Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tinggal di sebuah desa



"Sayang, kenapa pagi-pagi begini kamu sudah dijemput Erick?" tanya Jennifer yang tadinya berada di dapur untuk memeriksa pekerjaan pelayan hari ini memasak menu sarapan apa.


Hingga ada pelayan yang datang untuk memberitahunya jika ada Erick yang tiba pagi-pagi sekali dan membuatnya merasa heran. Sampai ia bertemu Anindya di bawah tangga dan langsung bertanya.


Sementara itu, Zea yang kebetulan memang ingin berpamitan untuk terakhir kalinya, merasa lega begitu bertemu dengan wanita yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri tersebut.


"Iya, Nyonya. Kebetulan ada acara di kampus dan aku terpilih untuk menjadi salah satu pengisi dalam salah satu kategori lomba. Jadi, memang harus latihan dan diharuskan berangkat pagi agar tidak mengganggu jadwal kuliah. Kemarin lupa bilang, jadi maafkan aku, Nyonya." Zea yang merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan wanita itu, refleks langsung memeluk erat.


"Nyonya, doakan yang terbaik untukku." Zea masih tidak melepaskan pelukannya dan ia sekuat tenaga menahan diri agar bulir air mata tidak lolos membasahi pipi putihnya.


'Jangan sampai kamu membuat nyonya berpikir macam-macam, Zea. Dasar bodoh!' gumam Zea yang kini melepaskan pelukan begitu mendengar suara dari wanita paruh baya tersebut.


"Tentu saja aku akan mendoakan agar kamu menampilkan yang terbaik nanti," ucap Jenifer yang kini menatap aneh pada gadis muda di hadapannya.


Ia pun kini mengusap kedua sisi pipi putih Anindya. "Kamu baik-baik saja? Kenapa aku merasa ada yang aneh dari sikapmu, Anindya?" Menatap menelisik ke arah gadis yang terlihat menggelengkan kepala tersebut.


Zea yang sudah merancang sebuah kebohongan, kini mengungkapkan hal yang dari tadi dipikirkan. "Aku hanya membayangkan Anda adalah ibu kandungku, Nyonya karena saat ini aku hilang ingatan. Jadi, tidak bisa mengingat tentang orang tua."


"Bukankah anak selalu meminta doa dari orang tua saat melakukan apapun?" tanya Zea yang menampilkan wajah meyakinkan agar dipercaya.


Hingga ia pun kini merasa menjadi pembohong ulung kala melihat wanita itu melakukan hal sama sepertinya tadi dengan memeluknya.


"Iya, kamu benar, Sayang. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kamu boleh menganggapku sebagai ibu kandungmu. Aah ... seandainya dulu Aaron menuruti perintahku ketika ditinggalkan oleh Jasmine, mungkin kamu sudah benar-benar jadi putriku sesungguhnya."


Jennifer yang mengingat kejadian di hari gagalnya menikah putranya, kini merasa sangat kesal. "Tapi anak itu benar-benar bodoh karena malah membenamkan diri dalam kesedihan gara-gara wanita yang sama sekali tidak penting itu."


Zea yang tidak ingin membahas Aaron karena meninggalkan rasa sakit luar biasa saat merenggut kesuciannya dengan menyebut nama wanita lain, sehingga kini memilih untuk langsung berpamitan.


Saat tiba di teras, melihat Erick yang duduk di kursi dan langsung bangkit berdiri begitu menatapnya.


"Ze ...." Erick seketika menepuk jidat begitu menyadari kesalahannya dengan memanggil nama asli Zea di rumah keluarga Aaron. "Anindya, aku ...."


"Jangan bicara! Ayo, kita pergi sekarang!" Zea yang ingin segera angkat kaki dari rumah itu agar tidak bertemu dengan Aaron, sehingga ingin menjelaskan ketika nanti sudah berada di luar.


Karena tidak ingin membuat Zea merasa tidak nyaman, sehingga Erick buru-buru berjalan mengekor sosok gadis yang berjalan mendekati motornya. Ia bahkan tadi sengaja membawa helm untuk Zea agar tidak membawa helm yang dibelikan oleh Aaron.


"Pakai ini dulu!" Kemudian ia langsung memakaikan helm di kepala Zea dan saat menatap manik bening di hadapannya, tidak tega karena terlihat berkaca-kaca.


Seolah saat ini menyadari jika Zea tengah menahan diri agar tidak menangis tersedu-sedu di sana. Ingin ia merangkum kedua sisi wajah Zea, tapi tidak mungkin melakukannya karena gadis itu ingin segera pergi dari sana.


Refleks ia langsung naik motor setelah selesai membantu memakaikan helm untuk Zea. "Cepat naik! Aku akan membawamu pergi dari tempat yang kamu anggap neraka ini. Katakan saja padaku, kamu mau pergi ke mana? Aku akan menjadi pelayan untukmu dan mengantar kamu ke manapun tujuanmu."


Zea yang masih berusaha untuk menguatkan hati agar tidak menangis, buru-buru naik ke atas motor setelah postep diturunkan oleh Erick. "Terima kasih, Erick. Jika tidak ada kamu, aku tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi."


"Antarkan aku ke terminal sekarang!" Zea yang sudah berpikir matang-matang mengenai tujuannya pergi, kini memutuskan untuk tinggal di sebuah desa yang dulu jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan.


Ia dulu sering diajak sang ayah liburan di kampung halaman ketika kakek dan neneknya masih hidup. Sang ayah memiliki sebuah rumah kecil warisan kakek nenek yang telah lama meninggal. Namun, saat ini tengah dikontrakkan.


'Aku akan membayar ganti rugi penghuni rumah kakek agar pindah dan memperbolehkan aku tinggal di sana,' gumam Zea yang saat ini akan pergi ke kampung halaman sang ayah yang ada di luar propinsi, yaitu di Jogja.


To be continued...