
Beberapa saat lalu, sosok pria dengan tubuh tambun dan perut besar serta kepala botak, kini berjalan masuk ke dalam ruangan kamar dengan guest key yang diberikan oleh orang suruhannya ketika mendapatkan dari saudara tiri gadis perawan yang dibelinya.
Dengan wajah berbinar karena merasa senang saat bisa merasakan darah perawan, ia tidak membuang waktu langsung masuk ke dalam setelah meletakkan guest key pada mesin di pintu.
Kakinya yang kini melangkah mendekati ranjang dengan sosok gadis berusia 18 tahun dan pastinya masih perawan yang artinya masih tersegel dan akan ia unboxing malam ini.
'Waow ... kulitnya putih mulus dan seksi,' gumamnya sambil tidak berkedip menatap ke arah sosok gadis muda dengan gaun yang hampir tersingkap ke atas paha dan ingin segera ia singkirkan dari tubuhnya agar bisa melihat keseluruhan dari sesuatu yang diincarnya.
Ia yang terbiasa membeli para gadis perawan dengan uang haram hasil korupsinya, tidak pernah merasa kekurangan karena gampang mendapatkan uang.
Saat ini, ia yang sudah merasa horny hanya dengan menatap kulit putih mulus dari seorang perawan, ingin segera naik ke atas ranjang dan menelusuri setiap sudut tubuh itu.
Tidak ingin membuang waktu, ia langsung melepaskan satu-persatu kancing kemejanya. Namun, baru dua buah kancing dilepaskan, melihat pergerakan dari gadis yang menggeliat di atas ranjang dan bisa dilihatnya sesuatu yang diincarnya, memakai pelindung berwarna merah.
'Sial! Kenapa harus bangun secepat ini,' umpatnya saat melihat sosok gadis di atas ranjang yang tadinya bersuara lirih itu tengah memanggil saudara tiri yang telah menjualnya.
"Siapa kau?" teriak Zea yang seketika bangkit dari posisi yang tadinya telentang dan ia sudah turun dari ranjang dengan wajah penuh rasa terkejut.
Bahkan melihat gadis yang dibelinya membulatkan mata serta raut wajah terkejut, membuat pria dengan kepala botak itu langsung menaruh jari telunjuk di bibir sambil bersuara dengan lirih dan tatapan menyeringai.
"Ssstt ... jangan berisik! Kau hanya boleh berisik saat mendesah nanti," ucap pria yang kini mengarahkan tangan ke depan karena mendapatkan sebuah lemparan bantal.
"Siapa kau? Di mana kakakku? Apa kau menyakitinya? Aku akan berteriak agar kau ditangkap polisi karena masuk ke kamar ini!" Zea benar-benar tidak pernah menyangka akan berakhir dengan satu pria yang sama sekali tidak dikenal.
Ia benar-benar sangat takut saat melihat tatapan jahat dari pria yang sudah dipastikannya akan macam-macam padanya.
'Ke mana kak Aurora? Apa kak Aurora juga baru dijahatin pria ini? Papa, aku sangat takut. Kenapa papa pergi dan tidak menjagaku? Jika papa masih ada, papa pasti masih bisa menjagaku dan kak Aurora.'
Bahkan ia berpikir pantas menjadi kakeknya. Hingga kata-kata bernada ejekan dari pria yang tiba-tiba masuk ke dalam hotel itu membuatnya seketika berurai air mata.
"Bahkan kau masih sangat baik memikirkan kakak tirimu yang telah menjualmu padaku. Sungguh persaudaraan yang patut diacungi jempol." Kemudian langsung tertawa terbahak-bahak karena merasa bahwa gadis di hadapannya sangat polos.
Bahkan bisa dibilang sangat mudah ditipu dan membuatnya tidak bisa menghentikan tawanya.
Zea yang tadinya menghantam nakas dekat ranjang dan meraba-raba sesuatu yang kira-kira bisa digunakan untuk melindungi diri, kini seketika tubuhnya gemetar hebat.
Bahkan ia tidak pernah membenci saudara tidak sedarah dan menganggap wanita yang dinikahi ayahnya seperti ibu kandungnya. Namun, sesuatu yang kini baru saja didengarnya seperti mendapatkan sambaran petir.
"Tidak! Kau berbohong! Kak Aurora dan mama tidak mungkin tega berbuat jahat seperti ini." Zea yang sudah berurai air mata, kini tidak bisa menahan bulir kesedihan yang lolos tanpa seizinnya.
Ia memang meragukan perkataan pria di hadapannya tersebut, tapi dalam hati kecilnya seolah merasakan sebuah keraguan saat percaya diri mengatakan itu.
'Mama dan kak Aurora memang selalu jahat padaku. Mereka tidak pernah menyayangiku. Apa benar mereka sangat jahat dengan menjualku pada pria tua ini?'
Saat Zea merasa sangat takut sekaligus dipenuhi oleh kekecewaan serta terluka luar biasa, kini ia tidak bisa lagi bergerak dan seolah kehilangan tenaga begitu kembali mendengar sebuah kenyataan pahit.
"Aku telah membelimu 200 juta dari ibu dan kakakmu yang bekerja sama untuk menipumu, Sayang. Jadi, malam ini kau milikku dan harus dengan senang hati melayaniku, gadis kecil. Bahkan ibu dan kakakmu sudah pergi bersenang-senang dengan uangnya."
Pria yang saat ini kembali melanjutkan aksinya melepaskan semua kancing kemeja, lalu meloloskan dari tubuhnya dan melempar ke sembarang arah.
Tidak ingin membuang waktu, ia kini langsung menghambur ke arah sosok wanita yang ada di berdiri tak jauh dari hadapannya.
To be continued...