Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Nama marga



Pria paruh baya tersebut tengah menimbang-nimbang keputusannya untuk mengatakan atau merahasiakan bahwa dia saat ini mempunyai sebuah kartu nama yang merupakan pemberian dari kakek Zea.


'Kira-kira aku beritahu atau tidak anak muda ini tentang pria paruh baya itu yang merupakan kakek mbak Zea? Tapi takutnya menjadi kesalahan karena sepertinya hanya aku yang mengetahui dan pria tua itu Tengah menyembunyikannya dari umum karena pak RT saja tidak tahu.'


Saat masih sibuk dengan pemikirannya, pria itu kini merasakan sebuah gerakan tangan di depan wajah dan memanggilnya.


"Pak ... Pak?" Aaron saat ini merasa bingung kenapa pria paruh baya di hadapannya tersebut malah melamun dan tidak langsung mengungkapkan jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia ungkapkan.


"Apa Anda tahu tentang kakek Zea?" Aaron sekali lagi bertanya agar segera mengetahui jawaban yang membuatnya berpikir bisa menemukan melalui pria paruh baya tersebut.


'Semoga pria tua ini mengetahui tentang kakek Zea karena hanya informasi darinya yang kubutuhkan. Ia berbicara secara langsung dengan kakeknya Zea yang pastinya bukan orang biasa jika berniat untuk membeli hamparan sawah luas itu,' gumam Aaron yang saat ini berpikir bahwa ia akan mengurungkan niat untuk melaporkan kehilangan jika mengetahui keberadaan saya dan akan langsung berangkat untuk menjemputnya.


Harapannya begitu besar dan tidak mengalihkan perhatian dari pria di hadapannya yang ternyata baru saja menggelengkan kepala.


"Ehm ... sebenarnya aku tengah mengingat-ngingat apakah kemarin pria itu mengatakan tentang tempat tinggalnya. Namun, sepertinya tidak ada penjelasan karena kami sibuk membicarakan mengenai rencananya untuk membangun cluster dari sawah yang kujual." Akhirnya pria paruh baya tersebut tersebut memberikan jawaban.


Ia berpikir bahwa calon suami pasti akan bisa menemukan sesuatu hal yang berhubungan dengan calon istrinya. Tidak hanya itu saja pertimbangannya untuk tidak mengatakan bahwa ia memiliki sebuah kartu nama dari kakek wanita itu.


'Aku tidak berani mengatakannya karena takut melakukan kesalahan dan mendapatkan kemurkaan dari pria yang sepertinya bukan orang sembarangan itu. Jika aku melakukan kesalahan, pasti pria itu tidak jadi membeli sawah ini karena marah padaku. Jadi, lebih baik aku cari aman saja karena hanya kakek mbak Zea yang menjadi satu-satunya harapan bagiku menjual sawah ini.'


Ia yang saat ini baru saja mengungkapkan yang dirasakan di dalam hati, berniat untuk menelpon pria yang memberikan sebuah kartu nama padanya.


Karena tidak ingin dicurigai oleh pria muda itu, ia kini mengatakan sesuatu hal untuk menghibur agar tidak sepenuhnya kecewa karena tidak bisa memberikan sebuah informasi apapun dari sang kakek.


"Begini saja, Mas. Tinggalkan saja nomor telpon, nanti siapa tahu mbak Zea kembali sewaktu-waktu, aku akan mengabarkan." Sebenarnya ia ingin bilang untuk meminta sebuah kartu nama karena berpikir bahwa biasanya orang-orang kaya pasti mempunyai kartu nama seperti yang diberikan oleh kakek tua itu.


Namun, ia tidak ingin dicurigai dan akhirnya malah akan membuatnya dipaksa memberitahu. Jadi, ia berkata seperti itu.


Sementara itu, Aaron saat ini benar-benar sangat kecewa karena tidak bisa mendapatkan apa-apa meskipun pria yang berdiri di hadapannya itu sempat berbicara dengan kakeknya Zea. Dengan wajah murung, ia kini mengeluarkan dompet dari dalam saku belakang dan mengeluarkan sebuah kartu nama.


Kemudian memberikan pada pria itu. "Kalau ada informasi tentang Zea, tolong hubungi saya saja nomor ini." Aaron saat ini tengah menatap ke arah sosok pria paruh baya yang tersenyum padanya.


Ia bahkan saat ini benar-benar putus asa karena tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentang keberadaan gadis yang membuatnya makin merasa bersalah karena tidak bisa bertanggungjawab atas kesalahan yang diperbuatnya.


'Zea, satu-satunya keajaiban yang kuharapkan adalah kamu menghubungiku dan memintaku bertanggungjawab atas perbuatanku yang merenggut kesucianmu secara paksa,' gumam Aaron yang saat ini mendengar suara bariton dari pria yang berpamitan padanya.


"Baiklah. Aku akan menyimpannya dan langsung memberitahu jika ada kabar dari mbak Zea atau kakeknya yang berniat untuk membeli sawah ini. Semoga saja dia mau membelinya, jadi aku bisa bertanya tentang di mana tempat tinggalnya sekalian mengatakan Anda sedang mencarinya." Kemudian ia melangkah ke arah jalanan.


Ia berpura-pura bertanya seperti itu karena terlihat meyakinkan dan tidak ketahuan berbohong bahwa ia tidak tahu apapun tentang kakek dari Zea.


'Yang kulakukan sudah benar, kan? Aku tidak boleh sembarangan memberikan informasi orang lain tanpa persetujuan yang bersangkutan,' gumamnya yang ingin membela diri untuk mencari sebuah pembenaran.


'Nanti aku cari kartu nama kakeknya mbak Zea dulu. Baru menelpon dan bertanya apakah perlu memberi tahu pada pria yang mengaku sebagai calon suami mbak Zea itu.' Ia yang saat ini melihat para pekerja belum menyelesaikan pekerjaan mereka, sehingga memilih duduk di rumput samping menatap hamparan sawah miliknya.


Sementara di tempat berbeda, Aaron yang masih tidak mengalihkan perhatian dari siluet pria paruh baya di seberang jalan, tidak jadi melakukan jogging pagi karena sudah tidak ada mood.


Ia menghembuskan napas kasar, lalu memilih untuk berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Saat membuka kulkas, ia melihat stok sayuran yang masih penuh.


Masih berdiri di depan mesin pendingin tersebut, kini ia tengah memikirkan sesuatu. "Pantas cecunguk itu tidak tahu kepergian Zea karena sepertinya memang tidak direncanakan dan pergi secara mendadak."


"Semua terlihat dari sini." Menatap ke arah freezer yang dipenuhi dengan aneka lauk dan di bawah dipenuhi oleh berbagai macam sayuran yang bisa digunakan untuk stok selama 1 minggu. Zea pasti tidak akan menyimpan sayuran dan bahan untuk lauk jika akan pergi. Pasti kakeknya tiba-tiba datang dan langsung mengajaknya pergi dari Jogja."


Aaron yang tidak tahu dari mana asal kakek Zea, kini mengacak frustasi rambutnya dan beberapa saat kemudian perutnya keroncongan yang menandakan bahwa saat ini sangat lapar karena terbiasa sarapan pagi saat berada di rumah.


"Terpaksa aku harus memasak sendiri agar tidak kelaparan sampai nanti sore karena baru akan pergi ke kantor polisi setelah 24 jam dia menghilang. Tidak apa-apa aku tetap lapor polisi meskipun sudah tahu jika Zea pergi bersama kakeknya. Semoga polisi bisa membantu dan menemukan keberadaan Zea," ucap Aaron yang saat ini mulai bergerak mengambil bahan makanan yang akan dimasak.


Kemudian mulai mencuci beras dan memasaknya di mesin penanak nasi, lalu melanjutkan dengan memotong sayuran dan menunggu udang yang tadi dikeluarkan dari freezer mencair sebelum digoreng.


"Zea, apa kamu melihatnya? Aku saat ini tengah menghabiskan stok makananmu. Memalukan, bukan? Jika kamu kembali padaku, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu dan memperlakukanmu dengan baik." Aaron yang memasak sambil sibuk berbicara sendiri di dapur, merasa sangat kesepian.


Apalagi rumah itu terbilang besar karena memanjang ke belakang dan memiliki dapur cukup luas. Ia baru kali ini merasa sangat kesepian karena pertama kali tinggal di sebuah rumah tanpa adanya orang tua.


"Membayangkan bisa berdua denganmu di dapur ini, pasti sangat menyenangkan, Zea. Semoga secepatnya kamu kembali dan kita menikah karena benar-benar serius padamu." Aaron kini mengeluarkan bulir air mata saat memotong bawang dan membuatnya seketika menutup mata sambil mendongak ke atas.


"Aku tidak menangis, tapi air mataku sangat mewakili perasaanku saat ini." Aaron saat ini berpikir bahwa ia hanyalah seorang pria lemah karena bisa mengeluarkan air mata hanya disebabkan bawang merah.


"Aku hanyalah pria lemah, Zea. Aku pun lemah karena kamu pergi dan tidak bisa hidup tenang semenjak kepergianmu. Siapa sebenarnya nama lengkapmu, Zea? Seandainya aku tahu, mungkin akan bisa dengan mudah mencari keberadaanmu karena biasanya orang kaya mempunyai marga dan aku yakin ada nama belakang dari marga kakekmu."


Aaron yang tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya, kini kembali memasak agar bisa segera sarapan pagi ini.


To be continued...