Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Merubah pemikiran



"Erick, kenapa berhenti?" tanya Khayra yang saat ini menutup kedua mata. Ia yang dari tadi merasa sangat nyaman dengan pijatan lembut Erick, sehingga membuatnya ingin merasakannya lagi.


Erick yang tadinya berniat untuk mencium bibir Zea yang seolah melambai untuk segera dibungkamnya, seketika membuatnya tersadar dari kegilaannya dan akhirnya bergerak mundur dan kembali ke posisi semula.


Bahkan ia seperti seorang pencuri yang ketahuan dan membuatnya menelan saliva dengan kasar serta degup jantung tidak beraturan karena hampir saja gadis itu melihat jika ia berniat untuk mencium.


Ia yang masih terdiam di balik kemudi, kini kembali mendengar suara nada protes dari gadis di sebelahnya yang sudah membuka mata dan menatapnya tajam.


"Erick, kenapa tiba-tiba berhenti dan tidak bilang?" Khayra saat ini menatap ke arah sosok pria yang ada di sebelahnya begitu ingin mengetahui apa yang dilakukan karena tiba-tiba berhenti mengirimkan kenyamanan di kepalanya.


Erick untuk menormalkan perasaannya yang kacau balau akibat melihat bibir merah jambu milik gadis yang dipuja-puja. "Jangan lama-lama karena pijatanku sangat mahal dan kamu tidak bisa membayarnya dengan uang karena aku tidak membutuhkannya."


Saat mengerti arah yang dituju Erick, sehingga membuatnya kini tidak lagi mengungkapkan ada protes karena memang tidak sanggup untuk memberikan apa yang diinginkan oleh pria yang kini sudah menyalakan mesin mobil dan mengemudikan meninggalkan area perusahaan.


"Baiklah. Aku memang tidak mungkin bisa membayarmu," sahut Khayra yang saat ini memilih kembali ke posisi semula.


Ia kemudian kembali menyandarkan tubuhnya di jok mobil sambil memejamkan mata. "Alamatnya sesuai dengan yang tertulis di maps itu, Erick. Nanti bangunkan aku jika kamu tersesat."


Merasa sangat tersindir dengan kalimat Zea, membuatnya mengejek balik. "Aku bukan perempuan yang tidak bisa membaca petunjuk maps, Ayangku. Aku laki-laki tulen yang pintar membaca maps hanya dengan sekali lihat," ucap Erick yang kini melirik sekilas ke arah Zea sama sekali tidak memperdulikannya.


"Iya ... iya, yang paling pintar membaca maps," sahut Khayra yang kini sambil menutup mulut karena menguap.


Namun, ia sama sekali tidak membuka suara karena saat ini sangat lelah dan membuatnya merasa sangat mengantuk. Itu karena bayinya sering terjaga dan membuatnya sebentar-sebentar bangun untuk menyusui dan kadang membuatkan susu formula.


Hingga beberapa saat kemudian napas teratur terdengar menghiasi ruangan di dalam mobil mewah dan membuat Erick geleng-geleng kepala. "Cepat sekali dia tertidur. Bisa-bisanya seorang gadis tertidur sangat pulas di sebelah laki-laki. Apa dia tidak takut aku berbuat jahat padanya dengan membawa ke hotel dan memperkosanya seperti Aaron."


"Menyebalkan sekali jika mengingat pria arogan itu!" sarkas Erick yang saat ini fokus mengemudi sesuai dengan maps.


Ia mengingat Zea yang tadi bersimpuh di lantai dengan raut wajah murung dan hal itu membuatnya tidak bisa tenang karena bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh Aaron pada gadis itu.


'Apa yang sebenarnya dilakukan oleh pria arogan itu tadi ketika aku berada di dalam ruangan karena dia tidak mengizinkan aku untuk menemaninya. Bahkan dia tadi seperti orang yang linglung dan kebingungan. Kenapa tidak berbicara jujur padaku tentang apa yang dilakukan si berengsek itu padanya?'


Saat Erick mengemudi sambil memikirkan tentang hal-hal yang tadi terjadi di ruangan kantor, tapi tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya jika gadis itu tidak menjawab.


Akhirnya ia menghilangkan pikiran buruk yang ada di kepalanya dan sesekali melirik sosok gadis yang sudah tertidur sangat pulas di sebelahnya tersebut. "Kamu pasti sangat lelah karena banyak menanggung beban saat usiamu masih muda seperti ini."


Erick yang merasa sangat iba pada Zea, berharap agar wanita di sebelahnya tersebut segera melewati masa-masa sulit dan sang kakek segera sadar. Hingga beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikannya kini berhenti tepat di depan rumah megah yang membuatnya mengerjakan mata beberapa kali.


Bahkan saat ini yang ada di hadapannya adalah bangunan megah lantai 5 yang sangat luas dan pintu gerbang menjulang tinggi. "Apa benar ini rumahnya? Bahkan dua kali lipat lebih besar dari rumahku. Ternyata ini yang namanya roda berputar karena kehidupan manusia layaknya bumi yang berputar mengikuti porosnya."


Erick yang tidak berniat untuk membangunkan gadis di sebelahnya karena terlihat tertidur pulas, membuatnya keluar dari mobil dan bertanya pada pos security yang ada di sebelah kanan rumah.


Security yang bisa melihat mobil majikannya, ini bertanya-tanya siapa sosok pria muda yang memiliki paras rupawan tersebut. "Iya. Anda temannya nona?"


Erick yang saat ini tersenyum simpul pada security tersebut, kini mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. "Perkenalkan, aku ayangnya nona Khayra. Mohon bantuannya!"


Pria berseragam hitam tersebut memicingkan mata karena merasa jika perkataan itu dianggap sangat konyol. "Apa kau adalah sopir pengganti karena nona sedang tidak bisa mengemudi?"


Refleks Erick menampilkan wajah masam karena perkataannya sama sekali tidak dipercaya. "Wah ... Apakah wajahku ini tidak mendukung untuk menjadi kekasih dari nona rumah ini? Apakah wajahku yang sangat ganteng dan maskulin ini pantas untuk menjadi sopir pengganti?"


"Astaga! Kalau pacar pengganti atau suami pengganti, aku sama sekali tidak keberatan. Nah ini malah supir pengganti. Benar-benar sangat menghina harga diri seorang Erick." Baru saja ia menutup mulut dan seperti diremehkan oleh security di hadapannya, mendengar suara Zea yang berteriak.


"Erick, kenapa turun dari mobil? Cepat masuk!" teriak Khayra yang beberapa saat lalu terbangun karena merasa lehernya yang pegal.


Hingga ia peran membuka mata dan melihat Erick tengah berbicara dengan security dan membuatnya merasa heran, sehingga langsung memberikan perintah karena ia harus segera menyelesaikan permasalahan yang terjadi hari ini di dalam rumah.


Ia merasa sangat penasaran dengan dua terapis yang membuat sang baby sitter berpikir macam-macam. Berpikir jika ia bisa menilai orang dengan baik, sehingga ingin memastikan sendiri apakah pemikiran dari wanita yang selama ini menjaga putranya benar atau hanyalah sebuah tuduhan palsu.


"Iya, Ayang!" teriak Erick yang saat ini menjulurkan lidah pada security. "Awas saja jika aku nanti jadi tuan rumah di sini, kau akan kupecat!"


Erick saat ini menatap tajam security yang terlihat sangat kebingungan dan seperti ketakutan begitu mendengar ancamannya, sehingga membuatnya ingin menertawakan pria itu. Namun, sengaja tidak menampilkannya agar ancamannya benar-benar terlihat nyata.


'Rasain! Kukerjain baru tahu rasa! Salah sendiri tidak percaya pada kata-kataku,' gumam Erick yang saat ini sudah membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, lalu menatap ke arah gadis yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Kenapa bangun? Padahal aku hanya keluar ingin bertanya pada security apakah benar ini adalah rumahmu?"


"Memangnya kenapa? Kamu ragu jika ini adalah rumah kakekku?" tanya Zea dengan mengerutkan kening sambil menatap menelisik ke arah Erick.


Sementara itu, Erick saat ini hanya terkekeh geli dan menggelengkan kepala agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atas pemikirannya beberapa saat lalu. "Bukan begitu, Ayang. Aku tadi benar-benar sangat syok melihat istana yang menjadi tempat tinggalmu."


"Aku sekarang bagaikan seorang ajudan di sebelah putri mahkota," sahut Erick yang saat ini sudah mengemudikan mobil mewah mahal itu memasuki area halaman rumah yang sangat luas dan banyak tanaman hias terawat dan makin membuat asri rumah bak istana tersebut.


Khayra saat ini hanya tertawa menanggapi perkataan dari Erick yang sangat menghibur perasaannya. "Jangan lebay! Ini adalah rumah kakekku, bukan rumahku. Jadi, jangan terlalu berlebihan seperti itu dengan menganggapku adalah seseorang yang sangat tinggi."


"Aku tetaplah Zea yang dulu meskipun sudah berubah nama menjadi Khayra karena itu adalah nama pemberian kakekku dan tidak akan membuangnya," sahutnya yang kini melepaskan sabuk pengaman dan berniat untuk beranjak turun dari mobil.


Erick seketika menahan pergelangan tangan Zea. "Tunggu! Bagiku, kamu sekarang Cinderella yang mempunyai segalanya dan bisa mendapatkan apapun yang diinginkan tanpa harus berpikir."


"Jadi, jangan terus merasa jika kamu adalah Zea yang malang dan dijahati oleh ibu tiri serta kakak tirimu itu." Erick ingin merubah pemikiran dari Zea agar tidak menganggap diri sendiri lebih rendah dari orang lain karena saat ini sudah berubah menjadi seorang wanita berkelas.


To be continued...