Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Bantu aku



"Cepat turun! Kita sudah sampai di teko sahabatku!" sahut Aaron yang saat ini tengah menatap ke arah sosok gadis yang duduk di belakang dari tadi memeluk erat saat ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.


Bahkan saat ini ia merasa sesak karena tangan dengan jemari lentik itu sangat kuat memeluknya selama setengah jam perjalanan menuju ke rumah keluarga sahabat baiknya.


Refleks Zea langsung melepaskan tangannya yang dari tadi melingkar pada perut sixpack pria yang dari tadi mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.


Bahkan ia tadi sangat takut ketika motor sport itu melaju dengan beberapa kali mendahului kendaraan yang melintas. Hingga ia pun sempat berpikir jika sampai motor kehilangan keseimbangan, yang terjadi adalah kemungkinan besar nyawanya melayang.


Kini, ia turun dari motor dengan berpegangan pada kedua sisi pundak pria yang masih belum turun karena menunggunya.


"Maaf, Tuan Aaron. Saya tadi benar-benar sangat takut karena Anda melajukan kendaraan sangat kencang seperti punya beberapa nyawa saja. Bahkan jantungku dari tadi berdegup kencang melebihi batas wajar." Zea bahkan masih memegangi dadanya.


Ia melihat pria yang baru saja turun dari motor itu hanya terkekeh melihatnya dan tentu saja membuatnya merasa sangat kesal karena ketakutannya sama sekali tidak dianggap serius.


"Tenang saja karena aku tidak akan membuatmu celaka. Lagipula aku sebentar lagi akan menikah. Mana mungkin mati saat beberapa hari lagi merasa menjadi seorang pria sempurna setelah melepas masa lajang." Aaron bahkan kini langsung menyentil kening gadis belia dengan bibir mengerucut di hadapannya.


Tanpa memperdulikan reaksi Anindya, kini ia berjalan meninggalkannya menuju ke arah pintu utama tanpa menoleh ke arah belakang. Ia tahu jika saat ini Anindya kesal saat ia menyentil kening saat gadis itu sibuk menormalkan perasaan yang dilanda ketakutan.


Hingga ia pun tidak perlu mengetuk pintu karena sahabatnya sendiri yang membukanya dan seketika ia langsung menepuk lengan kekar pria di hadapannya.


"Selamat datang, calon pengantin," ucap pria bernama Sandy Putra yang kini langsung mengulurkan tangan, tapi dibalas dengan sebuah tinju ringan dari sahabatnya.


Hingga ia bisa melihat sosok wanita dengan postur tubuh mungil tengah berjalan mendekat dan bisa ditebaknya jika itu adalah seseorang yang tadi disampaikan oleh Aaron.


Sandy ingin memastikan sesuatu karena tidak ingin salah sasaran dan mendapatkan kekesalan sahabatnya yang diketahuinya sangat arogan.


"Apa itu gadis yang kamu maksud tadi?" tanya Sandy yang kini tidak berhenti mengamati gadis mungil yang semakin mendekat dan bisa mendengar suaranya saat mengungkapkan nada protes.


"Tuan Aaron! Anda benar-benar sangat keterlaluan! Jangan selalu menjadikan keningku sebagai sasaran. Aku tidak tahan lagi jika terus menahan rasa nyeri akibat perbuatan usil Anda." Zea yang masih memegangi keningnya karena rasa panas masih dirasakan.


Hingga ia menyadari sikapnya sangat tidak sopan begitu beralih menatap ke arah sosok pria yang ada di sebelah Aaron. Refleks ia langsung membungkuk hormat untuk memberikan salam.


"Selamat malam, Tuan." Zea bahkan masih belum menaikkan pandangan karena berpikir jika apa yang baru saja dilakukannya sangat tidak sopan.


Hingga ia kembali merasa kesal karena merasa jika perkataan bernada penyesalan malah tidak dianggap.


Aaron sama sekali tidak memperdulikan Anindya karena kini beralih menatap ke arah sahabatnya. Ia mempunyai harapan besar pada sahabatnya untuk menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan.


"Tolong bantu aku untuk mengetesnya karena aku ingin tahu, sebenarnya sekolah apa dia. SMP atau SMA atau ia . SD putus sekolah karena terhalang biaya, atau yang lain." Aaron yang saat ini bisa melihat Anindya merasa bingung, sama sekali tidak perduli.


Apalagi saat ini satu-satunya hal yang membuatnya penasaran adalah tentang laki-laki yang berpikir jika Anindya adalah alumni dari SMA 1.


To be continued...