
Keluarga besar Aaron ini sudah tiba di rumah dengan perasaan berkecamuk dan dipenuhi oleh kekhawatiran memikirkan keadaan pengantin pria yang pergi dari rumah. Bahkan saat ini Jonathan sangat marah pada security yang dianggap tidak berguna karena tidak bisa menghentikan putranya pergi dari rumah.
Namun, ia dihentikan oleh sang istri karena mengerti seperti apa putranya yang mempunyai watak sangat keras ketika menginginkan sesuatu.
Jennifer saat ini menahan tangan sang suami yang hendak memukul security. "Sudahlah, Pa. Security sama sekali tidak bersalah karena Aaron sudah berpesan untuk menyampaikan pada kita jika ia akan baik-baik saja dan butuh waktu untuk menenangkan diri."
Meskipun di dalam hati berkecamuk dan tidak tenang memikirkan putranya saat ini yang patah hati karena ulah calon istri yang kabur di hari pernikahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jennifer berusaha untuk tegar demi keluarganya agar tidak berantakan.
"Berikan waktu untuk putra kita menenangkan diri karena perbuatan Jasmine benar-benar sangat keterlaluan. Aku yakin jika putra kita akan baik-baik saja setelah menenangkan diri di suatu tempat selama beberapa hari ke depan. Kita tunggu saja kabar dari putra kita."
Ia tahu bagaimana perasaan putranya serta sang suami yang tadi membubarkan semua orang dengan mengumumkan bahwa pernikahan dibatalkan karena mempelai wanita tiba-tiba menghilang tanpa pesan saat acara akad nikah akan dimulai.
Namun, berusaha untuk tegar demi bisa menghibur putra dan suaminya yang mengalami beban mental sangat besar akibat kejadian hari ini.
Di sisi lain, Jonathan akui bahwa apa yang dikatakan oleh sang istri benar, aja tidak bisa membuang rasa khawatir pada putranya. "Semoga Aaron benar-benar baik-baik saja di suatu tempat."
"Aku tahu bahwa ia sangat mencintai Jasmine seorang karena selama ini tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Jadi, pasti saat ini benar-benar terpuruk dengan kejadian hari ini." Jonathan mengempaskan tubuhnya di sofa karena merasa tubuhnya lunglai begitu memikirkan kejadian hari ini yang tidak pernah ada dalam benaknya.
"Wanita itu benar-benar sangat keterlaluan. Aku tidak akan pernah memaafkan keluarga mereka serta Jasmine yang telah membuat putraku hancur hari ini." Jonathan berniat untuk membalas dendam dengan menghancurkan perusahaan keluarga Jasmine.
Deru napas memburu terdengar jelas mewakili apa yang dirasakannya ketika mengingat calon besan yang tidak jadi menjalin hubungan dengan keluarganya karena hanya meninggalkan rasa malu teramat sangat.
"Lihat saja nanti, perusahaan keluarga Jasmine akan hancur dan aku akan membuat Jasmine mengemis di kaki putraku," sarkas Jonathan yang saat ini benar-benar sangat murka mengingat Jasmine yang pergi meninggalkan putranya tepat saat acara ijab qobul akan dilakukan.
Saat ini, Jennifer tidak mau menanggapi kemurkaan sang suami karena memang sedang dipenuhi oleh luapan emosi. Jadi, membiarkan pria yang sudah lebih dari 30 tahun bersamanya tersebut meluapkan semua yang dirasakan agar bisa lebih tenang.
Ia saat ini menatap ke arah Anindya yang sibuk dengan ponselnya karena berusaha untuk menghubungi Aaron. "Apa ponsel Aaron belum aktif juga, Anindya?"
Zea yang dari tadi sangat mengkhawatirkan keadaan Aaron, sudah bolak-balik menghubungi nomor yang tidak aktif itu dan berharap pria yang disukainya mengaktifkan walau hanya beberapa detik saja.
Namun, semuanya tidak seperti yang diharapkan karena Aaron sama sekali tidak menyalakan ponselnya. Ia kini menatap ke arah wanita paruh baya di hadapannya.
"Tuan Aaron sepertinya benar-benar ingin menenangkan diri tanpa diganggu oleh siapapun, Nyonya. Padahal aku berharap jika tuan Aaron menyalakan ponselnya sebentar saja agar mengetahui lokasinya dari GPS."
Zea berpikir bahwa zaman yang semakin canggih bisa membuat semua orang dengan mudah mengetahui lokasi keberadaan orang hanya dengan mengecek GPS di ponsel. Ia dulu pernah melakukannya dengan salah satu sahabatnya yang merupakan putri dari polisi.
Zea bahkan diberitahu bagaimana caranya mencari lokasi seseorang hanya berdasarkan GPS di ponsel. Namun, ia hanya berteman dengan sahabatnya tersebut 1 tahun karena pindah ke luar kota saat sang ayah profesi sebagai polisi dipindah tugaskan.
Perkataan dari Zea membuat Jonathan seketika tersadar akan sesuatu. "Kamu benar, Anindya. Karena aku dikuasai oleh kemurkaan pada Jasmine dan juga kekhawatiran pada putraku, sehingga melupakan hal sepenting itu."
Kemudian ia menatap ke arah Anindya yang saat ini dipeluk oleh sang istri saat meluapkan perasaan khawatir pada putranya.
"Anindya, terima kasih karena telah membuat kami sadar agar lebih tenang menghadapi sesuatu. Bahkan kami memiliki ahli IT di perusahaan, merupakan hal sepenting itu dan sibuk dengan kebencian serta kekhawatiran pada Aaron."
Jennifer bahkan berurai air mata ketika mengingat wajah putranya yang murah dan juga dipenuhi oleh angkara murka begitu mengetahui Jasmine kabur. Kini, ia melepaskan pelukannya pada Anindya dan menatap gadis itu.
"Tidak perlu berterima kasih pada hal sepele itu, Nyonya Jenny. Saya bisa paham bagaimana perasaan orang tua saat putranya mengalami hal sebesar ini. Nanti saat lokasi tuan Aaron ditemukan, aku ingin ikut menjemputnya karena benar-benar khawatir." Zea bahkan saat ini memikirkan sesuatu hal yang berhubungan dengan Aaron.
Ia ingin mencari sebuah jawaban mengenai Aaron pergi ke mana. Saat mengetahui bahwa pria yang disukainya tersebut naik motor dan tidak memilih mobil, berpikir jika pria itu mungkin menenangkan pikiran dengan cara touring dan membuatnya mengingat saat melakukan Sunmori.
'Apakah tuan Aaron melakukan sunmori di puncak? Aku sangat yakin jika ia ingin menenangkan diri dengan touring, tapi ada banyak tempat yang bisa dikunjungi. Mungkin saja puncak yang dulu dikunjungi bersama dengan Erick, atau tempat lainnya.'
Kini, Anindya menatap ke arah sosok wanita yang ada di hadapannya. "Nyonya, apa Anda tahu beberapa tempat yang merupakan favorit tuan Aaron untuk Sunmori?"
Karena selama ini tidak pernah mengurusi hobi putranya yang suka touring, Jennifer menyesal karena tidak pernah bertanya. Ia berpikir jika hobi putranya hanyalah untuk menghilangkan kebosanan ketika memimpin perusahaan dan membiarkan berbuat sesuka hati.
Namun, hari ini baru menyadari kesalahannya yang tidak pernah bertanya mengenai tempat-tempat favorit putranya saat melakukan touring bersama dengan beberapa teman-teman yang lain.
"Sekarang aku baru sadar, bukanlah seorang ibu yang baik untuk putraku karena tidak mengetahui tempat-tempat favorit yang dikunjunginya saat touring." Saat Jennifer baru saja menutup mulut, berjenggit kaget mendengar suara bariton dari sang suami.
"Jangan suka menyalahkan diri sendiri hanya karena masalah yang dibuat oleh wanita sialan itu. Di sini, yang bersalah adalah Jasmine, bukan kita. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu hanya karena tidak tahu tempat favorit Aaron."
"Karena kita tahu bahwa putra kita bukanlah anak kecil lagi yang perlu ditanya mengenai tempat favoritnya. Mungkin jika Aaron masih anak kecil, sudah wajar jika sering bertanya mengenai hal-hal kecil seperti itu, tapi terasa aneh jika melakukannya ketika putra kita bahkan sudah dewasa," sarkas Jonathan yang saat ini berusaha untuk menyadarkan sang istri.
Zea membenarkan perkataan dari pria paruh baya tersebut bahwa menyalahkan diri sendiri bukanlah sebuah hal yang benar. Apalagi semua ini merupakan kesalahan dari sosok wanita yang dianggapnya tidak punya perasaan, yaitu Jasmine.
"Sekarang kita fokus saja untuk mencari keberadaan tuan Aaron tanpa menyalahkan siapapun selain nona Jasmine." Zea bahkan saat ini ingin sekali menarik rambut panjang wanita yang sangat dicintai Aaron.
Bahkan selalu mengingat pujian dari Aaron pada wanita itu dan membuatnya selalu merasa iri sekaligus emosi saat ini. "Jika aku bertemu dengan nona Jasmine, pasti akan langsung menarik rambutnya agar rontok dan botak."
"Aku ingin menamparnya berkali-kali!" sarkas Jennifer yang saat ini sangat marah ketika mengingat wanita yang dari dulu tidak pernah disukainya.
Sementara itu, Jonathan yang tidak berniat untuk melakukan cara kekerasan seperti dua wanita berbeda usia tersebut, kini hanya mengepalkan tangannya.
'Kita lihat saja ke depannya. Bagaimana dia memohon di kaki putraku saat perusahaan orang tuanya hancur. Jasmine akan membayar perbuatannya pada putraku dengan berlutut di bawah kakinya,' lirih Jonathan yang saat ini tengah memikirkan sesuatu untuk membuat perusahaan orang tua Jasmine jatuh ke tangannya.
To be continued...