
Hingga ia seketika memalingkan wajah agar tidak dilihat oleh wanita itu yang tak lain adalah kakak tirinya.
'Kak Aurora? Ia datang bersama seorang pria?' Zea beberapa saat yang lalu bisa dengan jelas melihat jika saudara tirinya tersebut dipeluk oleh seorang pria yang sudah terbilang tua.
Bahkan mungkin seumuran dengan ayah dari Aaron dan pantas menjadi seorang ayah daripada kekasih.
'Bagaimana mungkin kak Aurora bisa terlihat bermesraan dengan pria yang pantas menjadi ayahnya? Apalagi berpelukan saat berjalan menuju ke arah restoran?' gumamnya yang saat ini masih berusaha untuk memalingkan wajah agar tidak ketahuan dan refleks ia langsung melepaskan ikatan rambutnya yang dikepang dua.
Ciri khasnya dianggap bisa membuat saudara tirinya tersebut menyadari jika ia yang ada di bawah pohon saat menunggu taksi.
Kemudian Zea mengikat cepol rambutnya ke atas cukup tinggi. Berharap dengan begitu, penampilannya tidak menjadi pusat perhatian Aurora.
Saat Zea tengah memikirkan berbagai macam kemungkinan mengenai saudara tirinya yang ditetapkannya menjadi wanita simpanan para pria kaya karena gagal mendapatkan uang saat berniat untuk menjualnya.
'Pasti pria tua itu sangat marah karena aku kabur dan meminta uangnya kembali. Jadi, Kak Aurora dan ibu tidak bisa bersenang-senang seperti biasa. Apalagi selama ini gaya hidup mereka sangat mewah dan membuat santunan dari perusahaan habis.'
Mengingat semua kenangan buruk yang dialaminya, membuat Zea kali ini tidak bisa menahan amarahnya. Hingga ia meremas pakaian dan mendengar suara wanita paruh baya di sebelahnya.
"Anindya, kenapa kamu tiba-tiba mengikat rambutmu seperti ini?" Jenny merasa sangat aneh melihat sikap gadis belia itu dan saat menunggu jawaban dari rasa penasarannya, taksi yang dipesannya telah berhenti tepat di hadapannya.
"Sayang, taksinya sudah datang." Jenny kemudian menarik pergelangan tangan gadis itu agar segera masuk ke dalam mobil karena cuaca hari ini sangat terik dan menyengat kulitnya.
Zea yang masih mencari ide untuk beralasan, saat ini langsung masuk ke dalam mobil dan disusul oleh wanita paruh baya tersebut. Karena tidak ingin mendapatkan sebuah kecurigaan, ia akhirnya beralasan.
"Rasanya sangat aneh saat setiap orang melihatku karena penampilan dikepang dua seperti ini, Nyonya. Apa penampilanku sangat aneh tadi? Lalu, bagaimana dengan penampilan yang sekarang?"
Saat Zea berakting untuk mencari jawaban, ia kini melihat wanita di sebelahnya tersebut membuka tas dan mengambil sisir serta cermin.
"Jika ingin mengubahnya, paling tidak pakai sisir. Jangan asal seperti itu. Oh ya, lihat wajahmu sendiri dari cermin ini!" Jenny memberikan cermin kecil di tangannya pada Anindya dan berlanjut ingin merapikan rambut panjang itu menggunakan sisir yang masih dipegang.
Zea saat ini hanya terkekeh dan menyadari kebodohannya. Ia pun melakukan hal yang diperintahkan oleh wanita itu dan menatap wajahnya di cermin.
Bahkan ia membiarkan rambutnya disisir dan dirapikan ikatannya yang tadi sangat asal karena buru-buru agar tidak ketahuan oleh saudara tirinya.
"Terima kasih, Nyonya Jenny karena sudah menjadi pengganti ibuku." Zea tidak melanjutkan perkataannya saat mengingat sang ibu yang sudah berada di surga.
"Jangan selalu sungkan padaku. Juga jangan selalu mengucapkan terima kasih padaku." Kemudian Jenny sudah menyelesaikan mengikat rambut Anindya yang pastinya jauh lebih rapi dibandingkan perbuatan asal gadis itu beberapa saat lalu dan membuatnya heran.
Zea saat ini langsung menghambur memeluk erat tubuh wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu yang menggantikan ibunya di surga.
"Tapi aku tidak bisa berhenti untuk mengucapkan terima kasih karena jika tidak ada Nyonya, mungkin akan terlunta-lunta di jalanan karena sama sekali tidak mengingat apapun." Zea bahkan sudah berkaca-kaca bola matanya saat memikirkan itu.
"Bahkan mungkin bisa dimanfaatkan oleh orang jahat dengan mengaku sebagai orang tuaku agar bisa mencari keuntungan. Jika nanti aku sudah mengingatnya dan pergi dari rumah Nyonya, jangan melupakanku karena aku tidak akan pernah melupakan kalian."
Hingga tanpa bisa mereka tahan, keduanya kini sudah bersimbah air mata. Seolah sama-sama merasa khawatir jika itu akan terjadi.
Bahkan saat ini sang sopir yang sedang mengemudi, melihat sekilas ke arah spion dan merasa heran pada interaksi dua wanita berbeda usia tersebut.
'Baru kali ini ada penumpang yang menangis bahagia di mobilku,' gumamnya yang saat ini kembali fokus menatap ke arah depan dan mengemudikan kendaraan menuju ke sebuah Mall terbesar di Jakarta.
Jenny tidak ingin berlarut-larut dalam rasa haru dan membayangkan hal-hal yang belum terjadi. Ia pun melepaskan pelukannya dan menghapus bulir air mata di wajah cantik itu setelah mengambil tisu dari dalam tasnya.
"Padahal kamu boleh tinggal selamanya di rumah tanpa harus pergi. Tapi itu tidak mungkin terjadi karena pasti saat kamu mengingat semua masa lalu, akan kembali pada orang tua kandungmu. Tapi kita bisa tetap bertemu jika kamu ingin datang ke rumah."
Saat berpikir bahwa perkataan wanita itu tidak mungkin terjadi karena faktanya, ia adalah seorang gadis yatim piatu dan tidak punya tempat tujuan, sehingga hanya berakting tersenyum.
"Itu pasti, Nyonya. Seperti yang tadi kubilang, keluarga Anda adalah yang terbaik dan akan selalu ada di hatiku."
Zea kini tengah memikirkan dua hal, yaitu apa yang terjadi pada Aaron dan kekasihnya, serta saudara tirinya yang masuk ke dalam restoran bersama dengan pria tua.
Ia sebenarnya ingin menghancurkan saudara tirinya tersebut karena telah membuatnya hampir diperkosa. Namun, ia sadar jika semua itu malah membuatnya hidup dalam kemewahan di keluarga Jonathan.
Berpikir jika semua hal yang menimpanya ada hikmah dibalik kemalangan yang terjadi.
'Suatu saat nanti, aku ingin melihat kalian berada di bawahku. Tuhan pasti akan memberikan hukuman di dunia sebelum kalian mempertanggungjawabkan perbuatan buruk padaku di akhirat.'
'Ya Allah, hancurkan hidup mereka yang telah berani berbuat jahat pada gadis yatim piatu sepertiku,' gumam Zea yang kini berharap hukum tabur tuai akan dirasakan oleh ibu tiri jahat dan kakak tirinya.
To be continued...