Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Ditemukan oleh takdir



Aaron masih memegang surat dari Anindya dan menatap tulisan tangan yang sangat rapi itu. Ingin sekali ia berteriak saat ini untuk meluapkan perasaan yang membuncah.


Namun, sadar jika semua yang terjadi memang karena kecerobohannya. Embusan napas kasar kini mewakili perasaan kacau balau yang dirasakannya.


"Seandainya aku tidak minum malam itu. Mana mungkin aku sampai kehilangan kendali hingga memperkosa Anindya. Apalagi aku belum berani berbicara dengan orang tuaku tentang perbuatanku yang menyebabkan dia pergi." Aaron saat ini meninju pahanya sendiri saat merutuki kebodohannya.


Ia seolah sangat hafal dengan isi surat dari Anindya. "Semuanya tidak seperti yang terlihat, Anindya. Aku memperkosamu bukan karena patah hati ditinggalkan Jasmine, tapi murni karena kamu dulu berbicara seperti tidak takut aku merenggut kesucianmu."


Aaron kini memijat pelipis karena memikirkan keadaan Anindya saat ini. "Aku harus segera menemukan Anindya dan mengatakan sebenarnya. Jika saat ini Erick mengunjungi Anindya di Jogja, dia tidak akan macam-macam di sana, kan?"


Merasa tidak tenang, Aaron kini langsung mengambil ponsel miliknya di atas dasbor mobil dan mengirimkan pesan suara. "Aku akan membayar empat kali lipat jika kau bisa menemukan Anindya."


Kemudian beralih menghubungi sang ibu dan menceritakan tentang informasi yang didapatkannya. Tentu saja sang ibu awalnya tidak langsung percaya karena Erick membawa kabur Anindya, tapi karena pria itu setiap hari ke kampus.


Namun, pada akhirnya sang ibu tetap kembali mengerti tentang kecurigaannya dan bertanya mengenai sanak saudara yang ada di Jogja.


"Semoga semuanya berjalan lancar dan aku bisa menemukan Anindya." Aaron kini melipat kertas yang merupakan surat gadis itu, dan memasukkan ke dalam dompet miliknya.


"Bisa-bisanya kamu menyuruhku untuk menunggu Jasmine sampai kiamat, Anindya. Padahal aku dan dia sudah tidak ada kaitannya." Aaron kini menyalakan mesin mobil dan langsung mengemudikannya menuju ke rumah keluarga Erick.


Karena saking khawatir dengan keadaan Anindya, ia merasa kecewa kala orang tua Erick sedang keluar negeri dan informasi itu didapatkan dari security.


"Anindya, berikan aku petunjuk. Kira-kira ke mana aku harus pergi? Jogja itu luas, jika tidak punya alamat, mana mungkin aku bisa datang." Ia kini kembali menginjak gas karena saking kesalnya pada sang detektif yang tidak kunjung menghubungi.


Kini, Aaron fokus pada pekerjaan dan berharap bisa melupakan kekhawatiran pada Anindya. "Semoga kamu baik-baik saja di sana, Anindya. Sampai aku tiba di sana untuk menjemputmu, kupastikan akan bertanggungjawab atas perbuatanku padamu."


Kini, Aaron fokus mengemudi dan saat menatap ke arah depan, tidak yakin apa yang dirasakannya saat ini. "Aku berniat untuk menyetujui permintaan dari mama dengan menikahimu, tapi kenapa kamu malah kabur?"


"Seandainya kamu tidak pergi kita sudah menikah dan mungkin akan hidup bahagia. Itu semua karena aku tahu jika kamu sangat mencintaiku," ucapnya dengan percaya diri kala mengingat apa yang dilakukan oleh Anindya menunjukkan memiliki perasaan padanya.


Aaron benar-benar sangat bingung apa yang harus dilakukan jika tidak bisa menemukan wanita yang dicari. "Sabar."


Tentu saja semua keluarga sangat kebingungan dengan kepergiannya yang mendadak, tapi memang semuanya sudah ditentukan oleh takdir dan membuat Aaron kalang kabut sampai sekarang.


To be continued...