Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tentang majikan



Khayra yang awalnya berpikir bisa merasa lebih lega begitu meluapkan amarah dengan bertubi-tubi memukul Aaron, seketika membulatkan mata begitu pria di hadapannya tersebut menciumnya secara tiba-tiba.


Ia bahkan awalnya berusaha untuk menolak dengan bergerak mengempaskan tangannya yang belum kunjung dilepaskan. Namun, ketika merasakan kelembutan bibir tebal yang bukan pertama kali menciumnya, seketika membuat kulitnya meremang.


Bahkan saat ini tidak bisa melakukan apapun dan hanya diam ketika bibirnya mulai disesap serta dilumat oleh Aaron. Ia saat ini merasa kebingungan harus bagaimana karena tidak bisa menolak apa yang baru saja ditawarkan oleh pria yang berhasil membuat seluruh urat sarafnya menegang.


Hingga ia yang merasa sangat kebingungan harus melakukan apa ketika sudah dibungkam bibirnya, kini refleks memejamkan mata dan membiarkan Aaron melakukan apapun adanya karena saat ini benar-benar lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Aaron yang awalnya hanya berniat untuk membuktikan jika Anindya akan diam dan menyadari perasaan padanya, kini tidak bisa berhenti begitu pertama kali menyatu dengan bibir sensual yang baru saja dilumatnya.


Hingga ia pun terus melakukannya dan memberikan lumayan pada ciumannya. Bahkan ketika melihat Anindya memejamkan mata seolah pasrah atas perbuatannya, sehingga saat ini membuatnya merasa seperti diberikan kesempatan dan akhirnya tidak menyia-nyiakan apa yang saat ini didapatkan.


Ia bahkan saat ini seolah tidak bisa berhenti untuk menikmati sari kemanisan yang terkandung dari bibir sensual dan sudah menjadi kandungnya tersebut, sehingga benar-benar menikmati dan tidak ingin melepaskannya.


Bahkan ia terbawa gairah yang mulai bangkit dari dalam dirinya setelah menyentuh Anindya. 'Aku tidak pernah bisa berhenti setelah menciummu, Anindya.'


'Hal seperti inilah yang membuatku berakhir memperkosamu dulu dan menghadirkan Kenzie di dunia ini,' gumam Aaron yang yang saat ini merasakan jika Anindya kehabisan pasokan oksigen karena perbuatannya.


Ia seketika melepaskan pagutannya karena mengerti bahwa gadis yang baru saja diciumnya itu sangatlah amatir dalam hal melakukan keintiman seperti berciuman. Meyakini jika Anindya memang tidak pernah berciuman sama sekali selain dengan dirinya, sehingga masih belum mahir untuk membalas dan mengambil pasokan oksigen ketika bibir saling menyatu.


Sampai pada akhirnya ia kini bisa melihat bagaimana raut wajah memerah yang dipenuhi oleh amarah beberapa saat lalu, kini berubah merona seperti kepiting rebus karena rasa malu.


Tentu saja ketika pertama kali bersitatap dengan manik kecoklatan gadis yang sangat dipujanya tersebut, sama-sama merasa kikuk dan aneh setelah baru saja melakukan perbuatan intim.


Aaron yang saat ini tidak tahu harus bagaimana, sehingga memilih untuk membuka suara. "Anindya, maafkan aku karena tidak bisa menahan diri."


Sementara itu, Khayra yang baru saja mengambil napas teratur setelah kehilangan pasukan oksigen saat bibirnya dibungkam oleh bibir tebal pria di hadapannya, tidak tahu harus berkomentar apa. Yang jelas saat ini ia seperti tidak punya muka di hadapan Aaron.


Ia benar-benar merasa sangat malu dan ingin sekali kabur dari sana agar tidak bisa melihat pria yang saat ini bahkan tidak berkedip menatapnya. Namun, kakinya seolah tidak bisa bergerak dan masih terdiam di hadapan pria yang baru saja menikmati bibirnya.


Khayra saat ini menelan saliva dengan kasar dan menormalkan degup jantungnya yang bergejolak seperti hampir meledak saat ini juga karena baru saja melakukan hal intim dengan pria yang selalu saja membuatnya tidak bisa menolak.


Hingga ia pun saat ini memilih untuk mundur ke belakang beberapa langkah agar ada jarak diantara mereka. Sebenarnya ia ingin sekali kembali mengarahkan pukulan pada dada bidang pria yang tiba-tiba menciumnya tanpa izin, tapi merasa khawatir jika kembali merasakan hal yang sama dan tidak bisa menolaknya untuk kesekian kali.


Refleks ia mengarahkan tangannya ke depan agar pria yang berniat untuk mendekatinya tersebut tidak melakukannya.


"Anindya." Aaron tidak ingin Anindya membenci perbuatannya yang tadi dilakukan karena refleks.


"Stop! Jangan mendekat!" Anindya benar-benar tidak ingin berdekatan secara fisik maupun batin dengan pria yang selalu membuatnya lemah tidak berdaya.


Bahkan ia merutuki kebodohannya karena tidak bisa menolak apa yang tadi dilakukan oleh Aaron ketika menciumnya tanpa izin. 'Harusnya aku menampar wajahnya, bukan malah diam dan memejamkan mata. Dasar bodoh! Kenapa aku seperti ini? Kenapa tadi aku malah diam dan menikmati perbuatan pria berengsek ini?'


Saat melihat Anindya yang seperti melamun dan tidak mau berbicara padanya, Aaron saat ini merasa kebingungan harus melakukan apa untuk membuat gadis itu tidak marah ataupun membencinya.


Jadi, ia berbicara dengan posisi yang cukup berjauhan. "Anindya, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Aku tadi sama sekali tidak merencanakan untuk menciummu karena semua terjadi secara tiba-tiba. Jangan pikir jika aku sengaja melakukannya," ucap Aaron yang saat ini juga mengarahkan tangannya ke depan agar Anindya lebih tenang dan tidak murka padanya ataupun membencinya.


Saat ini, Khayra yang seolah tidak bisa berkata apa-apa karena suaranya tercegah di tenggorokan, berusaha untuk menormalkan perasaannya agar tidak terlihat gugup, sehingga ia mengarahkan tatapan tajam dan mengibaskan tangannya.


"Pergi dari sini!"


"Apa?" Aaron saat ini belum puas untuk menjelaskan tentang apa yang baru saja dilakukan pada Anindya, jadi tidak berniat untuk menuruti perintah dari gadis itu.


"Aku bilang pergi sekarang juga!" sarkas Khayra ya saat ini kita ingin melihat pria yang baru saja membuat perasaannya bergejolak hebat.


Ia bahkan kali ini sudah beberapa kali mengibaskan tangan agar pria di hadapannya tersebut segera masuk ke dalam lift yang tak jauh berada di sebelah tempatnya berdiri. Bahkan ia aku tidak punya muka lagi berhadapan dengan Aaron karena terlihat lemah dan tidak bisa menolak perbuatan pria itu tadi ketika menciumnya.


Antara malu dan membenci diri sendiri kini bercampur menjadi sebuah kesatuan yang serasa mencekik lehernya, sehingga tidak bisa bernapas dan kesusahan untuk mengungkapkan apa yang saat ini dirasakan.


Aaron sebenarnya tidak mau pergi dan masih ingin berbicara panjang lebar untuk membahas tentang perbuatannya yang terjadi tanpa sebuah kesengajaan ataupun perencanaan sampai sekali. Namun, gadis di hadapannya tersebut kebingungan dan juga ia ketahui merasa malu karena perbuatannya, sehingga berpikir untuk memberi sebuah waktu agar lebih tenang.


Akhirnya ia menganggukkan kepala sebagai persetujuan dan tidak akan lagi memaksakan kehendak karena mengerti bagaimana perasaan dari gadis yang masih sangat polos dalam hal intim itu.


"Baiklah. Aku akan pergi, tapi satu hal yang perlu kamu ingat bahwa aku tadi melakukannya secara refleks dan tidak sengaja. Jadi, jangan salah paham padaku. Maafkan aku," seru Aaron yang saat ini tengah menatap ke arah gadis yang masih diam saja tanpa berkomentar.


Ia tahu jika saat ini Anindya tengah kebingungan dan berpikir harus memberikan waktu untuk wanita itu menormalkan perasaannya, jadi kini memilih untuk melangkahkan kaki menuju ke arah lift.


Merasa sangat yakin jika perasaan Anindya tertuju padanya karena tadi sama sekali tidak menolak perbuatannya, sehingga begitu masuk ke dalam lift dan berbalik badan agar bisa melihat siluet belakang gadis yang memunggunginya, seketika tersenyum simpul dan berteriak.


Ia yang masih tersenyum ketika mengingat tentang ciuman yang dilakukannya dan membuat Anindya sama sekali tidak menolak perbuatannya karena malah menikmati, membuatnya merasa yakin jika hati gadis itu masih miliknya.


"Kenapa kamu tidak mengakui perasaanmu yang masih mencintaiku? Kenapa semua serumit ini dengan melibatkan Erick dalam hubungan kita? Seandainya kamu langsung menerima lamaranku ketika baru datang ke sini, pasti semuanya sudah selesai dan kita bisa bersatu dengan putra kita." Aaron yang saat ini mengingat putranya, memilih menelpon sang ibu untuk memastikan.


Ia akan sangat ingin menceritakan apa yang terjadi barusan pada wanita yang telah melahirkannya tersebut dan menjadi orang pertama yang mendukung hubungannya dengan ibu dari darah dagingnya.


Saat menunggu sambungan telepon diangkat oleh sang ibu, ia sambil memegangi bibirnya yang tadi menyatu dengan bibir sensual wanita yang sangat dicintai.


Bahkan ia sudah seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri di dalam lift dan begitu mendengar suara sang ibu dari seberang telepon, membuatnya seketika membuka mulutnya.


"Halo."


"Halo, Ma. Aku saat ini baru saja keluar dari perusahaan Anindya dan akan kembali ke sana. Bagaimana keadaan putraku, Ma? Apa dia rewel?" tanya Aaron yang saat ini terus tersenyum ketika mengingat ciumannya.


Bahkan ia bisa melihat raut wajahmu merah Anindya yang menjelaskan jika wanita itu benar-benar malu padanya, sehingga tidak bisa menghilangkan senyuman dari bibirnya ketika menyadari jika masih ada cinta di mata ibu dari putranya tersebut untuknya.


"Syukurlah jika sudah selesai. Tidak, baby saat ini tengah cepat tidur pulas dan tidak rewel sama sekali. Tadi menangis sebentar dan kugendong, lalu kembali tidur. Awalnya baby sitter itu yang menggendongnya karena berlagak dan ingin menunjukkan lebih pintar dan ahli, tapi ternyata gagal dan aku yang berhasil menenangkan baby." Jennifer berbicara tepat di sebelah sang baby sitter.


Namun, sama sekali tidak peduli jika perkataannya menyinggung perasaan wanita itu. Ia memang sengaja melakukannya karena mengetahui bahwa wanita itu bukan orang yang menyukainya dan bukanlah wanita yang baik serta tidak sopan pada orang yang lebih tua.


Jadi, mengikuti apa yang dilakukan sang baby sitter dengan bersikap sinis dan berbicara sesuka hati. Bahkan melihat tatapan tajam wanita itu dan sama sekali tidak membuatnya merasa takut. Bahkan ia jangan yakin jika mengatakan petang ketidaksopanan wanita itu pada Anindya, pasti calon menantunya tersebut akan lebih memihak dirinya dan memecat sang baby sitter.


'Awas saja. Aku akan menunjukkan siapa di sini yang paling dipercaya dan dianggap oleh tuan rumah,' kuman Jennifer yang saat ini mengalihkan perhatian dari wanita yang tidak disukainya tersebut ke arah lain.


"Syukurlah sikap putraku tidak rewel setelah merasakan kenyamanan digendong neneknya. Aku jangan yakin jika wanita itu tidak menyukai bayi, makanya putraku tidak ingin digendong olehnya dan juga karena merasa tidak nyaman karena perasaan bayi lebih sensitif dari orang tua." Aaron berbicara sambil memesan taksi untuk mengantarnya kembali ke rumah keluarga Kusuma.


Ia pun berjalan keluar dari dalam lift menuju ke lobi. Kemudian berdiri di depan untuk menunggu.


"Baiklah, Ma, aku saat ini sedang menunggu taksi yang kupesan. Katakan pada kepala pelayan jika aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana."


"Baiklah. Aku akan mengatakan kepada kepala pelayan jika kamu sudah dalam perjalanan kembali ke sini. Hati-hati di jalan." Jennifer yang tidak bisa menanggapi perkataan putranya ketika membahas sang cucu, padahal ia sangat bersemangat.


Ia bahkan saat ini yang baru saja mematikan sambungan telepon, melirik ke arah sampai bisa yang menatapnya tajam. 'Rasanya aku ingin sekali menarik rambutnya agar terlihat seperti hantu. Dia pasti terlihat sangat jelek.'


Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar kepala pelayan yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamar yang menjadi tempat istirahat cucunya.


"Silakan makan siang dulu karena makanan sudah siap. Biar aku yang menjaga tuan Kenzie di sini karena sudah makan terlebih dahulu tadi." Kepala pelayan saat ini menatap ke arah sang baby sitter yang tengah duduk di atas ranjang sebelah baby. "Ajak nyonya ini untuk makan di belakang."


Meskipun merasa sangat malas, sang baby sitter itu terpaksa bangkit berdiri dari ranjang dan menganggukkan kepala. Ia menatap ke arah wanita yang sangat tidak disukainya tersebut. "Ayo, aku akan menunjukkan tempat untuk para pekerja di rumah ini makan siang."


Refleks Jennifer menggilingkan kepala karena tidak mood untuk makan dengan wanita di hadapannya tersebut. "Kamu saja karena tadi aku sudah makan."


"Tadi kapan?" tanya kepala pelayan yang merasa aneh dan berpikir jika wanita itu hanya berbohong.


"Aku tadi membeli roti dan menikmatinya sebelum berangkat ke sini. Jadi, masih merasa kenyang. Nanti saat aku lapar, pasti akan meminta makan karena gratis dan pastinya sangat lezat masakan di rumah ini." Jennifer sebenarnya sangat lapar, tapi hanya ingin makan bersama putranya


Ia berpikir jika sebentar lagi akan kembali dan bisa bersama-sama makan siang. Jadi, alasan seperti itu Dan berharap tidak lagi disuruh untuk makan bersama dengan baby sitter yang dianggap sangat menyebalkan.


Lagipula ia ingin berbincang dengan kepala pelayan tersebut untuk mengorek beberapa informasi mengenai Anindya dan cucunya.


"Kalau begitu, makan nanti saja bersama dengan rekanmu. Apa dia akan kembali ke sini?" Kepala pelayan yang melihat pergerakan dari sang baby, seketika menepuk-nepuk lembut agar kembali tertidur.


Jennifer meninggalkan ruangan tanpa berbicara apa-apa, merasa lega dan kini mendekati wanita paruh baya yang menurutnya lebih tua darinya. "Sebentar lagi dia sampai karena tadi baru saja menelpon."


"Oh iya, aku ingin bertanya sedikit mengenai majikan di rumah ini. Bukankah nanti kami akan bertemu dengannya? Apakah nyonya rumah sangat galak? Biasanya pada orang kaya selalu menganggap pelayan hanyalah kasta rendahan yang tidak perlu dihormati." Ia berbicara seperti itu karena mengingat sang baby sitter.


Refleks kepala pelayan seketika tidak membenarkan perkataan dari wanita itu. "Siapa yang bilang? Sebenarnya cuma itu tergantung orangnya, tapi yang jelas adalah nyonya di rumah ini masih sangat muda dan tidak pantas disebut nyonya."


"Makanya kami selalu memanggilnya nona meskipun sudah memiliki seorang bayi yang lucu dan tampan. Nona Khayra juga sangat baik dan menganggap kami seperti keluarga sendiri."


"Bahkan tidak pernah marah meskipun ada yang melakukan kesalahan. Bahkan hatinya seperti malaikat karena tidak pernah terlihat berteriak di rumah ini," ucap kepala pelayan yang saat ini berharap wanita itu tidak takut pada majikan.


Jennifer yang kini tersenyum simpul dan menganggukkan kepala tanda mengerti, hanya berkomentar di dalam hati. 'Aku sangat yakin jika majikanmu itu nanti akan berteriak begitu melihat putraku. Mungkin tidak akan berhenti memukulinya karena berani menyamar sebagai terapis hanya untuk bisa mendekati putranya.'


To be continued...