Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Bentuk kepedulian



"Tuan, ini makanan untuk Anda." Pelayan pria yang kini meletakkan makanan di atas laci.


Aaron yang dari tadi duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang perawatan pria paruh baya yang masih betah menutup kelopak mata tersebut, memicingkan mata karena merasa heran dibawakan makanan tanpa ia meminta.


"Aku tidak memesan makanan."


"Iya, Tuan. Ini tadi saya mendapat telepon dari nona Khaysila untuk membelikan Anda makanan di salah satu restoran yang ada di dekat rumah sakit ini," ucap pelayan pria yang kini berniat untuk pergi, tapi tidak jadi melakukannya ketika pria tersebut kembali bertanya.


Aaron yang seketika merasa senang karena mendapatkan perhatian dari Anindya, kini bangkit berdiri dari kursi dan menahan pakaian pelayan itu. "Apa tadi, majikanmu bertanya apakah aku masih berada di sini?"


Sementara itu, pria yang berbalik badan agar sopan saat menanggapi, seketika menganggukkan kepala untuk membenarkan. "Iya, Tuan. Tadi nona bilang kalau Anda masih belum pulang, menyuruh membelikan makanan untuk berjaga-jaga agar tidak kelaparan. Apa ada yang Anda inginkan sebagai tambahan, Tuan?"


Aaron saat ini berbinar wajahnya karena merasa senang atas perhatian gadis yang terlihat dingin di depannya. Ia kini menggelengkan kepala karena tidak membutuhkan yang lainnya. Berpikir bahwa perhatian Anindya baginya sudah cukup daripada hal lain.


"Bagiku, yang terpenting bukan makanannya, tapi perhatian majikanmu yang sangat baik itu. Oh iya, katakan terima kasih padanya." Sebenarnya Aaron bisa saja meminta nomor ponsel milik Anindya pada pelayan itu.


Namun, ia tidak ingin pelayan tersebut dimarahi ataupun memaksa pria itu untuk memberikannya. Ia semuanya berjalan natural tanpa sebuah paksaan agar Anindya menyadari jika sudah berubah dan tidak arogan dan suka memaksa seperti dulu.


"Baik, Tuan. Jika nanti Nona menelpon, saya akan mengatakannya. Saya tidak berani mengganggu di jam-jam sekarang karena sibuk di rumah." Kemudian ia membungkuk hormat dan berlalu pergi setelah melihat anggukan kepala.


Aaron yang saat ini kembali mendaratkan tubuhnya di atas kursi, tidak berhenti tersenyum seperti orang tidak waras. "Anindya ... Anindya, kamu tidak bisa membohongiku tentang perasaanmu padaku."


"Kamu memang menolak lamaranku dengan menerima Erick, tapi aku yakin jika itu hanyalah sebuah balas dendam untuk membuatku menyesal karena telah menyakitimu. Padahal sebenarnya hatimu masih milikku dan aku akan membuktikan itu suatu hari nanti."


Aaron saat ini beralih menatap ke arah pria paruh baya di hadapannya. Bahkan suara dari monitor yang menopang kehidupan dari kakek Anindya, bagaikan sebuah hal yang menakutkan jika tiba-tiba denyut jantung berhenti.


"Kakek, Anda harus segera bangun untuk merestuiku sebagai suami cucumu. Aku sangat mencintai cucumu dari dulu hingga sekarang. Aku harap Kakek bisa melihat kebahagiaan kami." Aaron saat ini berencana untuk tidur di rumah sakit karena bosan berada di hotel sendirian.


Ia bahkan saat ini menunggu kabar baik dari kepala pelayan mengenai nasibnya menjadi terapis untuk putranya sendiri. Kini, menatap ke arah jam tangan miliknya. "Kira-kira kapan wanita itu memberiku kabar?"


"Apalagi besok Mama ke sini dan ingin menemaniku untuk menemui cucunya dengan menyamar sebagai rekan terapis." Ia bahkan sudah tidak sabar ingin mendengar kabar baik agar bisa bertemu dengan putranya setiap hari.


"Semoga secepatnya aku mendapatkan kabar dari kepala pelayan." Kemudian ia mencoba membuka makanan yang dibelikan oleh pelayan atas perintah Anindya.


Begitu melihat ada makanan utama serta camilan, senyumnya mengembang karena sangat yakin jika itu adalah pilihan Anindya. Bahwa pelayan hanya memberikan sesuai dengan yang majikan perintahkan.


"Bahkan dia sangat perhatian seperti ini. Bukankah ini terlalu banyak untuk dimakan sendiri?" Aaron sebenarnya ingin membagi makanan itu dengan pelayan karena merasa cukup banyak dan tidak bisa dihabiskan sendiri.


Namun, ia berpikir Anindya akan salah paham padanya jika mengetahui membaginya dengan pelayan. "Nanti dia salah paham aku tidak mau memakannya, bisa gawat."


"Lebih baik aku menghabiskannya dengan menikmatinya tiap beberapa jam camilannya nanti." Aaron kini membuka makanan berupa nasi goreng spesial dengan toping lengkap itu.


Ia saat ini mengingat pernah pergi makan di pinggir jalan bersama dengan Anindya dulu ketika berkeliling Jakarta. "Anindya tidak menyukai nasi goreng karena lebih suka bakmie. Sepertinya ia tidak pernah melupakan jika aku lebih menyukai nasi goreng."


Ia pun mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut dan mengunyahnya. Tentu saja aroma khas nasi goreng yang masih hangat tersebut menguar di ruangan perawatan.


Menikmati makanan sambil menatap ke arah pria paruh baya itu sadar jika ia belum meminta izin. "Maafkan aku, Kek karena belum meminta izin untuk makan di sini. Cucumu ini kurang sopan, ya. Mohon memaklumi karena aku terlalu senang mendapatkan perhatian dari cucumu."


Kemudian ia kembali melanjutkan ritual makan nasi goreng sampai habis. Hingga ia menepuk jidat berkali-kali karena merutuki kebodohannya. "Harusnya aku memotretnya tadi dan kutunjukkan pada Erick. Ini sudah habis, jadi tidak bisa memamerkannya."


"Aah ... sudahlah! Sudah terlanjur. Lebih baik merahasiakannya saja agar Erick tidak mengacaukan usahaku untuk merebut hati Anindya. Baiknya menunjukkan jika nanti sudah berhasil saja." Berpikir jika itu jauh lebih baik, kini ia pun mulai mengambil air mineral dan meneguknya.


"Nikmat mana lagi yang Kau dustakan," ucapnya yang kini bersyukur bisa merasakan perhatian Anindya.


Ia bahkan saat ini berpikir ingin setiap hari berada di rumah sakit agar terus mendapatkan perhatian. "Biar mama saja yang menempati kamarku karena aku akan di sini setiap hari. Pulang saat pagi hari saja."


Ia tadinya meminta bantuan sang ayah untuk pekerjaan di kantor, tapi karena ada banyak dokumen yang harus diperiksa, membuatnya harus membantu memeriksa.


Saat Aaron fokus dalam pekerjaannya, sedangkan di tempat lain yang berbeda, sosok wanita yang baru saja selesai belajar, mengantarkan dosen sampai ke depan pintu utama.


Wanita yang tak lain adalah Khaysila, kini melihat dosennya sudah pergi dengan mengendarai mobil berwarna hitam yang baru saja keluar dari pintu gerbang. Ia pun kembali ke dalam dan ingin menemui putranya yang tadi tertidur pulas.


Namun, saat hendak menaiki anak tangga, mendengar suara kepala pelayan yang memanggilnya dan membuatnya mengurungkan niat untuk ke atas.


"Nona, ada sesuatu yang ingin saya katakan," ucap wanita paruh baya yang dari tadi menunggu saat yang tepat untuk berbicara mengenai kejadian siang tadi.


Khaysila saat ini menatap kepala pelayan dengan raut wajah penuh penasaran. "Iya, Bik. Katakan saja. Apa yang ingin Bibik bicarakan?"


Tidak ingin bertele-tele dan membuat majikan menunggu karena ia tahu pasti sangat lelah setelah seharian bekerja, mulai menceritakan semua hal mengenai apa yang terjadi siang tadi.


"Jadi, seperti itu ceritanya, Nona. Jadi, saya tadi tidak ingin membuat Anda khawatir dan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja di perusahaan. Maaf karena tidak mengatakan langsung jika tuan Kenzie rewel." Ia yang sudah siap jika dimarahi karena berbohong dan menunggu keputusan apa yang akan disampaikan pada terapis tadi.


Khaysila yang sama sekali tidak menyangka jika ternyata putranya tadi rewel, kini malah merasa sangat senang jika ada yang bisa menenangkan putranya saat rewel.


"Tentu saja aku tidak keberatan karena itu demi kebaikan putraku, Bik. Asalkan putraku tenang, suruh saja terapis itu setiap hari datang karena aku akan membayar berapapun asalkan putraku tidak rewel. Nasib baik ada terapis itu tadi, jadi kalian tidak repot untuk menenangkannya. Apa pria itu meninggalkan kartu nama?"


Ia ingin mencari tahu tentang terapis tersebut karena kewaspadaan agar tidak ada hal buruk yang tidak diinginkan terjadi.


"Belum, Nona karena tadi masih belum jelas apakah mau menerima atau tidak. Jika positif menerimanya sebagai terapis tuan Kenzie, saya besok akan meminta kartu namanya dan memberikan pada Anda. Sekarang saya kabarkan dulu karena tadi minta nomornya." Membungkuk hormat setelah majikannya menyetujui.


Merasa terbantu dengan adanya terapis untuk putranya, kini Khaysila sangat lega dan berjalan menaiki anak tangga untuk melihat malaikat kecilnya yang ditemani oleh baby sitter saat ia belajar.


Begitu masuk ke dalam kamar, ia menyuruh babysitter yang tidur di lantai dengan menopang wajah di atas ranjang, kini menepuk lembut pundaknya.


"Mbak, sekarang pindah ke kamar dan beristirahat," ucapnya saat melihat baby sitter membuka mata.


Ia sebenarnya sudah mengatakan jika baby sitter itu boleh tidur di sebelah putranya di atas ranjang, tapi tetap tidak mau melakukannya dan menjaga sambil tertidur dengan posisi duduk di lantai.


"Aah ... iya, Nona. Maaf karena selalu ketiduran saat menjaga tuan Kenzie." Kemudian bangkit berdiri dan membungkuk hormat sebelum melangkah pergi.


"Tidak apa-apa, Mbak karena putraku juga tengah tertidur pulas. Selamat beristirahat," ucapnya sambil tersenyum dan naik ke atas ranjang untuk mencium serta memeluk putranya yang tertidur pulas.


"Mama sayang Kenzie. Jagoan Mama harus pintar, ya saat Mama bekerja." Kemudian mencium pipi gembil bayinya yang menggemaskan.


Ia masih tidak berkedip menatap ke arah putranya yang sangat tampan dan mengingat tentang sosok pria yang saat ini berada di rumah sakit untuk menunggu sang kakek.


"Papamu ada di Rumah Sakit, Sayang. Apakah kamu akan membenci Mama karena tidak membuat papamu mengetahui kehadiranmu di dunia ini?" lirihnya dengan raut wajah murung sambil menatap ke arah putranya yang tertidur dengan damai.


Ia kini meraih ponsel yang ada di atas nakas dan ingin memastikan apakah Aaron masih ada di rumah sakit. Kemudian mengirimkan pesan pada pelayan yang selama ini menunggu sang kakek.


Hingga ia membaca pesan balasan dan membuatnya terdiam. Bahwa Aaron menyampaikan ucapan terima kasih melalui pelayan.


"Dia tidak akan berpikir macam-macam padaku hanya karena memberikan makanan sebagai ucapan terima kasih karena mau menunggu kakek, kan?" ucapnya yang kini masih memikirkan beberapa kemungkinan tentang Aaron.


"Aaah ... bodo amat lah apa yang tengah dipikirkannya! Ini hanyalah bentuk kepedulianku sebagai sesama manusia dan jika dia salah mengartikan, itu bukan salahku." Kemudian ia pun kembali merebahkan tubuhnya di samping putranya dan memejamkan mata agar bisa ikut ke alam mimpi bersama malaikat kecilnya tersebut.


To be continued...