Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Pulang saja



Selama dalam perjalanan menuju ke rumah, Aaron sengaja mengendarai motor dengan kecepatan sedang karena ia tahu jika gadis yang duduk di belakang benar-benar mengantuk begitu menyandarkan tubuhnya serta menaruh dagu di pundaknya.


Seperti sekarang, ia saat ini tengah menahan Anindya dengan memegangi tangan yang dari tadi melingkar di perutnya.


"Dasar tukang tidur. Bisa-bisanya dia tidur saat naik motor. Jika jatuh bagaimana?" Aaron yang sesekali memegangi tangan Anindya, saat menarik kopling melepaskan pegangannya.


Karena merasa sangat khawatir pada gadis yang benar-benar tertidur itu, sehingga memilih untuk menepikan kendaraan. Ia pun mengambil ponsel miliknya dan menghubungi nomor sahabatnya.


"Daripada si bocil ini jatuh dari motor, lebih baik naik mobil saja. Aku akan meminjam mobil Sandy karena ini masih dekat dari rumahnya daripada menyuruh supir dari rumah yang cukup jauh." Aaron kini langsung menggeser tombol hijau ke atas begitu mendengar suara bariton dari Sandy.


"Halo, Bro. Apa ada yang terlupa?" tanya Sandy dari seberang telpon sambil memicingkan mata karena merasa sangat heran ketika sahabatnya menghubungi.


Apalagi tadi pergi dengan sikap menyebalkan dan sempat membuatnya merasa kesal.


Sementara itu, Aaron yang saat ini masih memegangi pergelangan tangan yang sudah merosot ke bawah karena Anindya tidak lagi kuat memeluknya menandakan jika gadis itu benar-benar tertidur pulas.


"Jemput aku di dekat lampu merah ketiga dari rumahmu. Anindya benar-benar mengantuk dan saat ini tertidur pulas seperti mayat. Aku tidak ingin mengambil resiko jika sampai ia jatuh dan kembali mengalami kecelakaan."


Aaron ragu apakah sahabatnya mau membantu saat tadi meninggalkan kesan buruk ketika pulang. Jadi, masih menunggu apakah Sandy bersedia datang membawa mobil dan menyuruhnya membawa motor sport miliknya pulang.


Ia sengaja tidak melakukan hal itu karena yakin jika sahabatnya tidak akan mau datang saat mengatakan yang sebenarnya. Jadi, berencana mengatakan jika sahabatnya sudah tiba nanti.


"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang?" sahut Sandy yang tanpa pikir panjang langsung mematikan sambungan telpon dan mengambil kunci mobil miliknya di laci dan keluar dari ruangan kamar menuju ke garasi.


Sementara itu di sisi lain, Aaron merasa sangat lega karena Sandy tanpa ragu menuruti perintahnya dan tidak kesal padanya. "Pasti ia mau karena ingin bertemu dengan si bocil ini."


Aaron yang saat ini memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku jaket, kini mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di mana jalan raya besar itu penuh dengan lalu lalang kendaraan yang melintas.


Hanya lampu-lampu jalan yang gemerlap menghiasi jalanan. Tadi ia berhenti di area yang cukup luas untuk parkir agar tidak menggangu lalu lalang kendaraan.


Kini, ia menundukkan kepalanya menatap ke arah telapak tangan gadis yang benar-benar tertidur pulas dengan bersandar pada tubuhnya.


"Bisa-bisanya ia tidur seperti mayat dan tidak sadar tidur di mana. Apa ia pikir tubuhku ini adalah ranjang nyaman untuknya?" Aaron masih sibuk mengumpat, tapi ia makin mengeratkan tangannya untuk membuat gadis itu memeluknya karena khawatir jika terjatuh.


Sambil menunggu kedatangan sahabatnya, Aaron kini mengingat tentang hasil tes tadi. Hingga ia pun kini memikirkan sesuatu.


'Anindya bisa dititipkan di universitas yang pemiliknya adalah teman baik papa. Jadi, akan masuk lewat jalur koneksi tanpa mengikuti prosedur layaknya,' gumam Aaron yang kini merasakan pergerakan dari gadis yang dari tadi digenggam erat tangannya agar terus memeluk perutnya.


Zea yang tadinya bergerak karena merasa kepalanya sangat pegal dan tengah menggeliat hingga hampir terhuyung ke samping kanan.


Hingga ia terkejut mendengar suara bariton dari pria yang ternyata adalah Aaron. Kemudian seketika melepaskan helm yang dipakainya.


"Tuan Aaron, maafkan aku. Astaga! Bisa-bisanya aku tertidur di motor. Tuan Aaron pasti berhenti di pinggir jalan karena aku." Zea bahkan tadi langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat sedang berada di mana.


Hingga ia pun menepuk jidat berkali-kali karena merutuki kebodohannya dan merasa sangat malu pada pria yang diam-diam disukai tersebut.


Karena Aaron tidak bisa melihat sosok gadis di belakangnya, kini bergerak turun dari motor dan menatap tajam Anindya.


"Bagaimana ikut Sunmori jika kamu saja tukang tidur seperti ini. Bisa-bisa nanti malah kamu jatuh ke jurang karena asyik tertidur," sarkas Aaron yang kini mengarahkan tatapan mengintimidasi.


Hingga ia pun kini melihat mobil berhenti tepat di depan motornya dan mengetahui jika itu adalah sahabatnya.


"Akhirnya dia datang juga." Aaron kini melihat Sandy keluar dari mobil dan berjalan mendekat.


Sementara itu, Zea yang tadinya ingin kembali meminta maaf, kini mengurungkan niat begitu mengetahui


kedatangan pria yang dipanggil pak guru tadi.


"Pak guru?"


"Untungnya aku tidak terlambat dan kalian masih di sini." Sandy kini menyentil kening gadis yang masih berada di atas motor. "Dasar putri tidur! Aku sengaja datang karena ingin mengantarmu pulang daripada jatuh jika naik motor dalam posisi tertidur.


Aaron yang tadinya ingin membantah karena bukan itu maksud ia meminta sahabatnya datang, tapi tidak jadi melakukannya karena berpikir jika itu hanya membuat hubungannya renggang karena dianggap memanfaatkan.


'Aku tidak ingin gara-gara si bocil ini membuat kami bersitegang. Biar Sandy mengantar Anindya dengan mobil saja seperti pemikirannya,' gumam Aaron yang kini tersenyum pada sahabatnya.


"Si bocil ini memang putri tidur. Makanya aku ingin kamu mengantarnya ke rumah. Aku akan naik motor saja." Kemudian beralih menatap ke arah gadis yang dari tadi masih duduk santai di atas motornya.


"Cepat turun dan naik mobil!" Aaron berpura-pura bersikap kesal. Padahal ia sebenarnya tidak suka akan naik motor sendiri, sedangkan sahabatnya akan berduaan dengan Anindya.


Ia tahu jika Sandy belum punya kekasih, tapi tetap tidak setuju jika sahabatnya itu mendekati Anindya. Entah apa yang menyebabkan ia tidak setuju, belum diketahuinya.


Hanya saja, ia tidak ingin Anindya yang tengah amnesia terluka karena cinta. Hingga ia pun mendengar jawaban konyol dari Anindya yang bahkan tidak pernah dipikirannya.


"Aku tidak mau pulang dengan pak guru karena tetap akan naik motor seperti tadi. Lagipula aku sudah tidak mengantuk lagi." Anindya kini menunjukkan matanya yang berkedip beberapa kali.


"Lihat mataku yang jernih ini, kan Pak Guru? Aku sudah tidak mengantuk dan tidak akan lagi tertidur di motor atau pun jatuh. Jadi, tenang saja dan tidak perlu mengkhawatirkanku."


"Jadi, Pak Guru pulang saja, ya?" Zea bahkan tersenyum simpul saat mengibaskan tangan karena tidak ingin pria itu tersinggung karenanya.


To be continued...