Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Semoga mau memaafkan



Beberapa saat lalu, Aaron dan Erick menunggu di lobby Perusahaan Kusuma dengan tanpa membuka suara. Keduanya memang duduk bersebelahan, tapi yang terjadi adalah sibuk sendiri dengan pemikiran masing-masing.


Detik berhenti menit dan jam membuat Erick merasa sangat bosan. Namun, masih mencoba untuk menahan diri dengan scrol medsos.


Di sisi lain, Aaron yang memilih untuk mengirimkan pesan pada sang ibu, mengatakan jika ia saat ini hampir bisa menemui Zea. Meskipun tidak tahu berapa lama lagi pastinya. Hingga sang ibu menelpon dan memberikan banyak nasihat untuk meluluhkan hati seorang Zea yang telah diperkosanya satu tahun lalu.


Hingga saat beberapa menit ia berbicara di telpon dengan sang ibu, melihat Erick bangkit berdiri dari sofa. Awalnya ia berpikir jika Erick akan pergi ke toilet atau sekedar jalan-jalan di sekitar lobby, tapi merasa sangat terkejut dan membulatkan mata.


Akhirnya ia mengakhiri panggilan telpon pada sang ibu karena berniat untuk menghentikan kegilaan Erick yang menurutnya telah berbuat hal memalukan.


"Erick, hentikan! Apa kau sudah gila?" sarkas Aaron yang saat ini menahan lengan kekar Erick sambil menatapnya tajam. Ia khawatir jika nama baik Zea dipertaruhkan karena perbuatan ceroboh Erick yang tidak sabaran ingin segera bertemu.


Sementara itu, Erick yang benar-benar sangat bosan karena terlalu lama menunggu, akhirnya hanya memiliki ide untuk berteriak dengan memanggil seperti biasa. Berharap semua orang tahu jika ia adalah kekasih cucu pemilik perusahaan yang merupakan salah satu konglomerat di Surabaya tersebut.


Namun, saat dihentikan oleh Aaron, sama sekali tidak perduli. Ia hanya menatap sinis pada pria yang merupakan saingannya dari awal.


"Harusnya kau berterima kasih padaku karena sebentar lagi bisa menemui Zea tanpa menunggu lama," ejeknya dengan kembali tersenyum sinis.


"Dasar bodoh! Perbuatanmu ini bisa ...." Aaron tidak bisa melanjutkan perkataannya karena mendengar suara bariton dari pria berbadan besar.


"Apa yang Anda lakukan, Tuan? Perbuatan Anda sangat meresahkan dan membuat ketidaknyamanan di perusahaan ini. Berhenti atau saya harus membawa paksa Anda keluar dari perusahaan!" sarkas security yang kini sudah memegang lengan kekar pria jauh lebih muda darinya tersebut.


"Kau lihat itu? Ini semua karena ulahmu, Erick! Aku sama sekali tidak membuat keributan, jadi kau saja yang keluar!" Kemudian beralih menatap ke arah security. "Bawa saja dia karena membuat ulah sendiri."


"Jika kau mengusirku dari sini, pasti akan dipecat dari perusahaan ini. Apa kau tahu aku siapa? Aku ini adalah ...." Erick yang tadinya sama sekali tidak takut pada siapa pun, tidak melanjutkan perkataannya saat mendengar suara dari resepsionis dan membuatnya tersenyum menyeringai.


"Tuan Dery menyuruh untuk membawa tuan-tuan itu ke ruangan presdir. Tolong antarkan sekarang." Resepsionis yang baru saja melapor, mendengar perintah dan tentu saja berpikir jika pria muda yang berteriak-teriak itu adalah kekasih dari presdir perusahaan yang baru memimpin hari ini.


"Nah, kan! Benar apa kataku. Lebih baik cepat bawa aku ke sana," ucap Erick yang saat ini tengah tersenyum menyeringai pada Aaron. "Kau tidak perlu ikut karena meragukan kemampuan seorang Erick!"


Kemudian melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lift setelah security meminta maaf padanya dan mempersilakan untuk ikut.


Aaron yang saat ini tengah kesal pada Erick, makin bertambah besar begitu melihat kesombongan pria yang jauh lebih muda darinya tersebut. Namun, ia tidak ingin menanggapi dan hanya berjalan mengekor tanpa memperdulikan apapun.


Satu-satunya yang ia pikirkan hanyalah ingin sosok gadis yang dicintainya menyadari ketulusannya untuk bertanggungjawab.


'Zea, semoga ia mau memaafkan semua kesalahanku padanya,' gumam Aaron yang kini sudah berada dalam lift menuju ke lantai 10.


To be continued...