
"Ada apa, Pa? Sepertinya serius," ucap Aaron yang saat ini tengah menatap ke arah sang ayah yang duduk di hadapannya.
Sementara itu, Jonathan yang sebenarnya merasa tidak enak mengatakan hal di pikirannya pada putranya, kini berdehem sejenak untuk memberikan sebuah jeda sebelum memulai pembicaraan serius.
Ia memang sudah membicarakan tentang hal yang ingin disampaikan pada sang istri dan sudah disetujui, sehingga berpikir mendapatkan lampu hijau saat wanita yang sangat dicintainya tersebut tidak marah.
"Aaron, kamu sudah tahu jika Anindya akan tinggal bersama kita sampai ingatannya kembali, bukan? Bahkan kamu bisa melihat respon mamamu yang menjadi orang pertama paling menyukai momen ini."
Aaron hanya mengangguk perlahan dan kembali memasang telinga lebar-lebar. Ia tidak ingin ada yang terlewatkan dari penjelasan sang ayah. Meskipun sebenarnya ia tidak suka dengan rasa sayang mamanya yang berlebih pada gadis itu.
"Mama menyuruhmu untuk menganggap Anindya sebagai adik perempuan dan kamu sudah setuju. Namun, dibalik itu, pada faktanya adalah Anindya sama sekali tidak punya hubungan darah denganmu. Jadi, pesan Papa adah kamu jangan sampai berbuat macam-macam pada Anindya."
Akhirnya Jonathan meloloskan kalimat yang dari tadi menggangunya. Ia bahkan bisa melihat respon dari putranya saat ini menganggap bahwa pemikirannya sangat konyol dan ia memakluminya.
Tentu saja Aaron seketika tertawa terbahak-bahak mendengar hal yang bahkan tidak pernah sekalipun terpikirkan olehnya.
Jika ia berpikir bahwa sikap sang ibu sangat berlebihan saat mengungkapkan rasa sayang pada orang asing, sedangkan di sisi lain adalah sang ayah seolah membuat hal yang sama dengan memikirkan perbuatannya.
Tentu saja ia saat ini seketika tertawa terbahak-bahak karena berpikir jika sang ayah seolah menegaskan bahwa ia adalah seorang pria hidung belang. Padahal sampai sekarang, ia masih perjaka tulen.
"Papa ... Papa, bisa-bisanya berpikir aku akan berbuat hal buruk pada gadis itu. Memangnya Papa menganggap aku adalah seorang pria mesum? Aku benar-benar kecewa pada Papa!"
Merasa terhina karena diremehkan oleh sang ayah, akhirnya Aaron yang merasa sangat kesal bangkit berdiri dari sofa dan berniat untuk pergi dan beristirahat di kamar. Namun, ia mendengar suara bariton dari sang ayah.
"Tunggu, Aaron! Kamu jangan salah paham pada Papa. Sebenarnya Papa mengatakan ini bukan tidak percaya padamu, tapi karena khawatir jika pria dan wanita yang tinggal dalam satu rumah, lama-kelamaan mempunyai rasa."
Jonathan bahkan bangkit berdiri dan berjalan mendekati putranya sambil menepuk pundak. "Papa bisa berbicara seperti ini karena lebih banyak makan asam garam kehidupan dan tahu bagaimana sejatinya seorang pria."
"Aaron, jangan marah pada papamu yang hanya ingin menasihati. Semua orang tua itu tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan mereka setiap hari selalu dihantui pertanyaan macam-macam mengenai anak-anaknya."
Jenny sebenarnya ingin menambahkan contoh, tapi berpikir putranya malah akan bertambah mual mendengarnya. "Yang terpenting di sini adalah tugas kami sebagai orang tua untuk mengingatkan sudah dilakukan."
Jonathan hanya diam dan sama sekali tidak berniat untuk melawan perkataan sang ibu meskipun sebenarnya sangat kesal saat diragukan oleh orang tua sendiri.
"Jadi, sekarang tugasku untuk menjadi anak yang baik, kan? Bahkan saat ini aku berjanji atas nama orang tuaku, bahwa aku sama sekali tidak akan pernah tertarik pada Anindya dan akan menganggapnya seperti saudara sendiri."
Bahkan agar terlihat meyakinkan, Aaron mengarahkan tangannya ke atas seperti membuat sebuah janji. Kemudian menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Apa sekarang kalian puas?" tanya Aaron sebelum kembali ke ruangan kamarnya.
"Seandainya kamu melanggarnya, apa hukumannya?" sahut Jenny yang ingin menguraikan suasana penuh ketegangan di antara mereka.
Meskipun ia hanya bercanda karena sangat mempercayai putranya dan sangat yakin jika Aaron tidak akan pernah mengingkari janji. Apalagi beberapa minggu lagi putranya akan menikahi sang kekasih yang dicintai.
"Aku akan kehilangan wanita yang kucintai dan hidup menderita jika sampai mengingkari janjiku, Ma. Mama dan Papa harusnya bisa membandingkan bahwa Anindya dan calon istriku tidaklah sebanding."
Kemudian Aaron yang merasa kesal pada orang tuanya, kini berjalan menuju ke arah anak tangga sambil mengumpat.
'Mana bisa calon istriku dibandingkan dengan anak-anak seperti Anindya. Mama dan Papa benar-benar sangat konyol pemikirannya,' umpat Aaron yang saat ini baru tiba di lantai dua dan melewati depan ruangan kamar anggota baru di rumahnya.
'Gara-gara kau, orang tuaku bahkan tidak mempercayaiku. Aku berharap kau segera bisa mengingat masa lalumu dan keluar dari rumahku!' gumam Aaron yang saat ini membuka pintu kamarnya karena berjarak dua ruangan.
To be continued...