ia berniat untuk bermain game karena tidak ada jaringan untuk scroll media sosial. Namun, baru saja ia membuka ponsel miliknya, suara bariton dari pria yang mengungkapkan nada protes, serasa menusuk daun telinga.
"Jangan tiduran setelah makan karena itu tidak baik untuk kesehatan. Kalau tidak percaya perkataanku, kamu bisa mencari di mesin pencarian setelah sinyal kembali." Aaron kini melambaikan tangan agar Anindya kembali duduk di sebelahnya.
"Aku ingin berbicara sesuatu padamu mengenai masalah kuliah besok." Aaron ingin mewanti-wanti Anindya agar tidak ikut-ikutan gaya para mahasiswi yang tidak benar.
Apalagi ia tahu dunia kuliah saat ini sangat rawan dengan pergaulan bebas. Bahkan prostitusi online sekarang lebih banyak anak kuliahan yang mengobrol harga demi bisa bergaya untuk membeli barang-barang.
Sebenarnya Zea merasa sangat malas berbicara dengan pria yang selalu menegaskan tidak bernafsu padanya, seperti ia adalah seorang laki-laki saja. Namun, mau tidak mau tetap menuruti perintah dan kini duduk kembali di sebelah pria yang selalu membuatnya kesal.
"Iya, Tuan Aaron. Ada apa lagi?" Dengan sangat malas Zea membuka suara. Berharap pria itu segera mengatakan apa yang diinginkan darinya.
Karena tidak ingin bertele-tele, kini Aaron langsung menjelaskan mengenai dunia di kampus yang sangat rawan. "Aku tidak ingin kamu bergaul dengan pria maupun wanita yang salah."
"Kamu harus melihat dulu siapa yang dekat denganmu. Baru kamu boleh meneruskan hubungan untuk berteman. Aku sering melihat para mahasiswi yang menjual diri demi bisa membeli barang-barang untuk bergaya dan dipamerkan di kampus."
Aaron berharap Anindya langsung mengerti apa yang diinginkannya tanpa menjelaskan panjang lebar. Apalagi mengetahui bahwa gadis itu adalah anak jenius, sehingga membuatnya berpikir jika ingin melindungi sampai akhir.
Zea memang belum mengetahui seperti apa dunia kampus. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar cerita dari Aaron. "Itu benar terjadi? Bukankah Tuan Aaron mengatakan jika kampus itu mayoritas adalah putra-putri dari konglomerat?"
"Bagaimana bisa ada prostitusi dari para mahasiswi saat mereka sudah kaya raya. Lalu, apa yang dicari ketika sudah memiliki segalanya?" Zea mungkin bisa memakluminya jika itu adalah kampus biasa.
Namun, karena tidak terpikirkan olehnya jika para anak orang kaya akan melakukan hal-hal di luar batas, sehingga membuatnya merasa sangat penasaran.
"*** adalah hal yang paling dicari para anak muda saat ini. Apa kamu pikir para anak konglomerat itu tidak ada yang buruk? Justru mayoritas mereka kekurangan kasih sayang dari orang tua yang sangat sibuk, sehingga mencari di luar dan berakhir ketagihan." Aaron bahkan saat ini seperti menjelaskan ada anak kecil.
Ia tetap bersabar, ingin Anindya fokus kuliah dan berteman dengan yang lainnya karena hanya akan menambah dampak buruk. "Jadi, lebih baik tidak usah ikut pertemanan para anak dia yang suka bergaya."
"Waktunya kuliah berangkat dan pulang tepat waktu setelah selesai. Akan ada sopir yang antar jemput nanti. Apa kamu paham sekarang?" tanya Aaron yang berharap Anindya bisa lulus dengan predikat terbaik karena mengetahui jika gadis itu sangat jenius.
Anindya yang memang tidak ingin berteman dengan banyak orang karena berniat fokus pada pendidikan. Apalagi dari dulu sangat ingin kuliah dan bisa mengangkat derajat keluarga jika mampu membanggakan orang tua dengan nilai terbaik.
"Iya, siap, Tuan Aaron. Aku akan fokus kuliah dan mengingat nasihat itu." Kemudian Zea saat ini menguap setelah perutnya kekenyangan. "Kebiasaan burukku adalah selalu mengantuk setelah kenyang."
Aaron refleks menyentil kening Anindya karena gemas dengan raut wajah yang polos itu. "Tahan ngantukmu 45 menit lagi." Ia pun menunjuk ke arah jendela. "Bukankah kamu suka melihat hujan? Lihat saja hujannya sampai puas."
Zea yang belum berkomentar karena tidak berniat untuk bangkit berdiri dari sofa, malah ditarik oleh Aaron.
"Dasar pemalas! Ayo, kita lihat hujan bersama." Aaron masih belum melepaskan genggaman tangannya ketika mengajak Anindya mengikutinya.
"Astaga, Tuan Aaron. Aku benar-benar sangat mengantuk dan ingin tidur." Bahkan Zea kembali menguap yang menandakan jika saat ini sangat mengantuk.
Di sisi lain, Aaron yang tidak ingin menghabiskan waktu sendirian dengan ditinggal tidur, tidak memperdulikan ada protes dari Anindya yang diajak ke arah jendela untuk melihat hujan.
"Temani aku beberapa menit saja agar tidak bosan melihat hujan sendiri." Akhirnya hanya alasan itulah yang membuat Aron berhasil mengurungkan niat Anindya untuk larut dalam alam mimpi.
Kini, keduanya terlihat berdiri di dekat jendela dan menatap lurus ke arah hujan deras yang dari tadi tak kunjung berhenti.
"Semoga tidak terjadi banjir ataupun longsor arah setelah hujan ini. Semoga juga tidak ada korban. Aku masih khawatir dengan para anak motor. Apa mereka kehujanan atau berteduh berteduh?" Zea kita kan sudah membayangkan bagaimana jika apa yang ada di pikirannya terjadi dan benar-benar tidak tega.
"Ataukah mereka malah turun dan tidak tahu jika jalan longsor dan akhirnya harus putar balik dengan tubuh basah kuyup. Semoga itu tidak terjadi. Mereka semua selamat dan baik-baik saja." Zea masih berdiri di sebelah pria yang sama sekali tidak bersuara untuk menanggapi apa yang baru saja diungkapkan.
Berpikir jika pria itu marah dan berakhir cemberut karena tidak berkomentar apapun. Sampai pada akhirnya ia mendengar suara bariton dari Aaron.
"Tiba-tiba aku ketularan mengantuk sepertimu." Aaron saat ini seketika menutup mulutnya karena menguap.
Zea masih tidak paham dengan arti ajakan dari pria yang terlihat merah bola matanya. "Maksudnya tidur bagaimana, Tuan Aaron? Ehm ... tidur di satu ranjang yang sama seperti yang Anda katakan tadi?"
Aaron mengangukkan kepala dan kini menggandeng pergelangan tangan Anindya. "Rasanya mataku
sudah tidak kuat lagi. Jadi, aku sangat yakin jika tidak butuh waktu lama akan tertidur pulas."
Kemudian ia menepuk sebelah kanan tempatnya berbaring. "Cepat tidur di sini. Aku benar-benar sangat mengantuk."
Zea yang masih berdiri di sebelah ranjang, ragu untuk naik ke atas tempat tidur yang kini sudah ada pria setampan Aaron. 'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar sangat bingung.'
Saat Zea masih sibuk berpikir untuk mempertimbangkan perintah dari Aaron, ia kini mengerutkan kening begitu menatap pria di atas ranjang tersebut sudah bernapas dengan teratur.
Menandakan jika hanya menghirup aroma bantal saja sudah berhasil lalu dalam alam bawah sadar. "Ya ampun, cepat sekali tuan Aaron tertidur pulas."
Zea tidak langsung naik ke atas ranjang karena belum percaya atas apa yang dilihatnya, hingga kini membungkuk dan menggerakkan tangan di depan wajah Aaron.
"Tuan Aaron, Anda tidur? Atau hanya berpura-pura saja?" Zea seketika menutup mulut karena menyadari jika Aron benar-benar sudah berada di alam mimpi.
"Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh tuan Aaron. Bahwa ia benar-benar sangat mengantuk." Kemudian ia yang merasa aman dan yakin jika pria itu tidak akan berbuat macam-macam padanya, kini bergerak naik ke atas ranjang.
Bahkan ia kembali menguap beberapa kali dan langsung merebahkan tubuhnya di samping guling yang berada di tengah-tengah dan menganggap Itu adalah sebuah pembatas.
"Aaah ... aku capek sekali dan sangat mengantuk," lirih Zea kamu saat ini sudah tidak kuat lagi membuka mata karena serasa seperti dilapisi lem perekat.
Hingga tidak membutuhkan waktu lama, kini suara napas teratur terdengar memenuhi ruangan kamar hotel tersebut.
Terlihat kedua insan yang tertidur pulas di atas ranjang dengan pembatas guling di tengah-tengah sudah larut dalam alam bawah sadar dan merajut mimpi indah.
Sementara di luar sana, hujan masih turun dengan sangat deras, seperti tidak ada habisnya. Hingga membuat tanah longsor di area yang rawan.
***
Keesokan harinya, pukul empat pagi, terlihat pergerakan seorang pria yang miring ke kanan dan memeluk erat sesuatu yang dianggapnya adalah guling.
Ia memeluk erat dan merasakan kenyamanan dan berniat untuk melanjutkan tidur. Namun, indra pendengaran menangkap suara lirih dan mencoba untuk mencari tahu.
Hingga membuatnya perlahan-lahan membuka kedua mata yang sebenarnya terasa lengket. Begitu berhasil membuka mata, mengerjapkan mata ketika yang dipeluknya bukanlah sebuah guling, melainkan adalah sosok gadis yang semalaman teman tidur di sebelahnya.
'Anindya? Kenapa?' Aaron mencoba mengingat kejadian semalam dan baru ingat jika menyuruh gadis itu tidur di sebelahnya. 'Guling, bukankah semalam ada guling di tengah-tengah untuk memisahkan kami?'
Aaron yang saat ini tidak bisa melepaskan pelukan karena tangannya menjadi bantalan kepala Anindya. 'Bisa-bisanya kami tidur berpelukan seperti ini. Apa barusan saja atau dari semalam?'
Ia melihat guling berada di lantai sebelah tempat tidur Anindya. 'Apa Anindya membuangnya? Atau tidak sengaja menjatuhkannya?'
Berbagai macam pertanyaan kini menari-nari di otaknya saat ini dan ketika mencari tahu jawaban yang ingin diketahui, melihat pergerakan dari sosok gadis yang menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala.
Ia tadi mendengar suara lirih Anindya, sehingga membuatnya membuka mata dan ingin memastikan sesuatu yang tertangkap otaknya. Hingga ia seketika mengembuskan napas kasar begitu melihat Anindya membuka mata dan buru-buru menarik diri begitu menyadari posisi mereka yang sangat intim.
"Tuan Aaron! Apa yang Anda lakukan?" teriak Zea yang saat ini merasa sangat terkejut begitu membuka mata, yang dipeluk bukanlah guling, melainkan sebuah guling hidup yang tak lain adalah pria yang sangat dipuja-puja.
'Apa aku sudah gila memeluk erat tuan Aaron semalaman karena berpikir adalah sebuah guling? Jadi, dari semalam aku memeluknya? Bagaimana bisa?' gumam Anindya yang saat ini merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukannya.
Hingga ia pun bisa melihat guling yang semalam berada di tengah-tengah ternyata jatuh di lantai sebelah kanan ia tidur. Ia pun seketika menunjuk ke arah guling yang tergolek di atas lantai.
"Kenapa gulingnya ada di bawah?" Zea bahkan berteriak saat merasa terkejut, sama sekali tidak ditanggapi oleh pria yang sangat santai dan baru beranjak dari posisi telentang.
"Tuan Aaron, kenapa malah diam saja seperti itu? Jelaskan padaku bagaimana bisa kita tidur seperti tadi?" Zea yang mencoba untuk menormalkan perasaannya kala menatap pria yang malah terlihat sangat memesona ketika bangun tidur.
'Ya ampun, bahkan saat bangun tidur pun, tuan Aaron terlihat tampan. Pantas saja aku sangat tergila-gila padanya,' gumam Zea yang saat ini menelan saliva dengan kasar begitu pria dengan bibir tebal itu membuka suara.
"Memangnya aku harus menjawab apa? Aku di depan tidak tahu dan sama terkejutnya dengan dirimu. Bagaimana bisa kita berpelukan dan guling itu jatuh di sebelahmu? Jangan-jangan, kamu yang sengaja membuangnya agar bisa memelukku," ujar Aaron dengan tatapan mengintimidasi dan membuatnya menatap tajam sosok gadis yang dari tadi menuduhnya.
Zea seketika membulatkan mata begitu mendapatkan sebuah tuduhan tidak berdasar. Apalagi ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, tapi malah dituduh macam-macam.
"Tuan Aaron, jika sekali Anda menuduhku seolah aku adalah wanita tidak benar. Aku bahkan benar-benar sangat terkejut saat bangun tadi. Apa Anda tahu bahwa lidah lebih tajam daripada pedang?" seru Zea saat ini merasa kesal pada pria yang baru saja menuduh hal konyol padanya.
"Bahkan dalam pikiranku sama sekali tidak pernah terbersit niat untuk mencari keuntungan memeluk atau membuang guling itu. Bisa-bisanya malah dituduh seolah aku sengaja ingin menggoda." Zea yang merasa sangat kesal, turun dari ranjang dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Tanpa menoleh ke arah belakang, ia berniat untuk segera membersihkan diri dan pergi dari penginapan untuk kembali ke Jakarta sendiri. Meskipun ia belum tahu naik apa, tetap saja merasa sangat kesal dan tidak ingin bersama dengan pria yang telah menuduhnya.
To be continued...