
Khayra yang merasa sangat terkejut sekaligus kecewa karena pria yang berada di hadapannya kini seperti tengah melamarnya. Padahal ia menginginkan sesuatu yang lebih seperti di film-film yang ia tonton dan tentu saja merasa jika impiannya tidak terwujud.
Padahal ia sangat berharap banyak pada sosok pria yang terlihat masih menunggu jawabannya, tapi malah membuatnya kesal. Ia kali ini ingin sekali memukul pria itu untuk kesekian kali, tapi tidak mau menunjukkannya.
"Tahu aaah!" sarkasnya dengan raut wajah kesal dan berbalik badan serta buru-buru meninggalkan pria yang baru saja melamarnya dengan biasa.
Ia tidak ingin memperlihatkan kekecewaannya, sehingga memilih segera kabur dari hadapan pria itu dengan membuka pintu di hadapannya.
Saat merasa kesal dengan apa yang dilakukan Aaron, tapi tidak bisa mengungkapkannya karena harus menyembunyikan perasaan sebenarnya, melihat sosok pria paruh baya yang ternyata masih menunggu di depan ruangan sambil berbicara dengan sang investor.
Ia tadinya berpikir jika wanita itu sudah kembali ke ruangan dan akan bertemu lagi di restoran untuk makan siang karena memang jadwalnya mereka akan makan bersama-sama.
Namun, begitu melihat jika wanita hebat tersebut ternyata masih berada di sana dengan berbincang serius bersama dengan asistennya, benar-benar merasa tidak enak dan berjalan perlahan mendekati mereka.
"Nona Maribell? Saya pikir Anda sudah kembali ke kamar. Maafkan saya karena membuat Anda menunggu terlalu lama." Ia seketika membungkuk hormat untuk menyatakan maaf karena benar-benar merasa sungkan serta tidak enak pada wanita itu.
Bahkan di saat bersamaan juga mendengar suara bariton dari pria yang membuatnya kesal dan hanya bisa diam tanpa berkomentar apapun.
"Nona Maribell? Maaf karena membuat Anda terlalu lama menunggu. Tadi saya benar-benar kewalahan menghadapi calon istri yang merajuk dan susah dibujuk." Aaron saat ini sengaja ingin menggoda Anindya di depan semua orang agar semakin sadar jika ia benar-benar serius dan tidak main-main dengan lamarannya barusan.
Ia tadi merasa terkejut ketika tiba-tiba gadis itu malah pergi darinya tanpa mengucapkan sepatah ataupun, sehingga semakin bingung dan membuatnya tidak bisa lagi berpikir harus bagaimana menaklukkan Anindya agar menerima lamarannya.
Meskipun pada kenyataannya ia tidak akan menyerah karena tetap akan melaksanakan rencana ketiga untuk melamar Anindya secara resmi karena memang cincin yang sudah disiapkannya tertinggal di kamar hotel, jadi terpaksa harus ditunda.
Maribell yang tadinya sibuk berbincang serius dengan pria paruh baya di hadapannya, kini merasa heran melihat dua orang yang menurutnya sangat konyol karena berpikir ia dari tadi menunggu mereka.
"Aku sama sekali tidak menunggu kalian karena sekarang sedang membicarakan tentang tuan Candra Kusuma. Jadi, kalian bebas berbicara di dalam sana seharian penuh atau satu minggu sekalian," sarkas Maribell yang baru saja memberikan saran pada pria di hadapannya tersebut mengenai perawatan yang dilakukan oleh pria yang sudah dianggap sebagai kakeknya sendiri.
Kemudian beralih menatap pria paruh baya tersebut. "Katakan semua pada cucunya. Siapa tahu menerima saran dariku." Ia pun manusia perutnya yang kini sudah terdengar cacing-cacing meminta jatah.
"Sepertinya perut memang tidak bisa ditipu saat jatah harus diberikan. Kita ke restoran sekarang!" sahut Maribell yang saat ini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah lift.
Sementara itu, Aaron dan Anindya yang seketika bersitatap karena melihat sikap sini dari wanita itu sudah kembali dan membuat mereka sebenarnya sangat kesal.
Namun, saat ini hanya diam memaklumi serta berjalan mengekor wanita yang baru saja masuk ke dalam lift dan disusul oleh mereka.
Semua orang yang berada di dalam ruangan kotak besi tersebut diam dengan pikirannya masing-masing dan hanya ada Daru napas yang terdengar memenuhi lift saat ini.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar bunyi denting lif yang menandakan pintu akan segera terbuka. Hingga beberapa saat kemudian mereka berjalan keluar menuju ke arah restoran yang ada di hotel dan berada di lantai 2.
Maribell yang memang sudah booking salah satu private room agar bisa menikmati makan siang dengan tenang tanpa terganggu, kini melangkah masuk ke dalam dan menoleh ke arah tiga orang tersebut sebelum mendirikan tubuhnya di kursi yang tersedia dan disambut oleh beberapa staf restoran.
"Kalian makan siangnya. Aku tidak tahu kalian suka apa karena pasti berbeda dengan seleraku." Kemudian langsung membuka buku menu dan memeriksa apa yang ingin ia makan siang ini.
Sementara itu, Aaron yang tadinya tidak langsung duduk karena ingin melihat Anindya duduk di mana, sehingga begitu gadis itu mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi, sehingga ia memilih di sebelahnya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan? Ikut-ikutan saja!" kesal Khayra yang saat ini meluapkan kekesalannya karena risi melihat sikap Aaron yang seperti mengekor apapun yang dilakukannya.
Ia merasa sangat tidak nyaman dengan yang dilakukan pria itu karena malu dilihat oleh sang investor dan khawatir akan kembali diejek habis-habisan.
"Biarin!" seru Aaron tanpa menatap ke arah gadis itu ketika menjawab karena saat ini tengah membuka buku menu dan memilih makanan yang ingin ia nikmati siang ini.
Padahal sebenarnya ingin makan menu yang sama dengan Anindya dan sekarang hanya berpura-pura memilih.
'Woman memang sangat sulit dipahami. Aku harus menjadi peramal yang mengetahui apa yang diinginkannya,' gumam Aaron yang sibuk memikirkan keinginan wanita itu.
Sebenarnya Maribell dari tadi melihat pasangan tersebut masih bertengkar, tapi berpura-pura tidak tahu karena sebenarnya sudah mendengar garis besar cerita mereka dari sang asisten.
Ia tadi merasa tertarik ketika melihat sikap Aaron pada Khayra, sehingga untuk pertama kalinya ingin tahu percintaan orang lain dan akhirnya bertanya pada pria paruh baya tersebut.
Hingga ia mengetahui garis besar yang terjadi dan ingin melihat sampai di mana hubungan mereka karena dulu pernah mengalami hal serupa dan berakhir dengan perpisahan.
'Tuan Candra Kusuma, cucu Anda benar-benar adalah seorang gadis yang sangat pintar dan dengan mudahnya mengambil hatiku untuk mau berinvestasi di perusahaan seperti biasa.'
'Anda harus segera sembuh agar bisa melihat kebahagiaan cucu yang saat ini tengah dikejar dikejar oleh pria yang terlihat sangat mencintainya dan pasti akan membahagiakannya,' gumam Maribell yang kini langsung menyebutkan pesanannya pada waiters di sebelah kirinya.
Sementara itu, Aaron saat ini dihampiri oleh waiters bertanya tentang menu yang diinginkannya. Refleks ia menuju ke arah Anindya agar lebih dahulu ditanyakan pesanannya dan berpura-pura memilih.
"Aku perlu menemukan makanan yang ingin kunikmati," ucapnya masih menatap ke arah buku menu di hadapannya.
Sementara itu, Khayra yang seolah sudah tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Aaron, kini refleks langsung menginjak kaki pria itu untuk meluapkan kekesalannya.
Kemudian mulai menyebutkan menu yang tadi serasa membuat liur menetes. Menu dengan bahan utama daging kalkun yang dibumbui dengan banyak rempah yang membuatnya ingin menikmatinya, sedangkan minumnya memilih yang bisa membakar lemak, yaitu greentea dan terakhir menyebutkan menu untuk desert.
"Sudah, itu saja, Nona?" tanya sang pelayan yang kembali menyebutkan satu persatu pesanan.
Khayra saat ini langsung menganggukkan kepala untuk membenarkan dan melirik sekilas ke arah Aaron yang baru saja berbicara.
"Aaah ... aku sudah menemukan apa yang ingin kumakan." Aaron ini menatap ke arah pelayan wanita berseragam hitam tersebut.
"Iya, Tuan." Pelayan bersiap untuk mencatatnya dan seketika mengerutkan kening begitu mendengarnya.
"Menu yang sama dengan calon istriku saja karena kami selalu sehati dalam hal apapun." Aaron sebenarnya tidak suka dengan teh hijau, tapi karena ingin mengikuti apapun yang dilakukan oleh Anindya, sehingga berusaha untuk menyukainya mulai sekarang.
"Menyebalkan!" lirih Khayra yang saat ini meluapkan kekesalannya. Namun, ia seketika membulatkan mata ketika mendengar suara nada protes dari pria yang malah terkesan mempermalukannya.
"Astaga, sakit, Baby. Kenapa dari tadi asik menginjak kakiku. Sebenarnya apa salah dan dosaku padamu?" Aaron sengaja memanfaatkan momen bersama dengan gadis itu untuk menyerang kelemahan, saat ada sang asisten serta investor tersebut.
Ia yakin jika gadis itu tidak akan mengulanginya lagi karena merasa malu di depan pria wanita tersebut, sehingga menggodanya habis-habisan agar tidak lagi berani melakukan sesuatu padanya.
"Sudah diam!" sarkas Khayra dengan memberikan kode jari telunjuk di dekat bibir agar tidak berisik dan membuat mood sang investor buruk.
Hingga ia mendengar suara bariton dari sang asisten yang kini berbicara padanya dan membuatnya merasa terkejut.
"Nona, Tuan Candra pernah menitipkan sesuatu pada saya dan katanya harus diberikan saat Anda menemukan pasangan. Tapi saat ini tidak saya bawa karena berada di apartemen. Jika saya mengetahui jika hari ini Anda menemukan pasangan, pasti akan membawanya dan langsung memberikan." Sang asisten saat ini mengambil ponsel miliknya dan menunjukkan foto dari galeri.
Ia pun menyerahkan ponselnya agar dilihat oleh gadis itu untuk menunjukkan sesuatu yang dititipkan oleh atasannya dulu sebelum mengalami koma.
Khayra saat ini bisa melihat surat dengan amplop berwarna putih. Di sana terlihat di bagian paling depan tertulis 'untuk cucuku yang akan menikah' dan seketika membuatnya berkaca-kaca.
"Om ... kapan kakek memberikan ini?" tanya Khayra dengan berkaca-kaca.
Ia bahkan merasa sangat bersedih ketika membaca bagian depan amplop tersebut. Hingga ia saat ini terdiam ketika merasakan pelukan hangat dari pria yang sudah memberikan ketenangan untuknya.
"Sudah, Baby. Jangan sedih dan doakan saja yang terbaik untuk kakek," ucap Aaron yang tidak tega melihat Anindya berbicara dengan suara serak dan bergetar karena bersedih mengingat sosok sang kakek yang masih belum sadar juga sampai sekarang.
Ia kita akan merasa tertarik dengan penjelasan dari sang asisten tersebut.
"Kira-kira satu bulan yang lalu, Nona. Mungkin saat itu tuan Kusuma sudah mempunyai feeling jika keadaannya tidak akan baik-baik saja. Makanya menulis surat untuk Anda dan menyuruh saya menyerahkan jika sudah menentukan tambatan hati," ucap sama asisten yang saat ini merasa yakin jika sebentar lagi gadis itu akan menikah.
Ia ikut merasa senang karena akan ada yang menjaga gadis malang yang ditinggal pergi keluarga ketika masih berusia muda. "Saya akan memberikan pada Anda setelah berada di Jakarta nanti."
Khayra sebenarnya ingin membantah jika ia akan menikah karena masih belum berpikir ke arah sana dan juga belum melihat keseriusan Aaron melamar seperti yang diinginkannya.
Namun, saat ini hanya fokus pada niat sang kakek yang sengaja menuliskan surat untuknya ketika sudah menemukan pasangan hidup.
"Kakek akan sembuh dan surat itu tidak akan berguna bagiku," ucapnya ketika mengungkapkan kekecewaan.
Hingga ia seketika menoleh ke arah sang investor saat mendengar sesuatu yang dulu pernah ia pikirkan.
"Jika kau ingin kakekmu sembuh, dirawat di rumah sakit terbaik yang ada di sini karena memiliki peralatan canggih. Biar aku yang nanti sering datang mengunjunginya karena berada di sini. Kau sibuk mengurus perusahaan, kan? Jadi, datang ke sini bisa dua minggu sekali atau satu bulan sekali."
Awalnya Maribell tidak ingin menawarkan hal itu karena tadi sudah membicarakannya dengan sang asisten. Ia berharap pria itu menjelaskan sendiri pada Khayra, tapi ketika melihat raut wajah penuh kesedihan, sehingga membuatnya mengungkapkan pemikirannya.
Khayra saat ini menoleh ke arah sosok wanita yang cukup jauh darinya. Ia memang dulu sempat berpikir seperti itu, tapi khawatir tidak ada yang bisa menjaga sang kakek kecuali pelayan di rumah.
Hingga ia merasa sangat terkejut ketika sang investor menawarkan sesuatu dan sama sekali tidak keberatan untuk menjaga kakeknya. Ia merasa sangat aneh dan ingin mengetahui apa yang ada di pikiran wanita itu.
"Nona, Anda bersedia menjenguk kakek? Kenapa Anda sangat peduli pada kakekku? Anda tidak berniat untuk merebutnya dariku karena menyayanginya, kan?" Ia yang hanya memiliki satu keluarga yang tersisa, merasa takut jika wanita itu membuatnya kehilangan sang kakek jika nanti direbut oleh sang investor.
Apalagi ia mengetahui jika wanita itu sangat menyayangi kakeknya dari dulu, sehingga berpikir wajar jika ia dipenuhi oleh kekhawatiran.
Hingga suara tawa dari sang investor menggema di private room tersebut. Namun, tetap saja ia merasa khawatir dan tidak memperdulikan tanggapan wanita tersebut yang mungkin berpikir jika ia tengah berbicara konyol.
"Astaga! Apa kamu pikir, kakekmu adalah mainan yang bisa ku rebut kapan saja?" Maribell Xavia saat ini merasa terhibur melihat sikap polos dari gadis yang memiliki usia jauh lebih muda darinya tersebut.
Sementara itu, Aaron yang saat ini menyetujui ide dari sang investor, kini mengusap lembut lengan dibalik pakaian formal yang dikenakan oleh Anindya.
"Sepertinya itu adalah jalan yang terbaik untuk kakek dan kamu harus mengambil keputusan. Apalagi sama sekali tidak ada perkembangan ketika dirawat di Jakarta. Mungkin jika dirawat dengan alat-alat canggih yang berada di sini dan juga dokter yang lebih berpengalaman, kakek bisa sembuh. Bukankah itu jauh lebih baik?" Aaron saat ini merasa senang karena Anindya sudah tidak bersikap sinis lagi padanya seperti tadi.
Berpikir jika itu semua karena sebuah surat dan membuatnya bisa sedekat itu dengan gadis yang ingin ia nikahi secepatnya.
'Terima kasih, kek karena berkat surat yang kamu tuliskan pada Anindya, dia sekarang tidak arogan dan dingin padaku. Semoga suatu saat nanti kakek sadar dan bisa melihat kamu menikah,' gumam Aaron yang saat ini menunggu dengan sabar keputusan dari Anindya.
Ia bahkan akan membantu proses kepindahan sang kakek jika gadis itu setuju.
Khayra yang saat ini merasa bingung karena dia tidak akan bisa setiap hari melihat sang kakek ketika pulang kerja, tapi ketika berpikir jika itu demi kebaikan, sehingga kali ini mengambil keputusan yang dianggap jauh lebih baik.
"Baiklah. Aku akan memindahkan kakek untuk dirawat di sini," ucap Khayra yang saat ini berharap keputusannya benar dan bisa melihat sang kakek kembali sembuh seperti sedia kala.
"Terima kasih karena mau repot menjaga kakek saya, Nona Maribell." Ia saat ini tidak menyangka jika wanita arogan seperti itu peduli pada kakeknya.
Ia berharap jika suatu saat nanti bisa berkumpul kembali dengan sang kakek yang sembuh dari penyakitnya.
"Aku sangat kesepian di New York karena hidup sendirian di sini. Jadi, tuan Candra Kusuma akan menghilangkan kesepianku dengan cara merawatnya di sini. Aku pun tidak terlalu sibuk seperti dirimu," ucapnya yang saat ini menghentikan pembicaraan karena pelayan yang membawa makanan sudah datang.
"Terima kasih, Nona," ucap Khayra yang saat ini benar-benar merasa beruntung bisa bertemu dengan wanita sebaik itu.
Aaron pun saat ini melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Anindya dan tidak menyangka jika ternyata wanita arogan tersebut juga masih memiliki hati.
'Aku pikir hatinya telah mati, ternyata hanya orang-orang tertentu yang bisa mengetuk nuraninya dan salah satunya adalah tuan Candra Kusuma yang sangat luar biasa karena bisa menaklukkan wanita arogan sepertinya,' gumam Aaron yang kini melihat pesanannya datang dan sudah dihidangkan di hadapannya.
To be continued...