
Khaysila yang saat ini sudah berada di dalam ruangan ICU dan menunggu sang kakek sadar, terdiam di tempatnya. Tadi ia menyuruh asisten pribadi sang kakek mengurus semuanya di Rumah Sakit dan semua hal yang berhubungan dengan perusahaan.
Jadi, saat ini ia sendirian berada di Rumah Sakit. Meskipun ada supir yang saat ini masih setia menunggu di luar. Hingga ia pun kini membuka suara lirih setelah menggenggam erat telapak tangan sang kakek.
Bahkan bulir air mata sudah jatuh membasahi pipinya yang putih. "Kakek harus bangun. Bukankah Kakek sudah berjanji padaku bahwa kita akan selalu bersama dalam waktu yang cukup lama?"
"Bahkan Kenzie baru lahir ke dunia dan membutuhkanmu. Aku tidak bisa membesarkannya sendirian tanpa Kakek." Laura membiarkan wajahnya sembab dan suaranya benar-benar serak karena menahan kesedihan luar biasa atas apa yang terjadi hari ini.
Ia sama sekali tidak menyangka jika hari dimana jati dirinya diungkapkan pada staf perusahaan malah menjadi hari paling menyedihkan untuknya. Bahkan saat ini ia mengingat komentar yang tadi dibacanya.
"Pria berengsek itu berbicara omong kosong setelah tahu jika aku adalah pewaris utama keluarga Kusuma. Jadi ini yang membuat semua orang gila dan rela melakukan apapun demi uang? Sampai-sampai dia bilang aku membuatnya gila." Ia seketika tertawa miris saat merasa jika apa yang dikatakan oleh Aaron adalah sebuah omong kosong belaka.
Ia pun kini mengusap kasar bulir air mata yang menghiasi wajahnya dan masih tidak mengalihkan perhatian dari sang kakek. "Aku berjanji pada Kakek, akan menjadi Khaysila yang tangguh dan tidak mudah diremehkan."
"Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba untuk menyingkirkanku. Bahkan aku tidak akan pernah melupakan perbuatan pria itu padaku dulu. Aku tidak akan menjadi wanita lemah hanya karena pernah mencintainya."
"Akan kutunjukkan jika aku bukanlah Anindya atau pun Zea yang lugu. Aku adalah Khaysila—cucu Candra Kusuma yang sangat hebat dan dihormati oleh banyak orang." Kemudian ia pun mengirimkan pesan pada asisten pribadi sang kakek mengenai laporan perusahaan pada bulan terakhir.
Meskipun kondisinya yang hamil dulu, ia fokus belajar mata kuliah serta tentang perusahaan dan membuatnya mengerti tentang banyak hal. Begitu pesannya dibalas oleh sang asisten sang kakek, ia mengerjapkan mata begitu ponselnya berdering.
Di sana, ada panggilan dari kontak Erick. Ia memang dulu sudah menyimpan kontak Erick, tapi tidak pernah menghubunginya. Jadi, langsung tahu jika yang menghubungi adalah Erick.
"Dari mana Erick tahu kontakku?" Karena tidak ingin penasaran dengan pertanyaan di pikirannya, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton yang masih sama seperti satu tahun lalu.
"Ayang!" teriak Erick dari seberang telpon begitu rasa lega sekaligus bahagia dirasakan karena ia sangat khawatir jika gadis yang sekarang merupakan cucu konglomerat itu tidak mau kenal lagi dengannya.
"Erick? Dari mana ...." Zea tidak bisa melanjutkan perkataannya kala dipotong oleh Erick yang berbicara panjang kali lebar.
"Ayang, ini benar nomormu kan? Aku melakukan segala cara untuk bisa mendapatkannya. Kenapa kamu sangat kejam padaku dengan tidak mengabariku apapun tentangmu? Apa kamu lupa dengan janjimu padaku bahwa kamu menganggapku teman? Lalu kenapa kamu merahasiakan semuanya dariku?" ujar Erick yang meluapkan semua perasaan membuncah di hatinya.
To be continued...