Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tidak memiliki akal



Aaron beserta sang ibu serta gadis di sebelahnya tersebut makan dengan sesekali berbincang mengenai hal-hal kecil yang berhubungan dengan kehidupan.


Mulai dari pekerjaan, tentang sesuatu yang disukai Anindya, serta masa lalu dari wanita paruh baya tersebut.


Mereka bahkan selalu ada topik untuk dibicarakan dan tidak merasa bosan saat menghabiskan waktu untuk menikmati makanan di restoran favorit keluarga mereka.


"Sayang sekali papa tidak bisa datang karena ada pertemuan dengan temannya," sahut Jenny yang merasa ada sesuatu yang kurang di antara mereka hari ini karena tidak bisa makan siang bersama seperti sebelumnya.


Apalagi biasanya selalu makan siang bersama di rumah pada hari Minggu karena semua libur, tapi hari ini kebetulan salah satu teman dari suaminya datang dari luar negeri dan mengajak bertemu untuk membicarakan bisnis.


Aaron yang baru saja menyuapkan makanan ke dalam mulut, kini mengunyah perlahan dan menatap ke arah sang ibu yang terlihat seperti kecewa berlebihan.


"Jika kerjasama papa dengan temannya yang mempunyai bisnis di luar negeri sukses, yang merasakan untungnya juga Mama. Jadi, tidak masalah papa sekali-sekali tidak makan bersama dengan kita pada hari Minggu."


Kemudian Aaron meraih minuman dan meneguknya, tapi seketika tersedak saat diejek oleh sang ibu.


"Oh ... jadi cuma Mama yang merasakan keuntungan dari kerja keras papamu? Sementara kamu tidak? Padahal kamu mengambil banyak uang dari rekening untuk membiayai pernikahan dengan Jasmine. Bahkan menjadi pria berlagak yang sok kaya dengan melarang pihak perempuan untuk mengeluarkan sepeserpun uang."


Jenny kini bertepuk tangan karena berhasil menyindir putranya yang dianggap sangat berlebihan saat mencintai Jasmine.


Ia sebenarnya tidak setuju ketika putranya menanggung semua biaya pernikahan dan pastinya merogoh kocek sangat besar.


Meskipun ia tahu bahwa semua itu menggunakan uang putranya dan merupakan hasil kerja keras setelah membantu sang ayah memimpin perusahaan, tetap saja berpikir bahwa hal seperti itu sangatlah berlebihan.


Bahwa pernikahan itu terjadi antara pihak wanita dan pihak laki-laki yang menyatukan dua keluarga dan pastinya tidak mungkin hanya pihak laki-laki yang mengeluarkan uang.


Apalagi biasanya mayoritas pihak perempuan lah yang sering mengadakan pesta pernikahan besar-besaran dan pastinya akan membutuhkan banyak uang, sedangkan pihak pria hanya menyumbang sebagian saja, bukan menanggung semuanya seperti yang dilakukan oleh putranya.


Ia sempat membahas itu dengan sang suami agar berbicara dengan putranya, tapi tidak mendapatkan dukungan karena mengetahui seperti apa Aaron ketika memiliki sebuah keinginan.


Bahwa putranya tidak akan pernah bisa dihentikan ketika menginginkan sesuatu. Jadi, dilarang oleh sang suami untuk berkomentar apapun mengenai sesuatu yang sudah dirancang oleh Aaron mengenai pernikahan dengan wanita yang sangat dipuja-puja.


Aaron yang merasa sangat tertampar dengan perkataan dari sang ibu, kini merasakan panas pada tenggorokannya. Air minum yang sudah membasahi tenggorokannya, sedikit melegakan rasa panas yang dirasakan.


Hingga ia merasakan tepukan dari belakang dan melihat gadis di sebelahnya tengah menepuk-nepuk punggungnya seperti seorang anak kecil yang tersedak.


Namun, ia seketika menurunkan tangannya begitu melihat tatapan tajam dari iris berkilat itu. Seolah tidak suka dengan perbuatannya yang menepuk-nepuk punggung pria itu.


Karena tidak ingin mendapatkan kemurkaan, seketika Zea langsung menurunkan tangannya dan melanjutkan ritual makan sambil mengumpat di dalam hati.


'Dasar pria arogan yang sangat menyebalkan. Awas saja, kualat nanti karena berani pada anak yatim piatu sepertiku. Apalagi doa anak yatim sangat diijabah oleh Tuhan,' gumam Zea yang saat ini benar-benar sangat kesal melihat wajah arogan pria di sebelahnya.


'Aku doakan pernikahanmu gagal, baru tahu rasa. Aku akan bertepuk tangan jika itu benar-benar terjadi.' Zea berbicara asal karena tidak bisa menahan diri untuk tidak marah ketika selalu saja mendapatkan sikap kasar dari Aaron saat ia berniat baik pada pria itu.


Aaron saat ini menatap ke arah sang ibu dan membuatnya berbicara singkat. "Aku selama ini bekerja keras membantu papa memimpin perusahaan dan mempunyai tabungan yang bisa aku gunakan untuk apa saja, Ma."


"Lagipula aku bukannya sok atau berlagak menjadi pria paling kaya dengan menanggung semua biaya di pihak perempuan. Tapi itu semua kulakukan demi menunjukkan sebuah bukti ketulusan serta rasa cintaku pada Jasmine."


Jenny tidak berkomentar lagi karena ia memilih untuk melanjutkan menikmati makanannya. Ia sangat tahu bahwa putranya tergila-gila pada Jasmine dan tidak akan pernah bisa dikalahkan.


Jadi, membiarkan putranya berbuat sesuka hati tanpa berkomentar lagi karena yakin tidak akan ada ujungnya perdebatan mereka mengenai Jasmine.


"Iya ... iya, terserah kamu saja karena yang menjalani adalah kamu sendiri. Kamu akan mengerti nanti setelah menjalani biduk pernikahan dengan Jasmine. Karena pernikahan tidak melulu tentang cinta dan kamu akan mengerti setelah hidup bersama."


Kemudian Jenny mengambil lobster dan menaruhnya di piring Anindya. "Makan yang banyak biar cepat besar dan bisa menikah seperti Aaron. Mama sangat penasaran dengan calon suamimu nanti seperti apa."


Zea hanya tersenyum simpul dan menikmati makanannya. Ia bahkan tidak ada gambaran sama sekali mengenai calon suami karena belum berpikir sampai ke sana.


Apalagi ia mendambakan memiliki calon suami seperti putra wanita itu karena jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi sayangnya harus merelakan perasaannya karena sudah tidak ada lagi harapan untuknya.


"Sebenarnya aku hanya ingin memiliki seorang pria yang memiliki cinta lebih besar dari wanita karena pasti akan meratukannya."


"Maksudmu seperti putraku? Jangan bilang jika kamu ingin memiliki seorang suami seperti pria arogan ini!" ucap Jenny yang saat ini bisa membaca arah pembicaraan dari Anindya.


Apalagi sangat mengetahui bahwa putranya mencintai Jasmine seperti tidak memiliki akal karena melakukan apapun demi wanita itu.


To be continued...