Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menyatukan bibirnya



Khayra yang tadinya bersiap untuk pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, mendengar dering ponsel miliknya berbunyi. Ia yang saat ini melihat kepala pelayan menghubungi dan membuatnya mengerutkan kening karena mengetahui jika pasti ada sesuatu hal yang terjadi.


Apalagi selama ini kepada pelayan tidak pernah menghubunginya jika tidak ada hal yang perlu disampaikan. Jadi, sekarang merasa penasaran apa lagi yang terjadi di rumah. 'Apa putraku menangis meskipun sudah memiliki terapis?'


Ia yang saat ini hanya bisa mengemukakan pertanyaan di dalam hati karena memang belum berniat untuk menceritakan pada sosok pria yang masih terlihat duduk di atas sofa. Niatnya adalah memberitahu setelah tiba di rumah, agar Erick melihat sendiri putranya, jadi tidak perlu menjelaskan panjang lebar.


Kemudian ia menggeser tombol hijau ke atas dan mendengarkan kepala pelayan berbicara.


"Halo, Nona. Ada sesuatu hal yang terjadi dan melibatkan rekan dari terapis dan baby sitter." Kemudian menjelaskan semua yang terjadi hari ini, yang menurutnya hanyalah sebuah kesalahpahaman semata dan berpuncak dari baby sitter yang merupakan putri dari temannya.


Bahkan ia merasa sangat bersalah pada majikannya tersebut karena wanita yang direkomendasikan malah membuat masalah. Bahkan meskipun sudah menasehati dan memarahi, tapi tidak membuat wanita itu menyadari kesalahan Karena tetap berpikiran jika rekan dari terapis tersebut adalah seorang wanita murahan yang suka menggoda pria.


Padahal ia yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, bisa mengetahui jika wanita paruh baya tersebut sepertinya benar-benar tulus menyayangi sang terapis.


Bahkan sebenarnya sempat merasa aneh karena melihat wajah dari dua orang itu seperti mirip layaknya ibu dan anak, tapi berpikir jika itu tidak mungkin dan mempercayai perkataan pria tersebut jika merupakan rekannya, sehingga tidak berpikiran macam-macam.


"Jadi, seperti itu ceritanya, Nona. Tolong Anda yang mengambil keputusan karena saya tidak berhak melakukannya. Apalagi saya merasa tidak enak pada wanita paruh baya tersebut yang jelas terlihat sangat baik dan tidak mencurigakan seperti wanita penggoda yang dituduhkan."


Khayra yang saat ini memijat pelipis karena merasa pusing menghadapi masalah di rumah. Bahkan menghadapi masalahnya sendiri saja sudah membuatnya lelah dan kini ditambah dengan hal sepele yang sangat tidak masuk akal.


Namun, ia berusaha untuk bersikap bijak dan tidak marah-marah seperti layaknya anak kecil karena hanya mengandalkan emosi, Khayra saat ini menjawab dengan singkat. "Sebentar lagi aku akan tiba di rumah, Bik. Jangan biarkan mereka pulang terlebih dahulu karena aku yang akan berbicara sendiri dengan mereka."


"Baik, Nyonya. Kalau begitu, hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai di rumah," sahut kepala pelayan yang kini mematikan sambungan telepon setelah majikannya melakukannya terlebih dahulu.


Saat ini, Khayra bangkit berdiri dari posisinya dan melihat Erick berjalan mendekat dan tentu saja seperti biasa, merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Apa ada masalah di rumah? Sepertinya sangat serius karena wajahmu berubah seperti itu begitu mendapatkan telepon." Erick yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian pada sosok wanita yang duduk di balik meja kerjanya, merasa ada yang tidak beres begitu mendengar pembicaraan di telepon.


Khayra saat ini mengangguk lemas karena hari ini benar-benar sangat terkuras otaknya saat memeriksa banyak dokumen penting yang harus dipelajari serta ditandatangani. Ia mengambil tas kerja miliknya dan berjalan keluar bersama dengan Erick.


"Hanya masalah kecil saja," ucap Khayra yang saat ini memberikan kunci mobil miliknya agar Erick yang mengemudikan mobil kendaraan. "Aku benar-benar sangat lelah hari ini, jadi kamu yang menyetir."


Erick yang saat ini langsung menerima kunci mobil dari tangan Zea, merasa sangat tiba melihat wajah kusut wanita di sebelahnya tersebut. "Kerja menguras otak jauh lebih capek, ya daripada kerja dengan otot yang malah sehat karena mengeluarkan keringat."


"Ya, kamu benar. Memang kelihatannya tidak mengeluarkan tenaga dan berada di tempat yang bersih serta nyaman karena ber-ac, tapi ternyata jauh lebih menguras tenaga karena otak terkuras habis. Aku hari ini banyak memeriksa beberapa dokumen untuk mempelajari tentang sistem di perusahaan kakekku, jadi sekarang sangat capek."


Ia segera masuk ke dalam mobil begitu melihat Erick yang sudah membukakan pintu untuknya dan bersandar di punggung jok untuk menyamankan diri.


Sementara itu, Erick yang baru saja duduk di balik kemudi, kini tidak langsung menyalakan mesin mobil dan bergeser mendekati sosok gadis di sebelahnya. "Menghadaplah ke sini!"


Khayra yang saat ini masih merasa nyaman duduk sambil bersandar, kini menoleh ke arah Erick sambil mengerutkan kening. "Ada apa? Memangnya kamu mau ngapain?"


"Aku ingin menghilangkan rasa capekmu," ujar Erick yang saat ini tengah menatap ke arah Zea dan melambaikan tangannya agar segera patuh padanya.


"Issh ... siapa yang mau macam-macam? Memangnya kamu pikir aku mau ngapain? Dasar mesum?" Erick ini menyentil kening gadis di sebelahnya yang mengerutkan bibir dan membuatnya merasa gemas.


Khayra refleks saat ini meringis menahan rasa nyeri pada keningnya. Ia benar-benar sangat kesal karena mendapatkan hukuman dari Erick ketika berpikir macam-macam. Sebenarnya ia tadi khawatir jika Erick tiba-tiba melakukan hal yang sama dengan Aaron, jadi lebih waspada dan sangat berhati-hati agar tidak terjadi apa yang ditakutkannya.


"Sakit, Erick! Makanya kasih tahu aku apa yang akan kamu lakukan! Jangan buat aku berpikir macam-macam karena para laki-laki semua sama," rengut Khayra yang saat ini mengingat ciuman dari Aaron dan membuat degup jantungnya berdebar kencang.


Bahkan dari tadi tidak bisa melupakan apa yang dilakukan oleh pria itu karena selalu saja mengingat momen intim yang terjadi di antara mereka dan membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali karena sangat menikmatinya.


Ia benar-benar seperti tidak punya muka lagi di hadapan Aaron. Ingin membuat pria itu tidak muncul lagi di hadapannya, tapi malah membuatnya menjadi tidak menentu. Sampai pada akhirnya membuat ia terlihat sangat lemah dan tidak bisa mengontrol perasaannya pada pria itu.


Erick yang saat ini masih menatap ke arah Zea, berusaha untuk membuat gadis itu patuh padanya. "Aku hanya ingin memijat kepalamu sebentar agar tidak membuatmu pusing. Otakmu ini butuh relaksasi sebentar, jadi aku akan melakukan refleksi pada kepalamu."


Khayra sebenarnya merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Erick, tapi ia benar-benar sangat kesal ketika saat ini kedua sisi wajahnya ditahan dengan tangan pria itu.


"Erick, lepaskan!" Ia yang saat ini masih bersandar pada punggung jok mobil, kini terpaksa mengangkat tubuhnya dan menghadap ke arah pria yang sudah memaksa untuk mengikuti perintah.


"Makanya nurut!" sarkas Erick yang saat ini tengah menahan kedua sisi wajah gadis di hadapannya dan membuatnya terkekeh geli.


Kemudian ia mulai melakukan pijatan lembut dengan jari-jarinya pada bagian pelipis untuk membuat gadis itu merasa nyaman dan tidak mengeluh capek ataupun pusing lagi seperti beberapa saat yang lalu.


"Bagaimana, enak?" tanya Erick yang saat ini menatap ke arah gadis dengan memejamkan kedua mata tersebut.


Ia bahkan saat ini berpikir jika wajah imut itu benar-benar membuatnya tidak bisa mengalihkan perhatian.


"Ehm ... iya, nyaman ternyata pijatanmu." Khayra saat ini memilih untuk memejamkan mata agar bisa menikmati apa yang dilakukan Erick.


Bahwa tangan dengan buku-buku kuat Erick berhasil membuatnya merasa sangat nyaman, sehingga membiarkan pria itu mengirimkan relaksasi yang membuatnya rileks.


Erick saat ini masih fokus memijat sambil menatap ke arah gadis yang memiliki wajah sangat menggemaskan tersebut. Ia bahkan bisa menatap setiap pahatan sempurna di hadapannya dan membuatnya makin mengagumi sosok wanita yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta.


Bahkan sampai tidak bisa mengatakan apapun karena fokus menatap ke arah setiap sudut wajah cantik Zea. 'Seandainya mudah mendapatkan hatimu, aku pasti adalah seorang pria yang paling bahagia di dunia ini, Zea.'


'Sayangnya semua itu sangatlah sulit dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan hatimu. Apa hebatnya Aaron yang selalu mendapatkan tempat di hatimu?' gumam Erick yang saat ini memijat serta menatap kelopak mata yang masih tertutup tersebut.


Hingga tatapannya berhenti pada bagian bibir sensual berwarna merah jambu yang membuatnya menelan saliva dengan kasar ketika berpikir bisa menyentuh dan menyatukan bibirnya.


'Astaga! Jauhkan ini dari pikiranku? Aku tidak boleh melakukannya,' gumam Erick yang saat ini berusaha untuk menahan diri agar tidak menghambur membungkam bibir yang tepat berada di hadapannya tersebut.


Namun, ia tidak bisa mengendalikan diri dan seketika melepaskan pijatan dari kepala dan mendekatkan wajah untuk bisa menyatukan bibirnya.


To be continued...